Monday, March 3, 2014

(Sekali Lagi) tentang Menikah

Iya.
Saya mau menulis tentang topik ini lagi. Basi ya.
Sebelumnya saya pernah menulis tentang Sindrom Perkawinan dan Rumah Boneka di blog ini, bahkan hingga part 1 dan 2! Dan sekarang saya (sekali lagi) akan menulis tentang pernikahan.

*

Oke, mulai dari mana?
Ya, dari banyaknya undangan pernikahan yang datang setahun belakangan ini, mungkin?
Atau kemarin saya baru saja menghadiri pesta pernikahan yang sangat menarik di Dusun Sumber, Magelang? Sakramen pernikahannya sahabat karib Greg, Damar, yang sejak tahun 2004 mereka sudah bersama-sama. BFF lah.
Atau tentang umur saya yang hampir kepala tiga? Wah wah wah!
Nggak kayaknya.
Saya nggak akan mulai dari itu.
Mungkin lebih enak kalau bercerita tentang sebenarnya saya (masih) enggan menikah. Terlepas saya sering membicarakan topik ini dengan Greg sejak awal tahun ini, tapi setiap saya menghadiri pesta pernikahan, semakin saya enggan melaksanakan prosesi itu.
Ini agak aneh sebenarnya.


Well, semua orang di dekat saya tahu kalau saya dan Greg sudah hampir 9 tahun bersama, kami berbeda agama, dengan latar belakang keluarga yang sangat kuat religiusnya (saya dari keluarga Muslim-NU dan Greg dari keluarga Katolik), dengan track record yang hampir mulus (tak pernah ada kata putus, meski ada 1x break up yang hanya bertahan selama 2 bulan saja), sisanya aman dan terkendali. Kami bersama sejak 2005, mulai tinggal bersama sejak 2011 sampai sekarang, dan masing-masing sebenarnya masih enggan menikah jika tidak karena ada alasan untuk memperlancar hal-hal seperti misalnya mengontrak rumah dan sebagainya. Dan, well, kami berdua sebenarnya tidak terlalu suka dengan prosesi dan pesta-pesta. Dan ini sekali lagi, bukan masalah tentang kepercayaan kami masing-masing, melainkan keluarga kami.

*

Oke, saya akan bercerita tentang sebuah proses.
Jadilah, pada sebuah hari yang cukup cerah, kami berdua ke Gereja Mlati. Bertemu dengan pengurus gereja dan bertanya-tanya tentang proses menikah beda agama dengan dispensasi. Menikah ternyata murah, teman! Hanya membayar administrasi 150,000 saja. Namun harus ada penyelidikan kanonik, kursus pernikahan dan sebagainya. Asyiknya, menikah hanya diketahui 5 orang saja sudah sah: kedua mempelai, Romo, dan 2 orang saksi. Saya berpikir-pikir. Tentu saja dengan beberapa poin lain, misal saya diminta menuliskan saya pindah agama meski itu hanya formalitas saja dan anak pertama nantinya harus beragama Katolik.

Saya sebenarnya tidak terlalu peduli dengan masalah birokrasi agama ini.
Saya hanya ingin (misalnya saja) tandatangan dan langsung sah. Hahaha! 

Menikah kan perkara melegalkan kebersamaan saya dengan Greg yang selama 9 tahun ini.
'Dilegalkan' secara agama dan negara. Padahal 2 lembaga itu saya sudah tidak terlalu percaya dengannya. Catatan, saya memang tidak menjalankan praktek-praktek keagamaan tertentu, tapi saya menghormati dan menghargai segala macam bentuk ajaran-ajaran kepercayaan, bukan institusinya yang bernama 'agama'.

Oke, kembali lagi.
Sempat saya terpikir saya akan menikah tahun ini, dengan cepat saja, karena saya merasa menikah hanyalah sebuah formalitas dan tandatangan saja. Tentu saja akan ada doa-doa baik yang menyertai di sana, dan ungkapan-ungkapan seperti 'Selamat menempuh hidup baru' atau 'Selamat menjalani tahap kehidupan selanjutnya' saya rasa kurang pas untuk saya. Hidup baru setelah menikah itu yang seperti apa? Tahap baru yang selanjutnya seperti apa? Membentuk sebuah keluarga?

Saya mungkin agak nyinyir ya, tapi saya merasa, menikah atau tidak menikah, saya akan seperti ini saja. Bersama Greg, membuat ini dan itu, sedikit berjalan-jalan dan bertemu banyak orang-orang. Yang mungkin tepat adalah saya mungkin akan merasa lega. LEGA. Karena sudah terbebas dari jeratan norma sosial ini. Atau juga mungkin LEGA karena sudah tidak ada yang dipikirkan lagi tentang prosesi ini sehingga kita bisa lebih fokus berkarya bersama-sama.

Ya, mungkin itu saja.
Saya mau menikah agar saya lega.
Agar saya bisa beralih ke hal-hal lain, mewujudkan ide-ide yang lain.

Ya, semoga saja.
Karena sekarang saya sedang kepikiran untuk tidak melaksanakan prosesi ini secara Katolik. Mungkin akan lebih praktis secara Islam saja, ijab kabul dan lain-lain. Tentunya ayah dan ibu saya akan lebih lega lagi kalau hal ini terjadi. Dan tetap kami berdua tidak akan ada yang pindah agama. Sekali lagi, ini demi keluarga. Kami tetap menghargai dan menyayangi keluarga kami, bagaimanapun mereka.

Wah, sepertinya saya bercerita terlalu banyak.
Besok saya sambung lagi ya :)

Salam sayang!

***



No comments:

Post a Comment

terimakasih ya sudah mampir dan menyapa kurakurakikuk :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...