Friday, December 14, 2012

Sumatera, Sumatera! (bagian 5)

*sambungan dari Telukbetung*

Jumat, 20 Juli 2012
Tanjungkarang
Pagi kedua di Lampung.
Hari ini kami akan mampir ke Tanjungkarang, menuju stasiun, mencari informasi tentang jadwal kereta ke Palembang. Kami berangkat jam 9 pagi, sarapan sebentar di sebuah rumah makan ambil-sendiri-makananmu yang didominasi oleh mbak-mbak dari Jawa, semuanya berbahasa Jawa, berbeda sekali dengan suasana pasar yang kemarin kami datangi saat mencari ransel. Lalu kami berjalan lagi menuju tempat pemberhentian mikrolet yang akan ke Karang, nama familiar untuk Tanjungkarang seperti Teluk untuk Telukbetung.
Di tengah jalan, saya menemukan lagi mahkota emas yang selalu ada di semua bangunan di Lampung, kali ini saya berhenti dan meminta Greg untuk memfoto saya di bawah mahkota emas raksasa yang terpasang di dinding sebuah bank swasta di pinggir jalan.
Namanya Siger.
Ya, mahkota emas yang selalu ada di mana-mana itu disebut Siger, yaitu mahkota berbentuk seperti tanduk dari lempengan kuningan yang ditatah hias bertitik-titik rangkaian bunga. Siger ini berlekuk ruji tajam berjumlah sembilan lekukan di depan dan di belakang (siger tarub), yang setiap lekukannya diberi hiasan bunga cemara dari kuningan (beringin tumbuh). Puncak siger diberi hiasan serenja bulan, yaitu kembang hias berupa mahkota berjumlah satu sampai tiga buah. Mahkota kecil ini mempunyai lengkungan di bagian bawah dan beruji tajam-tajam pada bagian atas serta berhiaskan bunga. Pada umumnya siger terbuat dari bahan kuningan yang ditatah.
Siger ini adalah bagian dari pakaian tradisional perempuan Lampung, selain Kain Tapis yang sempat saya ceritakan kemarin.
Saya jadi membayangkan bagaimana kalau di Jogja, kota kelahiran saya, di setiap bangunan yang ada di pinggir jalan baik bangunan milik pemerintah atau toko-toko juga memajang simbol Gunungan misalnya, yang ditatah dan dibuat dari kuningan, pasti akan tampak berbeda.
Kami terus berjalan, cukup jauh juga, melewati bangunan-bangunan tua, becak-becak Lampung, mikrolet-mikrolet dengan musiknya yang jedug-jedug melintas dengan kecepatan tinggi, suasana jalan raya dipenuhi kesibukan pagi hari.
Dan saat saya melihat ada gerobak dorong penuh dengan jerigen berisi air, saya tergoda untuk mengangkatnya.
Ugh! Lumayan berat juga.
Biasanya gerobak dorong penuh dengan jerigen air bersih ini diangkut oleh seorang bapak-bapak beralas sandal jepit yang sudah butut, mengantarkan air bersih ke rumah-rumah.
Dan akhirnya kami sampai di titik pemberhentian mikrolet menuju ke Tanjungkarang.
Sepertinya semua mikrolet di kota ini berfasilitas musik jedug-jedug. Mikrolet yang kami tumpangi punya enam buah speaker pengeras suara yang memancarkan musik-musik remix dangdut. Suaranya keras sekali. Mungkin untuk menarik penumpang juga.
Kata Greg, mikrolet di Kupang (yang disebut bemo) juga seperti ini, bahkan lebih gila-gilaan lagi karena tidak ada kursi penumpang karena kadang penumpang harus duduk di atas speaker pengeras suara. Greg memang pernah tinggal di Kupang, Nusa Tenggara Timur selama 3 tahun, menghabiskan masa-masa SMA-nya di sana.
Saya hanya mengangguk-angguk.
Menikmati embusan angin kencang yang menerpa melewati jendela mikrolet yang terbuka. Si sopir agaknya sedang berusaha membalap mikrolet di depannya. Kejar-kejaran untuk mencari penumpang. Seorang bapak-bapak mengangkut tiga karung bawang merah naik. Mikrolet sontak jadi penuh sesak. Mikrolet kembali dipenuhi dengan celoteh-celoteh tentang harga-harga bawang dan hasil bumi.
Tiba-tiba mikrolet jalannya seperti tersendat-sendat.
Ternyata macet.
Saya melongok ke jendela. Kami mulai mendekati sebuah pasar yang waduh, macetnya minta ampun, genangan-genangan air dan lumpur di mana-mana, deretan ruko-ruko dengan cat mengelupas dimakan usia. Lapak-lapak segala macam jenis sayuran, buah-buahan, sepeda motor yang menggerung dan saling menyalip, deru mikrolet dan musik jedug-jedug, teriakan-teriakan para pedagang dan pembeli, wuah, riuh sekali! Mengingatkan saya pada hiruk pikuk pasar-pasar di India Selatan.
Kami memang sudah sampai di sekitaran pasar terbesar di Lampung, Pasar Karang atau Tanjungkarang. Tempat segalanya ada di sini: pakaian, bahan makanan, sandal-sepatu-tas, kebutuhan rumah tangga, komplit.
Kami turun tepat di depan Stasiun Tanjungkarang.
Atapnya berhiaskan Siger raksasa kekuningan. Halamannya cukup luas.
Kami masuk. Suasana tidak terlalu ramai.
Yang mencolok di stasiun ini adalah dinding besar yang tertutup oleh hiasan yang saya pikir adalah motif khas tradisional Lampung, dengan gambar kereta api uap besar.

Saya melihat ke papan informasi. Ada dua cara menuju Palembang dengan kereta.
Satu, kereta ekonomi Rajabasa berangkat setiap pagi pukul 08.30 seharga 15 ribu.
Dua, kereta bisnis/eksekutif Sriwijaya berangkat setiap malam pukul 21.00 seharga 80 ribu untuk bisnis/130 ribu untuk eksekutif.

Terbiasa di Stasiun Lempuyangan dan Tugu di Jogja, saya langsung menuju loket dan memesan tiket kereta bisnis/eksekutif ke Palembang.
Ternyata tidak ada sistem pemesanan tiket di sini.
Kami harus datang langsung malam ini kalau hendak menuju Kertapati, nama stasiun di Palembang. Padahal, baru kemarin sore kami memasukkan beberapa baju untuk di-laundry biar cepat dan baru selesai besok. Dan kalau malam ini kami datang, belum tentu kami kebagian tiket karena antrinya bisa panjang, kata mbak petugas peron.
Saya jadi bimbang.
Dalam hati saya ingin naik kereta bisnis karena selain 'hanya' 80 ribu, karena dibandingkan dengan harga tiket kereta bisnis/eksekutif di Jawa, ini sangat-sangat murah sekali. Selain itu, kami bisa tidur selama perjalanan dan sampai di Palembang pagi-pagi.
Ah, apakah kami memang harus naik ekonomi saja?
Karena tidak bisa memesan tiket untuk keberangkatan malam ini, saya bertanya lagi kepada petugas loket, dan kami disarankan untuk membeli tiket di Alfamart jadi tidak usah antri di peron. Wah, ide yang bagus, pikir saya.
Akhirnya setelah mencatat ini dan itu, kami meninggalkan stasiun, menuju pasar membeli bekal untuk malam nanti, atau mungkin malah besok pagi.

Hampir pukul 12 siang.
Kami berjalan kaki menuju pasar induk.
Saya sempat memotret lanskap Tanjungkarang dari depan tanjakan pasar di samping stasiun kereta. Perbukitan di latar belakang dipenuhi dengan atap-atap rumah yang menyembul. Hiruk pikuk pasar terdengar di belakang saya.
Sejak kemarin, saya mengamati bahwa hampir seluruh sopir mikrolet yang saya lihat dan temui di jalan atau yang kami tumpangi masih muda-muda, usia 20 tahunan. Terlepas dari apakah mereka lajang atau sudah menikah, mereka masih muda-muda. Begitu juga dengan para pedagang di pasar, atau pegawai di toko-toko pinggir jalan.
Saya jadi berpikir, banyak anak-anak muda yang memonopoli sebagian besar lapangan kerja di sini. Semangat kerja keras mereka tinggi.
Lamunan saya buyar saat kami memasuki pasar yang lumayan gelap.
Saya mengamati kalau pasar ini terletak di bawah sebuah bangunan besar, seperti berjalan di bawah jembatan layang dengan banyak lapak-lapak beranekaragam di kedua sisinya. Penuh. Riuh.
Mungkin di atas pasar ini adalah pusat perbelanjaan yang lain, mirip di Telukbetung. Kami memutuskan untuk tidak ke atas. Greg membeli sepasang sandal jepit yang lumayan oke karena kami memang tak membawa sandal sama sekali.
Berjalan dengan sepatu kadang terasa sangat menyiksa. Membiarkan jari-jari kaki kita sejenak menghirup udara lega mungkin akan sangat dibutuhkan dalam perjalanan ini.


Semakin kami masuk, suasana semakin Jawa.
Banyak orang-orang berbahasa Jawa di sana sini. Atmosfernya seperti Pasar Beringharjo lantai dua tempat segala macam sayuran dan bahan makanan tumplek blek di sini. Kami mampir di lapak buah-buahan milik ibu-ibu yang mengaku berasal dari Jawa Tengah, membeli mangga dan kurma.
Lalu kami ke sebelahnya, sebuah lapak sayuran yang paling wah yang pernah saya lihat. Seluruh sayurannya segar-segar, berwarna-warni, tertata rapi dan begitu menggugah selera. Saya memang sedang mencoba untuk mengurangi konsumsi ayam, ikan dan telur, karena saya sudah tidak makan daging hewan berkaki empat lagi sejak saya pulang dari India tahun 2009 lalu. Dan air liur saya selalu menetes melihat sawi hijau yang segar, tomat merah yang ranum dan juicy, kacang panjang yang kriuk kriuk, jagung keemasan yang empuk, terong ungu yang gurih, tempe dan tahu yang tebal-tebal dan cabai merah yang membakar lidah.
Wah, saya benar-benar mengambang bahagia.
Coba saja kalau ada lapak sayuran seperti ini di dekat rumah kami di Jogja!
Ah, saya setiap hari bisa berbelanja dan memasak sendiri!
Saking tak bisa menahan, saya membeli segepok tempe besar sekali, bawang putih dan timun besar untuk Greg. Dia suka sekali timun, sedang saya suka sekali tomat!
Saya sudah kangen dengan tempe.
Mungkin sore nanti sepulang dari Tanjungkarang saya akan menggoreng tempe dan telur ceplok dengan sambal kecap cabai hijau dengan keriuk kemplang. Slurp!

(bersambung)

No comments:

Post a Comment

terimakasih ya sudah mampir dan menyapa kurakurakikuk :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...