Thursday, April 5, 2012

Seperti Sebuah Film....

Ya.
Hidup seperti sebuah film, motion pictures..
Kumpulan dari gambar-gambar yang bergerak.
Dan saya berusaha mengabadikan momen-momen berharga itu dalam kumpulan gambar-gambar yang bergerak...

Seperti saat saya dan Greg menikmati sebuah sore di sebuah fusion resto 'Cali Deli' (resto yang katanya menyajikan makanan Vietnam) di Grand Mall Indonesia, Jakarta. Ini kali pertama buat kami, menginjakkan kaki ke mall yang katanya terbesar di Indonesia ini, dan sempat tak tahu harus bagaimana berada di sebuah teritori yang sama sekali asing dan baru. Mencoba mengkoordinasikan semua sistem indera dan saraf karena apa yang terlihat di mata, tercium di rongga hidung dan tersentuh di saraf kulit adalah sesuatu yang benar-benar baru dan lumayan mencengangkan. Semacam kami terdampar di sebuah planet kaca dengan segala rupa manekin yang berputar-putar dan dengung-dengung suara yang membuat otak beku. Kaki-kaki jenjang mulus berseliweran di mana-mana merupakan contoh fatamorgana yang hampir tak pernah kami temui di Jogja.

/scene 1/
Cali Deli, Grand Mall Indonesia, Jakarta

/scene 2/
Cali Deli, Grand Mall Indonesia, Jakarta

/scene 3/
Bundaran HI, Jakarta

/scene 4/
Stasiun Gambir

/scene 5/
KA Taksaka, Jakarta-Jogja

Sebuah film yang menarik.
Seharusnya saya bercerita lebih banyak...
Bahwa saat menunggu di Gambir tidak sebanding dengan penantian kami di Stasiun Senen, mengantri tiket hingga lima jam lamanya, berdiri hingga kaki kaku-kaku dan mulut kering.

Bahwa saat kami naik kereta, ternyata nomor kursi 1A tidak ada.
Ya, TIDAK ADA! Hanya ada kursi bernomor 1B.
Dan saya tak mau berdiri sepanjang Jakarta-Jogja, tentu saja!
Saat saya hendak mencari kondektur tiket, tiba-tiba ada ribut-ribut di luar gerbong. Seorang bapak paruh baya sempoyongan, nafasnya megap-megap, tangannya memegangi dada kirinya, langkahnya sempoyongan hampir tak kuat berdiri karena ia kesulitan bernafas.
Beri jalan! Beri jalan! kata orang-orang di gerbong.
Beri duduk! Beri duduk! kata orang-orang lagi.
Dan karena kami berada di deretan paling ujung, maka Greg langsung berdiri dan mempersilakan bapak dengan nafas pendek itu duduk.
Sakit jantung, bisik orang-orang, serangan jantung, bisik orang-orang lagi.

Saya hanya melongo.
Kami benar-benar tak punya tempat duduk.
Saya bergegas ke gerbong belakang hendak komplain dengan masinis.
Bertemulah saya dengan kondektur kereta yang baik hati dan akhirnya kami diberi dua tempat duduk di gerbong paling belakang. Gerbongnya lebih bagus, kursinya lebih empuk, dan hanya separuh gerbong yang terisi, kebanyakan turis asing. Hoahm! Saya tersenyum kepada Greg sebelum tidur.
What an adventure!
What a real film today!

No comments:

Post a Comment

terimakasih ya sudah mampir dan menyapa kurakurakikuk :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...