Thursday, September 15, 2011

Tentang Sesuatu yang ketjil dan Akan Terus bergerak...

Kali ini saya akan bercerita tentang ketjilbergerak.
Banyak sekali yang bertanya-tanya kepada saya, apa sih ketjilbergerak?
Setiap ada pertanyaan itu, saya tersenyum. Karena membicarakan ketjilbergerak sama halnya seperti membicarakan tentang hidup saya, tentang cinta, tentang hubungan-hubungan dan konflik-konfliknya, serta tentang sebuah semangat.
Dan semuanya diawali ketika...
Saya bertemu Greg tahun 2005, saat pertama kali saya menginjakkan kaki ke kampus Sanata Dharma. Saya bahkan hafal harinya.
29 Agustus 2005. Senin.
Saya harus kuliah Pengantar Pendidikan di lantai 2. Banyak kakak angkatan yang juga ikut shopper (istilah untuk mengulang mata kuliah yang gagal).
Dan saat itulah saya melihat Greg.
Tepatnya, saya melihat kakinya Greg.
Ya. Sepatu boots hitam. Celana jeans hitam dekil. Dan itu saja.
Karena pandangan saya terhalang oleh salah satu teman saya yang badannya subur. Dan sebelum saya melihat wajahnya, dosen sudah masuk.
Saya langsung ngeloyor duduk di deretan bangku belakang, dan baru saya sadari, sederetan bangku belakang dihuni shopper-shopper angkatan atas, dengan bau asap rokok yang menempel di kerah-kerah baju mereka.
Saya agak pusing.
Saya telungkupkan wajah saya. Tak peduli dengan pelajaran. Saya memang kurang fit. Kecapekan. Dan jika saya kecapekan, asma saya kambuh.
Dan waktu seperti berjalan diperlambat.
Bau rokok masih menguar dan saya semakin pusing, hingga akhirnya saya:
sesak nafas!
Saya lalu beranjak, mencoba berdiri terhuyung-huyung meraih pegangan pintu. Dan GUBRAK!
Saya terjatuh.
Saya jatuh berdebam terduduk di muka pintu. Wajah memerah. Nafas sesak.
Pandangan kabur. Dan saat saya mengumpulkan nafas yang berserakan, tiba-tiba ada seseorang datang, panik, dan berjongkok di hadapan saya.

Wednesday, September 14, 2011

Tabik untuk Elida!

(gambar diambil dari komunitasfilm.org)
Sebuah sore.
Kemarin. Tanggal 13 September.
Saya terbaring lemas di lantai beralas tikar bambu. Listrik baru saja padam.
Dan saya terdiam dalam gelap.
Di saat itulah saya mendapat sms dari teman saya, kalau Elida sudah tiada.
Ah!
Saya tersentak. Begitu cepat dan tiba-tiba, pikir saya.
Ingatan saya langsung membuka dengan cepat, memutar ulang rekaman-rekaman pengalaman saya dengan Elida.

2006: John Pilger, Tato dan Air Putih
Saya masih kuliah semester awal dan punya banyak energi untuk melakukan apa saja. Waktu itu, saya masih ingat, pada sebuah siang yang terik, saya terhenti di sebuah rumah aneh yang gelap penuh dengan drum-drum dan kursi dari ban mobil di bilangan Tirtodipuran. Sepi. Hanya ada derum suara kendaraan berseliweran dan angin yang meniup beberapa tempelan poster yang mengelupas pojok-pojoknya.
Saya memberanikan diri masuk, melihat-lihat, dan langsung tertarik karena ada pemutaran film-film yang baru saja saya baca dari jurnal-jurnal independen milik beberapa teman aktivis kampus. Salah satunya adalah film John Pilger. Saya catat segera jadwal pemutarannya, dan ups, mata saya tertumbuk pada kertas coklat bertuliskan "Dicari: Freelance Guide Via Via!"
Hmm, menarik juga. Saya catat nomor kontak dan ini dan itu, dan tiba-tiba ada suara di belakang saya.
Ah! Saya terkaget-kaget. Ada seorang laki-laki tinggi yang keluar dari dalam rumah. Ia berkata, masih tutup Mbak, pemutaran nanti malam.
Saya lalu mendekat dan kami mengobrol barang sepuluh menit. Saya bertanya ini dan itu, tentang film, tentang menulis, lalu tentang ingin bergabung.
Dan laki-laki itu menjawab: nanti malam kesini aja Mbak, bisa langsung ngobrol dengan Elida.
Saya mengangguk.
Saya belum pernah ketemu dengan seorang-yang-bernama-Elida dan saya niati untuk datang malam nanti, bertemu sambil nonton filmnya John Pilger.
Malam datang.
Saya dengan Greg bergegas ke Tirtodipuran.
Dan di sanalah saya bertemu dengan Elida.
Segar baru saja mandi, dengan memakai tank top hitam, kulit putih, rambut cepak, dan saya melirik, ada tato di lengannya.
Kami berbincang tentang ini dan itu, dan saya utarakan ketertarikan saya untuk bergabung, dan akhirnya kami nonton John Pilger bareng-bareng.
Saya duduk di atas kursi ban dengan Greg, dan ia nangkring di salah satu tong drum di pojok ruangan.
Ada daftar menu di meja depan saya, dan saya masih mahasiswa miskin yang tak punya uang saku harian. Jadi, begitu melirik harga yang di atas lima ribu, saya bilang ke mas waiter, Mas, boleh minta air putih?
Saya nyengir merasa bersalah karena hanya pesan air putih yang gratisan.
Dan Elida geleng-geleng kepala dari pojok ruangan.

Thursday, September 1, 2011

Happy Colorful Lebaran Day!

Wah, tak terasa sudah Lebaran lagi! :)
Saya mengucapkan:
Minal Aidin Wal Faidzin, Mohon Maaf Lahir Batin :)
Dan inilah suasana Lebaran di rumah saya, yang baru saja dicat warna jeruk, sehingga adik saya yang paling kecil menyebutnya dengan Rumah Jeruk!
Dhahar kupat kuah santen,
sedaya lepat kula nyuwun pangapunten :)
Sugeng Riyaya Lebaran!


Nuna-saya-Dea.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...