Friday, April 13, 2012

Di Balik Kuil-Kuil Tamil #4

baca sebelumnya:
//Serial Kuil Tamil//
#1 Di Balik Kuil-Kuil Tamil
#2 
Di Balik Kuil-Kuil Tamil

#3 Di Balik Kuil-Kuil Tamil 
---
Baiklah.
Tanpa kamera saya masuk ke Kuil Thayumanavar.
Kuil kuno yang dipahat di atas bukit batu besar. Seperti yang saya bilang sebelumnya, Kuil Thayumanavar ini adalah gunung batu solid yang diubah menjadi kuil raksasa yang selalu penuh dikunjungi ribuan orang tiap harinya.

Jadilah saya enggan menitipkan sandal saya di atas gunungan sandal di depan pintu masuk. Kami beli tiket. Dan dengan antusias kami naik. Ke atas, ke atas dan makin ke atas. Oksigen terbatas di dalam. Lembab. Ada dua jalur tangga untuk turun dan naik yang dipisahkan oleh besi panjang untuk bertumpu. Lantai tanah agak licin karena lembab dan mungkin ludah orang-orang. Saya pikir, saya baru saja menginjak ludah orang di anak tangga ini. Ugh! Saya begidik.

Di setiap relung terdapat patung-patung semacam Ganesha atau Saraswati, ada juga ruang yang khusus untuk bermeditasi umat Hindu. Selain Hindu tak boleh masuk: not Hindus are allowed, begitu katanya. Tibalah kami di penghujung tangga. Ada sinar keluar dari ujung lubang. Dan ternyata ada pos tiket lagi! Di situlah kami mendapat masalah. Oh-oh! Petugas tiket menghentikan kami dan bertanya dalam bahasa Tamil. Tentu saja kami tak ada yang bisa! Rombongan kami adalah para Filipinos, teman-teman dari Brazil, Kongo, Kamboja, Nepal, China, Malaysia, Swiss dan Perancis. Untunglah sopir bis kami datang menyusul dan bernegoisasi dengan si penjaga tiket sambil memberi beberapa lembar rupees. Usut punya usut, ternyata si petugas komplain karena jumlah kamera yang dibawa teman-teman lebih banyak daripada karcis untuk kamera yang dibeli.

Dan akhirnya, saya ada di puncak Thayumanavar!
Kota di bawah kami.

Melihat Trichy dengan bangunannya yang kotak-kotak dan warna-warni.Bahkan ada elang yang berputar-putar di atas kami!
Di kejauhan terlihat puncak Kuil Kapleeswarar di Chennai,
padahal saya sedang di Trichy!
Wow! Seperti gunung saja ya! Padahal itu puncak kuil!
Sebenarnya di atas bukit masih ada kuil lagi. Tapi saya belum ingin kesana.
Penuh sesak dengan manusia!
Ya, penuh sesak dengan manusia!
Saya akhirnya mendekat ke pinggiran gunung batu
dan memotret puncak kuil yang warna-warni.
Menikmati semilir angin Trichy dan hawa purba...
Hening sejenak...
Dua gadis bersari kuning menyala duduk di anak tangga menuju puncak kuil.
Saya hendak naik...
Hampir mencapai puncak. Antrian orang masih banyak di pintu masuk.
No photo, no photo, kata penjaganya.
Dari kejauhan beberapa teman saya tampak leyeh-leyeh di atas punggung bukit.
Di bawah saya, masih banyak lagi perempuan-perempuan bersari.
Di bawah pohon itulah saya tadi melepas lelah dan memfoto gambar pertama.
Detail puncak kuil warna-warni yang cantik.
*bersambung*

No comments:

Post a Comment

terimakasih ya sudah mampir dan menyapa kurakurakikuk :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...