Wednesday, December 7, 2011

Selat Solo, Temulawak dan Bubur Labu

Masih di edisi icip-icip.
Karena saya masih bersemangat menulis tentang makanan malam ini.
Kali ini saya hendak mengajak sampeyan berkenalan dengan salah satu kuliner khas Kota Solo, yaitu Selat Solo, lalu berjalan sejenak menyusuri kampung batik Laweyan dan mampir ke salah satu butik yang memiliki kafe dengan menu minuman jaman dulu, yaitu temulawak dan sarsaparilla, hingga ke salah satu restoran vegetarian favorit saya, yaitu Milas.

***
Pertama kali saya mencicipi Selat Solo adalah di sebuah warung sederhana yang penuh dan panas saat siang hari, setelah saya memberi kuliah tentang Kampung dan Kota di UNS. Mahasiswa Sosiologi yang mengantarkan saya ke Stasiun Balapan, Haha, Arie dan Reza, mengajak saya makan siang dahulu sebelum melompat ke Pramex. Saya tak menampik. Berayun-ayun di Pramex selama 3 jam sebelumnya karena mesin kereta sempat mogok di Klaten membuat perut saya melilit minta diisi. Jadilah mereka mengajak saya ke sebuah warung di dekat Stasiun Balapan, yang bernama Vien's.

Warungnya tak terlalu besar, tapi penuhnya bukan kepalang. Apalagi saat jam makan siang. Orang makan, pergi, datang lagi, makan, pergi, datang lagi, dan seterusnya. Saya heran, warung ini menjual makanan apa sih?
Kata Haha, harganya juga lumayan murah, harga mahasiswa.
Warung Vien's ini menyambut kita dengan jejeran bungkusan 'sesuatu' yang ditata sedemikian rupa di sebuah meja panjang, dan di belakangnya terdapat sebelanga besar kuah panas berwarna merah kecoklatan yang mengepul. Aromanya sungguh baru bagi saya.
Saya mendongak mengamati menu-menu yang dipasang di dinding. Ada Selat Segar, Sup Matahari, Sup Manten, Sup Macaroni, waaah, apa ya itu? Dan saya ajak supaya temen-temen dari UNS memesan makanan yang berbeda-beda sehingga saya bisa icip-icip satu per satu.
He-he-he.
Wah, ternyata Selat Solo tuh semacam salad berkuah ya. Ada potongan-potongan besar kentang, wortel, buncis, acar mentimun dan telur bacem. Kuahnya segar.
Dan harganya?
Hanya 5,500 rupiah saja!
Aduhai. Murah tur wareg, murah dan kenyang, batin saya.
Dan setelah puas icip-icip Sup Matahari, Sup Manten dan Sup Macaroni milik mereka bertiga, walhasil saya kekenyangan bukan kepalang.
Tepat saat kami sampai di Balapan, kereta sudah datang.
Ah, selamat tinggal Selat Solo!


***
Salah satu daftar tempat yang harus saya kunjungi saat saya pergi jalan-jalan ke luar Jogja adalah mencari batik setempat dan membeli satu-atau-dua. Nah, saat saya ke Solo (lagi) yang kali ini bersama Greg naik sepeda motor, dan kami sempat mampir membeli Selat Solo (lagi), saya mengajak Greg untuk mengunjungi Kampung Batik Laweyan. Sekedar mampir dan melihat-lihat, siapa tahu ada yang cocok untuk dibeli.
Saat kami sampai di Laweyan, hari hampir magrib dan kami tak tahu kalau toko-toko batik di kampung itu akan tutup semua saat magrib. Saya kira sampai malam. Jadilah saya masuk ke salah satu butik batik yang masih buka, yaitu Laweyan Putra.
Ada satu gaun batik biru yang sungguh cantik, dan saya sudah hendak membelinya, tapi sampeyan tahu? Saya harus gigit jari, saat saya hendak mencoba di kamar pas, retsleting gaun tak bisa ditutup!
Gila! Saya ini kenapa jadi tambah melar begini ya?
Karena tak mendapatkan apa-apa, saya lalu melenggang keluar mencari hawa. Sungguh mencoba baju yang terlalu kecil dua kali di tubuh membuat berkeringat sangat!
Saya melenggang di depan butik dan menemukan semacam kedai kayu yang suasananya tempo doeloe sekali.
Saya masuk dan menemukan dua botol ini!
Wah! Seperti menemukan harta karun saja rasanya.
Ada dua botol yang menyita perhatian saya: botol hijau bertuliskan 'temulawak' dan botol berbentuk 'jipang' dengan label 'sarsaparilla'.
Langsung saya pesan dua-duanya!
Wah, segar sekali!
Saya lebih suka sarsaparilla.
Greg lebih suka temulawak.
Untunglah, karena temulawak untuk menambah nafsu makan, kalau saya minum banyak temulawak, sampeyan bayangkan saja badan saya pasti tambah besar!
Satu botol temulawak berharga hanya 3,000 rupiah saja, tapi kalau mau membawa pulang botolnya menjadi 5,000 rupiah. Sedangkan si sarsaparilla seharga 5,000 rupiah, dan kalau dibawa pulang agak lebih mahal, 8,000 rupiah. Saya beli masing-masing dua.
Saya pajang botol-botolnya di atas lemari es sekarang, bersamaan dengan patung Ganesha dari India Selatan, patung Maria Lourdes dari Pohsarang Kediri, serta patung kepala Buddha dari Mumbai.


***
Milas.
Restoran vegetarian favorit saya dan Greg. Dan kali ini saya kesana tidak dengan Greg, tapi dengan Mbak Idha dan Mas Danto.
Sebelum berangkat, mendung terlihat bergulung di langit selatan. Saya mengayuh sepeda saya dari Nagan Lor menuju Prawirotaman cepat-cepat. Saya tak mau kehujanan sebelum saya makan. Rencananya kami akan bertemu, makan siang dan membicarakan beberapa hal.
Dan sesegera saya memesan menu, semangkok Sop Labu, dan beberapa kudapan lainnya. Sedikit tips kalau makan di Milas, karena mereka baru memasak kalau kita pesan, maka nunggunya agak lama, jadi saya biasanya punya menu favorit yang langsung teringat di kepala, tak perlu buka-buka buku menu lagi karena beberapa menu sudah hapal di luar kepala. Ah! Saat pesanan kami datang, saya sampai bingung mau makan yang mana, dan bagaimana. Ha-ha-ha!

No comments:

Post a Comment

terimakasih ya sudah mampir dan menyapa kurakurakikuk :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...