Friday, July 1, 2011

Apa Hubungannya Piknik dengan Pak Polisi?

Ada!
Dan ini di luar pikiran sampeyan.
Jadi, ini tentang saya, piknik, dan pak polisi.

Peristiwa ini terjadi saat saya masih duduk di kelas dua SMP di sebuah SMP negeri yang lumayan terkenal di Jogja, yaitu SMP yang terletak di depan SMA 6, marilah kita sebut saja SMP 8. Nah, saya masih ingat saat itu kami sedang merencanakan hendak piknik bersama, menuju sebuah pantai di Cilacap, yang kalau tidak salah bernama Pantai Ayah. Kami sekelas sudah merencanakan untuk berkumpul di depan gerbang sekolah pada hari Minggu pagi jam delapan, lalu akan bersama-sama pergi ke pantai naik mobil salah satu teman kami yang bernama Damar.

Nah, tentu saja saya ikut!
Saya termasuk murid yang haus-piknik. Coba saja tengok, saat teman-teman SMP hendak berpiknik ke Bali, hanya saya yang tidak ikut. Alasannya klise, tidak ada uang saku dan terutama tak punya uang untuk membayar biaya piknik. Setiap ada piknik, saya selalu menghindar. Bukannya tidak suka, tapi masa-masa itu adalah masa pahit bin prihatin yang membuat penampilan saya seperti anak umur 12 tahun yang menderita cacingan dan busung lapar: kulit kusam kehitaman akibat setiap hari jalan kaki, wajah tak terawat karena hanya bisa pake bedak tabur di dalam kantong plastik bermerek Viva yang baunya tak terkira itu, betis besar pertanda kuat jalan, mata minus tersembunyi di balik kacamata aneh bin jadul dengan frame belang-belang seperti kulit macan dan lensa berwarna kehitaman seperti kacamatanya Asep Irama!
Waduh! Coba dibayangkan!

Ya. Saya memang murid paling tidak populer waktu saya SMP.
Tapi kali ini saya tetap bertekad untuk ikut piknik karena yang ikut hanya teman-teman sekelas saja, dan bukan seluruh angkatan. Weits, kenapa saya bilang begitu? Iya, karena semua kelas di SMP 8 ada sepuluh kelas!
Kelas 1.1 sampai 1.10, kelas 2.1 sampai 2.10 dan kelas 3.1 sampai 3.10!
Jika waktu itu satu kelas isinya 40 orang, maka dalam satu angkatan saja teman saya berjumlah 399 orang!
Di samping itu, piknik kali ini gratis! Hanya bermodal bekal makanan saja!

Jadilah, malam sebelum keberangkatan, saya sudah ngalor-ngidul mencari bekal: roti pisang yang tebal, nasi panas dan lauk telur ceplok yang dimasukkan dalam kotak plastik bergambar Helokiti, air matang yang dimasukkan ke dalam botol akua, beberapa makanan kecil dan uang dua puluh ribu rupiah yang kata Ibu saya untuk membeli ikan yang banyak.

Jam tujuh.
Saya sudah berdiri di pinggir jalan di depan gereja menanti angkot kuning bernama Kobutri yang sekarang sudah hampir hilang dari peredaran tergantikan oleh Trans Jogja, kendaraan jetmatik dan sepeda fixie. Sebenarnya saya sudah harap-harap cemas karena masa-masa hari Minggu adalah masa yang sulit untuk menunggu Kobutri datang. Kalau saya beruntung, mereka akan datang tiap setengah jam sekali. Kalau tidak, menunggu hingga satu jam pun kadang-kadang masih belum datang juga.

Saya mendesah.
Saya tak punya rencana kedua. Keluarga kami tak punya sepeda motor dan saya tak bisa naik sepeda motor. Jadi saya tak bisa menyuruh ayah saya atau ibu saya atau nenek saya untuk mengantarkan saya ke sekolah. Saya juga tak bisa menggagalkan rencana piknik ini, karena ini adalah piknik saya yang kedua setelah piknik heboh saya waktu kelas 6 SD di Maerakatja Semarang. Dan saya malu kalau saya pulang lagi dan bilang, tidak jadi piknik, Bu. Malu dong!
Ah!
Saya berpikir tentang rencana kedua. Saya harus sampai di sekolah jam delapan tepat atau kalau tidak saya akan ditinggal! Saya bertanya kepada orang lewat, jam berapa Mbak? Dan ia menjawab, jam setengah delapan. Saya panik. Setengah jam lagi dan saya masih berdiri di depan gereja menonton polisi yang hilir mudik menuju.....eits, polisi?
Saya punya akal!
Di seberang gereja, ada semcam markas besar polisi, atau yang lebih sering disebut Polsek. Kenapa saya tak minta tolong saja kepada mereka? Toh polisi kan abdi masyarakat dan pembela kaum lemah, katanya. Dan masak sih mereka tak bisa menolong saya? Saya berpikir keras, bagaimana cara saya berkata kepada mereka dan meyakinkan mereka bahwa piknik ini adalah hal yang sangat penting dan menyangkut kehidupan dan masa depan saya. Setelah berpikir beberapa menit, saya putuskan: inilah rencana kedua saya! 

Saya berjalan ke arah markas polisi yang seumur hidup saya belum pernah datangi itu. Saya niatkan langkah saya dan langsung berjalan menuju pos jaga. Ada tiga polisi yang sedang asyik mengobrol saat saya datang, dan di luar dugaan mereka besar-besar! Saya melirik ke pinggang mereka yang menonjol. Saya menelan ludah. Semoga saya tak dipenjarakan atau diapa-apakan.

Permisi Pak, saya bisa minta tolong?
Iya, ada perlu apa Dik?

Saya kan ikut piknik Pak, ke Cilacap, nah saya sekolah di SMP 8, Terban itu lho Pak, nah kan jam delapan berangkat, saya nunggu bis tidak datang-datang Pak, jadi saya bisa minta tolong bantuannya Pak Polisi nggih...
*kalimat saya sangat belepotan dan keringat dingin mengalir*

Jadi adik ini minta diantar ke SMP 8 dekat Terban karena sudah telat ikut piknik ke Cilacap, begitu? *garuk-garuk kepala*

Saya tersenyum lebar tapi masih memasang wajah memelas, iya Pak.
Mereka berunding di depan saya, dan berbisik-bisik, waduh, semoga saja bisa! Saya lalu menambahkan tentang saya tak punya sepeda, saya tak bisa naik sepeda motor, dan tak ada orang di rumah yang bisa mengantar saya ke sekolah. Dan akhirnya:
Sepuluh menit kemudian saya sudah ditemani oleh dua orang pak polisi yang sudah berbaik hati mau mengantarkan saya ke sekolah di atas MOBIL POLISI!
Apa? Iya! MOBIL POLISI BAK TERBUKA!
Sampeyan tahu kan, apa itu mobil polisi dengan bak terbuka?
Mobil (pick up) polisi berwarna abu-abu dengan dua kursi tahanan berwarna abu-abu juga yang terpasang di atasnya!

Jadilah, selama dua puluh menit yang terasa dua puluh tahun itu saya duduk manis di kursi tahanan mobil Polsek Ngampilan, melewati jalanan ramai dan tertunduk malu sewaktu berhenti lama di lampu merah. Ah! Jadi inilah harga yang harus saya bayar! Semua orang melihat saya dengan tanda tanya besar di kening mereka: perbuatan kriminal apa yang telah saya lakukan sehingga saya 'dijemput' mobil polisi? Dan bayangkan apa yang harus saya katakan saat teman-teman saya melihat saya duduk manis di atas mobil tahanan?

Untung saja saya diturunkan tidak di depan gerbang karena ada dua bis pariwisata besar yang parkir memanjang di depan sekolah. Saya sempat heran juga, kenapa teman-teman menyewa dua bis pariwisata, bukankah hanya akan ada sekitar 40 orang saja yang ikut? Saya bergegas takut ditinggal.
Dan inilah kemalangan saya yang kedua: pelataran sekolah sepi.
Saya panik mencari satpam di pos satpam, dan kaget melihat dua orang teman sekelas saya duduk di sana dengan tampang kecut. Perasaan saya tidak enak.

Singkat cerita, piknik batal!
Hanya ada empat orang yang mendaftar, dan tak ada kendaraan menuju pantai, dan hanya saya saja yang perempuan, dan saya terkecoh dengan bis besar karena ternyata itu milik SMA 6 yang hendak pergi ke Bali.
Sekali lagi saya menelan ludah. Marah. Kecewa. Tapi juga geli.
Setelah susah-susah minta bantuan polisi dan menahan malu sepanjang perjalanan duduk di atas kursi tahanan, dan ternyata piknik batal, maka kami sepakat mengarang cerita (yang akan kami ceritakan kepada orang tua di rumah tentu saja) kalau di Cilacap ada wabah demam berdarah, dan kami tak bisa ke sana karena tak diperbolehkan oleh guru!
Bekalnya? Saya makan di atas bis jalur 4 yang membawa saya pulang ke rumah!
Ha-ha-ha!

2 comments:

  1. huauhahuauhahu!!! kurakurakikuk memang jawaraa!!! IHAiahhihA!! selalu sukaaakk!! ahihia... tapi lumayan bu, itung itung piknik di atas mobil pulisi.. ihihhi

    ReplyDelete
  2. hehehehe :D
    cerita ini selalu diulang-ulang saat acara keluarga krn setelah piknik yang gagal, saya pulang ke rumah, dan siap ditodong berbagai pertanyaan, 'kenapa nggak jadi piknik' bla-bla-bla...dan saya mengarang2 cerita ttg wabah demam berdarah, jalur pantai selatan macet, dll, dan saya kembalikan uang 20 ribu punya ibu saya, nggak jadi beli ikaaaaaaan! teriak ibu saya. hahahahahha.....

    ReplyDelete

terimakasih ya sudah mampir dan menyapa kurakurakikuk :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...