Monday, August 29, 2011

Selamat, Greg!

Selama beberapa minggu terakhir ini saya jarang sekali menulis, dengan setumpuk alasan yang tidak saya buat-buat. Dan terutama karena saya sedang membantu pacar saya, Greg, yang sedang sibuk-sibuknya menyelesaikan tugas akhir yang berjudul The Deconstruction of Falling Apart in Chinua Achebe's Things Fall Apart.
Coba sampeyan bayangkan, hanya diberi waktu satu bulan saja, ia harus menyelesaikan kuliah praktek mengajar di SMK, menulis laporan setebal lima senti dan menyelesaikan makalah tugas akhir!
Sungguh bulan-bulan yang penuh dan melelahkan!

Jadilah saya membantu mengedit, proofreading, memfotokopi, menge-print ini dan itu, dan menyemangati setiap hari.
Akhirnya, hari itu tiba. 
Saat ujian sarjana alias pendadaran tiba. Dan malah saya yang deg-degan minta ampun. Maklum, tujuh tahun masa kuliah ditentukan oleh sehari ini!
Dan pagi itu, Jumat, 26 Agustus, saya sudah bangun pagi-pagi, mengepak ini dan itu, membungkus dua buah pisang untuk sarapan, dan membawa perangkatan perang: rol kabel, laptop dan segala macam kabel, dan fotokopian makalah.

Ah! Saya jadi teringat saat-saat saya pendadaran tujuh bulan yang lalu!
Dan setelah tiga jam yang mendebarkan, Greg keluar dari ruang sidang dengan selembar kertas bertuliskan L.U.L.U.S!!
finally you did it, Mbul! :)

Sunday, August 7, 2011

Piknik Muda Mudi!

Kalau kita mendengar kata 'muda-mudi', apa yang terbayang dalam benak sampeyan? Bagi saya, 'muda-mudi' menjadi sebuah terma nostalgik yang mensyaratkan kebersamaan, tawa ria pemuda dan pemudi, kemesraan, dan gelak hangat di masa kejayaan kampung-kampung masa lalu. Dan ternyata, saya menjumpai kehangatan dan kemesraan muda-mudi beberapa bulan terakhir ini bersama dengan teman-teman muda-mudi dari Kampung Bumen, Kotagede, Yogyakarta.

Saya memang sedang melakukan sebuah projek di kampung ini dengan muda-mudinya yang penuh semangat dan berkomitmen tinggi. Jarang saya melihat sebuah komunitas pemuda kampung yang bersemangat tinggi membangun kampungnya dan berkomitmen tinggi untuk nguri-uri kabudayan seperti di Bumen. Mungkin saya akan bercerita tentang projek saya di sana dalam beberapa tulisan saya mendatang.
Nah, kali ini saya ingin menceritakan tentang pengalaman piknik saya dengan Muda-Mudi Bumen beberapa waktu lalu di beberapa pantai di Gunung Kidul. Sebuah pengalaman luar biasa ketika saya berada di sebuah 'piknik muda-mudi' yang pada masa sekarang hanya eksis dalam ingatan para generasi tahun 70an.
Ya. Piknik muda-mudi.
Berapa banyak sih sekarang kampung-kampung di Jogja yang muda-mudinya rutin menyelenggarakan piknik muda-mudi dengan menyewa bis dan beramai-ramai melawat ke pantai atau objek rekreasi lainnya lalu makan bersama dan bermain bersama?
Bukankah 'tren' masa kini adalah traveling ke negeri-negeri tetangga, sendirian atau dalam rombongan yang biasa disebut 'backpacker'?
Ah!
Sungguh, sampeyan harus merasakan apa yang saya rasakan!
Ikut melebur, berpeluk hangat, tertawa, bermain pasir, berkejaran, bergandengan tangan, tetiduran di atas pasir dan merasakan hangat matahari membelai kulit saya yang berbau air garam:
serasa kembali ke masa kanak-kanak yang menyenangkan!

Saturday, August 6, 2011

Antara Candi dan Saya



Saya selalu suka candi.
Seperti membaca cerita masa lalu tanpa harus membuka lembaran-lembaran berdebu. Hanya memandang, menyentuh, meraba, masuk ke relung-relungnya, lalu sejenak berdiam di dalamnya, menghirup hawa yang terekam dan terpendam jauh di bawah debu-debu purba dan aroma kejayaan masa lalu.

Friday, August 5, 2011

Di Antara Candi-Candi Shiwa

Masih di Dieng.
Dan perjalanan kami masih panjang.
Selepas berjalan-jalan di dalam hutan, telaga dan gua, kami langsung meluncur ke Candi Bima.
Cuaca cerah.
Sempurna untuk memandang keteguhan batu-batu abad delapan masehi yang masih berdiri tegak di bawah langit biru. Kami segera mendaki tangganya.
Dan terpesona.
Candi ini menjulang dengan banyak kudu atau relief wajah yang terpahat di sepanjang tubuhnya.
Kami duduk di rerumputan di bawah kakinya.
Bermeditasi.
Menjadi hening.
Dan menghirup energi-energi yang tersimpan di antara relung-relungnya dan relief-reliefnya.
Saya melihat ada beberapa relief yang terkotori oleh tangan-tangan jahil serupa nama-nama yang pernah singgah di candi ini.
Ah. Anak muda. Pikir saya galau.

Thursday, August 4, 2011

Dari Gua ke Gua

*lanjutan dari Pagi Bergerimis di Telaga Warna*


Telaga Warna berada di kawasan naungan hutan lindung yang terpelihara dengan baik. Ada jalan setapak yang indah dengan pohon-pohon besar di kanan kiri jalan. Cecuit burung-burung juga terdengar di mana-mana. Meski gerimis kecil masih turun satu per satu, kami masih bersemangat berjalan menuju telaga berikutnya, Telaga Pengilon atau Telaga Kaca.
Kalau Telaga Warna berkisah tentang cincin bertuah milik bangsawan yang jatuh ke dalam telaga hingga menyebabkan danau itu berwarna-warni, Telaga Pengilon bermitos jika seseorang memandang telaga ini dan melihat pantulan wajahnya nampak cantik di air telaga yang bening, maka ia berhati baik, dan sebaliknya.

Wednesday, August 3, 2011

Pagi Bergerimis di Telaga Warna

*lanjutan dari Perjalanan menuju Dieng dan Di Antara Kabut Dieng*

Ya.

Dieng konon berasal dari kata Di-Hyang, persemayaman dewa-dewa.
Terletak 2093 meter di atas permukaan air laut, Dieng Plateau dulunya adalah rumah bagi lebih dari 400-an candi kuno yang dibangun antara tahun 8 hingga 9 Masehi, jauh sebelum Wangsa Syailendra membangun Borobudur.
Ditemukan sekitar tahun 1856 oleh arkeolog Belanda, Van Kisnbergen yang berhasil menemukan 8 candi pemuja Siwa yang masih kokoh berdiri.
Ah.
Saya keduluan orang Belanda!
Dan baru sekarang saya bisa melawat ke candi Hindu tertua di Jawa.

Tuesday, August 2, 2011

Di Antara Kabut Dieng

*lanjutan dari Perjalanan menuju Dieng*

Hujan menipis.
Kami bersiap-siap hendak melanjutkan perjalanan. Kami sudah bulat.
Kami akan ke Dieng petang itu juga.
Masih saja teman Victor bersikeras, bahwa tak banyak orang mau pergi ke Dieng saat gelap. Resiko terlalu besar. Kabut sangat tebal dan kita bisa terjerembab masuk jurang karena kanan kiri sungguh jurang yang luar biasa besar-besar.
Tapi kami tetap pada pendirian.
Bayangan menghabiskan pagi di Dieng, tempat persemayaman para dewa, membuat kami bersemangat.
Jadilah kami berlima diiringi dengan derai hujan tipis yang membuat jaket kami basah memacu sepeda motor menuju puncak.

Monday, August 1, 2011

Perjalanan menuju Dieng...

Wah, sudah cukup lama ya, saya tak bercerita tentang perjalanan-perjalanan, tentang kota-kota, dan tentang hal-hal kecil yang tak bisa saya lupakan delam sepanjang perjalanan yang saya tempuh.

Kali ini saya akan bercerita tentang perjalanan kami berlima menuju Dieng.

Jadilah saya dan Greg waktu itu memantapkan diri untuk bersepeda motor menuju Dieng, bersama dengan tiga orang teman baik kami, Muhamad, Victor dan Pius.
Awalnya adalah Victor.
Yang mempunyai seorang teman di Wonosobo. Yang kemudian menjadikan kami sebagai batu pijakan untuk bertekad melanjutkan perjalanan menuju Dieng dan bermalam di kaki-kaki candinya yang kuno.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...