Saturday, August 25, 2012

Perjalanan Dimulai: Benteng Merah!

Hai!
Seperti janji saya sebelumnya (aw, 2 bulan yang lalu!) saya akan menulis tentang pengalaman menyusuri kota-kota selatan bersama Greg yang kami mulai dengan melewati batas Jogja-Jawa Tengah, menyeberangi Sungai Progo yang mistis dan memasuki ibu kota kabupaten Kulon Progo, Wates.

Hari semakin terik. Tak banyak yang bisa dilihat di sini, kami hanya lewat dan terus melaju menuju Purworejo, sebuah kota kecil dengan banyak peninggalan rumah-rumah Belanda di pusatnya dan dawet ireng (hitam) yang berjajar di sepanjang jalan. Jalanan berdebu dan panas dengan truk-truk besar lalu lalang di sepanjang jalan. Saya sudah tak tahan. Tepat jam 12 siang, saya ajak Greg untuk mengaso sejenak di sebuah warung kecil di pinggir jalan untuk melepas dahaga. Kami berhenti di depan tulisan 'Dawet Ireng'. Minuman khas Purworejo ini seperti es dawet namun berwarna hitam. Kami memesan dua mangkok, dan selembar uang lima ribu sudah cukup untuk mengguyur kerongkongan kami yang kering. Anak si penjual dawet ireng terus memperhatikan kami dengan seksama selama kami menghabiskan semangkok dawet ireng yang segar. Spontan, saya ambil gambarnya!
Setelah sepuluh menit, kami lanjutkan perjalanan.
Melewati Kutoarjo dengan kali-kali kecil yang bening di sepanjang jalan kotanya, kami terus melaju. Menuju kota berikutnya:
Kebumen.
Jalanan mulai lengang, dan banyak sekali lambang burung walet!
Saya memotret beberapa 'burung walet' yang tersebar di sepanjang jalan. Kami mampir sejenak untuk mengisi bensin, berhenti sejenak di depan Alun-alun Kebumen yang bersih dan sepi, lalu meneruskan perjalanan menuju Gombong. Ada satu tempat di sana yang akan kami kunjungi, dan kami harus mencari warung makan. Sejak dari rumah, kami belum sarapan.

Tibalah kami di Gombong.

Salah satu teman saya di Sanata Dharma dulu, Ian, berasal dari kota ini. Dan ia selalu berkata tentang Benteng Van der Wijk. Langsung saja kami mencari benteng merah ini dan saya ternganga.
Ha? Bener ini benteng Belanda?
Apakah saya tidak salah masuk?
Saya merasa seperti sedang memasuki arena permainan anak-anak semacam Kids Fun dengan kereta mini, patung-patung dinosaurus yang menganga,dan umbul-umbul warna-warni yang jelas-jelas bertuliskan 'Dunia Mainan Anak'.
Oh, apakah saya sudah gila?
Saya melihat sekeliling. Kafetaria, kolam renang anak, mobil-mobilan, losmen, ah yang benar saja! Tempat ini tergradasi habis-habisan oleh komersialisasi murahan yang membuat saya limbung selama beberapa detik!
Dalam bayangan saya, benteng peninggalan Belanda paling tidak seperti Benteng Vredeburg di Jogja: bersih, tidak ada umbul-umbul aneh-aneh jika tidak sedang ada Festival Kesenian Yogyakarta, dan masih terasa benteng, bukan seperti 'dunia mainan anak'.
Saya menghela nafas.
Saya langkahkan kaki memasuki area benteng. Dan disana saya kembali ternganga. Kali ini cukup takjub:

Bangunan merah menyala tampak berdiri tegak di hadapan saya.
Benteng ini dibangun Belanda untuk memenuhi kebutuhan logistik saat Perang Diponegoro (1825-1830), lalu berubah fungsi menjadi sekolah calon militer untuk anak-anak keturunan Eropa sekitar tahun 1856.
Kami lalu masuk.
Dan saya kembali kecewa.
Benteng sebagus ini terlihat seperti bangunan yang tak terawat, dengan tempelan-tempelan yang seadanya dan seolah 'hanya' difungsikan sebagai bagian dari sebuah arena permainan anak saja. Tak tampak ada petugas benteng yang memberikan cerita tentang apa itu Benteng Van der Wijk atau apapun. Hanya tempelan-tempelan foto benteng tempoe doeloe dan foto-foto orang Belanda yang dulu pernah menjadi kepala militer di sini terpajang dengan frame-frame sederhana, beberapa di antaranya agak miring karena pakunya berkarat.
Kami lalu memasuki halaman tengah benteng.
Mengingatkan saya tentang Lawang Sewu di Semarang, halaman tengah benteng ini sangat luas dengan latar belakang benteng merah dari batu bata padat yang sangat cantik.
Cantik ya?
Saya mengambil gambar dari beberapa sudut yang berbeda. Saya seperti kembali ke 200 tahun yang lalu, membayangkan tentang riuhnya serdadu-serdadu berderap dan berceloteh dengan Bahasa Belanda.
Coba bandingkan keadaan sekarang dengan keadaan benteng tahun 1800an yang lalu. Saya ambil foto tempoe doeloe-nya:
Taman yang di tengah-tengah halaman ini sudah tidak ada. Sayang ya.
Bahkan ada beberapa bagian benteng yang 'ditempeli' dengan dekorasi Jawa, Cina dan modern. Saya dan Greg sempat merasa aneh, kenapa tiba-tiba ada ruangan bergaya Jawa, Cina dan modern di dalam benteng. Apakah itu semacam set dekor untuk foto atau semacam dekorasi pernikahan, saya tak tahu. Sungguh, komersialisasi habis-habisan dan murahan yang dengan semena-mena menempelkan dekorasi itu di dalam sebuah benteng.
Saya tidak habis pikir dengan pengelola benteng merah ini, ah!
Kami lalu naik ke lantai atas, menjelajahi beberapa ruangan yang sepertinya dulu menjadi barak luas tempat banyak tempat tidur dan paku-paku besar untuk gantungan baju.
Jendelanya besar-besar.
Hawa lembab dan bau lumut menerpa hidung saya. Disertai dengan aroma masa lalu yang masih lekat dalam setiap jeruji jendela dan lekukan batu-bata di tembok berkapur.
Saat melihat papan menuju 'stasiun kereta benteng', saya bergumam, walah, apa lagi nih? Ternyata ada kereta mini yang berputar-putar di atas atap benteng dengan rel berkarat hanya dengan membayar lima ribu rupiah saja.
Kami sepakat untuk mencoba.
Dan setelah mencoba naik kereta kelinci, kami turun dan hendak melanjutkan perjalanan. Kami harus sampai Purwokerto sebelum malam turun, dan sekarang sudah jam 3 sore. Lagipula, kami belum makan sejak pagi. Hanya minum semangkok dawet ireng di Purworejo.
Dan sebelum kami mengakhiri trip kecil di benteng merah, inilah yang sempat kami lakukan:
Dan setelah melampiaskan keceriaan masa kecil di antara tank-tank dan patung-patung, kami lantas bergegas mencari warung makan, dan tepat jam 4  sore kami bisa makan. Wah, akhirnya!
*bersambung*

2 comments:

terimakasih ya sudah mampir dan menyapa kurakurakikuk :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...