Wednesday, August 3, 2011

Pagi Bergerimis di Telaga Warna

*lanjutan dari Perjalanan menuju Dieng dan Di Antara Kabut Dieng*

Ya.

Dieng konon berasal dari kata Di-Hyang, persemayaman dewa-dewa.
Terletak 2093 meter di atas permukaan air laut, Dieng Plateau dulunya adalah rumah bagi lebih dari 400-an candi kuno yang dibangun antara tahun 8 hingga 9 Masehi, jauh sebelum Wangsa Syailendra membangun Borobudur.
Ditemukan sekitar tahun 1856 oleh arkeolog Belanda, Van Kisnbergen yang berhasil menemukan 8 candi pemuja Siwa yang masih kokoh berdiri.
Ah.
Saya keduluan orang Belanda!
Dan baru sekarang saya bisa melawat ke candi Hindu tertua di Jawa.

Malam itu kami tiba dengan selamat di Desa Dieng, yang masih ramai dengan seliweran orang dan truk-truk bermuatan sayuran yang terengah-engah di jalan menanjak. Kami segera mencari penginapan.
Dan untunglah kami bisa mendapatkan kamar cukup besar dengan dua tempat tidur dengan harga 60 ribu saja.
Malam membekukan tulang.
Kami berlima berdempet-dempet mencoba tidur dengan hidung kaku.
Meskipun penginapan kami cukup sederhana, tapi yang kami sukai adalah kamar kami mempunyai teras balkon yang bisa untuk duduk berleha-leha keesokan harinya. Seperti inilah pemandangan jam enam pagi yang terlihat dari balkon teras kami.
Masjid di desa ini besar-besar dan megah hasil dari berladang kentang.
Lihat! Ada aurora di belakangnya!
Kami bangun pagi dengan tubuh beku.
Meski gembira melewatkan pagi yang indah di Desa Dieng, kami baru sadar kami kelaparan. Setelah memesan teh panas khas Dieng, kami turun dari balkon dan berjalan keliling desa mencari warung.
Kami mencoba nasi megono yang sungguh lezat dan mengepul panas dengan lauk tempe mendoan yang besar-besar, lalu mengicipi salome, yaitu bola-bola tepung kanji panas besar-besar yang dicelup dalam saos kacang yang sungguh sangat enak dimakan di tengah hawa pegunungan, lalu kami berbagi gethuk, bola-bola ketela tanpa rasa sebesar bola tenis yang sangat mengenyangkan.

Ah!
Nikmat sekali melewatkan pagi yang indah dengan makanan baru dan orang-orang lokal yang ramah. Salah satu ibu-ibu yang berkerumun di depan warung nasi megono bahkan mengobrol hangat dengan saya tentang laki-laki! Tentu saja saya berusaha mengobrol dengan bahasa Jawa ngapak-ngapak.


Setelah puas sarapan pagi, kami berangkat ke area candi. Ternyata ada tiket terusan seharga 12 ribu untuk melihat semua objek wisata, seperti Telaga Warna, melihat film tentang Dieng di ruang audiovisual, ke Candi Bima, Kawah Sikidang lalu ke Kompleks Candi Arjuna.
Wah!
Ayo saya ajak berkeliling!
Telaga Warna yang hijau membius pagi.
Pius dan saya berpose di atas rakit kayu di atas Telaga Warna.
Salah satu sudut Telaga Warna yang dipenuhi dengan
gelembung-gelembung sulfur berbau tajam.
Tepat di sudut itulah Greg membasuh mukanya dengan air belerang
karena ia mengira inilah mata air yang dipercaya membawa berkah awet muda!
Muhamad yang duduk termenung di pinggiran Telaga Warna.
Gerimis turun perlahan.
Saya dan Victor yang berkerudung tak mau basah kena gerimis.
*bersambung*

No comments:

Post a Comment

terimakasih ya sudah mampir dan menyapa kurakurakikuk :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...