Wednesday, December 19, 2012

Sumatera, Sumatera! (bagian 8)

*sambungan dari Kereta Rajabasa: Melintasi Hijau Hutan Perawan*

Sabtu, 21 Juli 2012
Palembang Malam Ini: Ampera, Benteng Kuto Besak, dan Musi!
Seperti terbang rasanya.
Saya berteriak-teriak kegirangan saat motor kami melintasi Jembatan Ampera.
Indah sekali!
Lampunya selalu berganti-ganti warna setiap detik: ungu, kuning, biru, hijau, merah, cantik sekali. Dan Sungai Musi tampak bermandi cahaya lampu pelangi di bawahnya.
Sebagai orang Jogja yang "hanya" punya Kali Code, melintasi sungai yang besaaar sekali membuat saya terbengong-bengong. Ya, walaupun saya juga pernah tinggal di Mojokerto, Jawa Timur dan terbiasa melihat Sungai Brantas, tapi kali ini saya bener-bener speechless. Gila! Besar sekali!
Setelah menyeberangi Jembatan Ampera, kami lalu masuk ke kota Palembang.
Waaa, sekali lagi saya ber-waow-waow.
Kotanya besar, dan bersih sekali. Dan cukup lengang. Padahal masih jam 9.30 malam dan ini malam minggu.
Gedung-gedung pemerintahan bersinar-sinar dengan lampu warna-warni, air mancur dengan lampu berwarna hijau di tengah taman dan danau, masjid-masjid besar, menara air yang menjulang di kantor walikota, waow sekali sampai-sampai saya lupa memotret!
Kami lalu melaju ke rumah Dipo, tempat kami transit sementara di Palembang.
Disambut hangat oleh teman-teman, mengobrol sebentar, dan Greg mengajak saya makan malam setelah hampir 12 jam kami di kereta.
Kami berangkat berempat naik motor.
Berhenti di rumah makan Padang. Ipung dan Dipo menolak dengan halus tawaran kami untuk makan malam, mereka malah menawarkan diri untuk mencarikan bir dan anggur hitam Cap Kunci khas Palembang. Tawaran yang menarik, pikir saya, dan juga sebagai ucapan terima kasih kami karena mereka sudah mau menjemput kami di stasiun malam ini.
Beberapa menit kemudian, kami melaju ke arah Ampera.
Saya bertanya kepada Ipung di depan saya, hendak kemano kito Bang?
Ia menjawab dengan logat Palembangnya yang kental: Benteng Kuto Besak.
Yuhuuuui!
Malam minggu seperti ini ternyata banyak anak-anak muda Palembang yang nongkrong di Benteng Kuto Besak. Wah, hampir mirip Benteng Vredeburg di Jogja, tapi lebih luaaaas dan lebih besaaaar, pikir saya. Jalan yang menuju Benteng macet oleh sepeda motor, dan parkirannya juga panjaaaang sekali. Istimewanya, Benteng ini langsung menghadap ke Sungai Musi dengan latar belakang Jembatan Ampera yang berkelap-kelip dengan gagahnya.
Kuto Besak adalah bangunan keraton yang menjadi pusat Kesultanan Palembang yang didirikan pada abad ke-18, dibangun selama 17 tahun, yang diprakarsai oleh Sultan Mahmud Badaruddin I. Sebelum pindah ke Kuto Besak, Sultan Mahmud tinggal di Keraton Kuto Lamo, makanya Belanda menyebut Benteng Kuto Besak sebagai nieuwe keraton alias keraton baru.
Karena penasaran, saya melongok-longok ke dalam. Tapi kok sepertinya banyak tentara ya? pikir saya heran, bukankah ini keraton dulunya?
Kata Ipung, sekarang Benteng Kuto Besak ini ditempati oleh Kodam Sriwijaya.
Oh ya? pikir saya terheran-heran. Aneh sekali, kenapa tak dibuka untuk umum saja seperti Benteng Vredeburg di Jogja ya? Dijadikan museum, jadi orang di luar Palembang tahu bagaimana sejarahnya. Ipung hanya mengangkat bahu sambil menghisap rokoknya.
Kami berjalan ke deretan pohon-pohon palem yang indah, memanjat tembok pembatas, lalu hup! nongkrong di pinggir Sungai Musi.
Beberapa botol bir dan anggur Cap Kunci sudah di tangan, Ipung bahkan sempat membeli es batu segala, sementara Dipo mencari makanan kecil. Memang di pelatarannya yang penuh, banyak ibu-ibu pedagang yang menjual makanan, entah apa saya kurang tahu, semacam gorengan. Para pedagang ini biasanya duduk berderet-deret dengan lampu kecil, mengingatkan saya pada saat Sekaten di halaman Masjid Besar Kauman dengan deret-deret pedagang sega gurih dan telur merah.
Letih selama 12 jam berkereta hilang tak berbekas.
Semuanya terbayar saat kami duduk di pinggir Musi, melihat Ampera di kejauhan, minum bir bersama, dan tertawa-tawa.
Beberapa pasangan di sebelah kami tampak malu-malu saling menggenggam, bahkan ada yang memetik gitar dan langsung bernyanyi lagu-lagu cinta untuk si gadis.
Saya tertawa kecil.
Rasanya hangat sekali di dalam.
Dan saat saya memandang Jembatan Ampera yang berkelap-kelip di sebelah kiri saya, ah, bahagia rasanya!
Palembang, wong kito galo, kuhirup juga akhirnya kotamu!
Kata Greg, dulu Jembatan Ampera namanya bukan Ampera.
Jembatan yang ada di tengah-tengah kota Palembang ini, yang menghubungkan Seberang Ulu dan Seberang Ilir ini dulunya sempat bernama Jembatan Bung Karno.
Oya? tanya saya sambil mengangguk-angguk.
Jembatan ini diresmikan tahun '65 dan waktu itu menjadi jembatan terpanjang di Asia Tenggara. Namun karena ada geger politik tahun '66 dan ada gerakan anti-Soekarno yang sangat kuat akibat pengaruh Soeharto dan Orde Baru, jembatan ini kemudian berganti nama menjadi Ampera, alias Amanat Penderitaan Rakyat, Greg melanjutkan.
Saya mengangguk-angguk sambil menyeruput anggur hitam Cap Kunci yang diulurkan Ipung. Ugh, pahit, saya tidak begitu suka.
Ternyata Greg juga merasakan hal yang sama. Kami berdua memang tak minum alkohol selain bir, dan itu saja pun masih kami kurangi kuantitasnya sampai sekarang. Kopi, saya juga tak pernah minum kopi. Biasanya sih kalau saya jeruk panas, hehe.
Eh, kenapa malah ngomongin minuman ya?
Kami sempat berfoto bersama malam itu, meskipun agak goyang dan blur, tapi jadi juga.
Setelah jam menunjukkan pukul 11 malam lebih sedikit, kami beranjak.
Greg yang ingin buang air kecil jalan duluan, sedangkan saya dan Ipung menuju ke arah tempat parkiran. Kami ngobrol-ngobrol tentang ini dan itu, hingga hampir 15 menit lamanya tapi Greg tak kunjung datang.
Saya jadi cemas.
Dari arah depan Dipo datang menghampiri.
Greg di mana? tanyanya.
Lho, bukannya sama kamu ya Bang? tanya saya balik.
Kami saling ber-lho-lho, mencoba menelpon hapenya, meng-sms, tapi tak ada respon.
Dipo bergegas, coba saya cari ya ke sana. Tunjuknya ke arah Ampera.
Saya melongo. Ha? Jauh sekali.
Dan setelah hampir 10 menit menunggu, Greg datang tiba-tiba sambil cengar-cengir. Disusul Dipo yang berlari-lari di belakangnya.
Kamu dari mana? tanya saya cemas karena sudah hampir 25 menit ia menghilang.
Aku juga nggak tahu, katanya bingung tapi masih cengar cengir.
Usut punya usut, ternyata Greg mendadak seperti lost in crowd, tak tahu arah, jadi ia merasa bahwa dirinya berjalan kembali ke arah kami tadi nongkrong minum bir di pinggir sungai, tapi yang terjadi adalah ia malah berjalan semakin jauh dari kami dan menuju ke arah Jembatan Ampera.
Kami semua geleng-geleng kepala sambil tertawa terbahak-bahak.
Wah, jangan-jangan disesatkan si penunggu Ampera nih, antu banyu, antu banyu, celetuk Ipung. Saya nggak mau mikir lagi yang macem-macem, apalagi tentang "hantu air" atau apa, jadinya kami langsung pulang ke rumah Dipo, dan beristirahat.
Malam itu, tepat jam 12, saya langsung tidur pulas.
Senang bisa merebahkan badan setelah 18 jam terjaga.
Hoahm!

(bersambung)

No comments:

Post a Comment

terimakasih ya sudah mampir dan menyapa kurakurakikuk :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...