Monday, April 16, 2012

BBQ Fiesta!

Minggu kemarin, kami diundang teman baik kami, Dewi, yang sedang syukuran karena (akhirnya) ia resmi diwisuda setelah hampir 7 tahun kuliah. Selamat ya, Jeng Dewi! :) Ia mengundang kami beserta teman-teman dekat yang lain untuk datang ke rumahnya dan makan bersama dalam tajuk BBQ Fiesta!
Kami datang saat hampir semua teman sudah datang, dan proses memasak hampir selesai...
Dan akhirnya, setelah hampir setengah jam, semua menu sudah siap makan!
Sungguh BBQ Fiesta yang lezat, hangat, dan kenyang! Terimakasih, Dewi! :)
taken by @Uki Ronodirjo

Sunday, April 15, 2012

Satu Sore di Pelem Golek

Pada sebuah sore yang bosan, kami bermotor ke arah utara. Menuju deretan rumah makan yang belum pernah kami datangi sebelumnya. Setelah berputar-putar dan perut mulai lapar, mampirlah kami ke Pelem Golek. Begitu membuka menu yang disodorkan mbak-mbak berbaju batik, saya menelan ludah. Sepertinya kami salah masuk restoran deh. Harganya membuat saya membelalak beberapa menit. Wah, Tom Yam 100 ribu? Haduh. Saya geleng-geleng kepala. Saat itu saya berpikir, harga mahal ini apakah karena rumah makan ini cukup dekat dengan Hotel Hyatt? Setelah menimbang-nimbang beberapa lama, akhirnya kami memilih Sayur Hitam Manis (yang terdiri dari terong dan brokoli), Ayam Rempah dan Tempe dengan sambal apa saya lupa. Untuk minuman, kami memesan Bir Jawa dan Teh Daun Jati Belanda. Bahkan kami hanya memesan nasi 1 porsi karena nasi berharga 22.500 satu bakul untuk berdua. Saya mengecek dompet sambil menelan ludah berkali-kali.

Setelah pesanan datang, saya cukup lega karena penyajiannya cukup menarik. Dan begitu satu suap, saya tahu mengapa harganya mahal. Rasanya sungguh enak! Semua sayuran seperti terong, brokoli dan timun dalam lalapan sangat segar dan lezat. Nasinya organik dan pulen sekali. Ayam dan Bir Jawanya juga berempah. Hanya yang saya agak kecewa adalah Teh Daun Jati Belanda yang disajikan dengan dua celup kantong teh bertuliskan 'Daun Jati Belanda'. Saya pikir saya akan mendapat teh daun jati belanda yang sebenarnya, bukan hanya sekedar teh celup. Ah!

Yang jelas, kami pulang dengan membawa kotak sisa makanan yang tidak dapat kami habiskan karena perut sudah kekenyangan!

Saturday, April 14, 2012

Di Balik Kuil-Kuil Tamil #5

Setelah hampir satu jam di atas Kuil Thayumanavar, kami memutuskan untuk turun. Nantinya saya akan mendapati parade musik tradisional Tamil yang sempat saya rekam namun sayang sekali saya tak bisa attach di post ini karena terlalu besar. Mungkin akan saya tulis di seri berikutnya.
Ini beberapa momen yang sempat saya tangkap waktu itu:

*bersambung*

Friday, April 13, 2012

Di Balik Kuil-Kuil Tamil #4

baca sebelumnya:
//Serial Kuil Tamil//
#1 Di Balik Kuil-Kuil Tamil
#2 
Di Balik Kuil-Kuil Tamil

#3 Di Balik Kuil-Kuil Tamil 
---
Baiklah.
Tanpa kamera saya masuk ke Kuil Thayumanavar.
Kuil kuno yang dipahat di atas bukit batu besar. Seperti yang saya bilang sebelumnya, Kuil Thayumanavar ini adalah gunung batu solid yang diubah menjadi kuil raksasa yang selalu penuh dikunjungi ribuan orang tiap harinya.

Jadilah saya enggan menitipkan sandal saya di atas gunungan sandal di depan pintu masuk. Kami beli tiket. Dan dengan antusias kami naik. Ke atas, ke atas dan makin ke atas. Oksigen terbatas di dalam. Lembab. Ada dua jalur tangga untuk turun dan naik yang dipisahkan oleh besi panjang untuk bertumpu. Lantai tanah agak licin karena lembab dan mungkin ludah orang-orang. Saya pikir, saya baru saja menginjak ludah orang di anak tangga ini. Ugh! Saya begidik.

Di setiap relung terdapat patung-patung semacam Ganesha atau Saraswati, ada juga ruang yang khusus untuk bermeditasi umat Hindu. Selain Hindu tak boleh masuk: not Hindus are allowed, begitu katanya. Tibalah kami di penghujung tangga. Ada sinar keluar dari ujung lubang. Dan ternyata ada pos tiket lagi! Di situlah kami mendapat masalah. Oh-oh! Petugas tiket menghentikan kami dan bertanya dalam bahasa Tamil. Tentu saja kami tak ada yang bisa! Rombongan kami adalah para Filipinos, teman-teman dari Brazil, Kongo, Kamboja, Nepal, China, Malaysia, Swiss dan Perancis. Untunglah sopir bis kami datang menyusul dan bernegoisasi dengan si penjaga tiket sambil memberi beberapa lembar rupees. Usut punya usut, ternyata si petugas komplain karena jumlah kamera yang dibawa teman-teman lebih banyak daripada karcis untuk kamera yang dibeli.

Dan akhirnya, saya ada di puncak Thayumanavar!
Kota di bawah kami.

Melihat Trichy dengan bangunannya yang kotak-kotak dan warna-warni.Bahkan ada elang yang berputar-putar di atas kami!
Di kejauhan terlihat puncak Kuil Kapleeswarar di Chennai,
padahal saya sedang di Trichy!
Wow! Seperti gunung saja ya! Padahal itu puncak kuil!
Sebenarnya di atas bukit masih ada kuil lagi. Tapi saya belum ingin kesana.
Penuh sesak dengan manusia!
Ya, penuh sesak dengan manusia!
Saya akhirnya mendekat ke pinggiran gunung batu
dan memotret puncak kuil yang warna-warni.
Menikmati semilir angin Trichy dan hawa purba...
Hening sejenak...
Dua gadis bersari kuning menyala duduk di anak tangga menuju puncak kuil.
Saya hendak naik...
Hampir mencapai puncak. Antrian orang masih banyak di pintu masuk.
No photo, no photo, kata penjaganya.
Dari kejauhan beberapa teman saya tampak leyeh-leyeh di atas punggung bukit.
Di bawah saya, masih banyak lagi perempuan-perempuan bersari.
Di bawah pohon itulah saya tadi melepas lelah dan memfoto gambar pertama.
Detail puncak kuil warna-warni yang cantik.
*bersambung*
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...