Tuesday, December 11, 2012

Sumatera, Sumatera! (bagian 2)

*sambungan dari Pulogadung: Mencari Bis ke Lampung*

Rabu, 18 Juli 2012
Pelabuhan Merak: Menyeberang. Melaju Menuju Matahari!
Akhirnya!
Bis yang ditunggu-tunggu pun tiba. Kami bergegas dan mencari tempat duduk sesuai nomor. Untunglah bis yang ini interiornya lebih oke daripada yang kami tumpangi sebelumnya. Ada selimut, bantal kecil dan air minum.
Bis segera melaju, melewati keramaian ibukota, jalan layang, jalan lingkar, jalan tol, gedung-gedung 40-lantai, gedung-gedung entah-berapa-lantai-yang-puncaknya-silau, reklame-reklame Dian Sastro, papan-papan petunjuk, bis-bis panjang TransJakarta, bis-bis Kopaja, mobil-mobil, motor-motor, orang-orang, mobil-mobil lagi, motor-motor lagi, orang-orang lagi, berhenti, lampu merah, macet, lampu merah, macet lagi, hingga...
Deretan-deretan gedung-gedung digantikan dengan areal persawahan yang luas, ruas-ruas jalan yang lega dan hampir kosong, masjid-masjid di kejauhan, perbukitan dengan perumahan penduduk yang menyembul seperti jamur-jamur kecil yang tumbuh di batang kayu, kerbau-kerbau, anak-anak di lapangan, oh, di manakah ini?
Banten, jawab Greg pendek.
Kami menuju Pelabuhan Merak. Menuju kapal ferry yang akan menyeberangkan kami ke tanah Sumatera. Hampir pukul 3 sore. Bis memasuki kawasan-berbau-air-laut, rumah-rumah dan toko-toko tampak berbau asin diterpa angin laut, deretan panjang truk-truk besar mengangkut-entah-apa, motor-motor, mobil-mobil, lalu saya melihat dermaga, tiang-tiang besi, kapal, derek-derek besar...ah pelabuhan!
Tak menunggu lama, bis sudah antri memasuki lambung kapal, hingga akhirnya kegelapan menyambut dan seluruh penumpang disuruh turun. Saya melirik jam tangan, 15:09.
Greg segera mengajak saya untuk naik ke dek naik lagi, dan lagi hingga kami di dek paling atas. Baru dua kali ini saya menyeberang, pertama saat naik ferry menuju Bali tahun lalu, namun yang ini sungguh luar biasa!
Angin laut menerpa kencang.
Di mana-mana biru, biru dan biru.
Ada beberapa meja dan kursi kecil yang menempel di pagar besi sekeliling dek. Saya bersandar dan melongok ke bawah.
Apa itu?
Ada beberapa laki-laki berenang tanpa baju, di bawah kapal sambil berteriak-teriak entah apa. Seorang bapak di samping saya berkata, mereka minta uang, koin, koin.
Saya mengambil beberapa koin dan melemparkannya jauh-jauh. Sontak beberapa pemuda itu langsung terjun berusaha mengambil koin-koin lemparan saya. Dan ternyata tak hanya saya yang melempar, penumpang-penumpang lain di dek bawah juga melakukan hal yang sama. Saya jadi semakin semangat melempari koin.
Setelah beberapa saat, kapal mulai melaju, perlahan, lalu semakin menambah kecepatan. Tak ada lagi yang berenang meminta lemparan koin. Angin laut segar sekali. Memompa  spirit saya. Menurut petugas bis, perjalanan Merak-Bakaheuni kira-kira 2,5-3 jam, namun dari Bakaheuni ke Bandar Lampung bisa makan waktu. Saya tak tahu.
Di atas kapal selama 3 jam!
Wah, bayangkan! Menurut saya itu cukup sekali, tidak terlalu lama, tidak terlalu singkat. Tidak seperti saat kami menyeberangi Ketapang-Gilimanuk yang hanya kira-kira 1-1,5 jam saja. Pengalaman naik kapal saya memang masih minim kalau naik kapal angsa di Kebun Binatang Gembiraloka dan kapal mesin di Waduk Sermo tidak ikut dihitung.
Kami menikmati angin, laut, langit dan aroma samudera. Setelahnya, kami berjalan-jalan, memotret ini itu, melihat-lihat, mengobrol dengan penumpang yang lain, atau sekedar bersandar pada pagar pembatas dek, saling duduk berhadapan dan memandang laut lepas.
Mungkin jam 3 sore adalah waktu favorit naik kapal karena matahari sudah tak begitu terik, angin sepoi-sepoi dan kita bisa melihat senja.
Ya. Senja.
Matahari terbenam. Menandakan kami hampir merapat ke Pulau Sumatera. Hampir.
Greg mengajak saya ke bagian yang paling oke untuk melihat senja. Sinarnya yang jingga membuat hati saya berdetak kencang. Bayangannya yang jatuh ke laut membuat laut berubah warna.
Kami berdua berdiri berdampingan memandang laut, dan senja.
Tak menyangka kami sudah memulai perjalanan spiritual ini.
Kami terdiam. Khusyuk.
Senja di lepas pantai Sumatera.
Wajah pantai Sumatera yang molek.
Sungguh sebuah pengalaman yang tak ada duanya!
Swarnadipa. Pulaumu keemasan sekarang.
Saya melamun, membayangkan saya ikut dalam pesiar Gajah Mada menyatukan Nusantara, menuju pantai-pantai di ribuan pulau, melempar jangkar membuang sauh, meneriakkan semangat dan mantra-mantra.
Saya sudah punya firasat baik, perjalanan kali ini akan menjadi salah satu yang terbaik dari sekian perjalanan spiritual yang telah kami tempuh selama tujuh tahun terakhir ini.

(bersambung)

No comments:

Post a Comment

terimakasih ya sudah mampir dan menyapa kurakurakikuk :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...