Monday, April 14, 2014

Sumatera, Sumatera! (bagian 10)

*sambungan dari Pasar Ilir 16*

Minggu, 22 Juli 2012
Makan Siang di Tepian Sungai Musi dan Naik Ketek!

Siang sudah lumayan terik. Dan perut kami keroncongan. Dipo dan Ipunk mengajak kami menyibak kerumunan, menuju Pasar Kuliner Tepian Sungai Musi, dan kami langsung duduk di sebuah warung tenda. Ada meja besar dengan banyak kursi. Kami memesan menu masing-masing. Saya memesan soto ayam. Semilir angin Musi membuat saya sangat bersemangat dan sekaligus tambah lapar! Dan saat kami menunggu pesanan, tiba-tiba ada serombongan wisatawan domestik, saya mengira mereka dari sekitaran Sumatera Utara karena logat Bataknya yang kental, dan tanpa ba-bi-bu, mereka yang sekitar berjumlah tujuh orang lengkap dengan anak-anak kecil langsung duduk di meja kami. What? Saya agak bingung pada awalnya, karena agak aneh kalau ada serombongan orang tak dikenal nimbrung di meja kami, tapi ternyata memang begitulah adanya, hahaha! Jadi kami makan siang bersama-sama dengan serombongan itu.
Sungguh nikmat!
Dari warung tenda kita bisa melihat gagahnya Jembatan Ampera ditimpa sinar mentari dan di bawahnya Sungai Musi berkilat-kilat, gelombangnya seirama, dan banyak perahu-perahu kecil berjejer rapi di tepiannya.



Saya bertanya kepada Dipo, perahu-perahu itu apa dan hendak ke mana. Ia menjawab, perahu bermesin itu namanya 'ketek' dan biasanya ada banyak wisatawan yang pesiar dari sini menuju Pulo Kemaro.
Saya langsung nyengir. Wah, apa itu Pulo Kemaro? Dipo bercerita singkat tentang Pulo Kemaro yang ada di tengah Sungai Musi dan isinya adalah vihara dan kuil-kuil merah, dan patung-patung. Oke, saya tertarik. Sudah sampai Musi masak tidak ke Pulo Kemaro? Tapi Greg agak khawatir dengan perahu yang kecil dan terlihat rapuh, sementara Sungai Musi sangat besar, jauh-jauh lebih besar dibandingkan saat kami naik perahu bermesin sederhana sebelumnya di Waduk Sermo, ini beratus kali lipatnya perairan Waduk Sermo, dan kami tidak bisa berenang! Yes!
Tapi saya meyakinkan Greg, bahwa it's once in a lifetime, dan kapan lagi kami bisa ke sini? Tak tahu kapan, dan harus ambil kesempatan ini, saya bilang. Akhirnya, kami sepakat, dan turun ke bibir sungai, mendekati perahu-perahu berwarna-warni yang diparkir di situ. Dipo dan Ipung menawar, dan akhirnya kami dapat satu perahu ketek!
Waaaaaaah, bergoyang-goyang perahunya dan saya berdebar-debar kegirangan!
Perahu ketek yang kami tumpangi sangat sangat sederhana dibanding beberapa perahu yang lain, kami bayar 50-60 ribu ya sekitar itu, untuk pulang balik. Dan saat mesin dinyalakan, our journey begins!
Waaaaaah, kami tertawa-tawa senang sepanjang perjalanan menyusuri perairan sungai. Setiap ada perahu lain yang lewat, melewati perahu kami, pasti gelombang ombak datang dan membuat kami terombang-ambing. Greg menggenggam tangan saya erat-erat. Saya tertawa melihatnya yang agak pucat. Traumanya tentang sungai dan air rupanya belum sepenuhnya pulih. Ya, Greg memang punya trauma dengan air dan sungai, atau apapun yang berair. Saat kecil dulu ia hampir tenggelam di Kali Progo di belakang rumahnya, dan you know what, Kali Progo itu besaaaar sekali! Apalagi untuk anak kecil waktu itu.
Dan saya genggam tangannya erat-erat.
We know that we'll never forget this moment!


*bersambung*

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...