Thursday, December 13, 2012

Sumatera, Sumatera! (bagian 4)

*lanjutan dari Mendarat di Bakauheni*

Kamis, 19 Juli 2012
Telukbetung
Pagi ini saya terbangun dengan sebuah kesadaran: I'm in Sumatera!
Greg sudah bangun lebih pagi dari saya dan sedang berjalan-jalan entah ke mana. Saat saya hendak bersiap-siap mandi, Greg datang membawa dua bungkus nasi uduk. Wah!
Setelah sarapan dan mandi, sekitar jam 10 kami bersiap-siap untuk ke kota: Telukbetung.
Kami memang berencana meninggalkan koper kami di Lampung dan memutuskan untuk membeli ransel agar lebih fleksibel dan tidak mencolok mata. Rencananya, koper dan beberapa baju yang tidak akan kami pakai selama sisa perjalanan akan dipaketkan ke Jogja.
Kami berangkat naik bis Trans Bandar Lampung. Wah, cukup berbeda dengan TransJogja, bis ini lebih besar dan lebih baru. Tak ada halte pemberhentian dan kartu yang digesek agar bisa masuk ke halte, alih-alih kami bisa naik di beberapa poin dan masuk lewat pintu depan, di samping kemudi. Pintu geser yang berada di tengah akan terbuka secara otomatis jika bis berhenti pada halte-halte khusus penumpang bis Trans saja. Bis didominasi warna hijau limau menyala pada bagian eksterior dan pintu, sedangkan tempat duduk berwarna biru putih, mirip seperti TransJogja. Saya sempat bingung, bagaimana cara membayarnya ya? Ternyata begitu kita di dalam bis, seorang pramugari bis yang cukup cantik dan modis mendatangi para penumpang baru, mengeluarkan segepok tiket lalu menyobeknya, memberikan kami secarik tiket bertuliskan jurusan dan tarif, tiga ribu rupiah.
Saya melayangkan pandang ke jendela besar, kami melewati jalanan kota yang bersih, dengan banyak simbol-simbol kota Lampung yang baru bagi saya. Tugu-tugu selamat datang, patung-patung dengan baju adat Lampung, dan yang menarik perhatian saya adalah lambang emas seperti mahkota yang ada di mana-mana. Hampir di setiap bangunan di pinggir jalan, entah itu bangunan-bangunan milik pemerintah atau toko-toko, selalu ada lambang mahkota emas ini. Mengingatkan saya pada saat kami hendak merapat ke Bakauheni, dari kejauhan ada lambang mahkota ini yang terlihat dari kapal. Saya tak sempat memotret. Mungkin nanti kalau kita sudah sampai ke pusat perbelanjaan tempat kami hendak membeli ransel.
Sekitar pukul 11 siang.
Matahari cukup terik. Akhirnya, sampailah kami di pusat kota Telukbetung. Berderet-deret toko dan mall besar mengingatkan saya pada ruas Jalan Solo di Jogja. Kami masuk ke beberapa mall, keluar lagi, dan akhirnya masuk ke gang-gang sempit dengan banyak pedagang pakaian dan segala macamnya di kanan kiri. Saya menyadari kalau kami sedang berada di tengah pasar. Jalanan kecil ini ternyata menghubungkan pusat perbelanjaan yang satu ke pusat perbelanjaan yang lain. Lagi-lagi saya tak sempat memotret karena suasana dalam pasar riuh rendah oleh penjual yang meneriakkan barang dagangannya secara bersamaan dan pembeli yang hilir mudik.
Kami akhirnya sampai di sebuah pusat perbelanjaan yang hampir menyerupai Pasar Beringharjo di Jogja. Saya lupa apa nama pasarnya. Pasar Simpur (mungkin?), ah saya lupa-lupa ingat.
Setelah hampir dua jam muter-muter, kami akhirnya menenteng tas ransel baru, berwarna hitam dan kuat. Cukup mahal juga, batin saya, walaupun saya tahu di Jogja harga tas ransel seperti ini mungkin juga harganya hampir sama, atau bahkan malah lebih mahal. Yang jelas, kami sudah lega karena tak usah menyeret-nyeret koper sampai ke Palembang.
Dengan perut lapar dan berkeringat, kami akhirnya masuk ke sebuah rumah makan sederhana, Mie Pangsit Simpur. Konon mie pangsit ini legendaris dan terkenal, semacam kuliner yang harus dicoba saat kita bertandang di kota ini.
Rumah makan ini sederhana, dengan beberapa meja kursi dan interior yang sepertinya dari dulu sampai sekarang tak banyak mengalami perubahan. Kami memesan mie pangsit dan es buah. Dan saat pesanan datang, wah seperti mi ayam dengan jamur dan sawi, namun dengan porsi dua kali lipat dan kuah terpisah yang harum baunya. Kami segera makan dengan lahap. Saya hampir tak bisa menghabiskan seporsi mie pangsit ini karena mangkoknya besar dan isinya banyak sekali.
Selepas makan, saya sempat memfoto bagian depan rumah makan, yang lagi-lagi di atasnya ada lambang mahkota emas, sama seperti bangunan-bangunan yang lain.
Kemudian kami berjalan-jalan lagi melihat aktivitas pasar, mengamati orang lalu lalang, lalu pulang ke rumah Budhe-nya Greg sekitar jam 3 sore dan langsung ngglethak, tidur siang, padahal saya jarang sekali tidur siang. Mungkin hanya perasaan saya atau bagaimana, saya merasakan hawa kota ini cukup berbeda dengan Jogja. Panasnya membuat cepat lemas dan tak ada angin berhembus. Mungkin karena dekat pantai dan pelabuhan, pikir saya. Atau mungkin stamina saya sedikit menurun karena melakukan 19 jam perjalanan darat dan laut dengan asupan makanan yang sedikit dan apa adanya.
Ternyata Greg juga merasakan hal yang sama. Untunglah Budhe-nya Greg adalah seorang apoteker, beliau memberi kami beberapa vitamin untuk penambah stamina.
Sore harinya kami berjalan-jalan di lingkungan pecinan, mengitari kompleks-kompleks bangunan tua yang lengang, melewati beberapa toko penjual makanan khas Lampung semacam kemplang dan manisan Lampung, penjual Tapis Lampung atau kain khas Lampung yang berbentuk kain sarung terbuat dari tenun benang kapas dengan motif atau hiasan bahan sugi, benang perak atau benang emas dengan sistem sulam atau istilah Lampungnya 'Cucuk'.
Saya sempat mencari di internet tentang kerajinan khas Lampung ini.
Saya menemukan bahwa Tapis Lampung ini adalah hasil tenun benang kapas dengan motif benang perak atau benang emas dan menjadi pakaian khas suku Lampung. Jenis tenun ini biasanya digunakan pada bagian pinggang ke bawah berbentuk sarung yang terbuat dari benang kapas dengan motif seperti motif alam, flora dan fauna yang disulam dengan benang emas dan benang perak.Tapis Lampung termasuk kerajian tradisional karena peralatan yang digunakan dalam membuat kain dasar dan motif-motif hiasnya masih sederhana dan dikerjakan oleh pengerajin. Kerajinan ini dibuat oleh wanita, baik ibu rumah tangga maupun gadis-gadis (muli-muli) yang pada mulanya untuk mengisi waktu senggang dengan tujuan untuk memenuhi tuntutan adat istiadat yang dianggap sakral. Dan saat kami melihat memang sangat indah namun harganya sangat mahal.
Sebenarnya saya ingin membeli at least satu saja, tapi harganya sangat tinggi dan kami masih harus saving untuk perjalanan kami selanjutnya.
Kami juga sempat mampir di pabrik Kopi Lampung yang terkenal itu. Letaknya dekat sekali dengan kediaman Budhe-nya Greg: Jl. Ikan Tembakang 2 Telukbetung. Namanya Kopi Bubuk Sinar Baru BOLA DUNIA, terkenal sejak tahun 1907. Kopinya harum sekali. Meskipun saya tidak minum kopi, namun saya sudah berencana akan membawa oleh-oleh Kopi Lampung untuk ayah saya si penggila kopi dan beberapa teman di Jogja.
Kami juga melewati sebuah rumah duka yang berbau dupa dan berhiaskan bunga-bunga dan ucapan belasungkawa. Ada yang meninggal, batin saya. Kami berjalan cepat-cepat, tak ingin mengganggu prosesi, menyeberang dan melewati sebuah klenteng yang pintunya tertutup. Bau dupa menempel di hidung saya.
Kompleks pecinan ini mengingatkan saya pada Chinatown di Singapura, namun lebih sepi, lengang, lebih lawas dan terkesan lebih tua dan rasanya berwarna abu-abu.
Kami pulang saat malam mulai turun dan berdiskusi tentang alur perjalanan kami selanjutnya, esok hari...

(bersambung)

2 comments:

  1. wow ternyata di lampung udah ada bis trans jg ya. ga kalah bagus sama di jkt.. err, yg di jkt udah mulai jelek sih skrg.. :s

    -dev-

    ReplyDelete

terimakasih ya sudah mampir dan menyapa kurakurakikuk :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...