Friday, July 29, 2011

m-e-n-i-k-a-h

Baru saja saya membaca blog teman saya, Amanda Mita, si perempuangimbal, yang ternyata mengabarkan berita gembira bahwa ia sudah dilamar dan hendak menikah tahun ini atau tahun depan.
Ah.

Agak aneh memang, saya membaca blog teman saya tentang menikah, menulis tentang tema menikah, di saat tetangga sebelah sedang ramai-ramai merayakan pesta pernikahan yang gegap gempita.
Dan saya tidak diundang.

Dan beberapa bulan lalu, tetangga sebelah rumah lagi, juga menikah, tapi tidak dengan gegap gempita, dengan pesta yang hangat di dalam rumah.
Dan saya pun juga tak diundang.

Terlepas dari apakah saya kurang kenal dengan si mempelai-mempelai tersebut, saya tidak ambil pusing.
Toh, saya yang tinggal di tengah-tengahnya hanya kebagian bau makanan yang wangi, tawa-tawa riuh dan membahana, musik yang bingar-hingar dan keriuhan suasana pesta pernikahan alternatif.

Kembali ke menikah,
saya selalu senang dengan berita-berita gembira teman dekat saya akan segera melepas masa lajang, atau mendengar cerita mereka tentang serunya malam pertama, atau mendengar keluh kesah tentang apakah saya 'terlambat bulan' atau tidak, dan yang lain-lainnya.

Saya dulu pernah menulis tentang pernikahan dan sindrom rumah boneka.
Bahkan saya menulis sambungannya dan menjadikannya dua bab.
Dan itu dulu. Sekitar dua-atau-tiga tahun yang lalu.
Dan sekarang.
Saya masih belum berpikiran untuk menikah.

Saya berkata kepada ibu saya saat sore itu kami sedang mencangklong duduk di teras rumah yang kemudian ada seorang tetangga yang mengantar undangan pernikahan yang ternyata adalah teman bermain saya waktu kecil.


Saya berkata, Bu, saya sepertinya tidak akan menikah dulu dalam waktu dekat, mungkin lima tahun lagi.
Saya agak deg-degan juga membahas tema pernikahan ini dalam suasana yang santai seperti ini tapi saya sudah kadung.

Dan ibu saya dengan santai juga menjawab,
iya, tidak apa-apa, lebih baik kamu cari uang dulu dan biayai adik-adikmu sekolah, aku lebih suka melihat semua adik-adikmu sekolah daripada melihatmu menikah.

Saya tak bisa berkata apa-apa.
Saya peluk ibu saya.
Dan saya bahagia!

Ahay!
Sungguh, ibu yang mengerti!
Sampeyan tahu, ibu saya sedang hamil saya saat ia sedang asyik-asyiknya belajar Bahasa Inggris dan lalu kakek saya menyuruh ibu saya berhenti kuliah dan memaksanya untuk menjadi ibu rumah tangga. Ah!


Dan ibu saya,
sungguh seorang ibu yang luar biasa!
Dengan segala keterbatasan yang keluarga kami punyai, dengan segala ketidakmampuan kami, ia tetap berjuang dan masih saja percaya bahwa saya hendaknya harus melanjutkan cita-cita, belajar, dan tidak berpikir tentang menikah!

*saya menelan ludah memaksa airmata agar tidak tumpah*


Tapi, tentu saja saya selalu ikut berbahagia dengan teman-teman saya yang akan menikah atau sudah menikah.

Dan sekali lagi,

diiringi dengan musik riuh di tetangga sebelah rumah yang sedang semarak melangsungkan pernikahan, saya tetap akan memegang kata-kata ibu saya,
bahwa saya ingin melihat adik-adik saya sekolah dan melanjutkan pendidikan terlebih dahulu, dan saya bahagia dengan keputusan saya!


love is a psychological matter,
sex is biological,
while marriage is a social matter!

*selamat menikah, teman-teman!*

2 comments:

  1. hehehe :D
    tak apa-apa Mbakyuu :D

    saya juga ingin menikah, tapi nanti, or maybe...
    someday.... :D

    ReplyDelete

terimakasih ya sudah mampir dan menyapa kurakurakikuk :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...