Sunday, December 23, 2012

Sumatera, Sumatera! (bagian 9)

*sambungan dari Palembang Malam Ini: Ampera, Benteng Kuto Besak, dan Musi!

Minggu, 22 Juli 2012
Pasar Ilir 16
06.30 pagi
Kami terbangun.
Rumah Dipo masih sepi. Maklum, Dipo hanya tinggal berdua saja dengan abangnya di rumah besar ini. Greg langsung beranjak mandi, dan saya mengumpulkan baju-baju kotor. Rencananya pagi ini saya akan mencuci. Mumpung di rumah Dipo ada mesin cuci dan saya tak mau kejadian 'laundry tutup' seperti saat di Lampung kemarin terjadi lagi.
Jadilah pagi itu saya terpeleset-peleset di lantai ruang cuci, mencuci beberapa baju kotor karena kami tak membawa baju banyak.
08.00
Suasana rumah sudah mulai ramai.
Dipo dan Ipung sudah bangun, Greg sedang membaca koran, saya sedang browsing tiket dan baju-baju sudah dijemur. Rencananya pagi ini kami hendak mencari info tiket kapal cepat ke Pulau Bangka. Kami hendak menyeberang ke Bangka untuk bertemu dengan kawan lama nan karib di sana, Dodis. Ipung menyarankan untuk memesan tiket ke pelabuhan Boom Baru karena biasanya kapal ke Bangka berangkat pagi-pagi sekali, jika kita telat sedikit maka ditinggal. Tak mau menunggu.
Akhirnya, setelah segelas teh panas dan sepiring empek-empek, kami berempat berkendara ke Boom Baru. Cukup jauh juga dari rumah Dipo, pikir saya. Dan ternyata sampai di sana tidak ada pemesanan tiket, kami harus datang pagi-pagi besok kalau mau menyeberang ke Muntok, Bangka. Walah.
11.00
Panas lumayan terik. Kami hampir sampai Ampera. Dipo mengajak makan siang di tepian Sungai Musi. Amboi, tawaran yang sangat menggiurkan!
Kami memasuki deretan panjang ruko-ruko dan segala macam lapak di kedua sisi jalan. Saya membatin, wah pasar besar ini. Ternyata benar. Ipung bilang ini adalah Pasar Ilir 16.
Minggu siang ini jalanan tengah pasar penuh sesak oleh para pembeli dan pedagang. Jalanan cukup bersih, tak becek. Tentu saja, kata Ipung, pasar ini hanya menjual tekstil. Kau cari apa saja ada, asal tekstil, lanjutnya, songket, batik, kain, segala macam baju impor...
Weits, awul-awul maksudmu? tanya saya. Ya baju-baju berkarung-karung datangnya dari pelabuhan, dan harganya murah, tapi memang sudah seken, lanjutnya lagi, tak memahami kata saya, awul-awul.
Saya tergoda.
Bagaimana tidak? Sebagai penduduk Jogja yang ditebari dengan toko awul-awul (baju second hand dari luar negeri, biasanya Korea dan Jepang, yang modelnya oke-oke dan harganya murah sekitar 5,000-20,000 tapi harus dicuci bersih-bersih+di-laundry karena cukup bau dan bisa gatal-gatal di kulit kalau langsung dipakai) dan pesta awul-awul setiap Sekaten (yang setahun sekali) membuat saya ngiler untuk datang langsung ke tangan pertama. Tapi Greg bilang, kapan-kapan saja lah, toh di Jogja juga ada awul-awul. Kita ke sini kan mencari yang tidak ada di Jogja.
Yaaah.
Tak apa-apa lah, pikir saya. Greg benar juga. Jauh-jauh ke Palembang masak saya hanya memburu awul-awul? Tapi sempat juga saya mengambil beberapa foto suasana Pasar Ilir 16 siang itu.
Kami melewati beberapa bis trans besar, namanya TransMusi, yang lebih besar dari TransJogja dan TransBandarLampung. Lalu saya melihatnya.
Ampera.
Tegak menjulang di tengah keramaian.
Kami memarkir motor di sekitar becak-becak, lalu berjalan kaki menuju warung-warung di tepian Sungai Musi.
Waaah, saya sudah tidak sabar!

(bersambung)

No comments:

Post a Comment

terimakasih ya sudah mampir dan menyapa kurakurakikuk :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...