Tuesday, August 2, 2011

Di Antara Kabut Dieng

*lanjutan dari Perjalanan menuju Dieng*

Hujan menipis.
Kami bersiap-siap hendak melanjutkan perjalanan. Kami sudah bulat.
Kami akan ke Dieng petang itu juga.
Masih saja teman Victor bersikeras, bahwa tak banyak orang mau pergi ke Dieng saat gelap. Resiko terlalu besar. Kabut sangat tebal dan kita bisa terjerembab masuk jurang karena kanan kiri sungguh jurang yang luar biasa besar-besar.
Tapi kami tetap pada pendirian.
Bayangan menghabiskan pagi di Dieng, tempat persemayaman para dewa, membuat kami bersemangat.
Jadilah kami berlima diiringi dengan derai hujan tipis yang membuat jaket kami basah memacu sepeda motor menuju puncak.
Belum lama kami berkendara, selang sekitar limabelas menit, kami melihat ada yang tidak beres di jalanan. Orang-orang berkerumun dan bergerombol. Mereka berjalan di sisi kanan jalan sambil membawa tongkat panjang. Beberapa membawa senter dan lampu minyak. Kami meredam kecepatan dan bertanya-tanya. Beberapa meter kemudian, jalanan benar-benar tak bisa dilalui. Puluhan warga luber memenuhi jalan sambil berteriak-teriak. Saya merasakan ada sesuatu yang sangat penting sedang terjadi. Tapi saya tak tahu apa. Saya berharap semoga bukan kerusuhan. Kami lalu bertanya kepada orang lalu lalang.


Dan ternyata, jawaban mereka membuat kami semakin bergidik. Sampeyan tahu, di kanan jalan adalah selokan berair deras dengan kedalaman sekitar satu meter dengan muara sebuah kedung atau lingkungan air yang cukup dalam dan deras. Air menggerojok dengan bunyi yang cukup menyeramkan. Ditambah dengan seruan orang-orang berlampu sorot.
Baru saja ada seorang terseret arus, masuk ke dalam selokan, terbawa pusaran, dan hilang tak berbekas.
Kami terdiam.
Dan saling berpandang-pandangan di bawah gerimis yang membasahi jas hujan kami. Ehm, orang hilang? Terseret arus? Dan kami baru 15 menit berkendara?
Saya menelan ludah.
Saya bilang, kita terus atau tidak?
Teman-teman berpikir, lalu memutuskan untuk terus, dan tetap berhati-hati karena jalan cukup licin dan hujan masih turun dengan dramatis.


Kami terus berkendara.
Belum memasuki kelokan-kelokan berbahaya.
Dan kabut belum turun.
Namun, beberapa menit kemudian, jalanan mulai menanjak dan kami tak bisa melihat apa-apa.
Kabut Dieng benar-benar menyapa kami.
Seperti hendak menyelubungi Dieng dengan jubah abu-abunya agar ia tampak mistis dan magis. Dan kami gentar.
Kami sudah sampai pada sebuah desa yang tak tercantum dalam peta. Jalanan lengang. Menanjak dan basah. Adzan Isya' baru saja terdengar dari kejauhan. Sayup-sayup dibawa angin malam.
Dan kami gentar karena di depan kami sungguh tak kelihatan apa-apa!
Kami menepi. Berhenti di sebuah rumah besar yang padam lampunya dan tertutup rapat. Kami menyusun strategi.
Apakah kami akan terus atau tidak, mengingat kabut sangat tebal dan kami menggigil kedinginan. Kami tak tahu jalan. Peta tak mencantumkan apapun tentang jalan ini. Dan kami sungguh tak tahu apa yang menanti kami di depan sana. Kami berembug di tepi jalan lengang yang basah dan menanjak.


Saya berinisiatif untuk bertanya kepada pemilik rumah. Saya berjalan masuk halaman dan langsung mengarah dapur tempat cahaya berasal. Dan saya bertemu dengan seorang perempuan tua yang bingung, yang kemudian memanggil seorang lelaki dari dalam, yang langsung menghampiri kami dengan ramah.
Bapak berkumis dan bertubuh tinggi besar ini menyalami kami satu persatu dan kami langsung menanyakan apakah aman untuk terus naik ke Dieng pada situasi seperti ini. Jawabannya sungguh melegakan: b-i-s-a.
Kami juga sempat memikirkan kemungkinan untuk menumpang menginap kalau ternyata cuaca buruk dan membahayakan. Tapi ternyata tidak. Hujan sudah berhenti sejak beberapa meter yang lalu. Hanya tinggal kabut yang menggantung. Dengan berbekal sorot tiga sepeda motor, kami bersama-sama meneruskan perjalanan, menanjak meninggalkan rumah besar di tepi jalan yang lengang dan basah itu. Hati-hati! suara bapak itu masih terdengar.


Dan kami memang ekstra hati-hati.
Jalanan berkelok-kelok naik turun setiap detik.
Gelap pekat seperti jam dua belas malam alih-alih jam tujuh.
Dan kami sangat rapat berkendara satu-satu di jalanan yang sempit dan berdinding curam.
Yang saya lihat hanyalah sorot lampu menyinari kabut dan sisanya adalah kegelapan yang membungkus.
Yang saya dengar adalah suara motor kami dan hembus nafas yang mengharap oksigen.
Saya tak berani menengok.
Bayangan orang hilang yang terseret arus di bawah tadi tiba-tiba saja menyapa pikiran saya, membuat bulu kuduk berdiri.
Dan kami terus berkendara hingga sampai pada kerumunan orang-orang dan cahaya lampu.
Ah, semoga bukan kecelakaan, pikir saya.


Jembatan.
Kami harus menanti giliran untuk menyeberang karena hanya ada satu jembatan yang mengakomodasi dua arah dan dijaga oleh banyak orang.
Saya heran, kenapa orang-orang ini menjaga jembatan malam-malam?
Dan saya mendapatkan jawabannya saat sepeda motor Greg melintas di atasnya.
Gila!
Jembatan ini terbuat dari papan-papan kayu dan bambu yang dijalin sedemikian rupa yang membuat suara-suara berderak yang membuat hati mencelos saat saya mendengar suara kraaak, kraaak yang mengkhawatirkan. Kami mempercepat penyeberangan dan berdoa semoga jembatan itu kuat menyangga kami.
Sesampai di seberang, saya menghela nafas lega.
Dan kami terus melaju, hingga kami masuk pada sebuah desa kecil yang rapat dengan masjid tinggi yang penuh dengan sandal warna-warni di muka pintunya dan pintu-pintu toilet yang terbuka lebar menampakkan bak-bak mandi sederhana berlapis lumut hijau menghitam.
Saya berdenyit.
Seharusnya kami sudah memasuki area wisata dan penginapan, bukan desa.
Kami lalu berhenti. Melihat peta.
Kami tersesat.
Akhirnya kami berbalik arah dan mencoba mencari-cari jalan.
Selang dua puluh menit kemudian, kami sampai!
Lampu-lampu mulai terlihat dan truk-truk besar terlihat satu-dua, di sela rumah-rumah penginapan yang terlihat tak terawat.


Ah!
Kami di Dieng!


*bersambung*

No comments:

Post a Comment

terimakasih ya sudah mampir dan menyapa kurakurakikuk :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...