Thursday, March 13, 2014

Apa yang Lebih Sedih dari Ditinggalkan?

Ya.
Apa yang lebih sedih dari ditinggalkan?
Baik oleh seseorang ataupun sesuatu.

Hari ini saya merasakannya.
Setelah saya enyahkan perasaan serupa selama sebulan terakhir ini, hari ini adalah puncaknya.
Rasanya seperti telungkup di atas tanah yang dingin, dan orang-orang lalu lalang berjalan, menginjak, di atasmu.
Ya, rasanya seperti itu.

***

Renungan atas sebuah hari yang membuatmu menangis dan lemas, karena sungguh, kesedihan memakan habis tenagamu hingga kau tak lagi bisa menyungging senyum dan cahaya di matamu meredup.
Dan tentu saja, ucapan klise itu sekali lagi benar, bahwa orang yang paling kau sayangilah yang malah punya kesempatan besar untuk menyakitimu...

//No Face//
dari film Ghibli kesukaan saya, Spirited Away.
Gambar diambil dari tautan ini.

Friday, March 7, 2014

The Golden Rule

Selamat pagi :)

Beberapa saat yang lalu saya menemukan sebuah tulisan di sebuah majalah spiritual tentang The Golden Rule dari beberapa agama dan kepercayaan di dunia. Dan setelah saya baca, saya kaget karena kok pada intinya hampir mirip semua.

Dan yang bikin saya kaget sekali lagi adalah bahwa selama ini Greg sering melakukan hal itu kepada saya, atau dengan kata lain ia mengajarkan saya tentang hal ini. Sesuatu yang kadang tak pernah saya sadari hingga pada suatu sore saat saya sedang membuka-buka majalah tentang meditasi di rumah teman yang tergeletak begitu saja di atas meja, saya lalu melihat semuanya.

*

Ya, jadi dalam sebuah hubungan, tak bisa dipungkiri kalau sering ada letupan-letupan kecil.
Contoh, pernah suatu hari saya mendiamkan Greg seharian karena sesuatu hal. Saya melakukannya agar ia tahu kalau saya marah atau tidak setuju, dan kemudian mengharap agar ia mau meminta maaf dan bla bla bla. Klise lah, begitu begitu. Tapi Greg tidak pernah melakukannya. Instead of meminta maaf, dia malah mendiamkan saya. Jadi kami berdua diam-diaman seharian. Dan trust me, itu tidak nyaman sama sekali!
Saya merasa tersiksa. Dicuekin itu rasanya sama sekali dan nggak enak. It suffers me! Saya lah yang kemudian justru mengajak ia bicara dan saya lupa dengan alasan-alasan bodoh kenapa saya mendiamkannya. Biasanya sih tidak butuh waktu lama, lalu kita baikan lagi :)

Saat itulah saya bertanya, kenapa kamu juga mendiamkan saya.
Ia menjawab, agar kamu tahu rasanya bagaimana diperlakukan seperti itu, dan kalau kamu tidak mau diperlakukan seperti itu, jangan pernah melakukan hal itu kepada orang lain.

Jangan pernah melakukan hal yang tak ingin orang lakukan kepadamu, tegasnya.

**

Dan itu saya ingat-ingat terus.
Saya sadar ia telah mengajari saya sesuatu.
Tapi saya tak tahu itu apa. Saya anggap bahwa yang ia bicarakan adalah baik dan saya setuju.

Dan saya baru tahu apa itu setelah saya menemukan majalah yang tergeletak di meja di sebuah sore di rumah teman saya, tanpa sengaja. Sebuah majalah terbitan, aduh saya lupa, tapi pastinya tentang meditasinya Gede Prama. Gambarnya lingkaran besar dengan banyak simbol agama dan kepercayaan dengan tulisan besar-besar: THE GOLDEN RULE. Saya kutip ya, di sini :)

BUDDHISM
Treat not others in ways that you yourself would find hurtful.
(Udana-Varga 5, 18)

CONFUCIANISM
One word which sums up the basis of all good conduct...loving kindness, do not do to others what you do not want done to yourself.
(Confucious, analects, 15:23)

TAOISM
Regard your neighbour's gain as your own gain and your neighbour's loss as your loss.
(Tai Shang Kan Ying P'ien, 213-218)

SIKHISM
I am a stranger to no one, and no one is a stranger to me. Indeed, I am a friend to all.
(Guru Granth Sahib, PG. 1299)

CHRISTIANITY
In everything, do to others as you would have them do to you, for this is the law and the prophets.
(Jesus, Matthew 7:12)

UNITARIANISM
We affirm and promote respect for the interdependent web of all existence of which we are a part.
(Unitarian Principle)

NATIVE SPIRITUALITY
We are as much alive as we keep the earth alive.
(Chief Dan George)

ZOROASTRIANISM
Do not do unto others whatever is injuring to yourself.
(Shayast-Na-Shayast 13:29)

JAINISM
One should treat all creatures in the world as one would like to be treated.
(Mahavira, Sutrakritangga)

JUDAISM
What is hateful to you, do not do to your neighbour. This is the whole Torah; all the rest is commentary.
(Hellel, Talmud, Shabbat 31 A)

BAHA'I FAITH
Lay not on any soul, a load that you would not wish to be laid upon you, and desire not for anyone the things you would not desire for yourself.
(Baha'ullah, Gleanings)

ISLAM
Not one of you truly believes until you wish for others what you wish for yourself.
(The Prophet Mihammad, Hadith)

HINDUISM
This is the sum of duty, do not do to others what would cause pain if done to you.
(Mahbharata 5:1517)

***

Waow!
Saya tertegun beberapa saat setelah membaca kalimatkalimat pendek di atas.
Hampir semuanya mengajarkan hal yang sama, yaitu pada intinya adalah:
Jangan pernah melakukan hal yang tak ingin orang lakukan kepadamu.
Kalau kamu tak ingin dicuekin, ya jangan cuekin orang lain.
Kalau kamu tak ingin dilukai, ya jangan melukai orang lain.
Jadi, kalau kamu ingin dicintai, ya cintailah orang lain.

Sesederhana itu.
Saya merenung, banyak orang yang mungkin lupa akan aturan emas ini. Banyak yang melakukan kejahatan, atau melukai dan bahkan membunuh orang lain, tanpa mereka ketahui bahwa semuanya akan kembali kepada lingkaran awal.
Tak ada yang linier.
Semuanya adalah lingkaran.
Apapun yang akan kita lakukan kepada orang lain akan mbalik ke diri kita sendiri.

Beberapa bulan terakhir saya sedang mengerjakan transkrip atas riset-riset tentang HIV. Dan beberapa rekaman di dalamnya membuat saya miris, bahkan menangis, kok ada yang tega memperlakukan manusia seperti itu kepada manusia yang lainnya. Dan itu hanya sebagian kecil peristiwa saja yang pernah terjadi di dunia ini. Atau misalnya saya tak habis pikir dengan seseorang yang tega membunuh binatang (baca: kucing) untuk adu kejantanan saja.

Apapun itu.
Jangan pernah melakukan hal yang tak ingin orang lakukan kepadamu.

****
//Greg//

Orang-orang tua bilang, orang kalau simetris itu baik.
Di foto ini, yang saya ambil pada suatu magrib di Candi Boko, saya melihat Greg yang simetris.
Greg yang mem-Buddha.

Monday, March 3, 2014

(Sekali Lagi) tentang Menikah

Iya.
Saya mau menulis tentang topik ini lagi. Basi ya.
Sebelumnya saya pernah menulis tentang Sindrom Perkawinan dan Rumah Boneka di blog ini, bahkan hingga part 1 dan 2! Dan sekarang saya (sekali lagi) akan menulis tentang pernikahan.

*

Oke, mulai dari mana?
Ya, dari banyaknya undangan pernikahan yang datang setahun belakangan ini, mungkin?
Atau kemarin saya baru saja menghadiri pesta pernikahan yang sangat menarik di Dusun Sumber, Magelang? Sakramen pernikahannya sahabat karib Greg, Damar, yang sejak tahun 2004 mereka sudah bersama-sama. BFF lah.
Atau tentang umur saya yang hampir kepala tiga? Wah wah wah!
Nggak kayaknya.
Saya nggak akan mulai dari itu.
Mungkin lebih enak kalau bercerita tentang sebenarnya saya (masih) enggan menikah. Terlepas saya sering membicarakan topik ini dengan Greg sejak awal tahun ini, tapi setiap saya menghadiri pesta pernikahan, semakin saya enggan melaksanakan prosesi itu.
Ini agak aneh sebenarnya.


Well, semua orang di dekat saya tahu kalau saya dan Greg sudah hampir 9 tahun bersama, kami berbeda agama, dengan latar belakang keluarga yang sangat kuat religiusnya (saya dari keluarga Muslim-NU dan Greg dari keluarga Katolik), dengan track record yang hampir mulus (tak pernah ada kata putus, meski ada 1x break up yang hanya bertahan selama 2 bulan saja), sisanya aman dan terkendali. Kami bersama sejak 2005, mulai tinggal bersama sejak 2011 sampai sekarang, dan masing-masing sebenarnya masih enggan menikah jika tidak karena ada alasan untuk memperlancar hal-hal seperti misalnya mengontrak rumah dan sebagainya. Dan, well, kami berdua sebenarnya tidak terlalu suka dengan prosesi dan pesta-pesta. Dan ini sekali lagi, bukan masalah tentang kepercayaan kami masing-masing, melainkan keluarga kami.

*

Oke, saya akan bercerita tentang sebuah proses.
Jadilah, pada sebuah hari yang cukup cerah, kami berdua ke Gereja Mlati. Bertemu dengan pengurus gereja dan bertanya-tanya tentang proses menikah beda agama dengan dispensasi. Menikah ternyata murah, teman! Hanya membayar administrasi 150,000 saja. Namun harus ada penyelidikan kanonik, kursus pernikahan dan sebagainya. Asyiknya, menikah hanya diketahui 5 orang saja sudah sah: kedua mempelai, Romo, dan 2 orang saksi. Saya berpikir-pikir. Tentu saja dengan beberapa poin lain, misal saya diminta menuliskan saya pindah agama meski itu hanya formalitas saja dan anak pertama nantinya harus beragama Katolik.

Saya sebenarnya tidak terlalu peduli dengan masalah birokrasi agama ini.
Saya hanya ingin (misalnya saja) tandatangan dan langsung sah. Hahaha! 

Menikah kan perkara melegalkan kebersamaan saya dengan Greg yang selama 9 tahun ini.
'Dilegalkan' secara agama dan negara. Padahal 2 lembaga itu saya sudah tidak terlalu percaya dengannya. Catatan, saya memang tidak menjalankan praktek-praktek keagamaan tertentu, tapi saya menghormati dan menghargai segala macam bentuk ajaran-ajaran kepercayaan, bukan institusinya yang bernama 'agama'.

Oke, kembali lagi.
Sempat saya terpikir saya akan menikah tahun ini, dengan cepat saja, karena saya merasa menikah hanyalah sebuah formalitas dan tandatangan saja. Tentu saja akan ada doa-doa baik yang menyertai di sana, dan ungkapan-ungkapan seperti 'Selamat menempuh hidup baru' atau 'Selamat menjalani tahap kehidupan selanjutnya' saya rasa kurang pas untuk saya. Hidup baru setelah menikah itu yang seperti apa? Tahap baru yang selanjutnya seperti apa? Membentuk sebuah keluarga?

Saya mungkin agak nyinyir ya, tapi saya merasa, menikah atau tidak menikah, saya akan seperti ini saja. Bersama Greg, membuat ini dan itu, sedikit berjalan-jalan dan bertemu banyak orang-orang. Yang mungkin tepat adalah saya mungkin akan merasa lega. LEGA. Karena sudah terbebas dari jeratan norma sosial ini. Atau juga mungkin LEGA karena sudah tidak ada yang dipikirkan lagi tentang prosesi ini sehingga kita bisa lebih fokus berkarya bersama-sama.

Ya, mungkin itu saja.
Saya mau menikah agar saya lega.
Agar saya bisa beralih ke hal-hal lain, mewujudkan ide-ide yang lain.

Ya, semoga saja.
Karena sekarang saya sedang kepikiran untuk tidak melaksanakan prosesi ini secara Katolik. Mungkin akan lebih praktis secara Islam saja, ijab kabul dan lain-lain. Tentunya ayah dan ibu saya akan lebih lega lagi kalau hal ini terjadi. Dan tetap kami berdua tidak akan ada yang pindah agama. Sekali lagi, ini demi keluarga. Kami tetap menghargai dan menyayangi keluarga kami, bagaimanapun mereka.

Wah, sepertinya saya bercerita terlalu banyak.
Besok saya sambung lagi ya :)

Salam sayang!

***



Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...