Monday, January 9, 2012

Wiwitan: Sesaji Dewi Sri

Di awal tahun yang baru ini, saya menemukan banyak kisah-kisah kecil yang baru, mengigit, dan kadang juga membuat jantung berdetak lebih kencang hingga ia menggoyangkan seluruh persendian dan membuat mata saya basah agar semuanya berjalan dengan seimbang.
Dan selama satu bulan ini kami bersama-sama tinggal di rumah baru di bilangan Bugisan Selatan: di depan sawah yang harum menghijau, senja yang berbeda-beda wajah setiap sorenya (asal tidak mendung saja seperti beberapa hari terakhir ini), gemericik air yang mengalir di parit kecil, kodok dan jangkrik yang bernyanyi setiap malam, dan terkadang angin besar yang meniup jemuran-jemuran kami dan membuat Air (nama anjing saya) ribut berlari-lari mengejar keranjang sampah yang terbawa angin. Atau saat kami menghabiskan malam tahun baru dengan gemeretak bara di bawah jagung bakar berlapis mentega dengan silap cahaya kembang api dan suara terompet di kejauhan.
Bahkan, ada satu masa dimana saya merasa menjadi 'anak kampung' yang tak tahu menahu tentang sawah dan perihal tanam menanam. 
Dibesarkan di padatnya kampung kota di belakang Malioboro membuat saya akrab dengan gang-gang tikus yang berbau pesing, tali-tali jemuran yang melambaikan kutang dan cawatnya, serta riuh anak-anak kampung di atas sepeda mereka sambil berteriak-teriak kencang setiap sore.
Jadilah sore itu, saat saya sedang mengajar anak-anak desa, Riko, salah satu murid saya menatap ke arah hamparan sawah menguning di depan rumah kami, lalu dari mulutnya tiba-tiba keluar teriakan: Wiwitaaaan! Wiwitaaaan! Wiwitaaaaan!
Sontak semua anak-anak menghambur keluar, berlari ke arah sawah sambil berteriak-teriak hal yang sama, meninggalkan saya yang terbengong-bengong sendirian, tidak tahu wiwitan itu apa. Untunglah ada Ifa, teman baik saya yang memberitahu saya apa itu Wiwitan.
Wiwitan adalah sebuah tradisi petani, ritual yang hampir punah dan jarang dilakukan lagi di masa-masa sekarang, dan biasanya dilakukan sebelum panen raya untuk menghormati dewi kesuburan, Dewi Sri
Upacara wiwitan dilakukan agar panen padi selalu melimpah, tanaman tidak diganggu hama, dan tanah selalu subur. Menurut artikel yang saya baca, tradisi ini dilaksanakan di pinggir pemantang sawah yang akan dipanen oleh pemilik sawah, biasanya yang disiapkan dalam tradisi ini antara lain adalah kemenyan, sabut kelapa, dua bungkus kembang setaman, bungkusan nasi, jajan pasar, satu paket besar nasi dan lauk pauknya. Setelah semua dipersiapkan, maka sang pemilik tanah membakar kemenyan di atas serabut kelapa, memanjatkan doa dan mantera, kemudian memotong beberapa batang padi yang menunduk kuning dan selanjutnya membungkus nasi beserta lauknya  yang terdiri dari nasi putih, nasi megono, seperempat potong telur rebus, ikan teri goreng dan buah buahan yang ada di bungkusan untuk diletakkan di setiap sudut sawah yang akan dipanen, karena menurut kepercayaan setiap sudut sawah ini ada penunggunya yang bernama Kyai Pojok.
Selanjutnya acara dilanjutkan dengan menikmati hidangan oleh seluruh keluarga di tepian sawah yang turut dibawa dalam upacara ini. Biasanya makanan yang dibawa adalah nasi, ingkung ayam, sambal gepeng dan lain sebagainya dalam bungkusan daun pisang. Setelah acara makan selesai, sang pemilik sawah memotong padi seikat untuk dibawa ke rumah sebelum esok memanen secara keseluruhan.
Begitulah, maka saya juga ikut berlari-lari ke sawah, menghambur ke euforia anak-anak yang mengantri sega wiwitan alias nasi wiwitan karena konon kata Ifa, nasi dari nasi wiwitan adalah beras pertama yang dipanen dari sawah jadi rasanya sangat enak. Dan di sanalah saya bersama anak-anak desa yang penuh semangat antri di tengah sawah demi satu-dua pincuk nasi wiwitan. Saya asyik mengamati para ibu-ibu yang datang, dan ibu yang bertugas memasukkan nasi ke pincuk-pincuk mungil dari daun pisang. Lalu kami terlibat dalam pembicaraan-pembicaraan kecil yang hangat tentang ini dan itu, dalam bahasa Jawa halus dan kadang ngoko.
Ayo siapa yang mau Nasi Wiwitan?
Nasi putih dari padi pertama yang dipanen!
Antri ya Nak, semua pasti kebagian!
Wah, sore itu saya belajar sesuatu yang baru dari anak-anak di desa saya, tepat saat kami sedang belajar bersama. Ah, belajar memang bisa dari siapa saja dan kapan saja. Dan sore itu saya beruntung saya mendapatkan dua pincuk Nasi Wiwitan yang hangat kebul-kebul. Sisa kelas sore itu kami habiskan dengan makan bersama dan bercerita tentang Dewi Sri.
Nasi Wiwitan yang hangat di tangan Ifa.
Nasi Wiwitan, sawah, dan saya.

10 comments:

  1. nek eng acara ngono2 kui aku dikabari y kurakura kikuk. hehe

    ReplyDelete
  2. yoooo...
    ayoooo dolan neng rumahketjilbergerak :D
    bugisan selatan 36 B, samping'e Teater Garasi persis :)
    tak tunggu tekamu MasBrooo :D

    ReplyDelete
  3. ok siap komandan! aku lgi wae balik seko ekspedisi Jawa-Bali. hehe.. minggu depan tak mampir mrono

    ReplyDelete
  4. waaa super enaaakkkkk!! hiks.. jadi pingiinn

    ReplyDelete
    Replies
    1. hihihihi...
      enak banget Mbak, nasi pertama yg baru dipanen adalah nasi dr surga! hehehe :D

      Delete
  5. Replies
    1. iya Mas Toha :)
      nyam nyam sekali rasanya! :)

      Delete
  6. Allah yang telah mengaruniakan panen padi yang melimpah-ruah kepada mereka. Justru mereka berterimakasih kepada Dewi Sri, dengan memaparkan berbagai sesaji di pojok-pojok sawah. Kezaliman yang besar .....

    ReplyDelete

terimakasih ya sudah mampir dan menyapa kurakurakikuk :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...