Wednesday, November 23, 2011

A Tribute to Angin Ketjil

Seperti sebuah luapan rasa rindu yang tiba-tiba menyulut waktu, saya mencoba menuliskan huruf-huruf elektrik dan merangkai beberapa kalimat setelah sekian lama tak menulis di ruang ini.
Saya rindu sekali dengan Angin Ketjil.
Ya.
Angin Ketjil.
Seekor bayi Basenji mungil yang sempat mengisi hari-hari saya, melatih kesabaran seorang ibu dan menyentuh rasa saya yang terdalam, bahwa kehilangan yang kita cintai selalu menyisakan rongga, yang kadang terasa perih dan menuntut derai airmata.
Ah.
Sungguh saya rindu dengan Angin Ketjil!

***
Angin Ketjil.
Tiba di rumah dalam sebuah kardus kecil pada tanggal 30 Oktober pagi, saat rumah masih sepi, dan kami belum tahu hendak diberi nama siapa. Yang terlintas dalam benak adalah Ketjil, itulah nama panggilannya. Namun tiba-tiba, saat kardus itu saya letakkan di lantai, tiba-tiba ada angin besar berhembus. Hembusannya kuat, seperti menderu, bergulung, dan menghembus selama beberapa menit. Menuju lorong, menerpa kami, dan saat pandangan mata saya bertemu dengan mata bulat bening hitam milik Basenji kecil yang tak pernah menggonggong, saya sudah tahu, siapa namanya:
Angin Ketjil.
Ia datang bersama angin.
Menyapa relung saya hanya dengan pandangan jernih bulat bola matanya, bulunya yang lembut, dan keheningannya: sungguh ia tak pernah menggonggong!
Dan saat itulah saya sudah jatuh cinta dengan si Ketjil.
Kami memberinya kalung merah dengan lonceng kecil merah putih agar kami tahu di mana ia berada karena ia begitu tenang, tak bersuara, seperti kucing.
Ketjil suka mengikuti langkah kaki saya ke dapur, ke kamar mandi, bergelung di selimut saya saat saya beranjak tidur, merengik kecil saat ia ingin dibukakan pintu karena ia ingin pipis di luar. Dan setiap pagi, Ketjil selalu membangunkan kami, dan melompat-lompat mengajak kami ke alun-alun untuk berlari-lari. Kerincing lonceng kecilnya selalu terdengar saat ia mengejar dedaunan kering yang terbang. Ia selalu berkejaran bersama angin. Mengejar angin. Dan berdansa bersamanya. Dan saya selalu ada di sana, menyongsongnya, membuka lebar-lebar tangan saya dan memeluknya erat saat ia menghampiri saya dengan matanya yang hitam bulat bening dan kerincing loncengnya.
Namun, saat ia mulai batuk-batuk dan nafsu makannya menurun, kami mulai khawatir.
Kami bawa Ketjil ke rumah sakit.
Ketjil belum vaksin, jadi kami pikir ia harus divaksin, tapi kata dokternya, kami harus menunggu hingga 20 hari sebelum divaksin. Dan Ketjil pun diberi vitamin dan makanan tambahan. Ia tampak mulai sehat.
Tapi, apa yang tampak mata kadang bisa menipu.
Andai saya tahu dari awal. Ah!
Saat itu kami bersiap-siap hendak ke Jakarta, dan sehari sebelum keberangkatan kami, Ketjil mulai berbeda. Ia sangat manja dan selalu ingin dipeluk dan dibelai. Ia tak mau kami tidur sebelum ia berbaring di tengah-tengah kami. Ia selalu menempelkan dagu kecilnya ke leher saya, atau kadang ia bergelung di dekapan lengan saya, dan ia selalu melihat saya dalam-dalam dengan mata bulatnya yang hitam bening. Seakan hendak berkata sesuatu tapi ia percaya, dan saya percaya, bahasa mata sudah bicara terlalu banyak. Dan rasa sayang saya semakin berlipat-lipat.
Dengan berat hati kami menitipkan Ketjil di rumah keluarga Greg di desa selatan Jogja, yang masih asri dan penuh dengan sentuhan alam.
Saat di Jakarta, ada satu malam yang membuat saya tersentak, suara Ketjil datang ke kamar tempat saya tidur beserta kerincing lonceng kecilnya.
Tiba-tiba saja saya merasa ia sedang membutuhkan saya.
Kami menelpon Jogja dan mendapat kabar Ketjil sakit dan tak mau makan. Kami sepakat untuk mempercepat kepulangan, demi Ketjil.
Dan pagi itu, setelah malam-malam panjang di kereta dan tidur yang tak nyenyak, kami sampai di Stasiun Tugu dan langsung bertolak ke selatan Jogja. Kami bawa Ketjil, saya selimuti, langsung kami bawa ke rumah sakit.
Dan hati saya pecah saat dokter berkata umurnya hanya tinggal 4 hari lagi.
Saya menangis diam-diam.
Saya usap lembut Ketjil dan berkata pelan,
'kamu baik-baik saja, sayang, kamu pasti bisa bertahan'
Dokter menyarankan untuk rawat inap, dan kami mengangguk setuju.
Ketjil membutuhkan perawatan intensif dan kami bisa menengok setiap hari.
Hingga suatu siang saya mendapat pesan singkat dari Greg:
'Ketjil sudah tidak bisa duduk, Nok'
Saya langsung berangkat ke rumah sakit. Saya tiba saat Ketjil sudah lemah dan hanya bisa menatap saya dalam-dalam.
Greg tak kuasa melihat.
Hanya saya dan dokter. Saya dampingi Ketjil hingga nafasnya yang terakhir.
Di ujung hidupnya, ia melihat kepada saya dalam-dalam,
dan menggonggong!
Satu kali.
Lalu ia rebah. Tak bergerak lagi.
Saya menangis dalam diam.
Saya elus kepala mungilnya dalam-dalam, saya pejamkan mata kecilnya yang masih bersinar, dan saya atur tidurnya agar nyaman.
Pipi saya basah. Sangat basah.
Dan saat saya keluar dari ruangan dan bertemu Greg, mata kami sama-sama merah dan basah. Kami berangkulan. Saling menguatkan.
Tiba-tiba, angin besar berhembus.
Di sela-sela kaki kami. Lalu meniup anak-anak rambut saya.
Angin menghembus lagi untuk kedua kali, dan hilang.
Kami berpandangan.
Angin Ketjil baru saja lewat dan mengucap salam perpisahan kepada kami.
Saya bisa merasakan kehadirannya.
Mata saya basah lagi.
Dan saat pemakaman tiba, saya masih belum percaya Ketjil pergi begitu cepat. 
Kami berdoa sejenak sebelum tubuh mungil Ketjil beristirahat untuk selama-lamanya.
Saya menunduk dalam-dalam memandang gundukan kecil tanah merah yang dihiasi bunga-bunga.
Saya menangis lagi, diam-diam.
Saya berkata:
Ketjil, kamu sekarang sudah tenang, bahagia, dan bisa berlari-lari sepuas hati mengejar dedaunan yang beterbangan di surga.
Menarilah bersama angin, Ketjil!
Berdansalah!
Karena kini kau tak berbatas.
Menjadilah abadi dalam kenangan-kenangan kami!
Kami sangat mencintaimu... Selalu.
Selamat jalan, Angin Ketjil....

2 comments:

  1. huhuhu...habis baca story mu ttg air n angin bkn q mewek2... suerr...q slm hdp juga sll ditemeni binatang peliharaan...kucing n anjing...prnh juga kehlangan mrk... rasanya... kyk ptah hati...
    Mrk adalah tmn paling tulus dan setia...

    ReplyDelete

terimakasih ya sudah mampir dan menyapa kurakurakikuk :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...