Monday, December 10, 2012

Sumatera, Sumatera! (bagian 1)

 ...sebuah catatan perjalanan yang hampir tak tertuliskan...

Senin, 16 Juli 2012
H-1
Rencana perjalanan kali ini cukup membuat saya bergelora. Betapa tidak, saya dan Greg akan pergi ke Sumatera untuk pertama kalinya. Seperti ada yang memanggil-manggil untuk memberanikan diri melancong ke Sumatera, seolah menuju ke pulau yang dulunya bernama Swarnadipa ini adalah untuk menyelesaikan beberapa unfinished businesses: keingintahuan yang hampir meledak di ubun-ubun dan beberapa penggalan masa lalu yang harus dicari kebenarannya.
Hari ini adalah hari terakhir persiapan perjalanan untuk 10 hari ke depan. Kami memutuskan untuk mampir dulu ke Jakarta dengan kereta fajar, tidak langsung menuju Sumatera dari Jogja karena Greg tidak bisa naik bis lebih dari 1x24 jam. Direncanakan kami akan mampir ke rumah Om saya di daerah Sumur Batu, Kemayoran. Tiket kereta fajar telah di tangan. Kami juga sudah mengepak satu koper kecil dan menyandang tas kanvas. Harus cukup tidur malam ini karena kami baru akan menginjak Sumatera dua hari lagi...

Selasa, 17 Juli 2012
Mampir ke Jakarta
Pagi-pagi kami telah siap.
Dengan diantar adik saya, kami sampai Stasiun Tugu. Dengan tiket kereta bisnis ke Jakarta seharga 125 ribu di tangan, kami bergegas ke peron, menunggu, lalu meloncat menuju gerbong besi yang akan membawa kami ke ibukota.
Sungguh perjalanan yang cukup panjang, batin saya.
Kami sarapan nasi rames, makan siang dengan pecel dan mencoba tidur dengan bantal kotak besar berwarna biru yang disewa seharga empat ribu.
Setelah 10 jam, kami tiba di Stasiun Senen. Ini kali kedua kami di stasiun padat penumpang ini. Sesuai dengan petunjuk Om saya, kami harus naik mikrolet warna biru muda no. 37 jurusan Senen-Pulogadung. Menunggu lama di depan stasiun, tak ada tanda-tanda si mikrolet 37 melintas, saya bertanya kepada bapak penjual gorengan di pinggir jalan, dan dijawab 'sampai malam pun mikrolet 37 nggak akan melintas di sini Neng, harus ke sono noh' sambil menunjuk arah.
Saya lemas, karena capek, lapar dan tak tahu arah.
Gantian Greg yang bertanya-tanya, dan akhirnya ia mengajak saya melompat ke sebuah bis Kopaja yang melintas tepat di depan mata. Saya tersuruk-suruk dengan koper seberat 15 kg di belakangnya.
Wah, baru kali ini saya naik Kopaja. Penuh sesak. Rush hour pulang sekolah dan kantor. Saya tergencet-gencet di dekat pintu belakang bis. Bau keringat menguar tajam, sepertinya menempel di mana-mana, membuat saya agak mual karena letih duduk 10 jam di kereta dan lapar. Saya mencengkeram pegangan pintu. Macet. Teriakan kernet. Klakson dan deru knalpot di luar. Perut saya melilit.
Sedangkan Greg berdiri di belakang saya, tanpa saya sadari ia sudah mengobrol dengan bapak-bapak, bertanya arah dan sepertinya sudah tahu hendak turun di mana. Tiba-tiba ada yang menjawil pundak. Kernet meminta ongkos. Saya merogoh-rogoh, hanya ada limaribu, langsung saya ulurkan tanpa bertanya. Dan, syukurlah ia juga tak bersuara.
Hampir magrib. Dan kami diteriaki bapak-bapak yang tadi memberi arah untuk segera turun dari bis dan disuruh mencari bajaj. Saya mengucap terimakasih dan tersenyum, tapi bapak itu tak membalas. Segaris senyum pun tak terlihat di wajahnya. Saya mengangguk dan meloncat turun. Sempat saya melayangkan wajah ke beberapa penumpang lain di dalam bis. Wajah-wajah tanpa senyum, kelelahan dan masam. Tangan-tangan ibukota telah mengeraskan wajah mereka. Sungguh kuat bisa bertahan dalam deru-deru ini sepanjang hari. Saya kadang berpikir, saya mungkin tak sekuat mereka untuk bisa hidup di kota ini.
Diturunkan di pinggir jalan entah di mana, kami langsung mencari bajaj dan berkata, 'Sumur Batu, Bang' dan bajaj langsung melaju, melewati pasar, perkampungan, gang-gang kecil, jembatan, lalu berbalik lagi karena kelewatan, dan sampailah kami di depan rumah Om saya di tengah perkampungan padat, pas ketika adzan maghrib berkumandang.
Kami menghabiskan malam itu dengan berjalan-jalan di sekitar pasar, membeli pizza lokal yang rasanya lumayan, dan memutuskan untuk pulang ke rumah Om saya dan istirahat saja karena pagi-pagi kami akan menuju Lampung, kota pertama di Sumatera yang akan kami singgahi...


Rabu, 18 Juli 2012
Pulogadung: Mencari Bis ke Lampung 
Pagi-pagi kami bangun, sarapan, lalu berpamitan.
Menyeret-nyeret koper sepanjang jalan yang berlubang membuat saya berpikir ulang, ah seharusnya saya tak membawa koper! Mungkin lain kali harus membeli tas punggung yang oke biar bisa digendong ke mana-mana. Kami memang tak punya tas punggung di rumah, biasanya dalam setiap perjalanan, kami jarang membawa barang banyak dan sudah puas hanya dengan mencangklong tas pundak dari kanvas.
Kami bergegas ke supermarket terdekat, mengambil uang di ATM, membeli air mineral dan menanti mikrolet ke Pulogadung. Jujur saja, sering saya mendengar komentar miring tentang terminal ini, apalagi kalau untuk pendatang dari Jawa (begitu orang Jakarta menyebut orang-orang yang datang dari daerah Jawa Tengah, Jogja dan sekitarnya) yang belum pernah ke Pulogadung. Copet lah, calo lah, gendam lah, semua kabar-kabar itu membuat saya bergidik, tapi saat tangan Greg meremas saya hangat di atas mikrolet jam 8 pagi itu, perasaan itu hilang tak berbekas.
Sampai di terminal Pulogadung, kami langsung mencari warteg, Warung Tegal. Mengisi perut agar tak lemas di perjalanan. Saat teh panas pesanan saya datang, saya cicipi, dan saya tersedak. Ugh, rasanya aneh! Rasanya mengerikan! Saya hampir muntah, namun saya tahan. Saya lirik Greg yang dengan santainya menghabiskan setengah gelas teh panas dalam sekali teguk. Alis saya terangkat. Ugh, kok bisa ya, saya pikir ada sesuatu yang aneh dengan 'air'nya bukan tehnya. Buru-buru saya menenggak air mineral. Saya nggak mau sakit perut sebelum saya sampai Sumatera!
Setelah makan hanya-dengan-tempe-dan-teh-tapi-habis-20 ribu, kami masuk terminal. Greg bertanya kepada petugas, sesuatu tentang 'bis ke Lampung'. Dan akhirnya kami sampai di loket berderet-deret, penuh dengan orang-orang berbicara dengan dialek Sumatera. Saya bersandar sambil memandang ke arah bis-bis besar yang datang dan pergi. Greg mengurus tiketnya: 150 ribu per orang. Saya tidak tahu apakah itu terlalu mahal atau harga normal, mungkin nanti saya akan tahu jawabannya. Lalu kami meloncat lagi ke dalam bis. Memilih tempat duduk di dekat jendela, agak belakang, lalu saling tersenyum. Saya memandang Greg dan meremas tangannya, 'Sumatera!' Ia membalas senyuman saya hangat-hangat.
Bis melaju.
Meninggalkan terminal. Menuju jalan-jalan besar. Matahari mulai terik padahal masih jam 9.30 pagi. Saya sudah membayangkan perjalanan mandi matahari ketika tiba-tiba bis berbelok, berhenti, dan seorang petugas berseragam naik membawa berkas-berkas dan mulai mengecek nama-nama penumpang. Lho, ada apa ini, pikir saya, kami bahkan baru 15 menit melaju! Saat sampai di depan kami, segera saya mengulurkan tiket. Si petugas memandang kami, alisnya berkerut, membaca tulisan di atasnya seolah-olah tiket kami berbahasa planet Mars. Lalu ia berkata dengan tegas, Silahkan turun!
APA?
Saya protes. Dan ia menjawab lagi, bis ini menuju Bengkulu, bukan Bandar Lampung.
APA?
Saya menggeleng-geleng tak percaya. Salah jurusan? Lagi? Berapa kali kami selalu salah jurusan? Seperti Mei kemarin saat kami hendak ke Malang naik kereta, kami malah naik kereta menuju Jakarta! Wah wah!
Menyeret-nyeret koper lagi, kami akhirnya turun dan bergabung dengan penumpang 'salah jurusan' lainnya. Duduk di atas tikar, kami diminta menunggu bis yang akan ke Bandar Lampung. Di samping saya ada seorang gadis berjilbab yang juga tampak bingung. Saya ajak ngobrol. Ternyata ini juga baru kali pertamanya pergi ke Sumatera. Namanya Ima, mahasiswi Geografi UI asal Pekalongan yang hendak ke Lahat menengok kakaknya yang baru saja melahirkan. Kami segera akrab dan berbincang, hingga pukul 12 siang.
Gila! Sudah 3 jam kami menunggu, tanpa tahu pasti apakah bis ke Lampung akan datang atau tidak. Sudah empat kali kami bolak-balik bergantian bertanya kepada petugas bermuka masam yang cepat-cepat menghindar kalau mata kami bersitatap, enggan ditanyai. Bis-bis banyak yang datang, namun semuanya 'nggak ke Lampung, Neng'.
Akhirnya, jam 1 siang ada bis datang. Greg segera bergegas untuk bertanya, dan sebelum ia bertanya, petugas bis berteriak keras, Lampung! Lampung!
Ha-ha! Akhirnya!

(bersambung)

3 comments:

  1. Haha itulah Jakrta dengan sejuta "pesonanya". :D
    Oh ya, saran saja, menurut saya lebih baik kalau Jakarta-Lampung naik bis DAMRI saja. Lebih aman dan nyaman. Di Stasiun Gambir juga ada, bisa langsung naik dari sana.

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehe, iya :)
      sudah beberapa kali ke Jakarta tapi masih merasakan wow-nya, selalu ada cerita kalau ke Jakarta :D

      wah ternyata ada ya, bis DAMRI Jakarta-Lampung, yaaah, kita tidak tahu Mas, btw makasih infonya ya :D

      Delete
    2. ok. mungkin bisa bermanfaat kalau lain kali mau ke Sumatera lagi. :D

      Delete

terimakasih ya sudah mampir dan menyapa kurakurakikuk :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...