Wednesday, December 12, 2012

Sumatera, Sumatera! (bagian 3)

*lanjutan dari Pelabuhan Merak: Menyeberang. Melaju Menuju Matahari!*

Rabu, 18 Juli 2012
Mendarat di Bakauheni!
Menghabiskan senja di kapal, memandang lanskap pantai Sumatera dengan asap dan nyiur di kejauhan, matahari terbenam yang kuning kemerahan mewarnai laut yang beriak, adalah salah satu momen yang paling indah dalam hidup saya.
Kami akan mendarat di Bakauheni, kota pelabuhan di ujung paling selatan Pulau Sumatera. Dari hasil mengobrol dengan beberapa awak kapal dan penumpang lainnya, perjalanan dari Bakauheni ke Teluk sekitar 3-4 jam. Wah masih jauh juga, pikir saya. Di Lampung, kami akan singgah sebentar di rumah Budhe-nya Greg, untuk transit barang sehari dua hari sebelum melanjutkan perjalanan ke Palembang. Menurut pentunjuk dari Budhe-nya, kami harus turun di Teluk. Saat mendengar kata Teluk, saya sudah membayangkan kota kecil di pinggir teluk, dengan kapal-kapal nelayan dan jaring ikannya. Dan ternyata bukan. Kami sempat mengobrol juga dengan salah seorang petugas bis, bapak-bapak berkumis lebat yang mengaku berasal dari Sumatera Utara. Ia bercerita tentang Teluk, bahwa sebenarnya Kota Bandar Lampung adalah gabungan dari dua kota kembar bernama Tanjungkarang dan Telukbetung. Dengan kata lain, Budhe-nya Greg tinggal di Telukbetung.
Saya ber-oh-oh sambil mengangguk-angguk.
Tepat jam 6 sore, kapal kami menepi.
Kami segera bergegas naik bis bersama dengan para penumpang lainnya. Perjalanan darat segera dimulai.
Ah, kami sudah sampai di tanah Sumatera!
Sebelum matahari benar-benar tenggelam, saya sempat menikmati pemandangan dari balik jendela bis yang lebar: perbukitan-perbukitan hijau, rumah-rumah kayu, pohon-pohon kelapa, perkebunan kelapa sawit, ngarai, gerumbul-gerumbul hijau di kejauhan, asap yang membumbung dari rumah-rumah kayu di pucuk bukit, jalan-jalan bergeronjal dengan tanah kemerahan dan berbatu, suara sayup-sayup perkampungan yang kami lewati dengan cepat, kemudian malam turun.
Sudah tidak bisa melihat terlalu banyak dari jendela.
Kami mendapat informasi dari bapak petugas berkumis tebal tadi bahwa sekitar jam 7 kami akan berhenti untuk makan malam di sebuah rumah makan. Refleks saya bertanya, rumah makan apa? Sontak ia menjawab, rumah makan Padang lah, apa lagi yang kau harapkan? Kita kan sedang di Sumatera!
Ya.
Rumah makan Padang.
Saya jarang sekali makan di rumah makan Padang. Bukannya tidak suka, ketika di Jogja, kami hanya ke rumah makan Padang pada waktu-waktu tertentu: saat uang menipis dan ingin makan nasi banyak, dan saat uang menebal dan ingin makan kuah rendang yang menggoda dengan pedas yang mantap. Saya jadi berpikir, apakah di seluruh Sumatera hanya ada rumah makan Padang saja dan tak ada warung makan yang lain?
Wah, wah, wah.
Greg mengangguk-angguk dengan senang. Ia suka sekali dengan masakan Sumatera yang berbumbu rempah dan berkuah kental. Walau Greg tak makan daging, ayam, telur dan ikan hanya sayuran, kacang-kacangan dan tempe-tahu saja, tapi ia selalu suka mengambil sedikit kuah dan banyak-banyak mengambil timun dan cabai hijau berminyak yang selalu tersedia melimpah di rumah makan Padang. Ini akan menjadi surga kecilnya, pikir saya.
Saya menelan ludah.
Terakhir kami makan adalah saat kami di warung tegal di Terminal Pulogadung pagi tadi.
Dan begitulah.
Bis berhenti di sebuah rumah makan Padang di tengah huma. Jalanan sepi. Hanya beberapa bis besar dan truk-truk yang melintas. Saya menghirup nafas dalam-dalam merasakan aroma Sumatera. Dengan perut lapar, kami masuk dan tercengang-cengang.
Ini adalah rumah makan Padang terbesar yang pernah saya lihat!
Ada semacam kounter berkaca dengan sepasukan laki-laki cekatan menghantarkan piring-piring, 7-10 piring sekaligus di tangan-tangan kokoh mereka, meneriakkan bahasa-bahasa yang saya tak mengerti, kemudian di balik kaca adalah baskom-baskom besar dengan olahan daging rendang, ayam berbalut cabai hijau, ikan-ikan besar menggoda, tumpukan telur rebus yang menggunung, udang-udang kemerahan yang superbesar, setenggok raksasa nasi yang harum-dan-asapnya-mengepul, sayuran dan timun yang melimpah, serta ada es buah dengan puding berwarna-warni.
Oh, what a real Padang restaurant!
Tak ada yang seperti ini di Jogja, atau di kota-kota lain di Jawa yang pernah saya kunjungi.
Seperti sebuah sarang lebah yang berdengung ramai, bising, berkelontang, berkecap-kecap, dan beraroma super lezat!
Saking terpananya, saya tak tahu harus berbuat apa.
Greg sudah menghilang di toilet laki-laki. Saya mencuci muka di wastafel, menghilangkan lembab yang menempel akibat angin laut.
Kemudian kami duduk di meja dengan enam kursi. Saya ajak Ima untuk duduk bersama kami, masih ingat kan, anak UI yang hendak ke Lahat yang juga ikut dalam bis ini, sepertinya ia tampak lebih kebingungan daripada saya. Begitu kami bertiga duduk, sepasukan laki-laki berseragam dengan banyak piring di lengannya menghamburi kami. Dalam sepersekian detik, meja kami penuh dengan segala macam lauk pauk yang tak terbayangkan: nasi putih yang mengepul, tiga macam olahan telur, rendang, cumi-cumi, udang, tiga macam olahan ayam, ikan, sayuran dengan bumbu kelapa, es buah puding dan air putih. Waow!
Masih ada yang datang untuk membawakan kami lauk-pauk yang lain tapi kami menolak dengan halus. Toh Greg tidak makan segala macam hewan, dan saya cukup puas dengan telur karena saya masih curiga dan bertanya-tanya, apakah ini termasuk dalam tiket bis, semacam kupon makan seperti ketika kita naik bis malam ke Jawa Timur yang selalu makan gratis tengah malam, ataukah kami harus membayar sendiri semua makanan ini.
Dan kecurigaan saya terjawab.
Ada beberapa meja di sekitar saya yang sudah selesai. Dan seorang petugas berseragam mendatangi, mencatati apa saja yang telah 'hilang' dari meja makan. Wah, untung saya tidak jadi mengambil udang bumbu lemon yang hampir meruntuhkan iman saya. Kami 'hanya' makan dua nasi putih, telur bumbu pedas, sayuran bumbu kelapa dan dua air putih. Hampir saja saya minum es buah puding karena sangat menggugah selera sebelum Greg menepis tangan saya dan melotot tajam.
Ugh!
Kami harus berhemat dalam perjalanan Sumatera ini karena masih jauh perjalanan kami. Dan saat kami membayar, semuanya 29 ribu. Oke lah, walaupun agak mahal, tapi saya terpukau dengan atraksi cekatan para pasukan berseragam di rumah makan Padang pertama di Sumatera yang saya kunjungi. Saat bis mulai bergerak, saya tersadar ada sesuatu yang tertinggal. Yaaah, kemeja Greg yang masih lumayan baru, tertinggal di salah satu kursi di rumah makan tadi! Ah! Ini adalah barang ketiga yang tertinggal di perjalanan setelah dua pasang sandal yang baru saja dibeli dengan harga yang sangat tidak wajar dan tertinggal dalam mobil sewaan di Malang tempo hari. Tak apa-apa. Semoga saja memang ada yang lebih membutuhkan kemeja itu di sana.
Pukul 19.30.
Kembali di bis, kali ini suasana cukup berbeda. Perut yang penuh dan wajah-wajah yang segar membuat para penumpang bergairah. Bis melaju kencang, dan entah bagaimana, dari depan kemudi mengalirlah musik jedug-jedug yang membahana. Seluruh penumpang seperti bergolak. Saya merasa seperti berada di sebuah diskotek berjalan. Di sana-sini terdengar siulan, teriakan, tertawa dan semacam gurauan: 'Tambo birnyoo!' Mungkin saya salah dengar, atau saya belum terbiasa dengan bahasa Sumatera, mungkin ia bergurau 'Tambah birnya!' seakan-akan kami sedang di dalam diskotek yang menyala dalam gelap dengan musik jedug-jedug yang membuat kepala terangguk-angguk dan kaki menyentak-nyentak.
Lucunya, musik jedug-jedug yang diputar bukan dangdut koplo atau semacamnya itu, tapi lagu-lagu Minang atau lagu-lagu tradisional berbahasa Melayu yang di-remix sedemikian rupa. Wah, asyik juga, pikir saya.
Celotehan masih terdengar di sana sini, tak hanya laki-laki, para perempuan dan ibu-ibu juga hilir mudik, ikut-ikutan bergairah sealir dengan suara musik yang berdentam-dentam. Seorang penumpang, laki-laki muda yang cukup tampan di depan kursi kami berdiri, lalu berjalan di sela lorong menuju ke depan, tepat saat itu bis membelok tajam ke kiri karena ada tikungan. Sontak saja ia goyah dan hampir jatuh, berusaha mencari pegangan.
Dan apa yang terjadi?
Seorang ibu-ibu menjerit tertahan.
Lalu tawa membahana bergema di seluruh bis. Saya hanya ndomblong.
Usut punya usut, tangan si pemuda tampan ternyata mendarat tepat di dada (yang lumayan membusung) ibu-ibu itu, dan si pemuda bergurau, kalau ibu itu menjerit keenakan karena dadanya terpegang oleh si pemuda tampan.
Saya terkekeh-kekeh.
Membayangkan bagaimana kalau itu terjadi di sebuah bis di Jawa.
Suasana yang sangat Sumatera melingkupi kami. Dalam hati saya membatin, inilah yang mengasyikkan dalam sebuah perjalanan. Bukan tujuan yang dicari, tapi sepanjang perjalanan inilah yang asyik, menangkapi momen-momen, mengguratkan peristiwa-peristiwa, dan ada sekeping perasaan haru: menjadi Indonesia.
Berkeliling Nusantara adalah cita-cita saya sejak kecil. Saya dulu punya tekad untuk mengelilingi Indonesia dulu sebelum mengelilingi dunia. Ingin menjadi dekat dengan bangsa sendiri, sebelum berkelana ke negeri-negeri seberang nan jauh.
Menjadi Nusantara.
Dan pengalaman di bis dengan sekitar 50 penumpang ini turut membuat saya terharu, bahwa Nusantara begitu besar, begitu maha, dan saya tak tahu apa-apa. Berusaha mengumpulkan uang demi menjejak tanah Sumatera, pulau ketiga yang saya coba selami budayanya setelah (tentu saja) Jawa dan Bali.
Ada keinginan untuk terus melakukan perjalanan ke pulau-pulau lain: Kalimantan, Sulawesi, Kepulauan Maluku dan Papua. Tentu saja itu mimpi dan cita-cita.
Sungguh, hanya berada di sebuah bis penuh dengan orang-orang Sumatera, saya merasa tak punya apa-apa, bukan siapa-siapa, dan merenung tentang orang-orang di pulau paling maju di negeri ini, Jawa, yang kadang terlalu pongah dan merasa dirinya adalah 'apa-apa'.
Negeri ini begitu luas, Bung!
Ada yang titik di sudut mata saya.
Haru.
Lalu saya tertawa kecil. Memandang Greg yang juga sedang memandang saya.
Pukul 20.30.
Petugas berkumis lebat mondar-mandir, mengatakan sesuatu tentang Teluk. Ah, kami disuruh bersiap-siap. Hampir sampai.
Kami maju ke bagian depan bis. Melambaikan tangan berpamitan ke beberapa penumpang bis yang masih terjaga. Sebagian besar penumpang kini telah terlelap, menghemat tenaga karena baru besok siang mereka sampai di tujuan. Hanya kami berdua yang turun di Bandar Lampung, kebanyakan seperti Ima, turun di Lahat, Bengkulu dan kota-kota di sekitarnya.
Petugas berkumis tebal tadi sudah ada di depan pintu depan. Menyuruh saya maju. Greg masih bergelantungan di lorong.
Saya sangat bersemangat. Ingin tahu, pengalaman apa lagi yang akan kami dapat setelah turun dari bis ini. Dan ketika rem berdecit dan pintu membuka, saya meloncat turun.
Ups, tunggu dulu!
Ada sesuatu yang terjadi, tepat sebelum saya meloncat turun.
Saya merasakan tangan yang kasar meraba-raba paha saya saat saya meloncat turun.
Ugh!
Saya memang memakai celana kargo pendek karena perjalanan cukup panjang dan ribet jika saya memakai rok seperti biasanya. Tapi ketika ada seorang laki-laki bertangan kasar dengan kasar pula meraba-raba paha saya yang terbuka, what the hell!
Saya melirik. Mendengus marah.
Namun saya tak berbuat apa-apa. Tak bisa. Tak sempat. Karena begitu cepat.
Masih terlihat senyum nakal si petugas berkumis tebal yang melambaikan tangan dari balik kaca pintu bis yang kini melesat kencang meninggalkan kami berdua di pinggir jalan besar, semacam ring road, di tengah kegelapan malam.
Tak ada taksi.
Tak ada becak.
Tak ada bis.
Tak ada ojek.
Sempurna.
Dan kami tidak tahu kami berada di mana.
Greg mencoba menelpon Budhe-nya tapi tak ada yang mengangkat.
Kami berjalan sambil melihat-lihat ke belakang. Siapa tahu ada kendaraan umum.
Saya melihat sekeliling. Daerah ini seperti di lingkar luar perkotaan, ya semacam ring road kalau di Jogja. Jalannya besar dan luas. Bis-bis dan truk-truk besar melaju kencang-kencang. Saya melirik jam tangan. Jam sembilan malam.
Ah, apa yang bisa diharapkan pada malam?
Saat saya mulai lemas karena tak tahu arah, tiba-tiba Greg berteriak dan melambai ke sebuah kendaraan yang melambat.
Sinar lampunya kuning menyilaukan.
Greg bertanya kepada sopir dan si sopir hanya mengangguk.
Syukurlah masih ada mikrolet. Mungkin ia hendak pulang. Hanya kami berdua yang ada di mikrolet itu. Suara musik dari empat pengeras suara berdentum-dentum memecah kesunyian. Mikrolet kembali melambat. Ada sepasang anak muda naik.
Saya bertanya.
Dan jawabannya sungguh aneh. Apakah ia tak mengerti bahasa saya atau saya yang tak mengerti bahasanya, saya tak tahu, padahal kita sama-sama berbahasa Indonesia.
Hanya sepuluh menit saja, sepasang anak muda itu turun. Meninggalkan kami berdua yang masih belum tahu arah.
Greg mulai gelisah. Ternyata ia curiga dengan si sopir.
Sopir ini kalau ditanyai hanya mengangguk atau menggeleng saja. Bukannya ia berkonsentrasi menyetir, tapi sejak kami naik hingga saat ini, si sopir berbicara dengan entah siapa dengan ponselnya yang ia jepit sedemikian rupa.
Saya mulai was-was.
Akhirnya Greg meminta turun, dan menjejalkan beberapa lembar uang seribuan ke dashboard. Kami berhenti di depan sebuah minimarket yang menyala terang.
Saya bertanya, Budhe-mu mau menjemput di sini?
Ia menggeleng, 'tak mungkin lah, ia masih bekerja, aku hanya nggak suka dengan sopir tadi, membahayakan, nyetir sambil nelpon, kita cari mikrolet lain ya'.
Saya mengangguk.
Berharap akan ada mikrolet dengan sopir yang lebih waras.
Akhirnya, lima belas menit kemudian ada mikrolet mendekat. Sopir masih muda. Mikroletnya berwarna merah jambu terang penuh dengan stiker. Musik berdentam-dentam. Oh, ternyata mikrolet di sini ada musiknya, batin saya.
Kami segera naik dan si sopir dengan baik hati mau mengantarkan hingga depan rumah Budhe-nya Greg meski ia sebenarnya tak lewat daerah itu.
Sebagai ucapan terimakasih, saya menyelipkan selembar sepuluhribuan ke tangannya. Bonus. Dan ia tersenyum lebar.
Kami turun tepat di perempatan.
Dan dari kejauhan saya melihat Budhe-nya Greg menunggu, merentangkan tangan.
Akhirnya!
Kali ini koper yang saya seret tak terasa berat. Jam 10 tepat kami sampai depan rumah. Disambut dengan keibuan oleh Budhe-nya yang menanti-nanti kedatangan kami sejak sore tadi. Perasaan saya campur aduk: lega, senang, capek, lemas, lapar dan bersemangat.
Ah, kali ini akhirnya kami bisa melepas lelah, ngeluk boyok dan menanti hari esok untuk berjalan-jalan keliling kota Lampung.
Selamat tidur!

(bersambung)

No comments:

Post a Comment

terimakasih ya sudah mampir dan menyapa kurakurakikuk :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...