Sunday, December 23, 2012

Sumatera, Sumatera! (bagian 9)

*sambungan dari Palembang Malam Ini: Ampera, Benteng Kuto Besak, dan Musi!

Minggu, 22 Juli 2012
Pasar Ilir 16
06.30 pagi
Kami terbangun.
Rumah Dipo masih sepi. Maklum, Dipo hanya tinggal berdua saja dengan abangnya di rumah besar ini. Greg langsung beranjak mandi, dan saya mengumpulkan baju-baju kotor. Rencananya pagi ini saya akan mencuci. Mumpung di rumah Dipo ada mesin cuci dan saya tak mau kejadian 'laundry tutup' seperti saat di Lampung kemarin terjadi lagi.
Jadilah pagi itu saya terpeleset-peleset di lantai ruang cuci, mencuci beberapa baju kotor karena kami tak membawa baju banyak.
08.00
Suasana rumah sudah mulai ramai.
Dipo dan Ipung sudah bangun, Greg sedang membaca koran, saya sedang browsing tiket dan baju-baju sudah dijemur. Rencananya pagi ini kami hendak mencari info tiket kapal cepat ke Pulau Bangka. Kami hendak menyeberang ke Bangka untuk bertemu dengan kawan lama nan karib di sana, Dodis. Ipung menyarankan untuk memesan tiket ke pelabuhan Boom Baru karena biasanya kapal ke Bangka berangkat pagi-pagi sekali, jika kita telat sedikit maka ditinggal. Tak mau menunggu.
Akhirnya, setelah segelas teh panas dan sepiring empek-empek, kami berempat berkendara ke Boom Baru. Cukup jauh juga dari rumah Dipo, pikir saya. Dan ternyata sampai di sana tidak ada pemesanan tiket, kami harus datang pagi-pagi besok kalau mau menyeberang ke Muntok, Bangka. Walah.
11.00
Panas lumayan terik. Kami hampir sampai Ampera. Dipo mengajak makan siang di tepian Sungai Musi. Amboi, tawaran yang sangat menggiurkan!
Kami memasuki deretan panjang ruko-ruko dan segala macam lapak di kedua sisi jalan. Saya membatin, wah pasar besar ini. Ternyata benar. Ipung bilang ini adalah Pasar Ilir 16.
Minggu siang ini jalanan tengah pasar penuh sesak oleh para pembeli dan pedagang. Jalanan cukup bersih, tak becek. Tentu saja, kata Ipung, pasar ini hanya menjual tekstil. Kau cari apa saja ada, asal tekstil, lanjutnya, songket, batik, kain, segala macam baju impor...
Weits, awul-awul maksudmu? tanya saya. Ya baju-baju berkarung-karung datangnya dari pelabuhan, dan harganya murah, tapi memang sudah seken, lanjutnya lagi, tak memahami kata saya, awul-awul.
Saya tergoda.
Bagaimana tidak? Sebagai penduduk Jogja yang ditebari dengan toko awul-awul (baju second hand dari luar negeri, biasanya Korea dan Jepang, yang modelnya oke-oke dan harganya murah sekitar 5,000-20,000 tapi harus dicuci bersih-bersih+di-laundry karena cukup bau dan bisa gatal-gatal di kulit kalau langsung dipakai) dan pesta awul-awul setiap Sekaten (yang setahun sekali) membuat saya ngiler untuk datang langsung ke tangan pertama. Tapi Greg bilang, kapan-kapan saja lah, toh di Jogja juga ada awul-awul. Kita ke sini kan mencari yang tidak ada di Jogja.
Yaaah.
Tak apa-apa lah, pikir saya. Greg benar juga. Jauh-jauh ke Palembang masak saya hanya memburu awul-awul? Tapi sempat juga saya mengambil beberapa foto suasana Pasar Ilir 16 siang itu.
Kami melewati beberapa bis trans besar, namanya TransMusi, yang lebih besar dari TransJogja dan TransBandarLampung. Lalu saya melihatnya.
Ampera.
Tegak menjulang di tengah keramaian.
Kami memarkir motor di sekitar becak-becak, lalu berjalan kaki menuju warung-warung di tepian Sungai Musi.
Waaah, saya sudah tidak sabar!

(bersambung)

Wednesday, December 19, 2012

Sumatera, Sumatera! (bagian 8)

*sambungan dari Kereta Rajabasa: Melintasi Hijau Hutan Perawan*

Sabtu, 21 Juli 2012
Palembang Malam Ini: Ampera, Benteng Kuto Besak, dan Musi!
Seperti terbang rasanya.
Saya berteriak-teriak kegirangan saat motor kami melintasi Jembatan Ampera.
Indah sekali!
Lampunya selalu berganti-ganti warna setiap detik: ungu, kuning, biru, hijau, merah, cantik sekali. Dan Sungai Musi tampak bermandi cahaya lampu pelangi di bawahnya.
Sebagai orang Jogja yang "hanya" punya Kali Code, melintasi sungai yang besaaar sekali membuat saya terbengong-bengong. Ya, walaupun saya juga pernah tinggal di Mojokerto, Jawa Timur dan terbiasa melihat Sungai Brantas, tapi kali ini saya bener-bener speechless. Gila! Besar sekali!
Setelah menyeberangi Jembatan Ampera, kami lalu masuk ke kota Palembang.
Waaa, sekali lagi saya ber-waow-waow.
Kotanya besar, dan bersih sekali. Dan cukup lengang. Padahal masih jam 9.30 malam dan ini malam minggu.
Gedung-gedung pemerintahan bersinar-sinar dengan lampu warna-warni, air mancur dengan lampu berwarna hijau di tengah taman dan danau, masjid-masjid besar, menara air yang menjulang di kantor walikota, waow sekali sampai-sampai saya lupa memotret!
Kami lalu melaju ke rumah Dipo, tempat kami transit sementara di Palembang.
Disambut hangat oleh teman-teman, mengobrol sebentar, dan Greg mengajak saya makan malam setelah hampir 12 jam kami di kereta.
Kami berangkat berempat naik motor.
Berhenti di rumah makan Padang. Ipung dan Dipo menolak dengan halus tawaran kami untuk makan malam, mereka malah menawarkan diri untuk mencarikan bir dan anggur hitam Cap Kunci khas Palembang. Tawaran yang menarik, pikir saya, dan juga sebagai ucapan terima kasih kami karena mereka sudah mau menjemput kami di stasiun malam ini.
Beberapa menit kemudian, kami melaju ke arah Ampera.
Saya bertanya kepada Ipung di depan saya, hendak kemano kito Bang?
Ia menjawab dengan logat Palembangnya yang kental: Benteng Kuto Besak.
Yuhuuuui!
Malam minggu seperti ini ternyata banyak anak-anak muda Palembang yang nongkrong di Benteng Kuto Besak. Wah, hampir mirip Benteng Vredeburg di Jogja, tapi lebih luaaaas dan lebih besaaaar, pikir saya. Jalan yang menuju Benteng macet oleh sepeda motor, dan parkirannya juga panjaaaang sekali. Istimewanya, Benteng ini langsung menghadap ke Sungai Musi dengan latar belakang Jembatan Ampera yang berkelap-kelip dengan gagahnya.
Kuto Besak adalah bangunan keraton yang menjadi pusat Kesultanan Palembang yang didirikan pada abad ke-18, dibangun selama 17 tahun, yang diprakarsai oleh Sultan Mahmud Badaruddin I. Sebelum pindah ke Kuto Besak, Sultan Mahmud tinggal di Keraton Kuto Lamo, makanya Belanda menyebut Benteng Kuto Besak sebagai nieuwe keraton alias keraton baru.
Karena penasaran, saya melongok-longok ke dalam. Tapi kok sepertinya banyak tentara ya? pikir saya heran, bukankah ini keraton dulunya?
Kata Ipung, sekarang Benteng Kuto Besak ini ditempati oleh Kodam Sriwijaya.
Oh ya? pikir saya terheran-heran. Aneh sekali, kenapa tak dibuka untuk umum saja seperti Benteng Vredeburg di Jogja ya? Dijadikan museum, jadi orang di luar Palembang tahu bagaimana sejarahnya. Ipung hanya mengangkat bahu sambil menghisap rokoknya.
Kami berjalan ke deretan pohon-pohon palem yang indah, memanjat tembok pembatas, lalu hup! nongkrong di pinggir Sungai Musi.
Beberapa botol bir dan anggur Cap Kunci sudah di tangan, Ipung bahkan sempat membeli es batu segala, sementara Dipo mencari makanan kecil. Memang di pelatarannya yang penuh, banyak ibu-ibu pedagang yang menjual makanan, entah apa saya kurang tahu, semacam gorengan. Para pedagang ini biasanya duduk berderet-deret dengan lampu kecil, mengingatkan saya pada saat Sekaten di halaman Masjid Besar Kauman dengan deret-deret pedagang sega gurih dan telur merah.
Letih selama 12 jam berkereta hilang tak berbekas.
Semuanya terbayar saat kami duduk di pinggir Musi, melihat Ampera di kejauhan, minum bir bersama, dan tertawa-tawa.
Beberapa pasangan di sebelah kami tampak malu-malu saling menggenggam, bahkan ada yang memetik gitar dan langsung bernyanyi lagu-lagu cinta untuk si gadis.
Saya tertawa kecil.
Rasanya hangat sekali di dalam.
Dan saat saya memandang Jembatan Ampera yang berkelap-kelip di sebelah kiri saya, ah, bahagia rasanya!
Palembang, wong kito galo, kuhirup juga akhirnya kotamu!
Kata Greg, dulu Jembatan Ampera namanya bukan Ampera.
Jembatan yang ada di tengah-tengah kota Palembang ini, yang menghubungkan Seberang Ulu dan Seberang Ilir ini dulunya sempat bernama Jembatan Bung Karno.
Oya? tanya saya sambil mengangguk-angguk.
Jembatan ini diresmikan tahun '65 dan waktu itu menjadi jembatan terpanjang di Asia Tenggara. Namun karena ada geger politik tahun '66 dan ada gerakan anti-Soekarno yang sangat kuat akibat pengaruh Soeharto dan Orde Baru, jembatan ini kemudian berganti nama menjadi Ampera, alias Amanat Penderitaan Rakyat, Greg melanjutkan.
Saya mengangguk-angguk sambil menyeruput anggur hitam Cap Kunci yang diulurkan Ipung. Ugh, pahit, saya tidak begitu suka.
Ternyata Greg juga merasakan hal yang sama. Kami berdua memang tak minum alkohol selain bir, dan itu saja pun masih kami kurangi kuantitasnya sampai sekarang. Kopi, saya juga tak pernah minum kopi. Biasanya sih kalau saya jeruk panas, hehe.
Eh, kenapa malah ngomongin minuman ya?
Kami sempat berfoto bersama malam itu, meskipun agak goyang dan blur, tapi jadi juga.
Setelah jam menunjukkan pukul 11 malam lebih sedikit, kami beranjak.
Greg yang ingin buang air kecil jalan duluan, sedangkan saya dan Ipung menuju ke arah tempat parkiran. Kami ngobrol-ngobrol tentang ini dan itu, hingga hampir 15 menit lamanya tapi Greg tak kunjung datang.
Saya jadi cemas.
Dari arah depan Dipo datang menghampiri.
Greg di mana? tanyanya.
Lho, bukannya sama kamu ya Bang? tanya saya balik.
Kami saling ber-lho-lho, mencoba menelpon hapenya, meng-sms, tapi tak ada respon.
Dipo bergegas, coba saya cari ya ke sana. Tunjuknya ke arah Ampera.
Saya melongo. Ha? Jauh sekali.
Dan setelah hampir 10 menit menunggu, Greg datang tiba-tiba sambil cengar-cengir. Disusul Dipo yang berlari-lari di belakangnya.
Kamu dari mana? tanya saya cemas karena sudah hampir 25 menit ia menghilang.
Aku juga nggak tahu, katanya bingung tapi masih cengar cengir.
Usut punya usut, ternyata Greg mendadak seperti lost in crowd, tak tahu arah, jadi ia merasa bahwa dirinya berjalan kembali ke arah kami tadi nongkrong minum bir di pinggir sungai, tapi yang terjadi adalah ia malah berjalan semakin jauh dari kami dan menuju ke arah Jembatan Ampera.
Kami semua geleng-geleng kepala sambil tertawa terbahak-bahak.
Wah, jangan-jangan disesatkan si penunggu Ampera nih, antu banyu, antu banyu, celetuk Ipung. Saya nggak mau mikir lagi yang macem-macem, apalagi tentang "hantu air" atau apa, jadinya kami langsung pulang ke rumah Dipo, dan beristirahat.
Malam itu, tepat jam 12, saya langsung tidur pulas.
Senang bisa merebahkan badan setelah 18 jam terjaga.
Hoahm!

(bersambung)

Sunday, December 16, 2012

Sumatera, Sumatera! (bagian 7)

*sambungan dari Tragedi Tiket*

Sabtu, 21 Juli 2012

Kereta Rajabasa: Melintasi Hijau Hutan Perawan!
Pukul 06.00
Kami bersiap di pinggir jalan, menanti mikrolet yang akan membawa kami ke Stasiun Tanjungkarang pagi ini.
Jalanan masih lengang. Tak banyak yang melintas. Udara masih segar, sesegar perasaan saya karena kami akan melanjutkan perjalanan setelah kemarin bergulat dengan tiket yang simpang siur.
Setengah jam kemudian kami sampai.
Stasiun pagi itu lumayan penuh. Greg segera bergegas mengantri tiket yang antriannya sudah mengular. Kereta kami akan berangkat pukul 8.30. Budhe-nya Greg ikut mengantar kami sampai stasiun dan membawakan kami bekal untuk pengganjal perut selama di kereta.
Akhirnya, tiket sudah di tangan. Peluit sudah bertiup.
Kami berpamitan di depan pintu pembatas peron. Berterimakasih sudah bersedia menampung kami selama 2 hari di Lampung. Lalu kami meloncat ke kereta.
Jess jess kuuuk!
Jess jess kuuuk!
Kereta api Rajabasa mulai bergerak, meninggalkan Stasiun Tanjungkarang.
Yeah!
Saya selalu mencintai perjalanan. Bergerak dari satu titik ke titik yang lain.
Singgah hanyalah tempat sementara untuk merasa, bertemu, dan menikmati yang baru.
Tak harus lama, karena momen harus terus ditangkap, disentuh dan dirasakan.
Seperti saat kami berada dalam kereta ini.
Bersama-sama dengan berpuluh-puluh orang yang hendak menuju ke sebuah tempat bersama-sama. Tujuan kami bisa saja berbeda-beda, tapi kami terus bergerak bersama, saling menggeser kaki jika tertindih dan tersenyum saat berbagi meja kecil di samping jendela demi sebotol akua dan sebungkus roti.
Di depan kami duduk adalah sebuah keluarga, ayah-ibu-dan-anak. Si anak laki-laki ini masih berusia sekitar 8-9 tahunan, dengan wajah yang terus menerus cemberut sambil menggenggam uang 50 ribu di tangan kecilnya yang selalu ia lihat seolah itu harganya yang paling berharga. Si ibu berwajah khas Sumatera dengan rahang kuat, kotak dan kokoh. Si bapak seorang petani di sebuah desa kecil di Sumatera Selatan. Perjalanan naik kereta ini adalah tongkat estafet pertama bagi mereka, karena masih ada perjalanan darat lainnya setelah kereta berhenti di Kertapati, Palembang.
Saya mengalihkan perhatian ke tempat duduk di sebelah kami.
Seorang ibu-ibu yang berdandan menor, full make up dengan lipstik menyala, bajunya gemerlap dengan hiasan payet dan manik beraneka warna dikelilingi oleh tiga orang laki-laki paruh baya di sekelilingnya. Salah seorang laki-laki itu memangku seorang anak laki-laki yang kira-kira sebaya dengan anak laki-laki di hadapan saya.
Satu jam telah berlalu.
Petugas kereta datang, memeriksa tiket, melubanginya, ceklik ceklik.
Suasana mulai cair.
Banyak yang membuka bekal untuk sarapan, dan celoteh ramai berbagai dialek Sumatera pun memenuhi gerbong.
Saya melayangkan pandang ke jendela sambil mengigit sepotong roti.
Rumah-rumah kayu, perkebunan kelapa, ketela, gerumbul hijau-hijau yang saya tak tahu namanya, sungai-sungai dengan bebatuan besar dan air kecoklatan, perkebunan lagi, hutan-hutan-hutan, rumah-rumah kayu lagi, dan seterusnya silih berganti.
Indah sekali.
Ini pertama kalinya saya naik kereta api di tanah Sumatera. Dulu saya sempat berpikir, tak ada kereta di Sumatera karena alamnya yang bergunung-gunung. Dan setelah melewati beberapa stasiun kecil-kecil, tiba-tiba kereta berhenti. Cukup lama.
Apa yang terjadi, pikir saya. Apakah ada kereta lain yang akan lewat?
Dan ternyata benar.
Dua buah lokomotif besar muncul, diikuti dengan gerbong-gerbong besar tertutup yang belum pernah saya lihat sebelumnya. Kereta melintas seperti tak habis-habis.
Ah! Saya ingat!
Inilah Kereta Babaranjang!
Si kereta pengangkut batu-bara-rangkaian-panjang.
Saya menghitung gerbong-gerbongnya. 40 gerbong! Waaah, panjang sekali!
Saking rajinnya menghitung gerbong yang lewat, saya malah tak sempat memotret keretanya!
KA Babaranjang ini mengangkut batubara dari Tanjungenim (Sumatera Selatan) ke Tanjungkarang tiap harinya. Sumatera Selatan memang penghasil batubara, salah satu sumber utama energi di negeri ini. Menurut yang saya baca di sini, diperkirakan cadangan batubara yang terdapat di Sumatera Selatan mencapai 22,24 miliar ton. Sementara, batubara yang bisa diproduksi oleh perusahaan PT Tambang Batubara Bukit Asam di Tanjungenim baru mencapai angka rata-rata 10 juta-12 juta ton, dan jumlah ini akan terus berkembang hingga mencapai angka 22,7 juta ton di tahun 2014 seiring kontrak perjanjian peningkatan volume angkutan batubara dengan pihak  PT Kereta Api Indonesia.
Kereta Babaranjang ini adalah salah satu jenis kereta pengangkut batubara di Sumatera Selatan, masih ada satu kereta lagi yang disebut Babarased atau batu-bara-rangkaian-sedang dengan panjang 15-35 gerbong saja, dari Tanjungenim ke Kertapati. Lebih pendek jika dibandingkan si Babaranjang yang punya 30-40 gerbong. Rute si Babaranjang ini dimulai dari Stasiun Tanjungenim Baru-Prabumulih-Tanjungkarang-berakhir di Stasiun Tarahan.
Waah, kereta kami harus mengalah agar si Baba bisa lewat duluan!
Setelah beberapa menit yang panjang, kereta mulai bergerak.
Semilir lagi.
Saya mengecek catatan saya, menurut jadwal di stasiun tadi, kami akan tiba di Kertapati setelah kira-kira 8 jam perjalanan, tapi saya agak curiga, karena kalau kami dilewati Babaranjang lagi, tak mungkin kami bisa sampai Palembang jam 5 sore. Kata bapak di samping saya, Babaranjang akan sering lewat, paling banyak hingga 8 kali rangkaian (wah!) dan kereta kami harus mengalah. Batubara memang harus didahulukan daripada penumpang di sini, karena pendapatan terbesar PT KAI di Sumatera berasal dari angkutan batubara ini.
Saya menelan ludah.
Bisa sampai Palembang jam berapa ya? tanya saya lagi.
Kata bapak itu, bisa sampai jam 9 malam nanti. Saya menelan ludah lagi.
Segera saya menghubungi kawan kami di Palembang, Dipo, yang hendak menjemput kami dan berbaik hati mengizinkan kami menumpang di rumahnya tentang keterlambatan iniKami belum pernah bertemu dengan Dipo. Ia dikenalkan lewat sms oleh Dodis, teman kos Greg dulu sewaktu ngekos di Mrican. Dan rencananya kami juga akan melawat ke tempat Dodis di Pangkalpinang, Bangka setelah trip ke Palembang.
Tiba-tiba kereta berhenti lagi.
Dan seperti yang sudah diduga, si Babaranjang lewat lagi.
Siang sudah terik.
Penumpang mulai ramai lagi. Mencari makan siang. Melahap bekal. Saling mempersilahkan.
Dan saat itulah telinga saya menangkap pembicaraan panjang yang terjadi di sebelah bangku kami. Masih ingat dengan ibu-ibu berlipstik tebal yang saya ceritakan di atas tadi?
Ia kini menjadi primadona.
Hampir semua orang di sekitar bangku kami melongok ke arahnya.
Dan sebagai seorang pencerita yang membutuhkan banyak telinga untuk mendengar, si ibu bergincu tebal yang tak henti-hentinya bercerita tentang ini dan itu sejak pagi tadi mulai bercerita tentang dirinya.
Dan kali ini, bahkan saya menjadi tertarik untuk mendengarkan kisah hidupnya.
Ibu ini ternyata seorang janda.
Pertama, ia menikah dengan seorang yang ia sebut sebagai 'bujang lapuk' saat ia berumur 18 tahun dan bekerja di SDSB. Selama 18 tahun menikah, mereka tak kunjung punya anak. Akhirnya ia menikah lagi.
Dengan seorang laki-laki yang sudah punya 8 istri yang semua istrinya tinggal serumah.
Di bagian ini, hampir semua telinga menyimak. Si ibu semakin bersemangat menceritakan suka dukanya, dari masalah dapur hingga ranjang.
Para pendengar semakin menyimak.
Kadang-kadang tertawa terbahak-bahak tanpa henti, atau sekedar mengangguk-angguk. Saya kadang tak bisa mengikuti karena tak tahu bahasanya. Ah!
Yang saya tahu, ibu ini kemudian menikah lagi. Hingga 4 kali.
Dan ia berkata, suami terakhirnya ini akan datang menjemputnya.
Benar saja. Sampai di Baturaja, ada seorang laki-laki paruh baya naik dan langsung duduk di samping si ibu bergincu.
Semua berdeham-deham. Saya tertawa kecil.
Mengingat semua kisah hidup si ibu yang diceritakan sampai khatam semenjak Tanjungkarang hingga Baturaja. Membayangkan kisah percintaan yang membabibuta dan bergairah. Menikah 4 kali, serumah dengan 8 istri dan 1 suami.
Saya tertawa kecil lagi.
Berusaha mengalihkan perhatian ke arah jendela.
Menyibukkan diri melihat hutan-hutan yang kini seperti tak habis-habis.
Perjalanan ini ternyata akan lebih panjang daripada yang saya duga. Jarak Tanjungkarang-Kertapati adalah 389 km, melewati 40 stasiun dengan 7 stasiun besar: Tanjungkarang, Kotabumi, Blambangan Umpu, Martapura, Baturaja, Prabumulih, Kertapati.
Dan sepanjang itulah kami melihat hutan-hutan perawan Sumatera, rumah-rumah kayu yang khas, sungai, hutan-hutan lagi, rumah-rumah kayu lagi, ah indah sekali!
Sore sudah hampir senja.
Dan kami masih belum juga sampai. Beberapa stasiun lagi sebelum Prabumulih katanya. Pantat sudah pegal dan keringat sudah membalsam. Lengket. Hawa panas.
Greg sudah sejak beberapa jam lalu duduk di bordes, nongkrong dengan beberapa pedagang asongan dan ngobrol dengan beberapa anak muda lokal bertampang bengal.
Saat kereta hampir mencapai Prabumulih, Greg datang tiba-tiba dan mengambil selembar sepuluhribuan. Buat apa, tanya saya. Ia hanya bilang, sebentar, lalu berbalik ke bordes lagi. Beberapa menit kemudian ia datang bersama dua orang pemuda yang bertampang bengal tadi, berbicara dengan bahasa Sumatera (hei, sejak kapan Greg tiba-tiba fasih berbahasa Sumatera?) lalu tertawa-tawa, memperkenalkan saya, dan kemudian Greg mengambil botol air mineral di atas meja, berkata sesuatu yang saya tak tahu, lalu mereka pergi lagi sambil tersenyum-senyum ke arah bordes.
Meninggalkan saya yang kebingungan.
Kereta berhenti di Prabumulih.
Greg datang dengan wajah berkeringat.Ia bercerita kalau 2 orang tadi sebenarnya preman kereta. Mereka menawari Greg arak lokal asal ada uang 10 ribu. Salah satu dari mereka akan meloncat turun, membeli arak dengan botol air mineral, lalu naik ke kereta lagi sebelum peluit berbunyi.
Baru saja Greg selesai bercerita, suara peluit melengking memecah telinga. Disusul si pemuda yang muncul dan berkata agak tergagap, wah, teman saya belum sampai Bang.
Alis saya meninggi.
Wah, kereta bergerak! Dan si teman yang membeli arak tertinggal di belakang!
Padahal saya juga tak menolak kalau mencicipi arak lokal.
Saya melirik jam tangan.
Jam 19.30 malam dan belum ada tanda-tanda Kertapati akan tampak.
Saya sudah lebih dari gelisah. Kata bapak sebelah saya kemungkinan jam 9 malam baru sampai Palembang. Ugh!
Dan akhirnya. Pukul sembilan tepat kereta berhenti.
Hampir 12 jam kami di kereta. Pantat sudah tipis dan tubuh sudah lengket.
Saya sms Dipo yang akan menjemput di stasiun. Ia akan datang bersama temannya, Ipung dan satu teman lagi yang namanya saya lupa (aduh, maaf!).
Stasiun Kertapati, Palembang, pukul 21.15
Kami baru saja selesai cuci muka di toilet stasiun yang bersih saat Dipo sms kalau ia dan teman-teman sudah menunggu di depan parkiran. Kami bergegas. Karena belum pernah bertemu dengan Dipo dan tidak tahu sama sekali bagaimana wajahnya, saya bertanya kepada setiap cowok yang saya jumpai di parkiran stasiun.
Dipo ya? senyum saya. Si cowok menggeleng.
Ehm, Bang Dipo ya? Bukan.
Hai, saya vani, Dipo ya? Si cowok bingung.
Aduh, salah semua.
Kami terus berjalan. Sampai saya melihat sesosok berambut gimbal. Ah kayaknya ini nih yang namanya Dipo, batin saya. Langsung saya tepuk pundaknya dan berkata, Dipo ya?
Si cowok tersenyum, bukan, saya Ipung. Dipo yang ini, katanya.
Wah, lega! Kami saling berkenalan selama beberapa saat lalu naik sepeda motor, menuju kota. Saya bersemangat sekali!
Jalanan sudah agak lengang. Dan saat saya melihat sesuatu yang besar sekali di depan, penuh cahaya, saya terpana. Apa itu? tanya saya kepada Dipo yang sedang menyetir. Ampera!
Saya berteriak, waaaah, AMPERA!
PALEMBANG, AKU DATAAANG!

(bersambung)

Saturday, December 15, 2012

Sumatera, Sumatera! (bagian 6)

*sambungan dari Tanjungkarang*

Jumat, 20 Juli 2012
Tragedi Tiket
Setelah berbelanja di 'pasar bawah', kami keluar ke jalan, kembali menghirup udara segar. Panas lumayan terik, dan kami harus berjalan lagi ke arah pemberhentian bis Trans Bandar Lampung.
Sesampai di depan pasar, saya tertegun di depan patung seorang laki-laki memakai pakaian tradisional Lampung, lengkap dengan kikat yang terikat melingkar di kepalanya. Badannya tegak menjulang di bawah langit biru. Di bawahnya tertulis RADIN INTEN kemudian ada huruf-huruf yang bagi semacam hieroglyph, saya tak tahu huruf apa itu dan bahasa apa itu, lalu di bawahnya lagi tulisan 'Pahlawan Nasional Provinsi Lampung'.
Oh, Radin Inten ya.
Saya baru dengar. Seingat saya dalam pelajaran Sejarah dulu, Lampung jarang sekali disebut-sebut. Saya familiar dengan Sultan Hasanuddin, Pangeran Antasari, Tuanku Imam Bonjol, Pattimura atau Sam Ratulangi daripada Radin Inten. Atau mungkin dulu saya kurang memperhatikan pelajaran Sejarah. Jadilah saya mencari-cari lagi informasi tentang Radin Inten ini. Ada Radin Inten dan Radin Inten II, saya tidak tahu, Radin Inten yang mana yang divisualkan dalam bentuk patung setinggi kurang lebih 5 meter ini. Menurut situs ini, sepertinya sosok ini adalah Radin Inten II.
Di bawahnya terukir motif khas tradisional Lampung, bergambar figur-figur manusia, flora, fauna, perahu dan rumah dalam warna kuning emas.
Kemudian di bawahnya lagi ada lambang Provinsi Lampung. Saya mengenali payung bertumpuk tiga, Siger, dan ada tulisan Ragom Gawi di bawah tulisan aneh yang saya tak tahu tadi, mungkin Lampung punya tulisannya sendiri, seperti Aksara Jawa kalau di Jawa.
Saat saya memotret, bapak penarik becak yang mangkal persis di depan patung Radin Inten ini meminta saya untuk memotret dirinya. Ia berbahasa Lampung dengan cepat, saya hanya mengangguk-angguk ramah dan berkali-kali mengucapkan terima kasih.
Saat saya melayangkan pandang ke depan, saya terpaku.
Wah, lanskap di sini sungguh sangat berbeda dengan Jawa. Konturnya, hawanya, suasananya, aromanya, bahasanya, rasanya, udaranya, orang-orangnya. Seperti yang sempat saya potret di bawah ini dengan mayoritas warna hijau terang: masjidnya, toko-tokonya, bisnya...Ah!
Saya sempat memotret juga bis Trans Bandar Lampung yang sedang ngetem menunggu penumpang plus petugasnya yang juga memakai seragam hijau. Seluruh eksterior bis bergambar motif kain tradisional Lampung dan ada sepasang pengantin berbusana adat, lengkap dengan mahkota Siger-nya. Kami segera naik, dan oya, saya lupa kemarin belum sempat memfoto interior dalam bis yang berbeda dengan TransJogja. Di bagian belakang penumpang ada tiga undakan sehingga bisa untuk duduk penumpang lainnya yang kebanyakan anak-anak.
Saat itulah Greg menyadarkan saya bahwa kami harus mampir di Alfamart untuk membeli tiket kereta ke Palembang untuk nanti malam. Cukup sulit juga mencari Alfamart sepanjang jalan ini karena ada beberapa minimarket lokal dengan tanda-tanda yang hampir sama. Akhirnya kami turun di deretan ruko panjang dan masuk ke Alfamart.
Seorang petugas yang masih muda, laki-laki yang cukup manis melayani permintaan saya. Beberapa kali saya menegaskan kalau kami hendak memesan tiket kereta bisnis dari Tanjungkarang ke Kertapati, Lampung ke Palembang. Si petugas ber-iya-iya dengan senyum ramah yang selalu mengembang. Menunggu cukup lama, ternyata tiket untuk nanti malam sudah tak ada. Kami harus langsung ke stasiun nanti malam kalau hendak berangkat ke Palembang malam ini.
Saya mendesah, ah sama saja dong.
Pilihan tinggal tiga.
Karena tiket yang dijual di Alfamart hanyalah tiket bisnis dan eksekutif saja, yang tersisa adalah berangkat untuk besok malam.
Atau tetap berangkat nanti malam dengan resiko tidak mendapat tempat duduk.
Atau naik kereta ekonomi besok pagi.
Kemudian saya teringat kalau baju-baju kami masih ada di laundry dan harus diambil sore ini. Saya mendesah berkali-kali.
Saat itulah si petugas pretty boy berteriak dan berkata, ternyata tiketnya masih Mbak!
Masih berapa kursi, saya tanya.
Seratus, ia menjawab.
Yakin Mas? Alis saya berkerut.
Iya Mbak, Kertapati kan? tanyanya balik dengan penuh semangat sambil mengetik-ngetik.
Tanjungkarang-Kertapati Mas, tegas saya.
Iya, ini Kertapati kan? Malam ini berangkat jam 8. Masih ada 100 kursi, bisa pinjam KTP?
Saya mengulurkan dua KTP, milik saya dan Greg. Setelah ketak ketik, cetak, dan membayar 160 ribu untuk 2 tiket, kami lalu meninggalkan Alfamart dengan hati lega.
Lumayan, tinggal mengambil baju di laundry saja tugas saya malam ini dan bersiap-siap. Kami naik mikrolet, pulang, dan sesampai di rumah, saya mengambil tiket reservasi yang dicetak di Alfamart tadi untuk saya rapikan dan masukkan ke dompet. Kami membutuhkan nota cetak ini untuk menukarkannya dengan tiket di loket peron nanti malam. Dan saat saya membaca jam keberangkatan, mata saya melotot.
TUNGGU DULU!
Ada yang tidak beres di sini.
Nama lengkap saya dan Greg, benar.
Nomer telpon, nomer KTP, alamat, benar.
Jam keberangkatan, tanggal keberangkatan, benar.
Nama stasiun...
WAH! SALAH!
Saya mencak-mencak seperti orang kebakaran jenggot. Greg yang baru saja cuci muka bertanya ada apa.
Di tiket tertulis kita berangkat dengan KA Sriwijaya dari Kertapati ke Tanjungkarang.
Greg masih belum sadar.
Kertapati itu di PALEMBANG!
Segera saya ambil dompet, lalu bergegas ke depan mencari ojek. Dan meluncur ke Alfamart. Si bapak ojek menolak memakai helm, jadi saya-lah yang berhelm, agak lucu juga sebenarnya, seperti ikan remora menempel pada punggung hiu. Si bapak ojek cukup gesit juga naik motornya, saya dibawa keluar masuk kampung di balik bangunan-bangunan besar, gang-gang becek, pasar ikan, dan voila, akhirnya sampai di seberang Alfamart!
Seperti yang sudah saya duga, si petugas minimarket berwajah manis tadi langsung tegang. Saya harus berkali-kali menjelaskan bahwa ia salah memasukkan entry stasiun hendak ke mana dan dari mana. Si petugas mengecek komputer berkali-kali, melakukan panggilan ke beberapa nomor dan berbicara lamaaa sekali.
Butuh waktu hampir satu jam untuk menunggu. Dan saya resah sekali.
Tak ada tempat duduk, jadi saya duduk menggelosor di lantai di dekat kounter permen. Bapak ojek sudah berkali-kali keluar masuk, bertanya apakah sudah selesai atau belum, dan ia berkali-kali melirik ke arah tumpukan kurma yang menggunung di depan pintu dorong.
Saya merasa bahwa ini tak akan berakhir.
Mas petugas kini tampak resah dan berkeringat dingin. Saya bilang, saya ingin uang saya kembali selama ia berusaha meng-cancel reservasi tiket ini, kalau ia berhasil membatalkan reservasi dengan pihak stasiun dan memindah jadwal keberangkatan ke besok malam, ia bisa menelpon saya langsung dan saya akan ke sini lagi untuk membayar.
Ia setuju.
Diulurkannya uang 160 ribu dengan tangan gemetar.
Saya raih tangannya dan saya ajak bersalaman, terima kasih, tolong telpon saya jika ada apa-apa, kata saya sambil tersenyum.
Akhirnya kami kembali lagi ke rumah.
Ongkos ojek yang saya berikan ke bapak ojek ditukarkan dengan sekilo kurma, untuk anak saya Mbak, katanya.
Ternyata bapak yang mengantarkan saya tadi bukanlah ojek. Kata Budhe-nya Greg, ia tukang parkir yang biasa mangkal di depan apotek. Wah, wah, saya geleng-geleng kepala.
Hampir magrib.
Dan kami masih belum punya tiket ke Palembang.
Greg bilang mungkin kita harus mengecek sekali lagi ke stasiun malam ini untuk memastikan. Jadilah kami naik mikrolet ke stasiun, terguncang-guncang dalam mikrolet yang ngebut dan berdentam-dentam.
Stasiun sudah mulai penuh. Saya berlari ke kounter informasi.
Dan ternyata benar.
Tak ada metode pemesanan tiket. Kami harus antri malam ini untuk berangkat malam ini. Kalau kami berangkat besok pagi, kami harus antri besok pagi juga.
Wah, wah, wah.
Akhirnya kami pulang dengan tangan hampa, namun dengan satu ketetapan, kami akan berangkat besok pagi dengan kereta ekonomi Rajabasa ke Palembang.
Naik mikrolet lagi.
Terguncang-guncang lagi.
Turun dari mikrolet, kami langsung menuju ke laundry untuk mengambil baju-baju kami. Sampai di sana, laundry tutup! Ah, tidaaak!
Ya sudahlah, mungkin bisa dipaketkan sekalian ke Jogja bersama-sama dengan koper kami.
Kami pulang, packing dan istirahat.
Esok, kami akan menuju Palembang!

(bersambung)

Friday, December 14, 2012

Sumatera, Sumatera! (bagian 5)

*sambungan dari Telukbetung*

Jumat, 20 Juli 2012
Tanjungkarang
Pagi kedua di Lampung.
Hari ini kami akan mampir ke Tanjungkarang, menuju stasiun, mencari informasi tentang jadwal kereta ke Palembang. Kami berangkat jam 9 pagi, sarapan sebentar di sebuah rumah makan ambil-sendiri-makananmu yang didominasi oleh mbak-mbak dari Jawa, semuanya berbahasa Jawa, berbeda sekali dengan suasana pasar yang kemarin kami datangi saat mencari ransel. Lalu kami berjalan lagi menuju tempat pemberhentian mikrolet yang akan ke Karang, nama familiar untuk Tanjungkarang seperti Teluk untuk Telukbetung.
Di tengah jalan, saya menemukan lagi mahkota emas yang selalu ada di semua bangunan di Lampung, kali ini saya berhenti dan meminta Greg untuk memfoto saya di bawah mahkota emas raksasa yang terpasang di dinding sebuah bank swasta di pinggir jalan.
Namanya Siger.
Ya, mahkota emas yang selalu ada di mana-mana itu disebut Siger, yaitu mahkota berbentuk seperti tanduk dari lempengan kuningan yang ditatah hias bertitik-titik rangkaian bunga. Siger ini berlekuk ruji tajam berjumlah sembilan lekukan di depan dan di belakang (siger tarub), yang setiap lekukannya diberi hiasan bunga cemara dari kuningan (beringin tumbuh). Puncak siger diberi hiasan serenja bulan, yaitu kembang hias berupa mahkota berjumlah satu sampai tiga buah. Mahkota kecil ini mempunyai lengkungan di bagian bawah dan beruji tajam-tajam pada bagian atas serta berhiaskan bunga. Pada umumnya siger terbuat dari bahan kuningan yang ditatah.
Siger ini adalah bagian dari pakaian tradisional perempuan Lampung, selain Kain Tapis yang sempat saya ceritakan kemarin.
Saya jadi membayangkan bagaimana kalau di Jogja, kota kelahiran saya, di setiap bangunan yang ada di pinggir jalan baik bangunan milik pemerintah atau toko-toko juga memajang simbol Gunungan misalnya, yang ditatah dan dibuat dari kuningan, pasti akan tampak berbeda.
Kami terus berjalan, cukup jauh juga, melewati bangunan-bangunan tua, becak-becak Lampung, mikrolet-mikrolet dengan musiknya yang jedug-jedug melintas dengan kecepatan tinggi, suasana jalan raya dipenuhi kesibukan pagi hari.
Dan saat saya melihat ada gerobak dorong penuh dengan jerigen berisi air, saya tergoda untuk mengangkatnya.
Ugh! Lumayan berat juga.
Biasanya gerobak dorong penuh dengan jerigen air bersih ini diangkut oleh seorang bapak-bapak beralas sandal jepit yang sudah butut, mengantarkan air bersih ke rumah-rumah.
Dan akhirnya kami sampai di titik pemberhentian mikrolet menuju ke Tanjungkarang.
Sepertinya semua mikrolet di kota ini berfasilitas musik jedug-jedug. Mikrolet yang kami tumpangi punya enam buah speaker pengeras suara yang memancarkan musik-musik remix dangdut. Suaranya keras sekali. Mungkin untuk menarik penumpang juga.
Kata Greg, mikrolet di Kupang (yang disebut bemo) juga seperti ini, bahkan lebih gila-gilaan lagi karena tidak ada kursi penumpang karena kadang penumpang harus duduk di atas speaker pengeras suara. Greg memang pernah tinggal di Kupang, Nusa Tenggara Timur selama 3 tahun, menghabiskan masa-masa SMA-nya di sana.
Saya hanya mengangguk-angguk.
Menikmati embusan angin kencang yang menerpa melewati jendela mikrolet yang terbuka. Si sopir agaknya sedang berusaha membalap mikrolet di depannya. Kejar-kejaran untuk mencari penumpang. Seorang bapak-bapak mengangkut tiga karung bawang merah naik. Mikrolet sontak jadi penuh sesak. Mikrolet kembali dipenuhi dengan celoteh-celoteh tentang harga-harga bawang dan hasil bumi.
Tiba-tiba mikrolet jalannya seperti tersendat-sendat.
Ternyata macet.
Saya melongok ke jendela. Kami mulai mendekati sebuah pasar yang waduh, macetnya minta ampun, genangan-genangan air dan lumpur di mana-mana, deretan ruko-ruko dengan cat mengelupas dimakan usia. Lapak-lapak segala macam jenis sayuran, buah-buahan, sepeda motor yang menggerung dan saling menyalip, deru mikrolet dan musik jedug-jedug, teriakan-teriakan para pedagang dan pembeli, wuah, riuh sekali! Mengingatkan saya pada hiruk pikuk pasar-pasar di India Selatan.
Kami memang sudah sampai di sekitaran pasar terbesar di Lampung, Pasar Karang atau Tanjungkarang. Tempat segalanya ada di sini: pakaian, bahan makanan, sandal-sepatu-tas, kebutuhan rumah tangga, komplit.
Kami turun tepat di depan Stasiun Tanjungkarang.
Atapnya berhiaskan Siger raksasa kekuningan. Halamannya cukup luas.
Kami masuk. Suasana tidak terlalu ramai.
Yang mencolok di stasiun ini adalah dinding besar yang tertutup oleh hiasan yang saya pikir adalah motif khas tradisional Lampung, dengan gambar kereta api uap besar.

Saya melihat ke papan informasi. Ada dua cara menuju Palembang dengan kereta.
Satu, kereta ekonomi Rajabasa berangkat setiap pagi pukul 08.30 seharga 15 ribu.
Dua, kereta bisnis/eksekutif Sriwijaya berangkat setiap malam pukul 21.00 seharga 80 ribu untuk bisnis/130 ribu untuk eksekutif.

Terbiasa di Stasiun Lempuyangan dan Tugu di Jogja, saya langsung menuju loket dan memesan tiket kereta bisnis/eksekutif ke Palembang.
Ternyata tidak ada sistem pemesanan tiket di sini.
Kami harus datang langsung malam ini kalau hendak menuju Kertapati, nama stasiun di Palembang. Padahal, baru kemarin sore kami memasukkan beberapa baju untuk di-laundry biar cepat dan baru selesai besok. Dan kalau malam ini kami datang, belum tentu kami kebagian tiket karena antrinya bisa panjang, kata mbak petugas peron.
Saya jadi bimbang.
Dalam hati saya ingin naik kereta bisnis karena selain 'hanya' 80 ribu, karena dibandingkan dengan harga tiket kereta bisnis/eksekutif di Jawa, ini sangat-sangat murah sekali. Selain itu, kami bisa tidur selama perjalanan dan sampai di Palembang pagi-pagi.
Ah, apakah kami memang harus naik ekonomi saja?
Karena tidak bisa memesan tiket untuk keberangkatan malam ini, saya bertanya lagi kepada petugas loket, dan kami disarankan untuk membeli tiket di Alfamart jadi tidak usah antri di peron. Wah, ide yang bagus, pikir saya.
Akhirnya setelah mencatat ini dan itu, kami meninggalkan stasiun, menuju pasar membeli bekal untuk malam nanti, atau mungkin malah besok pagi.

Hampir pukul 12 siang.
Kami berjalan kaki menuju pasar induk.
Saya sempat memotret lanskap Tanjungkarang dari depan tanjakan pasar di samping stasiun kereta. Perbukitan di latar belakang dipenuhi dengan atap-atap rumah yang menyembul. Hiruk pikuk pasar terdengar di belakang saya.
Sejak kemarin, saya mengamati bahwa hampir seluruh sopir mikrolet yang saya lihat dan temui di jalan atau yang kami tumpangi masih muda-muda, usia 20 tahunan. Terlepas dari apakah mereka lajang atau sudah menikah, mereka masih muda-muda. Begitu juga dengan para pedagang di pasar, atau pegawai di toko-toko pinggir jalan.
Saya jadi berpikir, banyak anak-anak muda yang memonopoli sebagian besar lapangan kerja di sini. Semangat kerja keras mereka tinggi.
Lamunan saya buyar saat kami memasuki pasar yang lumayan gelap.
Saya mengamati kalau pasar ini terletak di bawah sebuah bangunan besar, seperti berjalan di bawah jembatan layang dengan banyak lapak-lapak beranekaragam di kedua sisinya. Penuh. Riuh.
Mungkin di atas pasar ini adalah pusat perbelanjaan yang lain, mirip di Telukbetung. Kami memutuskan untuk tidak ke atas. Greg membeli sepasang sandal jepit yang lumayan oke karena kami memang tak membawa sandal sama sekali.
Berjalan dengan sepatu kadang terasa sangat menyiksa. Membiarkan jari-jari kaki kita sejenak menghirup udara lega mungkin akan sangat dibutuhkan dalam perjalanan ini.


Semakin kami masuk, suasana semakin Jawa.
Banyak orang-orang berbahasa Jawa di sana sini. Atmosfernya seperti Pasar Beringharjo lantai dua tempat segala macam sayuran dan bahan makanan tumplek blek di sini. Kami mampir di lapak buah-buahan milik ibu-ibu yang mengaku berasal dari Jawa Tengah, membeli mangga dan kurma.
Lalu kami ke sebelahnya, sebuah lapak sayuran yang paling wah yang pernah saya lihat. Seluruh sayurannya segar-segar, berwarna-warni, tertata rapi dan begitu menggugah selera. Saya memang sedang mencoba untuk mengurangi konsumsi ayam, ikan dan telur, karena saya sudah tidak makan daging hewan berkaki empat lagi sejak saya pulang dari India tahun 2009 lalu. Dan air liur saya selalu menetes melihat sawi hijau yang segar, tomat merah yang ranum dan juicy, kacang panjang yang kriuk kriuk, jagung keemasan yang empuk, terong ungu yang gurih, tempe dan tahu yang tebal-tebal dan cabai merah yang membakar lidah.
Wah, saya benar-benar mengambang bahagia.
Coba saja kalau ada lapak sayuran seperti ini di dekat rumah kami di Jogja!
Ah, saya setiap hari bisa berbelanja dan memasak sendiri!
Saking tak bisa menahan, saya membeli segepok tempe besar sekali, bawang putih dan timun besar untuk Greg. Dia suka sekali timun, sedang saya suka sekali tomat!
Saya sudah kangen dengan tempe.
Mungkin sore nanti sepulang dari Tanjungkarang saya akan menggoreng tempe dan telur ceplok dengan sambal kecap cabai hijau dengan keriuk kemplang. Slurp!

(bersambung)

Thursday, December 13, 2012

Sumatera, Sumatera! (bagian 4)

*lanjutan dari Mendarat di Bakauheni*

Kamis, 19 Juli 2012
Telukbetung
Pagi ini saya terbangun dengan sebuah kesadaran: I'm in Sumatera!
Greg sudah bangun lebih pagi dari saya dan sedang berjalan-jalan entah ke mana. Saat saya hendak bersiap-siap mandi, Greg datang membawa dua bungkus nasi uduk. Wah!
Setelah sarapan dan mandi, sekitar jam 10 kami bersiap-siap untuk ke kota: Telukbetung.
Kami memang berencana meninggalkan koper kami di Lampung dan memutuskan untuk membeli ransel agar lebih fleksibel dan tidak mencolok mata. Rencananya, koper dan beberapa baju yang tidak akan kami pakai selama sisa perjalanan akan dipaketkan ke Jogja.
Kami berangkat naik bis Trans Bandar Lampung. Wah, cukup berbeda dengan TransJogja, bis ini lebih besar dan lebih baru. Tak ada halte pemberhentian dan kartu yang digesek agar bisa masuk ke halte, alih-alih kami bisa naik di beberapa poin dan masuk lewat pintu depan, di samping kemudi. Pintu geser yang berada di tengah akan terbuka secara otomatis jika bis berhenti pada halte-halte khusus penumpang bis Trans saja. Bis didominasi warna hijau limau menyala pada bagian eksterior dan pintu, sedangkan tempat duduk berwarna biru putih, mirip seperti TransJogja. Saya sempat bingung, bagaimana cara membayarnya ya? Ternyata begitu kita di dalam bis, seorang pramugari bis yang cukup cantik dan modis mendatangi para penumpang baru, mengeluarkan segepok tiket lalu menyobeknya, memberikan kami secarik tiket bertuliskan jurusan dan tarif, tiga ribu rupiah.
Saya melayangkan pandang ke jendela besar, kami melewati jalanan kota yang bersih, dengan banyak simbol-simbol kota Lampung yang baru bagi saya. Tugu-tugu selamat datang, patung-patung dengan baju adat Lampung, dan yang menarik perhatian saya adalah lambang emas seperti mahkota yang ada di mana-mana. Hampir di setiap bangunan di pinggir jalan, entah itu bangunan-bangunan milik pemerintah atau toko-toko, selalu ada lambang mahkota emas ini. Mengingatkan saya pada saat kami hendak merapat ke Bakauheni, dari kejauhan ada lambang mahkota ini yang terlihat dari kapal. Saya tak sempat memotret. Mungkin nanti kalau kita sudah sampai ke pusat perbelanjaan tempat kami hendak membeli ransel.
Sekitar pukul 11 siang.
Matahari cukup terik. Akhirnya, sampailah kami di pusat kota Telukbetung. Berderet-deret toko dan mall besar mengingatkan saya pada ruas Jalan Solo di Jogja. Kami masuk ke beberapa mall, keluar lagi, dan akhirnya masuk ke gang-gang sempit dengan banyak pedagang pakaian dan segala macamnya di kanan kiri. Saya menyadari kalau kami sedang berada di tengah pasar. Jalanan kecil ini ternyata menghubungkan pusat perbelanjaan yang satu ke pusat perbelanjaan yang lain. Lagi-lagi saya tak sempat memotret karena suasana dalam pasar riuh rendah oleh penjual yang meneriakkan barang dagangannya secara bersamaan dan pembeli yang hilir mudik.
Kami akhirnya sampai di sebuah pusat perbelanjaan yang hampir menyerupai Pasar Beringharjo di Jogja. Saya lupa apa nama pasarnya. Pasar Simpur (mungkin?), ah saya lupa-lupa ingat.
Setelah hampir dua jam muter-muter, kami akhirnya menenteng tas ransel baru, berwarna hitam dan kuat. Cukup mahal juga, batin saya, walaupun saya tahu di Jogja harga tas ransel seperti ini mungkin juga harganya hampir sama, atau bahkan malah lebih mahal. Yang jelas, kami sudah lega karena tak usah menyeret-nyeret koper sampai ke Palembang.
Dengan perut lapar dan berkeringat, kami akhirnya masuk ke sebuah rumah makan sederhana, Mie Pangsit Simpur. Konon mie pangsit ini legendaris dan terkenal, semacam kuliner yang harus dicoba saat kita bertandang di kota ini.
Rumah makan ini sederhana, dengan beberapa meja kursi dan interior yang sepertinya dari dulu sampai sekarang tak banyak mengalami perubahan. Kami memesan mie pangsit dan es buah. Dan saat pesanan datang, wah seperti mi ayam dengan jamur dan sawi, namun dengan porsi dua kali lipat dan kuah terpisah yang harum baunya. Kami segera makan dengan lahap. Saya hampir tak bisa menghabiskan seporsi mie pangsit ini karena mangkoknya besar dan isinya banyak sekali.
Selepas makan, saya sempat memfoto bagian depan rumah makan, yang lagi-lagi di atasnya ada lambang mahkota emas, sama seperti bangunan-bangunan yang lain.
Kemudian kami berjalan-jalan lagi melihat aktivitas pasar, mengamati orang lalu lalang, lalu pulang ke rumah Budhe-nya Greg sekitar jam 3 sore dan langsung ngglethak, tidur siang, padahal saya jarang sekali tidur siang. Mungkin hanya perasaan saya atau bagaimana, saya merasakan hawa kota ini cukup berbeda dengan Jogja. Panasnya membuat cepat lemas dan tak ada angin berhembus. Mungkin karena dekat pantai dan pelabuhan, pikir saya. Atau mungkin stamina saya sedikit menurun karena melakukan 19 jam perjalanan darat dan laut dengan asupan makanan yang sedikit dan apa adanya.
Ternyata Greg juga merasakan hal yang sama. Untunglah Budhe-nya Greg adalah seorang apoteker, beliau memberi kami beberapa vitamin untuk penambah stamina.
Sore harinya kami berjalan-jalan di lingkungan pecinan, mengitari kompleks-kompleks bangunan tua yang lengang, melewati beberapa toko penjual makanan khas Lampung semacam kemplang dan manisan Lampung, penjual Tapis Lampung atau kain khas Lampung yang berbentuk kain sarung terbuat dari tenun benang kapas dengan motif atau hiasan bahan sugi, benang perak atau benang emas dengan sistem sulam atau istilah Lampungnya 'Cucuk'.
Saya sempat mencari di internet tentang kerajinan khas Lampung ini.
Saya menemukan bahwa Tapis Lampung ini adalah hasil tenun benang kapas dengan motif benang perak atau benang emas dan menjadi pakaian khas suku Lampung. Jenis tenun ini biasanya digunakan pada bagian pinggang ke bawah berbentuk sarung yang terbuat dari benang kapas dengan motif seperti motif alam, flora dan fauna yang disulam dengan benang emas dan benang perak.Tapis Lampung termasuk kerajian tradisional karena peralatan yang digunakan dalam membuat kain dasar dan motif-motif hiasnya masih sederhana dan dikerjakan oleh pengerajin. Kerajinan ini dibuat oleh wanita, baik ibu rumah tangga maupun gadis-gadis (muli-muli) yang pada mulanya untuk mengisi waktu senggang dengan tujuan untuk memenuhi tuntutan adat istiadat yang dianggap sakral. Dan saat kami melihat memang sangat indah namun harganya sangat mahal.
Sebenarnya saya ingin membeli at least satu saja, tapi harganya sangat tinggi dan kami masih harus saving untuk perjalanan kami selanjutnya.
Kami juga sempat mampir di pabrik Kopi Lampung yang terkenal itu. Letaknya dekat sekali dengan kediaman Budhe-nya Greg: Jl. Ikan Tembakang 2 Telukbetung. Namanya Kopi Bubuk Sinar Baru BOLA DUNIA, terkenal sejak tahun 1907. Kopinya harum sekali. Meskipun saya tidak minum kopi, namun saya sudah berencana akan membawa oleh-oleh Kopi Lampung untuk ayah saya si penggila kopi dan beberapa teman di Jogja.
Kami juga melewati sebuah rumah duka yang berbau dupa dan berhiaskan bunga-bunga dan ucapan belasungkawa. Ada yang meninggal, batin saya. Kami berjalan cepat-cepat, tak ingin mengganggu prosesi, menyeberang dan melewati sebuah klenteng yang pintunya tertutup. Bau dupa menempel di hidung saya.
Kompleks pecinan ini mengingatkan saya pada Chinatown di Singapura, namun lebih sepi, lengang, lebih lawas dan terkesan lebih tua dan rasanya berwarna abu-abu.
Kami pulang saat malam mulai turun dan berdiskusi tentang alur perjalanan kami selanjutnya, esok hari...

(bersambung)

Wednesday, December 12, 2012

Sumatera, Sumatera! (bagian 3)

*lanjutan dari Pelabuhan Merak: Menyeberang. Melaju Menuju Matahari!*

Rabu, 18 Juli 2012
Mendarat di Bakauheni!
Menghabiskan senja di kapal, memandang lanskap pantai Sumatera dengan asap dan nyiur di kejauhan, matahari terbenam yang kuning kemerahan mewarnai laut yang beriak, adalah salah satu momen yang paling indah dalam hidup saya.
Kami akan mendarat di Bakauheni, kota pelabuhan di ujung paling selatan Pulau Sumatera. Dari hasil mengobrol dengan beberapa awak kapal dan penumpang lainnya, perjalanan dari Bakauheni ke Teluk sekitar 3-4 jam. Wah masih jauh juga, pikir saya. Di Lampung, kami akan singgah sebentar di rumah Budhe-nya Greg, untuk transit barang sehari dua hari sebelum melanjutkan perjalanan ke Palembang. Menurut pentunjuk dari Budhe-nya, kami harus turun di Teluk. Saat mendengar kata Teluk, saya sudah membayangkan kota kecil di pinggir teluk, dengan kapal-kapal nelayan dan jaring ikannya. Dan ternyata bukan. Kami sempat mengobrol juga dengan salah seorang petugas bis, bapak-bapak berkumis lebat yang mengaku berasal dari Sumatera Utara. Ia bercerita tentang Teluk, bahwa sebenarnya Kota Bandar Lampung adalah gabungan dari dua kota kembar bernama Tanjungkarang dan Telukbetung. Dengan kata lain, Budhe-nya Greg tinggal di Telukbetung.
Saya ber-oh-oh sambil mengangguk-angguk.
Tepat jam 6 sore, kapal kami menepi.
Kami segera bergegas naik bis bersama dengan para penumpang lainnya. Perjalanan darat segera dimulai.
Ah, kami sudah sampai di tanah Sumatera!
Sebelum matahari benar-benar tenggelam, saya sempat menikmati pemandangan dari balik jendela bis yang lebar: perbukitan-perbukitan hijau, rumah-rumah kayu, pohon-pohon kelapa, perkebunan kelapa sawit, ngarai, gerumbul-gerumbul hijau di kejauhan, asap yang membumbung dari rumah-rumah kayu di pucuk bukit, jalan-jalan bergeronjal dengan tanah kemerahan dan berbatu, suara sayup-sayup perkampungan yang kami lewati dengan cepat, kemudian malam turun.
Sudah tidak bisa melihat terlalu banyak dari jendela.
Kami mendapat informasi dari bapak petugas berkumis tebal tadi bahwa sekitar jam 7 kami akan berhenti untuk makan malam di sebuah rumah makan. Refleks saya bertanya, rumah makan apa? Sontak ia menjawab, rumah makan Padang lah, apa lagi yang kau harapkan? Kita kan sedang di Sumatera!
Ya.
Rumah makan Padang.
Saya jarang sekali makan di rumah makan Padang. Bukannya tidak suka, ketika di Jogja, kami hanya ke rumah makan Padang pada waktu-waktu tertentu: saat uang menipis dan ingin makan nasi banyak, dan saat uang menebal dan ingin makan kuah rendang yang menggoda dengan pedas yang mantap. Saya jadi berpikir, apakah di seluruh Sumatera hanya ada rumah makan Padang saja dan tak ada warung makan yang lain?
Wah, wah, wah.
Greg mengangguk-angguk dengan senang. Ia suka sekali dengan masakan Sumatera yang berbumbu rempah dan berkuah kental. Walau Greg tak makan daging, ayam, telur dan ikan hanya sayuran, kacang-kacangan dan tempe-tahu saja, tapi ia selalu suka mengambil sedikit kuah dan banyak-banyak mengambil timun dan cabai hijau berminyak yang selalu tersedia melimpah di rumah makan Padang. Ini akan menjadi surga kecilnya, pikir saya.
Saya menelan ludah.
Terakhir kami makan adalah saat kami di warung tegal di Terminal Pulogadung pagi tadi.
Dan begitulah.
Bis berhenti di sebuah rumah makan Padang di tengah huma. Jalanan sepi. Hanya beberapa bis besar dan truk-truk yang melintas. Saya menghirup nafas dalam-dalam merasakan aroma Sumatera. Dengan perut lapar, kami masuk dan tercengang-cengang.
Ini adalah rumah makan Padang terbesar yang pernah saya lihat!
Ada semacam kounter berkaca dengan sepasukan laki-laki cekatan menghantarkan piring-piring, 7-10 piring sekaligus di tangan-tangan kokoh mereka, meneriakkan bahasa-bahasa yang saya tak mengerti, kemudian di balik kaca adalah baskom-baskom besar dengan olahan daging rendang, ayam berbalut cabai hijau, ikan-ikan besar menggoda, tumpukan telur rebus yang menggunung, udang-udang kemerahan yang superbesar, setenggok raksasa nasi yang harum-dan-asapnya-mengepul, sayuran dan timun yang melimpah, serta ada es buah dengan puding berwarna-warni.
Oh, what a real Padang restaurant!
Tak ada yang seperti ini di Jogja, atau di kota-kota lain di Jawa yang pernah saya kunjungi.
Seperti sebuah sarang lebah yang berdengung ramai, bising, berkelontang, berkecap-kecap, dan beraroma super lezat!
Saking terpananya, saya tak tahu harus berbuat apa.
Greg sudah menghilang di toilet laki-laki. Saya mencuci muka di wastafel, menghilangkan lembab yang menempel akibat angin laut.
Kemudian kami duduk di meja dengan enam kursi. Saya ajak Ima untuk duduk bersama kami, masih ingat kan, anak UI yang hendak ke Lahat yang juga ikut dalam bis ini, sepertinya ia tampak lebih kebingungan daripada saya. Begitu kami bertiga duduk, sepasukan laki-laki berseragam dengan banyak piring di lengannya menghamburi kami. Dalam sepersekian detik, meja kami penuh dengan segala macam lauk pauk yang tak terbayangkan: nasi putih yang mengepul, tiga macam olahan telur, rendang, cumi-cumi, udang, tiga macam olahan ayam, ikan, sayuran dengan bumbu kelapa, es buah puding dan air putih. Waow!
Masih ada yang datang untuk membawakan kami lauk-pauk yang lain tapi kami menolak dengan halus. Toh Greg tidak makan segala macam hewan, dan saya cukup puas dengan telur karena saya masih curiga dan bertanya-tanya, apakah ini termasuk dalam tiket bis, semacam kupon makan seperti ketika kita naik bis malam ke Jawa Timur yang selalu makan gratis tengah malam, ataukah kami harus membayar sendiri semua makanan ini.
Dan kecurigaan saya terjawab.
Ada beberapa meja di sekitar saya yang sudah selesai. Dan seorang petugas berseragam mendatangi, mencatati apa saja yang telah 'hilang' dari meja makan. Wah, untung saya tidak jadi mengambil udang bumbu lemon yang hampir meruntuhkan iman saya. Kami 'hanya' makan dua nasi putih, telur bumbu pedas, sayuran bumbu kelapa dan dua air putih. Hampir saja saya minum es buah puding karena sangat menggugah selera sebelum Greg menepis tangan saya dan melotot tajam.
Ugh!
Kami harus berhemat dalam perjalanan Sumatera ini karena masih jauh perjalanan kami. Dan saat kami membayar, semuanya 29 ribu. Oke lah, walaupun agak mahal, tapi saya terpukau dengan atraksi cekatan para pasukan berseragam di rumah makan Padang pertama di Sumatera yang saya kunjungi. Saat bis mulai bergerak, saya tersadar ada sesuatu yang tertinggal. Yaaah, kemeja Greg yang masih lumayan baru, tertinggal di salah satu kursi di rumah makan tadi! Ah! Ini adalah barang ketiga yang tertinggal di perjalanan setelah dua pasang sandal yang baru saja dibeli dengan harga yang sangat tidak wajar dan tertinggal dalam mobil sewaan di Malang tempo hari. Tak apa-apa. Semoga saja memang ada yang lebih membutuhkan kemeja itu di sana.
Pukul 19.30.
Kembali di bis, kali ini suasana cukup berbeda. Perut yang penuh dan wajah-wajah yang segar membuat para penumpang bergairah. Bis melaju kencang, dan entah bagaimana, dari depan kemudi mengalirlah musik jedug-jedug yang membahana. Seluruh penumpang seperti bergolak. Saya merasa seperti berada di sebuah diskotek berjalan. Di sana-sini terdengar siulan, teriakan, tertawa dan semacam gurauan: 'Tambo birnyoo!' Mungkin saya salah dengar, atau saya belum terbiasa dengan bahasa Sumatera, mungkin ia bergurau 'Tambah birnya!' seakan-akan kami sedang di dalam diskotek yang menyala dalam gelap dengan musik jedug-jedug yang membuat kepala terangguk-angguk dan kaki menyentak-nyentak.
Lucunya, musik jedug-jedug yang diputar bukan dangdut koplo atau semacamnya itu, tapi lagu-lagu Minang atau lagu-lagu tradisional berbahasa Melayu yang di-remix sedemikian rupa. Wah, asyik juga, pikir saya.
Celotehan masih terdengar di sana sini, tak hanya laki-laki, para perempuan dan ibu-ibu juga hilir mudik, ikut-ikutan bergairah sealir dengan suara musik yang berdentam-dentam. Seorang penumpang, laki-laki muda yang cukup tampan di depan kursi kami berdiri, lalu berjalan di sela lorong menuju ke depan, tepat saat itu bis membelok tajam ke kiri karena ada tikungan. Sontak saja ia goyah dan hampir jatuh, berusaha mencari pegangan.
Dan apa yang terjadi?
Seorang ibu-ibu menjerit tertahan.
Lalu tawa membahana bergema di seluruh bis. Saya hanya ndomblong.
Usut punya usut, tangan si pemuda tampan ternyata mendarat tepat di dada (yang lumayan membusung) ibu-ibu itu, dan si pemuda bergurau, kalau ibu itu menjerit keenakan karena dadanya terpegang oleh si pemuda tampan.
Saya terkekeh-kekeh.
Membayangkan bagaimana kalau itu terjadi di sebuah bis di Jawa.
Suasana yang sangat Sumatera melingkupi kami. Dalam hati saya membatin, inilah yang mengasyikkan dalam sebuah perjalanan. Bukan tujuan yang dicari, tapi sepanjang perjalanan inilah yang asyik, menangkapi momen-momen, mengguratkan peristiwa-peristiwa, dan ada sekeping perasaan haru: menjadi Indonesia.
Berkeliling Nusantara adalah cita-cita saya sejak kecil. Saya dulu punya tekad untuk mengelilingi Indonesia dulu sebelum mengelilingi dunia. Ingin menjadi dekat dengan bangsa sendiri, sebelum berkelana ke negeri-negeri seberang nan jauh.
Menjadi Nusantara.
Dan pengalaman di bis dengan sekitar 50 penumpang ini turut membuat saya terharu, bahwa Nusantara begitu besar, begitu maha, dan saya tak tahu apa-apa. Berusaha mengumpulkan uang demi menjejak tanah Sumatera, pulau ketiga yang saya coba selami budayanya setelah (tentu saja) Jawa dan Bali.
Ada keinginan untuk terus melakukan perjalanan ke pulau-pulau lain: Kalimantan, Sulawesi, Kepulauan Maluku dan Papua. Tentu saja itu mimpi dan cita-cita.
Sungguh, hanya berada di sebuah bis penuh dengan orang-orang Sumatera, saya merasa tak punya apa-apa, bukan siapa-siapa, dan merenung tentang orang-orang di pulau paling maju di negeri ini, Jawa, yang kadang terlalu pongah dan merasa dirinya adalah 'apa-apa'.
Negeri ini begitu luas, Bung!
Ada yang titik di sudut mata saya.
Haru.
Lalu saya tertawa kecil. Memandang Greg yang juga sedang memandang saya.
Pukul 20.30.
Petugas berkumis lebat mondar-mandir, mengatakan sesuatu tentang Teluk. Ah, kami disuruh bersiap-siap. Hampir sampai.
Kami maju ke bagian depan bis. Melambaikan tangan berpamitan ke beberapa penumpang bis yang masih terjaga. Sebagian besar penumpang kini telah terlelap, menghemat tenaga karena baru besok siang mereka sampai di tujuan. Hanya kami berdua yang turun di Bandar Lampung, kebanyakan seperti Ima, turun di Lahat, Bengkulu dan kota-kota di sekitarnya.
Petugas berkumis tebal tadi sudah ada di depan pintu depan. Menyuruh saya maju. Greg masih bergelantungan di lorong.
Saya sangat bersemangat. Ingin tahu, pengalaman apa lagi yang akan kami dapat setelah turun dari bis ini. Dan ketika rem berdecit dan pintu membuka, saya meloncat turun.
Ups, tunggu dulu!
Ada sesuatu yang terjadi, tepat sebelum saya meloncat turun.
Saya merasakan tangan yang kasar meraba-raba paha saya saat saya meloncat turun.
Ugh!
Saya memang memakai celana kargo pendek karena perjalanan cukup panjang dan ribet jika saya memakai rok seperti biasanya. Tapi ketika ada seorang laki-laki bertangan kasar dengan kasar pula meraba-raba paha saya yang terbuka, what the hell!
Saya melirik. Mendengus marah.
Namun saya tak berbuat apa-apa. Tak bisa. Tak sempat. Karena begitu cepat.
Masih terlihat senyum nakal si petugas berkumis tebal yang melambaikan tangan dari balik kaca pintu bis yang kini melesat kencang meninggalkan kami berdua di pinggir jalan besar, semacam ring road, di tengah kegelapan malam.
Tak ada taksi.
Tak ada becak.
Tak ada bis.
Tak ada ojek.
Sempurna.
Dan kami tidak tahu kami berada di mana.
Greg mencoba menelpon Budhe-nya tapi tak ada yang mengangkat.
Kami berjalan sambil melihat-lihat ke belakang. Siapa tahu ada kendaraan umum.
Saya melihat sekeliling. Daerah ini seperti di lingkar luar perkotaan, ya semacam ring road kalau di Jogja. Jalannya besar dan luas. Bis-bis dan truk-truk besar melaju kencang-kencang. Saya melirik jam tangan. Jam sembilan malam.
Ah, apa yang bisa diharapkan pada malam?
Saat saya mulai lemas karena tak tahu arah, tiba-tiba Greg berteriak dan melambai ke sebuah kendaraan yang melambat.
Sinar lampunya kuning menyilaukan.
Greg bertanya kepada sopir dan si sopir hanya mengangguk.
Syukurlah masih ada mikrolet. Mungkin ia hendak pulang. Hanya kami berdua yang ada di mikrolet itu. Suara musik dari empat pengeras suara berdentum-dentum memecah kesunyian. Mikrolet kembali melambat. Ada sepasang anak muda naik.
Saya bertanya.
Dan jawabannya sungguh aneh. Apakah ia tak mengerti bahasa saya atau saya yang tak mengerti bahasanya, saya tak tahu, padahal kita sama-sama berbahasa Indonesia.
Hanya sepuluh menit saja, sepasang anak muda itu turun. Meninggalkan kami berdua yang masih belum tahu arah.
Greg mulai gelisah. Ternyata ia curiga dengan si sopir.
Sopir ini kalau ditanyai hanya mengangguk atau menggeleng saja. Bukannya ia berkonsentrasi menyetir, tapi sejak kami naik hingga saat ini, si sopir berbicara dengan entah siapa dengan ponselnya yang ia jepit sedemikian rupa.
Saya mulai was-was.
Akhirnya Greg meminta turun, dan menjejalkan beberapa lembar uang seribuan ke dashboard. Kami berhenti di depan sebuah minimarket yang menyala terang.
Saya bertanya, Budhe-mu mau menjemput di sini?
Ia menggeleng, 'tak mungkin lah, ia masih bekerja, aku hanya nggak suka dengan sopir tadi, membahayakan, nyetir sambil nelpon, kita cari mikrolet lain ya'.
Saya mengangguk.
Berharap akan ada mikrolet dengan sopir yang lebih waras.
Akhirnya, lima belas menit kemudian ada mikrolet mendekat. Sopir masih muda. Mikroletnya berwarna merah jambu terang penuh dengan stiker. Musik berdentam-dentam. Oh, ternyata mikrolet di sini ada musiknya, batin saya.
Kami segera naik dan si sopir dengan baik hati mau mengantarkan hingga depan rumah Budhe-nya Greg meski ia sebenarnya tak lewat daerah itu.
Sebagai ucapan terimakasih, saya menyelipkan selembar sepuluhribuan ke tangannya. Bonus. Dan ia tersenyum lebar.
Kami turun tepat di perempatan.
Dan dari kejauhan saya melihat Budhe-nya Greg menunggu, merentangkan tangan.
Akhirnya!
Kali ini koper yang saya seret tak terasa berat. Jam 10 tepat kami sampai depan rumah. Disambut dengan keibuan oleh Budhe-nya yang menanti-nanti kedatangan kami sejak sore tadi. Perasaan saya campur aduk: lega, senang, capek, lemas, lapar dan bersemangat.
Ah, kali ini akhirnya kami bisa melepas lelah, ngeluk boyok dan menanti hari esok untuk berjalan-jalan keliling kota Lampung.
Selamat tidur!

(bersambung)
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...