Friday, December 23, 2011

Taksi Gila, Pesawat Gila, dan Soto Tangkar!

Awal bulan November lalu, saya dan Greg ke Jakarta.
Ini akan menjadi kali pertama Greg pergi ke Jakarta.
Ha-ha-ha, silahkan tertawa.
Ya, Greg belum pernah menginjakkan kaki ke ibukota.
Jadilah hari itu kami bersiap-siap. Tiket sudah dipesan. Kontak di Jakarta sudah dibuat. Dan baju-baju sudah disiapkan. Saya agak santai kali ini, saya hanya ingin menghabiskan waktu berkualitas dengan Greg saat di Jakarta karena sudah lima bulan ini kami berdua disibukkan dengan beberapa projek dengan ketjilbergerak. Kami membutuhkan liburan.
Liburan kok di Jakarta?
Ya itu tadi, karena Greg belum pernah ke Jakarta! Ia pernah berujar pada suatu waktu saat ia masih berkutat dengan urusan skripsi dan tetek bengek kampus: 
'kalau aku sudah lulus, kita harus ke Jakarta ya, Nok'.
Dan sore itu, kami sudah siap. Tinggal menelpon taksi saja. Dan setelah berpamitan dan memasukkan semua koper ke dalam bagasi, kami segera masuk taksi. Pak sopir yang masih muda bertanya, ke mana Mbak?
Saya jawab, ke bandara Pak.
Ia membalas lagi, penerbangan jam berapa?
Greg yang menjawab, jam enam.
Dan tiba-tiba hati saya berdesir. Segera saya merogoh tiket pesawat dan olala! Saya terbelalak ngeri. Tiket di tangan saya berkata, pesawat akan berangkat jam 17.35. Dan sekarang jam 17.00!!!!
GILA!
Greg melihat saya dengan tatapan yang membunuh.
35 menit ke bandara?
Dan belum segala scanning, check in, boarding, ah!
Pak sopir yang tahu bahwa ia hanya punya waktu 20 menit saja dari Nagan Lor hingga bandara tampak tenang. Dengan secepat kilat ia langsung mengemudikan taksinya dengan kecepatan maksimal. Wus wus wus!
Sepanjang perjalanan saya menelan ludah. Tenggorokan saya kering. Tangan mencengkeram erat tas. Sedangkan Greg diam membisu.
Saya tahu, ia tak mau ketinggalan pesawat gara-gara keteledoran saya salah membaca jadwal. Dan tentu saja saya juga tak mau ketinggalan pesawat!
Kepala saya pusing. Saya mau muntah.
Di dalam taksi yang berdesing dan ngebut tak karuan, mata saya sudah berkunang-kunang. Jantung saya ikut-ikutan ngebut di sepanjang aspal sore yang berkilat tertimpa cahaya senja, berdetak keras saat di lampu merah, aaah, cepat hijau! cepat hijau!
Dan saat kami tiba di parkiran bandara, jam sudah menunjukkan pukul 17.29!
Saya bergegas membayar, masuk bandara, scanning (saking terburu-burunya saya menjatuhkan semua barang-barang pribadi saya: KTP, tiket, ponsel, kartu-kartu, ah bodoh!), lalu menuju konter check-in dan oh tidak!
Antriannya sangat sangat panjang!
Saya terengah-engah.
Dan tepat pukul 17.35 kami berhasil masuk boarding dan oh oh, pesawat terlambat (seperti biasa).
Saya duduk lemas di kursi besi yang dingin.
Dan saya sangat sangat haus sekali.
Untunglah pesawat tiba sepuluh menit kemudian, dan kami bergegas lagi, berlari-lari menuju pesawat di tengah hujan gerimis. Dan lima puluh menit ke depan, perjalanan sungguh mendebarkan: turbulensi yang mengaduk-aduk perut, pesawat naik turun seperti roller-coaster, Greg berkeringat dingin dan sangat waspada, dan saya menggenggam terus tangan Greg. Erat. Sangat erat. Kami tak memejamkan mata sedetik pun.
Dan akhirnya kami mendarat. Di Jakarta.
Tak ada penyambutan. Kami langsung bergegas memesan tiket travel menuju BSD. Ada teman baik kami, Victor, yang akan menampung kami sementara.
***
Esok paginya, kami bersiap menuju Kota Tua.
Dengan tiket feeder bus di tangan, kami berkendara menuju rimba Jakarta. Berbekal peta dan jadwal bis dari Victor, kami siap menjelajah kota dan mencicipi segala macam hal.
Hampir jam 12 siang, kami diturunkan di depan BNI Kota Tua, dan jujur saja, kami sangat lapar.
Kami berjalan beriringan di atas trotoar yang sudah berlubang besar, hingga saya harus ekstra hati-hati melangkahkan kaki. Dan di ujung sanalah saya melihat deretan orang-orang asyik melahap sesuatu. Apa itu? Saya bergegas.
Dan ternyata, mereka sedang bergerumbul di dekat gerobak warna biru.
Saya menengok: SOTO TANGKAR.
Apa itu? Saya penasaran. Dan melongok isinya.
Ada banyak kentang goreng!
Kuning-kuning keemasan.
Wah, jangan-jangan ini juga Soto Betawi, pikir saya.
Hmm, tapi kok warnanya tidak sama dengan Soto Betawi ya? Mengingat saat-saat sarapan di warung Soto Betawi langganan saya di Ngasem.
Saya bertanya dengan gaya Betawi:
ini daging apa, Bang?
Pertanyaan yang bodoh sebenarnya, karena dilafalkan dengan gaya Betawi dan seharusnya orang Betawi tahu 'soto tangkar' itu apa.
Tapi si penjual soto tetap menjawab walau dengan singkat: sapi.
Waduh!
Kami berdua tidak makan daging, tapi pesanan kadung dibuat. Saya nggak enak untuk membatalkan, jadi saya hanya memesan satu porsi saja dengan nasi.
Saat saya bilang Greg kalau Soto Tangkar adalah soto sapi, ia bilang, tak apa-apa, kan soto Betawi biasanya ada kentangnya, kita nanti makan kentangnya saja.
Dan saat pesanan datang, beginilah pose saya. Duduk di trotoar, sambil memegang semangkok Soto Tangkar, dan sepiring nasi putih. Wah, ternyata kebodohan masih berlanjut! Yang kami kira potongan-potongan kentang goreng kuning keemasan ternyata kikil sapi, sodara-sodara!
Kami menelan ludah.
Tak jadi membayangkan lezatnya Soto Betawi, walau saya akhirnya tahu ternyata Soto Tangkar adalah saudaranya Soto Betawi juga. Jadilah kami makan sepiring berdua, dengan lauk kuah Soto Tangkar, yang sebenarnya juga tidak kami makan banyak-banyak.
Saya ingat tadi ada penjual tempe goreng di depan gerobak soto, jadilah saya membeli tempe goreng tigaribu dan kami makan nasi dan tempe goreng yang super tipis. Tapi, kalau sampeyan penasaran dengan rupa Soto Tangkar yang kami pesan, saya akan memperlihatkan apa yang kami pesan dan apa yang kami (akhirnya) makan di bawah ini.
Tak apa-apa, pengalaman pertama selalu berharga, lebih berharga dari sembilan ribu rupiah yang saya bayar untuk seporsi Soto Tangkar di pinggir trotoar depan BNI di Kota Tua, Jakarta Utara...
Soto Tangkar, saudaranya Soto Betawi.
Jadi, inilah yang sebenarnya kami makan:
nasi putih, tempe goreng supertipis, wortel-tomat-timun,
dan sedikit,... sedikit kuah.
Ah, Soto Tangkar.
Maaf kami tak bisa memakanmu.

No comments:

Post a Comment

terimakasih ya sudah mampir dan menyapa kurakurakikuk :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...