Sunday, July 3, 2011

Gagal Piknik!

Saya mau bercerita lagi tentang piknik.
Saya heran, kenapa ya dulu saya tak pernah berhasil dalam hal piknik mempiknik. Masih ingat cerita saya tentang piknik yang gagal saat saya SMP dan harus berurusan dengan polisi?
Tiga tahun kemudian, kutukan gagal piknik mulai menampakkan taringnya.

Waktu itu saya kelas dua SMA di sebuah kota kecil di Jawa Timur bernama Mojokerto. Dan biasanya kelas dua adalah masa-masa yang menyenangkan, masa-masa penuh kenakalan dan kenekatan remaja, saat-saat gumbira karena punya adik kelas yang bisa dijahili dan tak harus pusing-pusing berpikir tentang Ujian Nasional. Kelas dua SMA menjadi puncak aktualisasi diri saya waktu itu. Seluruh jabatan di ekstrakurikuler saya borong. Sebut saja, Ketua Teater Payung Hitam, Ketua Mading plus Pimred Majalah Sekolah, Sekretaris Pramuka, PMR, OSIS, Pencinta Alam dan bahkan dulu kami membentuk ekskul bawah tanah yang terdiri dari ketua-ketua seluruh ekskul (kecuali Tonti yang biasa disebut Paskib), dan merencanakan untuk kudeta! Kudeta terhadap pemikiran-pemikiran dan kebiasaan-kebiasaan orang normal, lebih tepatnya. Inilah di mana kami, tim bawah tanah, memburu Tetralogi yang waktu itu dilarang hingga blusukan di Surabaya demi membaca karya legenda Pram itu, membaca Marx, melahap paham-paham feminisme, komunisme, sosialisme, humanisme (dan isme isme lainnya). Jiwa pemberontakan seakan tersulut begitu cepat seperti api disiram bensin. Dan saya ada di dalamnya!

Jadilah kami, satu kelas, yang semangatnya berkobar-kobar dan menyala-nyala merencanakan untuk piknik. Saya sudah ngiler pergi ke Bali, karena waktu piknikan SMP ke Bali, hanya saya dan segelintir orang yang tak ikut, dan saya pikir jarak Mojokerto-Bali lebih dekat daripada Jogja-Bali, jadi lebih murah secara biaya. Dan saat voting lokasi piknik, saya kalah telak!
Hanya saya yang memilih Bali, ehm dan lainnya?
Mereka ingin piknik ke JOGJA!!!
Tidaaaaaaaaak!
Kenapa Jogja?? Saya kan dari sana?? Sama saja saya pulang kampung dong!!
Saya mencak-mencak tapi saya tak bisa mengelak.
Keputusan bulat: PIKNIK KE JOGJA!
Saya langsung lemas melihat rute piknik standar pariwisata: Parangtritis-Prambanan-Borobudur-Kraton-Taman Sari-Malioboro.
Saya langsung bilang kalau mending kita ke pantai-pantai di Gunungkidul, lebih indah daripada Parangtritis, begini begitu, saya tambahkan beberapa objek wisata yang aneh-aneh, dan mereka manut karena saya orang Jogja! Ha-ha-ha!
Saya juga mengatur konsumsi selama di Jogja. Saya punya ibu dan nenek yang jago masak, jadilah saya telpon mereka dan saya minta mereka gotong-royong mempersiapkan 50 kardus nasi-ayam khas Jogja pada tanggal sekian, dan sekian, dan saya bilang kalau saya tak akan ikut piknik, saya akan pulang ke rumah (mengingat selama SMA saya hanya pulang kampung saat Lebaran saja). Sementara teman-teman saya yang lain memesan bis, mengatur jadwal keberangkatan, dan mempersiapkan bekal ke Jogja!

Rencananya, kami akan berangkat dari Mojokerto malam hari. Jam sebelas. Tempat berkumpulnya di musholla sekolah. Jam sembilan saya sudah nongkrong di musholla bersama teman-teman lainnya. Suasana begitu meriah. Teman baik saya, Nosa, membawa gitar kesayangannya dan kami mulai bernyanyi-nyanyi gembira bersama-sama. Beberapa teman gila saya yang lain berjoget-joget. Semuanya penuh gairah!
Satu per satu teman-teman yang lain datang. Mereka membawa ransel besar-besar, menjinjing tas plastik berisi minuman dan makanan bekal enam jam perjalanan, mengenakan celana pendek khusus piknik dan sandal jepit warna-warni, ada yang memakai topi pandan, ada yang memakai kemeja bunga-bunga. Heboh sekali suasana malam itu!

Dua jam menunggu bis datang tak terasa. Jam sebelas tepat kami mulai berjalan ke depan gerbang sekolah. Angin malam segar tak menggigit. Pandangan kami tertuju ke jalan raya yang mulai sepi.
Lima menit. Sepuluh menit. Dua puluh menit.
Kami mulai merasa ada yang tidak beres di sini.
Dan setengah jam kemudian, datanglah sebuah bis yang berhenti tepat di depan kami. Kami semua terdiam. Terpaku.
Bagaimana tidak?
Yang ada di hadapan kami adalah BIS ANGKOT!
Bis berpintu satu yang sudah tak berpintu dan biasanya untuk transportasi dari pasar ke pasar! Kalau di sini seperti bis-bis jurusan Parangtritis atau Kulonprogo atau bis-bis Bantul.
KAMI AKAN KE JOGJA SELAMA TUJUH JAM DENGAN BIS ANGKOT???
Spontan saja, teman-teman saya langsung naik pitam. Beberapa sudah mencekal kerah baju si kenek yang apes karena ia juga tidak tahu apa-apa. Semua misuh-misuh dalam bahasa Jawatimuran yang kental. Teriakan terdengar di sana-sini. Kami merasa sudah membayar banyak uang untuk menyewa bis pariwisata, tapi kenapa yang datang malah bis pasar antar kecamatan?

Saya lemas.
Bukan apa-apa. Saya agaknya jadi sudah terbiasa gagal piknik. Bukan karena saya tak bisa nebeng pulang ke rumah gratisan, tapi lebih karena ibu dan nenek saya sudah masak besar dan mempersiapkan 50 boks nasi dan ayam bakar plus lalapan. LIMA PULUH BOKS DAN SAYA GAGAL PIKNIK (LAGI!)
Baru saja ibu saya meng-sms kalau nasi sudah siap dan besok pagi bisa diantar via becak ke alun-alun utara tempat bis kami akan mendarat.
Oh-oh!
Setelah puas misuh-misuh, bis ompreng tadi pergi dengan janji akan datang besok dengan bis pariwisata yang sebenarnya (setelah diancam oleh teman-teman saya yang bertubuh besar-besar), dan kami semua berjalan lemas menuju musholla sekolah. Kami tentu saja tak bisa pulang ke rumah masing-masing karena waktu sudah tengah malam, tak ada kendaraan, hampir semua teman datang ke sekolah dengan diantarkan, dan tentu saja, malu dong tak jadi piknik!
Akhirnya, sampeyan tahu apa yang terjadi selanjutnya?
Keributan melanda musholla malam itu.
Kami sepakat untuk menginap di musholla, bareng-bareng (sekitar 40 orang), dan membagi bekal perjalanan untuk dimakan bersama-sama. Seperti bancakan! Dan kami bernyanyi-nyanyi lagi untuk menghibur hati. Saat Nosa memetik gitar dan semua bernyanyi lagu Kla Project, Yogyakarta, teman-teman kami mendadak jadi gila! Mereka berlari dari ujung halaman musholla ke ujung lain sambil berteriak:
Parangtritiiiiiis, aku dataaaaang!
Waaaah, lihat ombaknyaaaaa....waaah, ada keraaaang!
Hei, itu Malioboro-nya kelihataaaaaan!
Prambanaaaaaan! Borobuduuuuur!

Semua mendadak gila!
Kami terkena sindrom gagal piknik yang akut dan berhalusinasi, bertingkah seakan-akan kami sudah di Jogja!
Sisa malam itu, setelah kami puas tertawa-tawa dan kekenyangan makan bekal, kami semua tidur meringkuk tersebar di penjuru musholla, dan bermimpi sedang berenang di Parangtritis dan makan jagung bakar di alun-alun!

Oya, bagaimana dengan ibu saya?
Ibu saya yang kaget bukan kepalang karena piknik gagal sedangkan 50 nasi boks lengkap dengan ayamnya sudah siap, berinisiatif untuk membagikan semua nasi boks ke seluruh tetangga kampung!
Katanya: ini selametan anak saya, semoga pikniknya lancar!
Ahay!
Dan semoga saya tidak kena kutuk gagal piknik lagi! Amin :)

8 comments:

  1. HIAIHahIAHAIIHAHIA!!! sUPERRR!! oalah buu.. nasip nasiipp!! ahiahihia!!

    ReplyDelete
  2. @Mbak Ria: hahahaha :D gagal maning, gagal maning!
    @Bono: ho'o ki,,ngopo yoooo ><

    ReplyDelete
  3. makanya nggak gede gede :p
    uung

    ReplyDelete
  4. @Mbak Uung: hihihihi....
    walaopun kecil tapi rasanya selangit :p hihihihi
    *malah ra nyambung*

    ReplyDelete
  5. huwahahaaaa,.
    aq lagek ruh rek,, ternyata kalyan saat kelas 2 ada kejadian mengerikan sperti ituwh,, huwahahaaa

    untung ae aq wes pindah,, qiqiqii

    ReplyDelete
  6. @Ilal: waaaa....iyaaaa kenapa kamu pindaaah?
    kan iso edan-edanan bareng rek :D

    ReplyDelete
  7. Hahaha... ceritanya sudah tahun kapan tapi masih ada yg ngetawain seperti saya sekarang. Good! cerita dengan penyampaian yg bagus banget! sering-sering nulis dong! :)

    ReplyDelete

terimakasih ya sudah mampir dan menyapa kurakurakikuk :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...