Sunday, April 1, 2012

A Tribute to Air Ketjil


Saya tidak percaya saya harus menulis judul di atas.

Sepertinya baru kemarin saya menggendongnya, membelainya, dan mengajaknya lari-lari setiap sore di Alun-Alun Selatan.
Ya, Air telah pergi.
Tepat pada tanggal 15 Februari.
Jam 12 siang.
Dan kembali mengingatnya membuat dada saya sesak, karena begitu banyak momen yang terjadi di antara kami bertiga: Air, Greg dan saya.

Pernah pada suatu senja di bulan Januari tanggal 18 yang berkabut karena hujan, kami dikejutkan dengan teriakan Riko, anak 7 tahun tetangga belakang rumah yang berteriak: Mbak! Air hanyut! Air hanyut!

Di depan rumah kami memang ada selokan besar setinggi pinggang orang dewasa yang airnya kadang meluap saat hari hujan besar. Dan memang sesorean hujan lebat tumpah, sehingga air di selokan meninggi. Saat mendengar teriakan Riko, saya merasa dunia berhenti berputar. Saya diam terduduk. Sedang Greg langsung melesat, berlari menembus hujan menyusuri selokan. Jantung saya berdebar kencang. Saya tak bisa membayangkan Air yang baru sebulan itu ditelan deru air yang membuih, coklat dan beriak-riak mengerikan. Selokan penuh sampah yang mengapung dari hulu. Ada gelora di dalamnya. Meski saya tahu secara naluriah anjing bisa berenang, tapi saya tak yakin Air bisa berenang dalam golak air yang seperti ini.

Sepuluh menit berlalu. Tak ada tanda-tanda Greg kembali. Saya bergegas mengambii handuk, minyak kayu putih dan payung. Saya hendak menyusul Greg dan Air di sana. Saya berlari. Tak menghiraukan baju yang basah atau kaki yang terpeleset kerikil. Dan di sanalah saya melihat dalam buram hujan yang mendera, Greg menggendong Air yang terkulai. Mereka berdua sama-sama basah kuyup. Dan saya menangis dalam hujan.

Terjadi kepanikan luar biasa di dalam rumah.
Saya masih melihat mata Air terbuka, meski mulai meredup. Saya mengoles banyak-banyak minyak kayu putih, menghandukinya, menyelimutinya dan berkali-kali berkata, tak apa-apa Air, kamu akan baik-baik saja.
Dan saat Air mendengking, bersin, dan matanya kembali bersinar, kami tahu bahwa ia masih ada untuk kami. Semangat hidupnya yang tinggi membuatnya bertahan dalam arus. Ia terseret hampir 500 meter dari rumah, bergulung-gulung bersama sampah dalam selokan yang menggelora sehabis banjir di hulu. Greg bercerita ia hanya melihat tubuh Air yang mengapung, kepalanya ada di dalam air. Dan dibantu dengan beberapa warga desa, Greg terjun ke selokan dan mengambil tubuhnya yang menggembung karena terlalu banyak meminum air dan sampah.

Kalau saja saya telat sedetik, satu detik saja, saya tak tahu apa yang terjadi dengannya, Nok, kata Greg waktu itu.

Air kembali sehat dan manja setelah peristiwa itu.
Dan kami menjalani hari-hari yang menyenangkan bersama-sama. Hingga pada sebuah pagi di tanggal 15 Februari, saya yang sedang berdua saja bersama Air merasa ada yang aneh. Air tidak seperti biasanya. Ia diam. Duduk mematung di balik pintu depan. Memandang ke luar. Ia berada di situ hingga berjam-jam. Tanpa menghiraukan panggilan saya karena ia sudah melewatkan makan pagi. Ia duduk tegak di balik pintu, dan tubuhnya gemetar.

Saat Greg pulang, seperti biasa ia lalu menggendong Air. Kali ini ia tercekat.
Air kenapa, Nok? Tubuhnya bergetar hebat. Dadanya bergemuruh. Apakah kau sudah memberinya makan?
Saya menjawab, Air tidak mau makan, dari tadi ia di depan pintu seperti sedang menunggu sesuatu.
Apakah ia sakit? Coba kamu raba tubuhnya. Ia menggigil. Bergetar.

Lalu, Air merengik. Tanda ia hendak buang air kecil. Tapi ia tak mau keluar. Ia berdiri di depan pintu meski saya sudah membukakan pintu. Ia merengik lagi. Dan saya bukakan pintu lebar-lebar. Tapi ia tak bergeming. Hingga akhirnya saya gendong ia dan saya letakkan di garasi.

Dan saat itulah saya menyesali tindakan yang saya ambil.
Saya tak melihat kemana Air pergi. Greg berkata ia masih melihat ekornya di samping rumah, di sebuah area kecil berumput yang biasanya dipakai untuk buang air kecil.

Itulah saat terakhir saya melihat Air.
Lima belas menit berlalu dan Air belum kembali.
Saya panik dan segera mencari Air di balik semak-semak, di rerimbunan keladi, di balik-balik tembok, masuk ke halaman belakang tetangga, dan pergi ke sawah. Nihil. Panas membuat darah saya naik.

Saya ambil sepeda. Sial, bannya kempes. Saya mengayuh hingga ke bengkel sepeda, dan mulai mencari Air kemana-mana, hingga desa tetangga, menyusuri sawah sampai Ring Road, kembali masuk ke pekarangan-pekarangan tetangga, gang-gang sempit yang lembab, dan terus mencari hingga saya tak tahu apakah yang menetes di wajah saya adalah keringat atau air mata.

Setelahnya adalah perasaan kosong. Tercerabut.
Saya terduduk, lelah, wajah panas, dan jantung berdetak kencang.
Saya ingat, tanggal 16 besok seharusnya Air ada jadwal vaksin yang ketiga.
Saya ingat, kami berencana akan menitipkan Air ke rumah teman saya, Airani, setelah Air divaksin.
Dan tiba-tiba saya ingat, Angin Ketjil juga pergi meninggalkan kami tepat pada tanggal 15, bulan November.
Kenapa mereka meninggalkan kami sama-sama di tanggal 15?
Dan saya menangis.

Perlu waktu tiga hari untuk berduka.
Kadang saya dan Greg menangis diam-diam di atas sepeda motor, saat melewati jalan-jalan yang pernah kami tempuh bersama-sama.
Kadang saya terbangun dalam gelap dan mendapati bahu saya sudah terguncang-guncang dan terisak sebelum Greg merengkuh saya dalam-dalam.
Air, di mana pun kamu berada, kami selalu mencintaimu...
Air Ketjil, we always love you, wherever you are.. 
Please bring Air back to us!

4 comments:

  1. Replies
    1. T_T hiks, iya, kemarin aku kangen bgt sm Air...jd pengen nulis ttg dia...miss him so much :')

      Delete
  2. Mbak, aduh aku sedih bacanya....eh aneh lho semalam aku mimpiin kamu. padahal ketemua aja belum yah....*hugs* Semoga Air segera kembali lagi...

    ReplyDelete
    Replies
    1. hai Nunu :)
      iya makasih ya, sudah kasih support :')
      aku sempat mimpiin Air juga beberapa malam ini..
      hey, kita sudah bertemu dlm mimpi! :)
      itu pertanda bagus :) semoga suatu saat kita bisa bertemu, entah di Jogja atau di Bandung :)
      i'm sure we will! :)
      HUGS! xxx

      Delete

terimakasih ya sudah mampir dan menyapa kurakurakikuk :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...