Monday, December 26, 2011

Cafe Batavia, Oh!

Setelah pengalaman kami mencicipi Soto Tangkar, kami melanjutkan jalan-jalan kami di Kota Tua. Kami menuju Kompleks Gedung Fatahillah. Sedang ada acara di sana. Tenda-tenda kerucut putih bertebaran,musik keras berdengung di salah satu panggung, udara nyaman, tak begitu panas, semilir angin kencang. Dan perjalanan kami terhenti di sebuah restoran lawas bernama Cafe Batavia.
Wah, ini dulu kafe yang sempat saya cari-cari saat saya dan Romo Antoine berpetualang di seputaran Kota Tua!
Tentu saja, saya langsung ajak Greg masuk dan mencoba mencicipi sesuatu di dalam sana.
Suasana kafe agak lengang siang itu. Hanya ada beberapa pasang bule berumur yang sedang makan siang. Kami menuju lantai dua karena di lantai satu agak gelap.
Waaa...ada tangga merah!
Dan puluhan pigura dengan figur-figur terkenal, bahkan Bung Karno juga ada. Lantai dua ini cukup terang. Ada meja bar besar dengan botol-botol dan gelas-gelas berkilau. Ada satu sudut yang saya suka sekali.
Di pojok ruangan ada satu set meja kursi vintage, dengan bantal-bantal berwarna krem yang terlihat sangat nyaman. Cahaya dari jendela samping membuat atmosfer kafe semakin syahdu. Wah! Sudut yang romantis sekali, batin saya sambil membayangkan suasana tempo doeloe yang terjadi di kafe ini. Oya, apa sampeyan ingin tahu beberapa spot yang sempat saya tangkap dengan kamera Ixus Pinky saya?
Sudut yang cukup syahdu.
Bung Karno di sela-sela puluhan pigura-pigura kayu.
Say: (bun)ciiiiiiiiis!
Ada lampu biru yang sangat vintage yang menerpa wajah saya.
Setelah ruangan ini, kami masuk melewati pintu kayu yang di atasnya ada lampu biru yang sangat vintage sekali. Dan begitu saya masuk, waaaah!
Saya seperti di atas kapal Titanic!
Cafe Batavia, Oh!
Mengingatkan saya pada salah satu scene di film Titanic.
Sudut di lantai dua yang juga saya suka!
Yah, mungkin berlebihan, tapi suasana di lantai dua yang penuh dengan kayu membuat saya teringat akan satu adegan dalam film Titanic. Kami segera memilih tempat duduk, dan melihat buku menu yang sudah lawas. Ck ck ck.
Pilih menu apa ya?
Ditimpa cahaya tengah hari Kota Tua.
Kami memesan menu makanan penutup saja: Panacotta Slice dan Crepes Suzette. Sluuurp! Begitu pesanan datang, air liur saya terbit.
Crepes Suzette: traditional French pancakes with ice cream.
Panacotta Slice: panacotta cheese cake with chocolate ice cream.
Hmm. Cukup oke untuk pengalaman pertama. Saya lebih suka Panacotta Slice daripada crepes-nya. Lembuuuut sekali! Dan setelah berfot-foto ria, saya minta tagihan, dan langsung terdiam beberapa detik. Oh-oh! Ada pajak yang tidak tertera di menu yang harus kami bayar. Tapi tak apa. Pengalaman pertama selalu berharga. Dan tak bernilai.
Jadilah kami meninggalkan Cafe Batavia, menuruni tangga, berdiri sejenak memandangi pigura-pigura kayu, lalu meninggalkan Cafe Batavia yang masih menyimpan aroma masa lalu. Kami lalu berjalan lagi. Menyusuri lorong-lorong Kota Tua di tengah-tengah terik mentari Jakarta.
Memori di Cafe Batavia.

3 comments:

  1. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  2. Happy new year, 5 tahun yang lalu aku kesana, ternyata kafe Batavia tetap eksis ya, for me there were nothing really special in the menu, but the big stairs, ambience, vintage decorations, even the toilet really makes me feel welcomed, dan waktu itu sempat berpikir " asik juga kalo bisa wedding disini" ahahahhaaa, nice posttttt as alwaysss

    ReplyDelete
  3. hai hai Mbak Cintaaaa :D
    HAPPY NEW YEAR JUGAAA :D

    waaaah, aku malah nggak sempat ke toiletnyaaaa :(
    huhuhuhuhu...tengkiu sistaaa :-* mwah!

    ReplyDelete

terimakasih ya sudah mampir dan menyapa kurakurakikuk :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...