Thursday, December 22, 2011

Riwayat Si Air Ketjil

Setelah kepergian Angin Ketjil yang begitu menyesakkan, saya masih berpikir-pikir ulang untuk memelihara anjing lagi.
Saya masih berkabung.
Namun, saat pada suatu hari, satu minggu setelah penguburan Angin Ketjil, tepat pada tanggal 22 November 2011, saya dikejutkan dengan selarik sms singkat dari Greg:
'pulanglah ke rumah, ada anjing kecil, hitam putih, seperti panda'.
Respon saya waktu itu adalah tertawa terbahak-bahak.
Saya bilang, ah kamu halusinasi, tak ada anjing kecil di rumah.
Tapi Greg tetap bersikeras agar saya menengok rumah.
Jam 2 siang saya bergegas pulang. Tak ada siapa-siapa. Rumah kosong. Greg beberapa saat kemudian pulang. Dan memang tak ada siapa-siapa.
Hanya ada genangan-genangan air entah dari mana datangnya.
Ya. Air. Kubangan-kubangan kecil hampir di setiap sudut.
Di bawah meja. Di dekat pintu. Di bawah jendela.
Saya sebenarnya punya firasat, mungkin memang ada anjing kecil tadi, sebelum saya pulang, saat Greg mampir sebentar.
Kami segera melupakan peristiwa itu dan saya terus mengolok-olok Greg karena ia berhalusinasi tentang anjing warna panda yang sebenarnya tak ada.
Dan saat maghrib tiba, Greg ke depan untuk menutup pintu. Beberapa detik kemudian saya mendengarnya berteriak: cepat ke sini, Nok!
Dan voila, di sanalah, di dalam kardus kecil yang sudah miring, seekor anjing kecil putih berwarna panda dengan perut gembul memandang kami dengan matanya yang sedih. Alas kardusnya sudah basah kuyup. Bau pesing. Spontan langsung saya gendong ia yang merengik kelaparan. Ah! Kami langsung berpandang-pandangan:
Air Ketjil sudah tiba!
Jadilah kami cukup disibukkan dengan kedatangan si Air Ketjil yang tiba-tiba karena kami masih was-was dengan perkataan dokter bahwa kami seharusnya punya anjing baru lagi paling tidak satu bulan setelah kepergian Angin Ketjil.
Akan tetapi, karena kami hendak pindahan ke rumah baru, hal tersebut tidak akan menjadi masalah.
Jadilah, Air Ketjil masuk dalam teritori kami berdua.
Air, begitu kami biasa memanggilnya, sangat berbeda dengan Angin.
Ia sangat doyan makan, perutnya hampir menyentuh tanah, dan tak suka tidur dengan kami. Ia lebih suka berlari-lari ke sawah mengejar kadal atau ayam, lalu berbaring di atas tanah yang berumput sambil bercanda dengan anak-anak kampung. Air bahkan punya tempat persembunyian rahasianya di gerumbul rimbun daun-daun lebar yang merapat tepat di samping rumah kami.
Ehm, anehnya, Air suka sekali masuk ke lemari es! Ia menikmati 'mampir' sebentar berbaring di lemari es yang sejuk. Dan setiap saya membuka pintu kulkas, ia selalu merengik berharap agar saya mengijinkannya masuk ke dalam dan berleha-leha di sepoi-sepoi udara sejuknya. Saya hanya mengijinkannya satu kali saja! :)
Silahkan berkenalan dengan Air Ketjil, dan mampir ke rumah kami :)
Menikmati sepoi udara kulkas.
Pose tidurnya setiap malam.
Adik saya,  Nuna, dengan Air.
Saya dan Air di depan mural ketjilbergerak dan MementoMori.

No comments:

Post a Comment

terimakasih ya sudah mampir dan menyapa kurakurakikuk :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...