Thursday, December 8, 2011

Momen Tumpah Ruah!

Hanya ada beberapa momen saja saat warga Jogja tumpah ruah di jalan-jalan. Selain malam minggu yang selalu padat di kawasan Malioboro dan 0 kilometer, momen Tahun Baru adalah saat lautan manusia memenuhi jejalanan, mendesak, saling menyikut, dan kruntel-kruntel. Ingin melihat kembang api yang dimekarkan di langit malam.
Selain malam Tahun Baru, perayaan Grebeg Maulud atau pembukaan Sekaten juga merupakan momen yang membuat jalanan penuh dengan orang-orang yang ingin ngalap berkah.
Baru-baru ini, perayaan Jogja Java Carnival yang baru dilaksanakan dua kali juga turut menjadi even tahunan yang menyedot banyak massa yang tumpah ruah di jalanan. Siap-siap kaki pegal dan uyek-uyekan.
Karena rumah keluarga saya cukup dekat dari Malioboro, hanya 5 menit jalan kaki saja sudah sampai, jadilah sejak kecil saya tak pernah melewatkan 'momen tumpah ruah' mulai dari Parade Senja, malam Tahun Baru, Grebeg Maulud, Sekaten bahkan Sholat Idul Fitri. Kami akan berjalan kaki beramai-ramai, kadang satu kampung berduyun-duyun, beramai-ramai.
Saya masih ingat tentang Parade Senja. Ketika genderang dan drum ditabuh, terompet ditiup dan barisan pemuda-pemuda tegap memenuhi jalanan. Saya masih empat atau lima tahun waktu itu. Suka mengamati orang-orang yang berjubel.
Dan beberapa waktu yang lalu, saat ada perhelatan Royal Wedding dari putri Sultan, saya merasa de javu. Kerumunan orang-orang yang tumpah ruah selalu mengingatkan pada masa-masa kecil saya bersama keluarga, saling berdesak-desakan, kaki terinjak-injak, perasaan tak aman karena tubuh saya kecil dan pendek padahal saya 'dikepung' oleh orang-orang yang menjulang, dan perasaan was-was kalau ada yang 'nakal' melakukan hal-hal 'tak sopan' di belakang tubuh kita. Dan sore itu, saat saya, Greg dan Meita memutuskan untuk ikut dalam 'momen tumpah ruah' ini, wow, saya benar-benar merasa terlempar kembali ke masa-masa saat saya kecil dan digandeng oleh ayah saya. Didesak, disikut, diinjak, didorong-dorong, dipepet. Kruntel kruntelBau keringat dan udara sore yang panas menjadi bumbunya.
Hanya bisa melihat tombak-tombak walau sudah berjinjit-jinjit.
Hanya sekelebatan saja yang terlihat.
Saya hanya bisa mendongak.
Sungguh, inilah momen saat menjadi orang pendek sangat terasa!
Saya sama sekali tidak bisa melihat apa-apa, hanya punggung orang-orang yang di depan saya. Bahkan melihat si pengantin laki-lakinya saja hanya sekelebatan mata. Saya hanya bisa melihat langit. Mendongak. Sudah berjinjit mati-matian tapi tetap saja hanya bisa melihat tombak-tombaknya saja, atau payung-payungnya saja. Ah!
Maka saat rombongan pengantin kerajaan itu berlalu, kami lalu berlari kencang ke arah Alun-Alun Utara, menghambur dengan massa yang lain, bertumpah ruah lagi, berdesakan lagi, mendorong-dorong lagi, tergencet, terpepet, ting kruwel lan kruntel-kruntel. Pliket.
Saat kami sudah di depan Graha Telkom, massa semakin beringas dan kami tersudut. Tak bisa maju. Tak bisa mundur. Jadi saya hanya berdiri pasrah, mengelap keringat, megap-megap mencari udara, dan mendongak.
Mengamati orang-orang yang menonton.
Melihat langit. Melihat apa yang ada di atas saya. Karena saya tak bisa melihat ke depan, dan kalau melihat ke bawah saya hanya melihat kaki-kaki dan debu-debu. Inilah beberapa hal yang terekam mata saya saat saya hanya punya sedikit kebebasan untuk melihat:
dengan mendongak.
Penjor pertanda ada 'ewuh mantu'.
Bapak ini menyaksikan prosesi arak-arakan dari puncak tower Telkom.
Gila!
Langit di atas Alun-Alun Utara yang penuh dengan layang-layang.

Saat pulang, di depan Museum Kereta Keraton ada banyak burung
layang-layang yang memenuhi langit dan terbang rendah
berputar-putar di atas kami!
Pulang ke rumah.

No comments:

Post a Comment

terimakasih ya sudah mampir dan menyapa kurakurakikuk :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...