Monday, August 1, 2011

Perjalanan menuju Dieng...

Wah, sudah cukup lama ya, saya tak bercerita tentang perjalanan-perjalanan, tentang kota-kota, dan tentang hal-hal kecil yang tak bisa saya lupakan delam sepanjang perjalanan yang saya tempuh.

Kali ini saya akan bercerita tentang perjalanan kami berlima menuju Dieng.

Jadilah saya dan Greg waktu itu memantapkan diri untuk bersepeda motor menuju Dieng, bersama dengan tiga orang teman baik kami, Muhamad, Victor dan Pius.
Awalnya adalah Victor.
Yang mempunyai seorang teman di Wonosobo. Yang kemudian menjadikan kami sebagai batu pijakan untuk bertekad melanjutkan perjalanan menuju Dieng dan bermalam di kaki-kaki candinya yang kuno.

Jadilah kami berkendara.
Greg dan saya berangkat pagi-pagi dari Jogja menuju Magelang, lalu bertolak menuju Wonosobo melalui Parakan. Berbekal peta besar berlabel 'Jawa Tengah' kami dengan riang gembira memulai perjalanan yang cukup panjang ini.

Greg tak pernah bisa ngebut.
Sehari-hari, ia selalu berkendara dengan kecepatan 40 km/jam.
Dan tentu saja, dalam rombongan kecil ini, kami selalu menjadi yang paling belakang. Toh, kami selalu menikmati perjalanan itu sendiri.
Jalanan yang berkelok-kelok, kemacetan yang mengular di sepanjang Magelang karena ada perbaikan jalan yang cukup melelahkan mata karena debu terurai di mana-mana, orang-orang yang lalu lalang, dan kadang keringat yang menitik di dahi menjadi sangat berharga karena ia menyimpan memori akan sebuah proses perjalanan dan cerita tentang kota-kota.

Kami melalui desa-desa yang sangat saya kenal begitu kami melalui Parakan.
Nenek dari ibu saya berasal dari sana.
Seorang perempuan berhati baja dari latar belakang petani tembakau yang kemudian segan bertanam tembakau karena permainan harga dan selalu merugi.
Saya menghabiskan masa-masa liburan sekolah yang menyenangkan di desa ini. Sebuah desa yang selalu dingin setiap malam, dimana laki-laki bersarung dengan tembakau tingwe alias nglinthing dewe yang terselip di bibir mereka yang tebal selalu tampak di jalanan desa yang lengang.
Adik nenek saya berjualan tahu.
Seorang juragan tahu yang sukses di desanya.
Dan masa-masa kecil saya yang indah saya habiskan untuk bermain di sawah-sawah yang terhampar di kota kecil ini, mencari telur siput emas yang seperti buah beri, bermain-main di sungai kecil yang membuat telapak geli karena ratusan ikan kecil mencubit kaki dengan gemas, dan membantu adik nenek yang lain lagi untuk memetik tomat dan cabe di ladang atau pergi ke ladang bunga sedap malam yang indah di puncak bukit.

Ah, saya bernostalgia.

Di tengah-tengah cerita saya tentang perjalanan berkendara ke Dieng.
Tapi setiap perjalanan kadang punya relnya masing-masing yang kadang berkelindan dengan rel-rel bernama memori dan masa lalu yang tiba-tiba saja muncul, menyapa dengan renyah dan membuka sulur-sulurnya sehingga bayangan-bayangan bernama kenangan menampakkan dirinya dan memeluk saya dengan mesra.

Jadilah, kami melewati Parakan.

Kota kecil yang dingin.
Kami mampir di sebuah warung kupat tahu di pinggir sawah dengan pemandangan indah gunung gemunung bersaput kabut.


Hari sudah siang.
Dan kami harus sampai Wonosobo sebelum malam.
Jalanan yang kami lalui berikutnya adalah jalan yang panjang tak ada habisnya, dingin mulai menggerogoti jaket dan bayangan gunung-gunung besar muncul. Kami melewati jalan di tengah dua gunung, Sindoro dan Sumbing.
Tak putus-putusnya pemandangan indah khas desa-desa pegunungan menyapa penglihatan kami.
Dan tentu saja, kami tertinggal jauh di belakang.
Kami berusaha menyusul tapi teman-teman kami sudah terlalu jauh di depan.
Saling berkirim pesan pendek melalui ponsel menjadi satu-satunya andalan kami dan kami sepakat untuk bertemu di Alun-Alun Wonosobo.

Sore jam empat.

Kami sudah berada di Alun-Alun Wonosobo yang nyaman dan sejuk. Melepas lelah. Melihat pancuran di kolam-kolam kecil. Menyapa anak-anak. Berkenalan dengan seorang-dua orang. Dan setelah melepas penat di bangku-bangku batu yang tersebar di alun-alun, kami melanjutkan perjalanan ke rumah kawan Victor.

Di sinilah semua petualangan bermula.
Kami semua mengira bahwa rumah kawan Victor bisa menampung kami semua, paling tidak kami bisa menumpang menginap semalam lalu melanjutkan perjalanan ke Dieng pada pagi-pagi keesokan harinya.
Tapi ternyata, kami tak bisa melakukan itu.
Rumah tak terlalu besar menampung kami dan kami juga tak enak karena ada keluarga yang datang dari Jakarta berkunjung, jadi kami akan menambah sesak rumah temannya Victor.

Greg berinisiatif untuk tetap melanjutkan perjalanan dan menginap di Dieng alih-alih di Wonosobo. Sedangkan kami sempat berdebat dengan si pemilik rumah yang menyarankan agar menginap saja karena jalan menuju Dieng sangat membahayakan jika ditempuh malam hari.
Bisa-bisa kau tergelincir dan masuk ke dalam jurang.
Begitu katanya.

Akhirnya kami memilih jalan tengah.

Kami setuju akan berisitirahat sebentar, jalan-jalan keliling kota, dan menjelajahi pasar Wonosobo untuk mencicipi mi ongklok yang terkenal itu. Lalu setelah magrib kami akan melanjutkan perjalanan menuju Dieng.
Dan ternyata, sampeyan tahu apa yang terjadi?
Baru beberapa langkah kami meninggalkan rumah temannya Victor yang terletak di area pasar Wonosobo, hujan deras turun menerpa kami!
Ah!
Kami tak bisa pulang karena sudah pamit akan jalan-jalan. 
Dan kami tak bisa terus karena hujan seperti ditumpahkan dari langit.
Baru saya sadar kalau di Wonosobo setiap sore pasti hujan.Kami merepet di pinggiran toko-toko beretalase di pinggiran taman kota. Memeluk tubuh dengan tangan-tangan kami yang basah karena angin menghembus dan membuat kami basah.

Kami lalu berjalan terus masuk pasar. Sekedar berteduh dan siapa tahu masih ada penjual
mi ongklok yang buka pada hari sesore ini dan sehujan ini.
Setelah bertanya kesana kemari, kami akhirnya duduk di sebuah lapak kecil milik penjual mi ongklok asli Wonosobo yang sudah duapuluhtahun berjualan di dekat pasar dengan harga yang relatif murah dan rasa nikmat.



Kami berdesakan dalam sebuah bangku kayu yang hampir lapuk dimakan usia, menikmati semangkok mi ongklok yang mengepul di tengah rintik hujan yang dingin. Baru pertama kali ini saya makan mi ongklok. Rasa yang baru. Dengan kuahnya yang kental, memang agak aneh untuk saya yang terbiasa dengan mi jawa yang berkuah kaldu.


Setelah selesai dengan mi ongklok, kami lalu beranjak pulang menuju rumah temannya Victor dan bersiap-siap menuju Dieng.
Hujan tak lagi deras.
Hanya hawa dingin yang menelusup lengan baju saya yang membuat saya berpikir seberapa dinginnya Dieng malam ini kalau kami semua berusaha mendaki bukit-bukitnya...


*bersambung*

No comments:

Post a Comment

terimakasih ya sudah mampir dan menyapa kurakurakikuk :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...