Wednesday, November 30, 2011

Pesta Polaroid #2

Masih tentang polaroid.
Kali ini saya mau berbagi tentang beberapa kisah tentang perjalanan, pencarian, menemukan persinggungan-persinggungan yang indah.
Dan kadang sebuah potret telah berbicara banyak.
Tanpa harus ada ungkapan verbal.
Dan saya membubuhkan sedikit kata-kata pada polaroid-polaroid ini, sebagai sebuah pengingat akan kenangan-kenangan yang ditangkap oleh waktu.
Yogyakarta - pada sebuah pagi, derai, derum dan derap

 Bali - pada pantai, langit dan pasir-pasirnya yang bergerinjil

Pada semangkok, sepiring, sesuap kebersamaan di meja makan

Candi - pada hening bebatuan purba dan sunya semesta
Jakarta - pada jelujur pencakar langit, dermaga tua dan masa kini

*bersambung*

Tuesday, November 29, 2011

Pesta Polaroid #1

Saya suka sekali dengan polaroid.
Dulu waktu saya masih kecil, paman saya pernah membawa pulang ke rumah kamera polaroid hitam yang cukup berat untuk tangan mungil saya.
Dan saya selalu takjub saat ada kertas keluar dari 'mulut' si polaroid, dan kita harus menunggu beberapa waktu, mengibaskannya ke udara, lalu perlahan-lahan akan ada keajaiban muncul di kertas yang semula putih kosong itu:
abrakadabra!
Ada gambar muncul perlahan-lahan di atasnya!
Ah!
Saya sungguh rindu dengan kamera polaroid!
Hingga akhirnya saya punya ide untuk menampilkan beberapa foto terbaik yang pernah saya jepret, lalu saya sulap seperti foto polaroid!
Mau melihat beberapa?
Saya akan membaginya untuk sampeyan malam ini :)

*bersambung*

Monday, November 28, 2011

Tarot Deidra

Beberapa waktu yang lalu, saya 'dibaca' dengan kartu Tarot oleh seorang gadis enerjetik yang suka menggambar dan bersepeda, Deidra Mesayu
Ini kali pertama saya 'dibaca' dengan kartu-kartu berjumlah 78 lembar ini. Dan di siang hari yang cukup terik mendung itu, Dey, panggilan Deidra siap 'membaca' saya dengan kartu tarotnya yang bergambar kurcaci-kurcaci kecil dengan berbagai pose.
Sebelum memulai pembacaannya, Deidra terlebih dahulu menjelaskan tentang asal-usul Kartu Tarot, bagaimana peraturannya, lalu saya diminta untuk mengocok kartu selama yang saya mau, lalu Dey akan menyusunnya dalam rangkaian panjang dan ia meminta saya mengajukan pertanyaan-pertanyaan.
Ah.
Saya agak malu sebenarnya, karena pertanyaan-pertanyaan saya cukup pribadi, tapi karena saya belum pernah melakukan hal ini sebelumnya dan hey, kenapa tidak saya coba?
Jadilah saya mengajukan pertanyaan pertama saya.
Dan Dey meminta saya untuk mengambil secara acak 4 kartu dengan tangan kanan.
Oke, jadi kata Dey, kadang-kadang ada pertanyaan yang membutuhkan untuk diambil dengan tangan kiri atau tangan kanan atau bisa kedua-duanya. Jumlah kartu yang diambil pun juga tergantung pertanyaannya. Kadang sebuah pertanyaan hanya membutuhkan satu kartu, atau malah delapan kartu sekaligus.
Jadilah kami asyik dengan pertanyaan-pertanyaan, pembacaan-pembacaan, dan saya sempat sibuk juga mengamati gambar-gambar kurcaci yang tertera di Kartu Tarot Deidra.
Ada yang menarik di sana.
Simbol-simbol yang dipakai di kartu terkadang bisa membuat saya menahan napas atau menepuk dahi.
Seperti misalnya saat gambar seorang kurcaci perempuan berperut besar dan di atasnya bertuliskan 'PREGNANCY'. Waduh!
Saya sudah mikir yang enggak-enggak, hahaha!
Padahal artinya bukan tentang kehamilan.
Deidra berkata kalau pembacaannya biasanya tepat 80%, sedangkan gurunya bisa tepat 100%, dan saya membuktikannya saat saya mengajukan pertanyaan tentang pekerjaan saya, dan yang muncul adalah gambar seorang kurcaci berjenggot lebat yang sedang mengendarai kereta kayu yang ditarik oleh dua ekor kelinci yang gemuk-gemuk. 
Ah! Lagi-lagi saya meringis.
Saya sempat bertanya, kapan saya berhenti mengajukan pertanyaan.
Dan Dey menjawab, terserah, karena ia bisa saja 'membaca' saya hingga seluruh kartunya habis terbuka.
Dan saya tersenyum lebar, oke kalau begitu, mengapa tidak?
Akhirnya, menit demi menit berlalu, saya terus mengajukan pertanyaan, dan Dey terus membuka-buka kartu.
Kami kadang tertawa terbahak-bahak, dan kadang saya merengut saat memandang gambar-gambar yang muncul.
Dan siang itu, kami berdua bisa menyelesaikan sesi membaca Kartu Tarot hingga benar-benar selesai!
Semua kartu selesai dibaca.
Semua kartu sudah terbuka.
Dan semua pertanyaan sudah terjawab.
Butuh hampir dua jam lebih untuk 'membaca' saya siang itu. Dan saat melihat Deidra, saya langsung tahu kalau ia lapar berat! :)
Tarot-tarot Deidra.
PS: Makasih ya, Deidra! :)

Thursday, November 24, 2011

Sebuah Sudut Riuh di Sana

Kecil, lembut, tak berdaya.
Bola-bola kecil lembut berwarna-warni ini berkeciap riuh
di balik jeruji. Kasihan.
Ah, saya jadi ingat film 'Rio'.
Siapa memperhatikan siapa?
Ah, sama-sama kecil. Di luar dan di dalam.
Jangan kau pandangi aku terus, Nak.
Aku bukan tontonan. Belailah aku.
Beri aku usapan kecil. Dan tepukan hangat bersahabat.
Banyak anak anjing yang membutuhkan belaian.
Ah, lucunya kau, Nak.
Angin Ketjil dan saya.
*a memoir*
gambar oleh Deidra Mesayu.

Wednesday, November 23, 2011

A Tribute to Angin Ketjil

Seperti sebuah luapan rasa rindu yang tiba-tiba menyulut waktu, saya mencoba menuliskan huruf-huruf elektrik dan merangkai beberapa kalimat setelah sekian lama tak menulis di ruang ini.
Saya rindu sekali dengan Angin Ketjil.
Ya.
Angin Ketjil.
Seekor bayi Basenji mungil yang sempat mengisi hari-hari saya, melatih kesabaran seorang ibu dan menyentuh rasa saya yang terdalam, bahwa kehilangan yang kita cintai selalu menyisakan rongga, yang kadang terasa perih dan menuntut derai airmata.
Ah.
Sungguh saya rindu dengan Angin Ketjil!

***
Angin Ketjil.
Tiba di rumah dalam sebuah kardus kecil pada tanggal 30 Oktober pagi, saat rumah masih sepi, dan kami belum tahu hendak diberi nama siapa. Yang terlintas dalam benak adalah Ketjil, itulah nama panggilannya. Namun tiba-tiba, saat kardus itu saya letakkan di lantai, tiba-tiba ada angin besar berhembus. Hembusannya kuat, seperti menderu, bergulung, dan menghembus selama beberapa menit. Menuju lorong, menerpa kami, dan saat pandangan mata saya bertemu dengan mata bulat bening hitam milik Basenji kecil yang tak pernah menggonggong, saya sudah tahu, siapa namanya:
Angin Ketjil.
Ia datang bersama angin.
Menyapa relung saya hanya dengan pandangan jernih bulat bola matanya, bulunya yang lembut, dan keheningannya: sungguh ia tak pernah menggonggong!
Dan saat itulah saya sudah jatuh cinta dengan si Ketjil.
Kami memberinya kalung merah dengan lonceng kecil merah putih agar kami tahu di mana ia berada karena ia begitu tenang, tak bersuara, seperti kucing.
Ketjil suka mengikuti langkah kaki saya ke dapur, ke kamar mandi, bergelung di selimut saya saat saya beranjak tidur, merengik kecil saat ia ingin dibukakan pintu karena ia ingin pipis di luar. Dan setiap pagi, Ketjil selalu membangunkan kami, dan melompat-lompat mengajak kami ke alun-alun untuk berlari-lari. Kerincing lonceng kecilnya selalu terdengar saat ia mengejar dedaunan kering yang terbang. Ia selalu berkejaran bersama angin. Mengejar angin. Dan berdansa bersamanya. Dan saya selalu ada di sana, menyongsongnya, membuka lebar-lebar tangan saya dan memeluknya erat saat ia menghampiri saya dengan matanya yang hitam bulat bening dan kerincing loncengnya.
Namun, saat ia mulai batuk-batuk dan nafsu makannya menurun, kami mulai khawatir.
Kami bawa Ketjil ke rumah sakit.
Ketjil belum vaksin, jadi kami pikir ia harus divaksin, tapi kata dokternya, kami harus menunggu hingga 20 hari sebelum divaksin. Dan Ketjil pun diberi vitamin dan makanan tambahan. Ia tampak mulai sehat.
Tapi, apa yang tampak mata kadang bisa menipu.
Andai saya tahu dari awal. Ah!
Saat itu kami bersiap-siap hendak ke Jakarta, dan sehari sebelum keberangkatan kami, Ketjil mulai berbeda. Ia sangat manja dan selalu ingin dipeluk dan dibelai. Ia tak mau kami tidur sebelum ia berbaring di tengah-tengah kami. Ia selalu menempelkan dagu kecilnya ke leher saya, atau kadang ia bergelung di dekapan lengan saya, dan ia selalu melihat saya dalam-dalam dengan mata bulatnya yang hitam bening. Seakan hendak berkata sesuatu tapi ia percaya, dan saya percaya, bahasa mata sudah bicara terlalu banyak. Dan rasa sayang saya semakin berlipat-lipat.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...