Thursday, August 4, 2011

Dari Gua ke Gua

*lanjutan dari Pagi Bergerimis di Telaga Warna*


Telaga Warna berada di kawasan naungan hutan lindung yang terpelihara dengan baik. Ada jalan setapak yang indah dengan pohon-pohon besar di kanan kiri jalan. Cecuit burung-burung juga terdengar di mana-mana. Meski gerimis kecil masih turun satu per satu, kami masih bersemangat berjalan menuju telaga berikutnya, Telaga Pengilon atau Telaga Kaca.
Kalau Telaga Warna berkisah tentang cincin bertuah milik bangsawan yang jatuh ke dalam telaga hingga menyebabkan danau itu berwarna-warni, Telaga Pengilon bermitos jika seseorang memandang telaga ini dan melihat pantulan wajahnya nampak cantik di air telaga yang bening, maka ia berhati baik, dan sebaliknya.

Ketika kami hendak menuju ke Telaga Pengilon, banyak rumput-rumput yang mengelilinginya, semacam rawa-rawa basah yang memblokir area telaga sehingga kami tak bisa masuk apalagi berkaca di permukaan telaganya.
Kami pun berjalan terus meninggalkan telaga berbelerang, menyusuri jalan setapak yang rimbun dan segar. Kami mulai memasuki hutan lindung yang lengang, hanya gemerisik rumput di kaki-kaki kami yang terdengar.
Hingga kami sampai di sebuah batu besar dengan patung berwarna emas dengan rupa Gadjah Mada. Lalu kami mampir di gua-gua petilasan tempat semadi bernama Gua Semar, Gua Sumur dan Gua Jaran.

Jalan setapak menuju hutan.
Patung Gadjah Mada.
Salah satu petilasan pertama yang kami temui di dalam hutan.
Gadjah Mada di bawah Batu Tulis.
Menuju Goa-Goa.
Goa Semar.
Goa Sumur.
Goa Jaran.
Telaga Pengilon.
Pemandangan Dieng pagi itu.
Salah satu sudut desa Dieng pagi itu.
Kami terus berjalan dari gua ke gua yang lain, berjalan di rerimbun jalan setapak, lalu mendaki ke atas, menuju ruang audio-visual yang memutar film tentang kawah Dieng yang pernah menyemburkan gas beracun beberapa tahun lalu, dan saya dengar akhir-akhir ini Dieng juga mulai bergejolak.
Ah. Cukup membosankan juga berada di ruang audiovisual ini, pikir saya.
Kami akhirnya turun lagi dan bergegas menuju candi-candi kuno yang lebih menarik perhatian saya daripada menonton film bernarasi ala pemerintahan.


*bersambung*

No comments:

Post a Comment

terimakasih ya sudah mampir dan menyapa kurakurakikuk :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...