Monday, December 5, 2011

Surat Cinta!

Baru saja teman saya, Sadat, bertanya kepada saya tentang surat cinta.
Tiba-tiba saja saya langsung teringat dengan surat cinta pertama saya sewaktu saya masih kecil. Apa? Surat cinta? Masa kecil?
Ya.
Saya sudah menulis surat cinta pertama saya waktu saya masih kelas 1 SD!
Begini ceritanya:
Sewaktu saya masih TK Nol Besar, keluarga saya baru saja pindah rumah. Setiap sore, saya dengan diantar ibu 'dititipkan' di rumah sahabat ibu saya yang bernama Mbak Yani untuk belajar sesuatu yang baru. Entah itu matematika, bahasa inggris, atau melipat dan mewarnai.

Nah, di suatu sore itulah Mbak Yani mengajak saya untuk berjalan-jalan keliling kampung, bertandang ke tetangga-tetangga dan 'pamer' saya kepada mereka.
Salah satu yang di'pamer'in adalah seorang anak laki-laki kecil seumuran saya, kulitnya putih terlihat seperti anak rumahan (beda dengan saya yang suka keluyuran keliling kampung saat anak-anak yang lain tidur siang).

Mbak Yani berkata:

'Nah, ini salah satu temanmu di SD besok. Kalian akan bersekolah di SD yang sama. Ayo, kenalan!'
Saya mengangguk.

Si bocah laki-laki berkata singkat: 'Dita'.
Saya suka dengan tangannya yang halus.

Rambutnya disisir rapi dan mengkilap.
Matanya, ah, matanya sungguh besar!
Dan saat itulah saya sudah jatuh cinta pada pandangan pertama.

Saya jadi rajin ke rumah Mbak Yani setiap sore, bahkan tanpa diantar atau disuruh ibu saya. Tujuan saya hanya satu: bermain dengan Dita.

Dan saat kami sudah masuk SD bersama-sama, saya suka bangun pagi-pagi, berjalan hingga depan rumahnya, dan kadang menunggunya untuk berjalan bersama-sama menuju sekolah.

Oya, saya punya satu lagi teman dekat, namanya Mbak Sukma.
Setiap pulang sekolah saya selalu bermain di rumah Mbak Sukma yang adem dan rindang karena banyak pohon-pohon. Saya memanggilnya Mbak karena badannya lebih besar dari saya. Mbak Sukma punya banyak komik Donal Bebek dan majalah Bobo yang dibendel. Jadilah saya selalu membaca di teras mungil rumahnya dan selalu disuruh pulang saat jam tidur siang datang.
Ah, kadang saya sebal.
Kenapa harus tidur siang?
Saya termasuk orang yang tak pernah bisa tidur siang. Sampai sekarang.
Benar-benar tak bisa dan tak biasa.
Saya ingat ibu saya pernah menyuruh saya tidur siang pada suatu hari setelah saya pulang sekolah, dan saya berusaha memejamkan mata, sampai berkhayal tentang kisah-kisah Oki dan Nirmala atau Paman Husin dan Asta, tetap saya tak bisa tidur.
Kok saya malah ngobrol tentang tidur siang ya?

Oke, jadilah pada suatu siang seperti biasanya saat saya dan Mbak Sukma ngobrol di teras rumah menikmati semilir angin dan tiba-tiba saja saya punya ide. Sebuah ide gila:
Mbak, aku mau bikin surat buat Dita.

Surat apa?
Surat cinta!
Surat cinta?
Iya. Surat cinta!!
Kamu bisa?
Saya mengangguk cepat.

Dan sejam ke depan, kami sudah tertawa cekikikan karena saat saya mencoba menyusun kata-kata yang pas, Mbak Sukma sudah tertawa-tawa.
Akhirnya surat cinta sudah berhasil saya tulis rapi-rapi.
Mbak Sukma menyumbang amplop.
Dan kami mulai menyusun strategi. Kata Mbak Sukma, Dita jarang keluar rumah. Jam 4 sore adalah waktu yang pas untuk memberikan surat cinta karena Dita sudah selesai mandi sore.
Saya mengangguk.
Dan sore itu tibalah.

Saya berdandan rapi. Pakai rok. Rambut dikuncir kuda. Dan sandal jepit baru.
Mbak Sukma bilang berkali-kali: 'aku hanya antar kamu lho!'
Saya masuk ke teras rumah Dita. Perlahan-lahan.
Dan saya berteriak lantang di depan pintu rumahnya: DIIITAAAAAA!
Saya menelan ludah.
Tak ada sahutan. Ah, mungkin ia masih di kamar mandi.
Sekali lagi dengan irama, mungkin cukup untuk menggugah gendang telinganya: DIIIITAAAAAAAA!
Dan saya mendengar langkah-langkah tergopoh-gopoh.

Wah!
Yang datang bukan Dita!
Tapi BAPAKNYA!
Waduh! Saya ndredeg, gemetar ketakutan.
Bayangkan: bapaknya Dita adalah seorang tinggi besar dengan berewok lebat dan kumis tebal. Hampir mirip dengan bapak saya, tapi tetap saja saya merasa keder. Waduh. Gimana ya?
Bapaknya Dita keluar dan berdiri di depan saya, di ambang pintu.

Ada apa, Nok? Dita masih di dalam, baru aja mandi.
Saya...saya....
(haduh! mulut saya gagu!)

Saya melirik Mbak Sukma yang berdiri diam di belakang saya.
Mbak Sukma hanya mengedikkan bahu.
Saya menghembuskan napas.
Oke, ini perjuangan saya.
Anu Pak, saya mau ketemu Dita. Saya punya surat untuknya.

Surat? Surat apa?
Anu Pak, surat yang saya tulis sendiri, khusus untuk Dita.
Sejenak saya melihat sekelebat bayangan Dita berdiri di belakang pintu kaca.

Mendengarkan diam-diam.
Bisa kau bacakan isi suratnya?

APA??

Saya melongo.
Dan entah mendapat dorongan dari mana, bakat deklamasi saya muncul, dan saya berteriak lantang:
SURAT CINTA UNTUK DITA

Bapaknya Dita senyum-senyum sambil mengelus-elus jenggot.

Saya berdeham-deham.

Saya lanjutkan membaca surat cinta itu, yang penuh dengan kata 'manis', 'suka', 'teman' dan entah apa, maaf saya lupa.
Memang, agak sedikit bergetar saat saya membaca kalimat-kalimat pertama, tapi kemudian saya sangat lancar sekali, seperti saat saya membaca puisi tentang 'Ibu Guru' tadi pagi di sekolah.
Saya membacakan surat cinta itu dengan nada deklamasi lantang dan berirama, dengan beberapa tekanan di beberapa kalimat 'penting'.
Dan bapaknya Dita bertepuk tangan setelah saya membacakan surat cinta itu. Saya masih melihat jempol kaki Dita bersembunyi di belakang pintu saat saya selesai membaca surat satu lembar itu.
Saya tahu dia di sana.
Mendengarkan segalanya.
Ah, jangan tanya apa yang terjadi setelah itu.

Dan hari-hari selanjutnya, bulan-bulan berikutnya.
Saya diolok-olok oleh tetangga-tetangga Dita, dan Dita selalu tersenyum-senyum aneh, dan saya sendiri selalu salah tingkah, tapi bangga.
Bangga karena saya bisa mengungkapkan perasaan saya, tanpa harus menyembunyikan apa yang saya rasa, dan tak hanya pada orang yang saya suka, tapi langsung di depan bapaknya!
Aduhai!
Dan bagaimana kelanjutan cinta monyet saya?

Selama enam tahun di SD saya dan Dita bersahabat saja, tak lebih, hingga sekarang!

No comments:

Post a Comment

terimakasih ya sudah mampir dan menyapa kurakurakikuk :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...