Sunday, December 16, 2012

Sumatera, Sumatera! (bagian 7)

*sambungan dari Tragedi Tiket*

Sabtu, 21 Juli 2012

Kereta Rajabasa: Melintasi Hijau Hutan Perawan!
Pukul 06.00
Kami bersiap di pinggir jalan, menanti mikrolet yang akan membawa kami ke Stasiun Tanjungkarang pagi ini.
Jalanan masih lengang. Tak banyak yang melintas. Udara masih segar, sesegar perasaan saya karena kami akan melanjutkan perjalanan setelah kemarin bergulat dengan tiket yang simpang siur.
Setengah jam kemudian kami sampai.
Stasiun pagi itu lumayan penuh. Greg segera bergegas mengantri tiket yang antriannya sudah mengular. Kereta kami akan berangkat pukul 8.30. Budhe-nya Greg ikut mengantar kami sampai stasiun dan membawakan kami bekal untuk pengganjal perut selama di kereta.
Akhirnya, tiket sudah di tangan. Peluit sudah bertiup.
Kami berpamitan di depan pintu pembatas peron. Berterimakasih sudah bersedia menampung kami selama 2 hari di Lampung. Lalu kami meloncat ke kereta.
Jess jess kuuuk!
Jess jess kuuuk!
Kereta api Rajabasa mulai bergerak, meninggalkan Stasiun Tanjungkarang.
Yeah!
Saya selalu mencintai perjalanan. Bergerak dari satu titik ke titik yang lain.
Singgah hanyalah tempat sementara untuk merasa, bertemu, dan menikmati yang baru.
Tak harus lama, karena momen harus terus ditangkap, disentuh dan dirasakan.
Seperti saat kami berada dalam kereta ini.
Bersama-sama dengan berpuluh-puluh orang yang hendak menuju ke sebuah tempat bersama-sama. Tujuan kami bisa saja berbeda-beda, tapi kami terus bergerak bersama, saling menggeser kaki jika tertindih dan tersenyum saat berbagi meja kecil di samping jendela demi sebotol akua dan sebungkus roti.
Di depan kami duduk adalah sebuah keluarga, ayah-ibu-dan-anak. Si anak laki-laki ini masih berusia sekitar 8-9 tahunan, dengan wajah yang terus menerus cemberut sambil menggenggam uang 50 ribu di tangan kecilnya yang selalu ia lihat seolah itu harganya yang paling berharga. Si ibu berwajah khas Sumatera dengan rahang kuat, kotak dan kokoh. Si bapak seorang petani di sebuah desa kecil di Sumatera Selatan. Perjalanan naik kereta ini adalah tongkat estafet pertama bagi mereka, karena masih ada perjalanan darat lainnya setelah kereta berhenti di Kertapati, Palembang.
Saya mengalihkan perhatian ke tempat duduk di sebelah kami.
Seorang ibu-ibu yang berdandan menor, full make up dengan lipstik menyala, bajunya gemerlap dengan hiasan payet dan manik beraneka warna dikelilingi oleh tiga orang laki-laki paruh baya di sekelilingnya. Salah seorang laki-laki itu memangku seorang anak laki-laki yang kira-kira sebaya dengan anak laki-laki di hadapan saya.
Satu jam telah berlalu.
Petugas kereta datang, memeriksa tiket, melubanginya, ceklik ceklik.
Suasana mulai cair.
Banyak yang membuka bekal untuk sarapan, dan celoteh ramai berbagai dialek Sumatera pun memenuhi gerbong.
Saya melayangkan pandang ke jendela sambil mengigit sepotong roti.
Rumah-rumah kayu, perkebunan kelapa, ketela, gerumbul hijau-hijau yang saya tak tahu namanya, sungai-sungai dengan bebatuan besar dan air kecoklatan, perkebunan lagi, hutan-hutan-hutan, rumah-rumah kayu lagi, dan seterusnya silih berganti.
Indah sekali.
Ini pertama kalinya saya naik kereta api di tanah Sumatera. Dulu saya sempat berpikir, tak ada kereta di Sumatera karena alamnya yang bergunung-gunung. Dan setelah melewati beberapa stasiun kecil-kecil, tiba-tiba kereta berhenti. Cukup lama.
Apa yang terjadi, pikir saya. Apakah ada kereta lain yang akan lewat?
Dan ternyata benar.
Dua buah lokomotif besar muncul, diikuti dengan gerbong-gerbong besar tertutup yang belum pernah saya lihat sebelumnya. Kereta melintas seperti tak habis-habis.
Ah! Saya ingat!
Inilah Kereta Babaranjang!
Si kereta pengangkut batu-bara-rangkaian-panjang.
Saya menghitung gerbong-gerbongnya. 40 gerbong! Waaah, panjang sekali!
Saking rajinnya menghitung gerbong yang lewat, saya malah tak sempat memotret keretanya!
KA Babaranjang ini mengangkut batubara dari Tanjungenim (Sumatera Selatan) ke Tanjungkarang tiap harinya. Sumatera Selatan memang penghasil batubara, salah satu sumber utama energi di negeri ini. Menurut yang saya baca di sini, diperkirakan cadangan batubara yang terdapat di Sumatera Selatan mencapai 22,24 miliar ton. Sementara, batubara yang bisa diproduksi oleh perusahaan PT Tambang Batubara Bukit Asam di Tanjungenim baru mencapai angka rata-rata 10 juta-12 juta ton, dan jumlah ini akan terus berkembang hingga mencapai angka 22,7 juta ton di tahun 2014 seiring kontrak perjanjian peningkatan volume angkutan batubara dengan pihak  PT Kereta Api Indonesia.
Kereta Babaranjang ini adalah salah satu jenis kereta pengangkut batubara di Sumatera Selatan, masih ada satu kereta lagi yang disebut Babarased atau batu-bara-rangkaian-sedang dengan panjang 15-35 gerbong saja, dari Tanjungenim ke Kertapati. Lebih pendek jika dibandingkan si Babaranjang yang punya 30-40 gerbong. Rute si Babaranjang ini dimulai dari Stasiun Tanjungenim Baru-Prabumulih-Tanjungkarang-berakhir di Stasiun Tarahan.
Waah, kereta kami harus mengalah agar si Baba bisa lewat duluan!
Setelah beberapa menit yang panjang, kereta mulai bergerak.
Semilir lagi.
Saya mengecek catatan saya, menurut jadwal di stasiun tadi, kami akan tiba di Kertapati setelah kira-kira 8 jam perjalanan, tapi saya agak curiga, karena kalau kami dilewati Babaranjang lagi, tak mungkin kami bisa sampai Palembang jam 5 sore. Kata bapak di samping saya, Babaranjang akan sering lewat, paling banyak hingga 8 kali rangkaian (wah!) dan kereta kami harus mengalah. Batubara memang harus didahulukan daripada penumpang di sini, karena pendapatan terbesar PT KAI di Sumatera berasal dari angkutan batubara ini.
Saya menelan ludah.
Bisa sampai Palembang jam berapa ya? tanya saya lagi.
Kata bapak itu, bisa sampai jam 9 malam nanti. Saya menelan ludah lagi.
Segera saya menghubungi kawan kami di Palembang, Dipo, yang hendak menjemput kami dan berbaik hati mengizinkan kami menumpang di rumahnya tentang keterlambatan iniKami belum pernah bertemu dengan Dipo. Ia dikenalkan lewat sms oleh Dodis, teman kos Greg dulu sewaktu ngekos di Mrican. Dan rencananya kami juga akan melawat ke tempat Dodis di Pangkalpinang, Bangka setelah trip ke Palembang.
Tiba-tiba kereta berhenti lagi.
Dan seperti yang sudah diduga, si Babaranjang lewat lagi.
Siang sudah terik.
Penumpang mulai ramai lagi. Mencari makan siang. Melahap bekal. Saling mempersilahkan.
Dan saat itulah telinga saya menangkap pembicaraan panjang yang terjadi di sebelah bangku kami. Masih ingat dengan ibu-ibu berlipstik tebal yang saya ceritakan di atas tadi?
Ia kini menjadi primadona.
Hampir semua orang di sekitar bangku kami melongok ke arahnya.
Dan sebagai seorang pencerita yang membutuhkan banyak telinga untuk mendengar, si ibu bergincu tebal yang tak henti-hentinya bercerita tentang ini dan itu sejak pagi tadi mulai bercerita tentang dirinya.
Dan kali ini, bahkan saya menjadi tertarik untuk mendengarkan kisah hidupnya.
Ibu ini ternyata seorang janda.
Pertama, ia menikah dengan seorang yang ia sebut sebagai 'bujang lapuk' saat ia berumur 18 tahun dan bekerja di SDSB. Selama 18 tahun menikah, mereka tak kunjung punya anak. Akhirnya ia menikah lagi.
Dengan seorang laki-laki yang sudah punya 8 istri yang semua istrinya tinggal serumah.
Di bagian ini, hampir semua telinga menyimak. Si ibu semakin bersemangat menceritakan suka dukanya, dari masalah dapur hingga ranjang.
Para pendengar semakin menyimak.
Kadang-kadang tertawa terbahak-bahak tanpa henti, atau sekedar mengangguk-angguk. Saya kadang tak bisa mengikuti karena tak tahu bahasanya. Ah!
Yang saya tahu, ibu ini kemudian menikah lagi. Hingga 4 kali.
Dan ia berkata, suami terakhirnya ini akan datang menjemputnya.
Benar saja. Sampai di Baturaja, ada seorang laki-laki paruh baya naik dan langsung duduk di samping si ibu bergincu.
Semua berdeham-deham. Saya tertawa kecil.
Mengingat semua kisah hidup si ibu yang diceritakan sampai khatam semenjak Tanjungkarang hingga Baturaja. Membayangkan kisah percintaan yang membabibuta dan bergairah. Menikah 4 kali, serumah dengan 8 istri dan 1 suami.
Saya tertawa kecil lagi.
Berusaha mengalihkan perhatian ke arah jendela.
Menyibukkan diri melihat hutan-hutan yang kini seperti tak habis-habis.
Perjalanan ini ternyata akan lebih panjang daripada yang saya duga. Jarak Tanjungkarang-Kertapati adalah 389 km, melewati 40 stasiun dengan 7 stasiun besar: Tanjungkarang, Kotabumi, Blambangan Umpu, Martapura, Baturaja, Prabumulih, Kertapati.
Dan sepanjang itulah kami melihat hutan-hutan perawan Sumatera, rumah-rumah kayu yang khas, sungai, hutan-hutan lagi, rumah-rumah kayu lagi, ah indah sekali!
Sore sudah hampir senja.
Dan kami masih belum juga sampai. Beberapa stasiun lagi sebelum Prabumulih katanya. Pantat sudah pegal dan keringat sudah membalsam. Lengket. Hawa panas.
Greg sudah sejak beberapa jam lalu duduk di bordes, nongkrong dengan beberapa pedagang asongan dan ngobrol dengan beberapa anak muda lokal bertampang bengal.
Saat kereta hampir mencapai Prabumulih, Greg datang tiba-tiba dan mengambil selembar sepuluhribuan. Buat apa, tanya saya. Ia hanya bilang, sebentar, lalu berbalik ke bordes lagi. Beberapa menit kemudian ia datang bersama dua orang pemuda yang bertampang bengal tadi, berbicara dengan bahasa Sumatera (hei, sejak kapan Greg tiba-tiba fasih berbahasa Sumatera?) lalu tertawa-tawa, memperkenalkan saya, dan kemudian Greg mengambil botol air mineral di atas meja, berkata sesuatu yang saya tak tahu, lalu mereka pergi lagi sambil tersenyum-senyum ke arah bordes.
Meninggalkan saya yang kebingungan.
Kereta berhenti di Prabumulih.
Greg datang dengan wajah berkeringat.Ia bercerita kalau 2 orang tadi sebenarnya preman kereta. Mereka menawari Greg arak lokal asal ada uang 10 ribu. Salah satu dari mereka akan meloncat turun, membeli arak dengan botol air mineral, lalu naik ke kereta lagi sebelum peluit berbunyi.
Baru saja Greg selesai bercerita, suara peluit melengking memecah telinga. Disusul si pemuda yang muncul dan berkata agak tergagap, wah, teman saya belum sampai Bang.
Alis saya meninggi.
Wah, kereta bergerak! Dan si teman yang membeli arak tertinggal di belakang!
Padahal saya juga tak menolak kalau mencicipi arak lokal.
Saya melirik jam tangan.
Jam 19.30 malam dan belum ada tanda-tanda Kertapati akan tampak.
Saya sudah lebih dari gelisah. Kata bapak sebelah saya kemungkinan jam 9 malam baru sampai Palembang. Ugh!
Dan akhirnya. Pukul sembilan tepat kereta berhenti.
Hampir 12 jam kami di kereta. Pantat sudah tipis dan tubuh sudah lengket.
Saya sms Dipo yang akan menjemput di stasiun. Ia akan datang bersama temannya, Ipung dan satu teman lagi yang namanya saya lupa (aduh, maaf!).
Stasiun Kertapati, Palembang, pukul 21.15
Kami baru saja selesai cuci muka di toilet stasiun yang bersih saat Dipo sms kalau ia dan teman-teman sudah menunggu di depan parkiran. Kami bergegas. Karena belum pernah bertemu dengan Dipo dan tidak tahu sama sekali bagaimana wajahnya, saya bertanya kepada setiap cowok yang saya jumpai di parkiran stasiun.
Dipo ya? senyum saya. Si cowok menggeleng.
Ehm, Bang Dipo ya? Bukan.
Hai, saya vani, Dipo ya? Si cowok bingung.
Aduh, salah semua.
Kami terus berjalan. Sampai saya melihat sesosok berambut gimbal. Ah kayaknya ini nih yang namanya Dipo, batin saya. Langsung saya tepuk pundaknya dan berkata, Dipo ya?
Si cowok tersenyum, bukan, saya Ipung. Dipo yang ini, katanya.
Wah, lega! Kami saling berkenalan selama beberapa saat lalu naik sepeda motor, menuju kota. Saya bersemangat sekali!
Jalanan sudah agak lengang. Dan saat saya melihat sesuatu yang besar sekali di depan, penuh cahaya, saya terpana. Apa itu? tanya saya kepada Dipo yang sedang menyetir. Ampera!
Saya berteriak, waaaah, AMPERA!
PALEMBANG, AKU DATAAANG!

(bersambung)

No comments:

Post a Comment

terimakasih ya sudah mampir dan menyapa kurakurakikuk :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...