Saturday, December 15, 2012

Sumatera, Sumatera! (bagian 6)

*sambungan dari Tanjungkarang*

Jumat, 20 Juli 2012
Tragedi Tiket
Setelah berbelanja di 'pasar bawah', kami keluar ke jalan, kembali menghirup udara segar. Panas lumayan terik, dan kami harus berjalan lagi ke arah pemberhentian bis Trans Bandar Lampung.
Sesampai di depan pasar, saya tertegun di depan patung seorang laki-laki memakai pakaian tradisional Lampung, lengkap dengan kikat yang terikat melingkar di kepalanya. Badannya tegak menjulang di bawah langit biru. Di bawahnya tertulis RADIN INTEN kemudian ada huruf-huruf yang bagi semacam hieroglyph, saya tak tahu huruf apa itu dan bahasa apa itu, lalu di bawahnya lagi tulisan 'Pahlawan Nasional Provinsi Lampung'.
Oh, Radin Inten ya.
Saya baru dengar. Seingat saya dalam pelajaran Sejarah dulu, Lampung jarang sekali disebut-sebut. Saya familiar dengan Sultan Hasanuddin, Pangeran Antasari, Tuanku Imam Bonjol, Pattimura atau Sam Ratulangi daripada Radin Inten. Atau mungkin dulu saya kurang memperhatikan pelajaran Sejarah. Jadilah saya mencari-cari lagi informasi tentang Radin Inten ini. Ada Radin Inten dan Radin Inten II, saya tidak tahu, Radin Inten yang mana yang divisualkan dalam bentuk patung setinggi kurang lebih 5 meter ini. Menurut situs ini, sepertinya sosok ini adalah Radin Inten II.
Di bawahnya terukir motif khas tradisional Lampung, bergambar figur-figur manusia, flora, fauna, perahu dan rumah dalam warna kuning emas.
Kemudian di bawahnya lagi ada lambang Provinsi Lampung. Saya mengenali payung bertumpuk tiga, Siger, dan ada tulisan Ragom Gawi di bawah tulisan aneh yang saya tak tahu tadi, mungkin Lampung punya tulisannya sendiri, seperti Aksara Jawa kalau di Jawa.
Saat saya memotret, bapak penarik becak yang mangkal persis di depan patung Radin Inten ini meminta saya untuk memotret dirinya. Ia berbahasa Lampung dengan cepat, saya hanya mengangguk-angguk ramah dan berkali-kali mengucapkan terima kasih.
Saat saya melayangkan pandang ke depan, saya terpaku.
Wah, lanskap di sini sungguh sangat berbeda dengan Jawa. Konturnya, hawanya, suasananya, aromanya, bahasanya, rasanya, udaranya, orang-orangnya. Seperti yang sempat saya potret di bawah ini dengan mayoritas warna hijau terang: masjidnya, toko-tokonya, bisnya...Ah!
Saya sempat memotret juga bis Trans Bandar Lampung yang sedang ngetem menunggu penumpang plus petugasnya yang juga memakai seragam hijau. Seluruh eksterior bis bergambar motif kain tradisional Lampung dan ada sepasang pengantin berbusana adat, lengkap dengan mahkota Siger-nya. Kami segera naik, dan oya, saya lupa kemarin belum sempat memfoto interior dalam bis yang berbeda dengan TransJogja. Di bagian belakang penumpang ada tiga undakan sehingga bisa untuk duduk penumpang lainnya yang kebanyakan anak-anak.
Saat itulah Greg menyadarkan saya bahwa kami harus mampir di Alfamart untuk membeli tiket kereta ke Palembang untuk nanti malam. Cukup sulit juga mencari Alfamart sepanjang jalan ini karena ada beberapa minimarket lokal dengan tanda-tanda yang hampir sama. Akhirnya kami turun di deretan ruko panjang dan masuk ke Alfamart.
Seorang petugas yang masih muda, laki-laki yang cukup manis melayani permintaan saya. Beberapa kali saya menegaskan kalau kami hendak memesan tiket kereta bisnis dari Tanjungkarang ke Kertapati, Lampung ke Palembang. Si petugas ber-iya-iya dengan senyum ramah yang selalu mengembang. Menunggu cukup lama, ternyata tiket untuk nanti malam sudah tak ada. Kami harus langsung ke stasiun nanti malam kalau hendak berangkat ke Palembang malam ini.
Saya mendesah, ah sama saja dong.
Pilihan tinggal tiga.
Karena tiket yang dijual di Alfamart hanyalah tiket bisnis dan eksekutif saja, yang tersisa adalah berangkat untuk besok malam.
Atau tetap berangkat nanti malam dengan resiko tidak mendapat tempat duduk.
Atau naik kereta ekonomi besok pagi.
Kemudian saya teringat kalau baju-baju kami masih ada di laundry dan harus diambil sore ini. Saya mendesah berkali-kali.
Saat itulah si petugas pretty boy berteriak dan berkata, ternyata tiketnya masih Mbak!
Masih berapa kursi, saya tanya.
Seratus, ia menjawab.
Yakin Mas? Alis saya berkerut.
Iya Mbak, Kertapati kan? tanyanya balik dengan penuh semangat sambil mengetik-ngetik.
Tanjungkarang-Kertapati Mas, tegas saya.
Iya, ini Kertapati kan? Malam ini berangkat jam 8. Masih ada 100 kursi, bisa pinjam KTP?
Saya mengulurkan dua KTP, milik saya dan Greg. Setelah ketak ketik, cetak, dan membayar 160 ribu untuk 2 tiket, kami lalu meninggalkan Alfamart dengan hati lega.
Lumayan, tinggal mengambil baju di laundry saja tugas saya malam ini dan bersiap-siap. Kami naik mikrolet, pulang, dan sesampai di rumah, saya mengambil tiket reservasi yang dicetak di Alfamart tadi untuk saya rapikan dan masukkan ke dompet. Kami membutuhkan nota cetak ini untuk menukarkannya dengan tiket di loket peron nanti malam. Dan saat saya membaca jam keberangkatan, mata saya melotot.
TUNGGU DULU!
Ada yang tidak beres di sini.
Nama lengkap saya dan Greg, benar.
Nomer telpon, nomer KTP, alamat, benar.
Jam keberangkatan, tanggal keberangkatan, benar.
Nama stasiun...
WAH! SALAH!
Saya mencak-mencak seperti orang kebakaran jenggot. Greg yang baru saja cuci muka bertanya ada apa.
Di tiket tertulis kita berangkat dengan KA Sriwijaya dari Kertapati ke Tanjungkarang.
Greg masih belum sadar.
Kertapati itu di PALEMBANG!
Segera saya ambil dompet, lalu bergegas ke depan mencari ojek. Dan meluncur ke Alfamart. Si bapak ojek menolak memakai helm, jadi saya-lah yang berhelm, agak lucu juga sebenarnya, seperti ikan remora menempel pada punggung hiu. Si bapak ojek cukup gesit juga naik motornya, saya dibawa keluar masuk kampung di balik bangunan-bangunan besar, gang-gang becek, pasar ikan, dan voila, akhirnya sampai di seberang Alfamart!
Seperti yang sudah saya duga, si petugas minimarket berwajah manis tadi langsung tegang. Saya harus berkali-kali menjelaskan bahwa ia salah memasukkan entry stasiun hendak ke mana dan dari mana. Si petugas mengecek komputer berkali-kali, melakukan panggilan ke beberapa nomor dan berbicara lamaaa sekali.
Butuh waktu hampir satu jam untuk menunggu. Dan saya resah sekali.
Tak ada tempat duduk, jadi saya duduk menggelosor di lantai di dekat kounter permen. Bapak ojek sudah berkali-kali keluar masuk, bertanya apakah sudah selesai atau belum, dan ia berkali-kali melirik ke arah tumpukan kurma yang menggunung di depan pintu dorong.
Saya merasa bahwa ini tak akan berakhir.
Mas petugas kini tampak resah dan berkeringat dingin. Saya bilang, saya ingin uang saya kembali selama ia berusaha meng-cancel reservasi tiket ini, kalau ia berhasil membatalkan reservasi dengan pihak stasiun dan memindah jadwal keberangkatan ke besok malam, ia bisa menelpon saya langsung dan saya akan ke sini lagi untuk membayar.
Ia setuju.
Diulurkannya uang 160 ribu dengan tangan gemetar.
Saya raih tangannya dan saya ajak bersalaman, terima kasih, tolong telpon saya jika ada apa-apa, kata saya sambil tersenyum.
Akhirnya kami kembali lagi ke rumah.
Ongkos ojek yang saya berikan ke bapak ojek ditukarkan dengan sekilo kurma, untuk anak saya Mbak, katanya.
Ternyata bapak yang mengantarkan saya tadi bukanlah ojek. Kata Budhe-nya Greg, ia tukang parkir yang biasa mangkal di depan apotek. Wah, wah, saya geleng-geleng kepala.
Hampir magrib.
Dan kami masih belum punya tiket ke Palembang.
Greg bilang mungkin kita harus mengecek sekali lagi ke stasiun malam ini untuk memastikan. Jadilah kami naik mikrolet ke stasiun, terguncang-guncang dalam mikrolet yang ngebut dan berdentam-dentam.
Stasiun sudah mulai penuh. Saya berlari ke kounter informasi.
Dan ternyata benar.
Tak ada metode pemesanan tiket. Kami harus antri malam ini untuk berangkat malam ini. Kalau kami berangkat besok pagi, kami harus antri besok pagi juga.
Wah, wah, wah.
Akhirnya kami pulang dengan tangan hampa, namun dengan satu ketetapan, kami akan berangkat besok pagi dengan kereta ekonomi Rajabasa ke Palembang.
Naik mikrolet lagi.
Terguncang-guncang lagi.
Turun dari mikrolet, kami langsung menuju ke laundry untuk mengambil baju-baju kami. Sampai di sana, laundry tutup! Ah, tidaaak!
Ya sudahlah, mungkin bisa dipaketkan sekalian ke Jogja bersama-sama dengan koper kami.
Kami pulang, packing dan istirahat.
Esok, kami akan menuju Palembang!

(bersambung)

5 comments:

  1. wow.. perjalanan yang seru sekali. berapa budget yang keluar fan?

    ReplyDelete
    Replies
    1. wah ini bener-bener ngirittt, 3.9 jt utk 2 orang jeng :)
      10 hr prjalanan Sumatera (Jogja-Lampung-Palembang-Pulau Bangka-Jogja), pulang naik pesawat hehe karena sdh hrs pulang ke Jogja sebelum tgl 27. dan pesawatnya aja udh 1.2 jt utk 2 org, kalo misalnya kita msh pake jalan laut dan darat bisa habis 3jt aja utk 2 org.
      *ini kita nabung lg utk Borneo :D semoga*

      Delete
    2. oh ya, 3.9 jt msh bisa diirit lg kalo kita nggak ada "unexpected things" semacam harus beli ransel dan maketin koper segala :( kepepet, krn kita nggak punya ransel
      *aneh, backpacker lg backpackingan tp nggak punya backpack -_-*
      hehehe, trus trgantung makan juga sih, kita mah ngirit krn vegetarian dan pengeluaran plg banyak plg nge-bir di Jembatan Ampera Palembang dan biaya makan di Bangka yg super duper mahal dibandingkan Jogja *_*

      Delete
    3. dan yg bikin ngirit adl tdk prnah stay di hotel/losmen, bs tidur di tempat kenalan/temennya temen, hehehe :D
      kayak waktu kita di Palembang :)
      *tunggu ceritanya yaa*

      nuwun jeng Fikaaa :-*

      Delete
  2. ahai sipp.. lain kali bisa saya coba bareng pasangan :)
    ditunggu cerita seru berikutnya

    ReplyDelete

terimakasih ya sudah mampir dan menyapa kurakurakikuk :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...