Wednesday, September 14, 2011

Tabik untuk Elida!

(gambar diambil dari komunitasfilm.org)
Sebuah sore.
Kemarin. Tanggal 13 September.
Saya terbaring lemas di lantai beralas tikar bambu. Listrik baru saja padam.
Dan saya terdiam dalam gelap.
Di saat itulah saya mendapat sms dari teman saya, kalau Elida sudah tiada.
Ah!
Saya tersentak. Begitu cepat dan tiba-tiba, pikir saya.
Ingatan saya langsung membuka dengan cepat, memutar ulang rekaman-rekaman pengalaman saya dengan Elida.

2006: John Pilger, Tato dan Air Putih
Saya masih kuliah semester awal dan punya banyak energi untuk melakukan apa saja. Waktu itu, saya masih ingat, pada sebuah siang yang terik, saya terhenti di sebuah rumah aneh yang gelap penuh dengan drum-drum dan kursi dari ban mobil di bilangan Tirtodipuran. Sepi. Hanya ada derum suara kendaraan berseliweran dan angin yang meniup beberapa tempelan poster yang mengelupas pojok-pojoknya.
Saya memberanikan diri masuk, melihat-lihat, dan langsung tertarik karena ada pemutaran film-film yang baru saja saya baca dari jurnal-jurnal independen milik beberapa teman aktivis kampus. Salah satunya adalah film John Pilger. Saya catat segera jadwal pemutarannya, dan ups, mata saya tertumbuk pada kertas coklat bertuliskan "Dicari: Freelance Guide Via Via!"
Hmm, menarik juga. Saya catat nomor kontak dan ini dan itu, dan tiba-tiba ada suara di belakang saya.
Ah! Saya terkaget-kaget. Ada seorang laki-laki tinggi yang keluar dari dalam rumah. Ia berkata, masih tutup Mbak, pemutaran nanti malam.
Saya lalu mendekat dan kami mengobrol barang sepuluh menit. Saya bertanya ini dan itu, tentang film, tentang menulis, lalu tentang ingin bergabung.
Dan laki-laki itu menjawab: nanti malam kesini aja Mbak, bisa langsung ngobrol dengan Elida.
Saya mengangguk.
Saya belum pernah ketemu dengan seorang-yang-bernama-Elida dan saya niati untuk datang malam nanti, bertemu sambil nonton filmnya John Pilger.
Malam datang.
Saya dengan Greg bergegas ke Tirtodipuran.
Dan di sanalah saya bertemu dengan Elida.
Segar baru saja mandi, dengan memakai tank top hitam, kulit putih, rambut cepak, dan saya melirik, ada tato di lengannya.
Kami berbincang tentang ini dan itu, dan saya utarakan ketertarikan saya untuk bergabung, dan akhirnya kami nonton John Pilger bareng-bareng.
Saya duduk di atas kursi ban dengan Greg, dan ia nangkring di salah satu tong drum di pojok ruangan.
Ada daftar menu di meja depan saya, dan saya masih mahasiswa miskin yang tak punya uang saku harian. Jadi, begitu melirik harga yang di atas lima ribu, saya bilang ke mas waiter, Mas, boleh minta air putih?
Saya nyengir merasa bersalah karena hanya pesan air putih yang gratisan.
Dan Elida geleng-geleng kepala dari pojok ruangan.

2006, 2007, 2008, 2009: Tirtodipuran - Kotabaru 1 - Kotabaru 2
Saya selalu mengikuti kemana Kinoki pindah.
Saat di Tirtodipuran, saya sering mampir untuk melihat film-film baru, berdiskusi dengan beberapa seniman film, atau sekedar duduk membaca.
Saat Elida memutuskan untuk memindah Kinoki ke Kotabaru samping Gramedia, saya juga sering kesana, mencoba untuk memesan menu yang tidak gratis lagi karena saya sudah keterima jadi freelance guide di Via-Via. Dan ngobrol tentang film, tentang komunitas, tentang gerakan, bertemu dengan teman-teman komunitas lain, dan selalu saya menyelipkan lembar-lembar ketjilbergerak di meja depan tempat orang bisa mengambil gratisan.
Ketika Kinoki pindah lagi ke Kotabaru yang sekarang menjadi Kafe Semesta, saya juga sering kesana, menonton beberapa pertunjukan musik, pemutaran gratis atau sekedar nongkrong.
Dan Elida selalu ada di sana.

2010: Q!FF, Kinoki, dan Polisi
Tibalah Kinoki berpindah lagi, dari Kotabaru 2, ke daerah Brongtokusuman, lalu yang terakhir di daerah sekitar Jalan Parangtritis, saya lupa nama kampungnya, masuk ke sebuah gang dengan Circle-K sebagai ancer-ancer di mulut gangnya. Saya kebetulan terlibat dalam Q! Film Festival dan mendapat jatah bermarkas di Kinoki karena waktu itu pemutaran Q!FF mendapat sorotan dari beberapa ormas agama fundamentalis yang membuat kami semua kucing-kucingan demi tetap memutar film-film festival.
Jadilah saya nongkrong di Kinoki yang ada mesin cuci besar di ruang depan, yang kata Elida: Mari Mencuci Ton!
Ah! Saya lalu teringat dengan malam-malam tegang, saat Kinoki dipaksa untuk menurunkan segala macam pamflet dan poster yang berhubungan dengan Q!FF dan polisi mulai berdatangan mengecek Kinoki seolah-olah ia menyembunyikan penjahat kelas kakap di dalamnya.
Dan saat polisi berusaha untuk menutup Kinoki sebagai tempat pemutaran film, saat itulah Elida bersuara. Ia tetap mempertahankan Kinoki.
Dan saat ada Festival Film Asia-Afrika di Bandung selang dua minggu setelah Q!FF, kami bertemu lagi dalam kereta dan bis yang membawa kami ke Bandung. Saat kami tiba di hotel, Elida tak masuk. Ia membawa tasnya dan hendak beranjak. Saya bertanya, mau kemana.
Ia menjawab:
Aku mau ke rumah temenku aja daripada di hotel. Aku mau tidur.
Dan setelah itu kami tak bertemu lagi.
Hingga sore ini, saat saya masih terhenyak.
Memandangi tulisan elektrik di layar ponsel dan mengingat semua rekam balik tentang pertemuan-pertemuan saya dengan Elida.
Satu kata terakhir yang selalu menutup tulisannya untuk setiap newsletter Kinoki: Tabik!
Ya.
Tabik untuk Elida!

5 comments:

  1. Pasti elida tersenyum bahwa ternyata teman-temannya begitu peduli dan sayang sama dia..begitu banyak simpati yang ditunjukkan teman-teman buat Elida..Elida kaya dengan cinta dan sayang dari orang-orang yang telah mengenalnya..Hebat kan Van??

    ReplyDelete
  2. iya Mbak Romdie :)
    aku selalu terkenang-kenang dengan pertemuan pertama itu...dan saat di Kinoki itulah pertama kalinya aku melihat lowongan di ViaVia..hiks..
    Elida sudah bahagia di surga, Mbak...
    heaven is much more better for her! :)
    *only the good die young*

    ReplyDelete
  3. kalimat penutup kita mirippp. #penting
    dan kita menceritakan orang yang sama.
    Elida bertabur cinta. Dia selalu hidup di memori setiap orang yg mengenalnya.

    ReplyDelete
  4. merinding.... hiks...
    Elida will be missed!

    ReplyDelete
  5. @Jeng Sueb: ya..saya sudah baca juga racauan kematian di blog-mu Mbak...

    @Mbak Ria: i agree, hiks :'(

    ReplyDelete

terimakasih ya sudah mampir dan menyapa kurakurakikuk :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...