Saturday, July 30, 2011

Ritual Bangun Pagi

Beberapa bulan terakhir ini, hidup saya dimulai pukul sembilan.
Ah!
Saya tak tahu kenapa saya tak bisa bangun pagi sedang pacar saya, Greg selalu bangun pagi-pagi setiap hari. Jam setengah lima ia sudah mandi, menyetel musik pagi, ajojing, lalu berangkat.
Sedangkan saya?
Masih melungker dengan bantal kapuk berkain batik yang dibuat oleh ibu saya menempel di atas wajah.
Wah!
Memalukan.
Katanya nenek saya dulu di Mojokerto, tak baik anak gadis bangun setelah matahari sudah di atas kepala.
Katanya lagi, kita harus bangun tidur sebelum matahari muncul dan sebelum ayam berkokok.

Friday, July 29, 2011

m-e-n-i-k-a-h

Baru saja saya membaca blog teman saya, Amanda Mita, si perempuangimbal, yang ternyata mengabarkan berita gembira bahwa ia sudah dilamar dan hendak menikah tahun ini atau tahun depan.
Ah.

Agak aneh memang, saya membaca blog teman saya tentang menikah, menulis tentang tema menikah, di saat tetangga sebelah sedang ramai-ramai merayakan pesta pernikahan yang gegap gempita.
Dan saya tidak diundang.

Dan beberapa bulan lalu, tetangga sebelah rumah lagi, juga menikah, tapi tidak dengan gegap gempita, dengan pesta yang hangat di dalam rumah.
Dan saya pun juga tak diundang.

Friday, July 15, 2011

Apa? Sop Ikan Hiu?

Ya.
Beberapa hari yang lalu saya dan Greg mencoba sup ikan hiu di sebuah warung apung di daerah Sleman.
Kenyataan bahwa ikan hiu termasuk spesies yang terancam punah dan kabar bahwa daging ikan hiu mengandung merkuri sudah kami dengar sebelumnya. Toh, kami ingin mencoba saja, bagaimana rasanya daging ikan hiu. Ehm, katanya juga, daging ikan hiu berkhasiat untuk menambah kejantanan pria, he-he-he.

Jadilah kami memesan sop ikan hiu dan sempat terkaget-kaget karena ternyata si warung apung ini menyediakan sop bibir ikan hiu. Bibir? Ya, bibirnya saja.
Saya menggeleng.
Dan inilah sop ikan hiu yang kami cicipi waktu itu:

Monday, July 11, 2011

Deru-deru Jakarta

Beberapa hari yang lalu saya ke Jakarta untuk menghadiri sebuah pertemuan. Ah, berangkat pagi-pagi ke bandara dan agak kesal karena pesawat terlambat hingga 45 menit! Mata masih mengantuk, mulut kering dan lidah beku.
Tertatih-tatih saya masuk kabin dan duduk di ujung belakang.
Begitu pesawat mengudara, saya sudah siap-siap hendak memfoto sekilas pandang udara, dan inilah beberapa foto yang sempat saya buat sebelum saya akhirnya tertidur pulas seperti bayi dan baru bangun saat mendarat di Soekarno-Hatta.

Kapal-kapal yang berbaris di ujung Jakarta.
Dan sekali lagi saya geragapan saat turun karena silau dan tubuh terasa kering seperti cucian habis diperas. Ah! Tujuan berikutnya: minum!
Kebetulan saya bertemu dengan Mbak Dyah, teman dari Solo yang juga ikut menghadiri pertemuan kali ini. Kami bergegas menuju halte bis Damri yang akan membawa kami ke Blok M. Tiba-tiba mata saya tertumbuk pada alat penyedia minuman otomat di depan halte. Wah, lumayan bisa mencoba!
Saya belum pernah melihat alat otomat ini sebelumnya, jadi langsung saya masukkan lembaran uang sepuluh ribu dan memencet tanda minuman yang diinginkan, dan plung, si minuman akan jatuh ke bawah!
Hehehe, ndeso ya :)
Akhirnya tenggorokan saya basah!

Sunday, July 10, 2011

Rumah Baru!

Yay!
Setelah beberapa hari lamanya, jadilah rumah baru bagi kurakurakikuk!
Sebenarnya saya ingin meluncurkan rumah baru ini pada bulan September mendatang, berbarengan dengan genap setahun saya bermukim di rumah kecil nan nyaman ini, tapi berhubung dua teman baru saya, Esiotrot dan Arukaruk ikut-ikutan nongol dan bersemangat, maka jadilah! :)

Oya, kalau sampeyan belum kenalan dengan Esiotrot dan Arukaruk, ini dia:

Lucu ya!
Jadi sekarang saya punya dua teman kecil yang menemani saya tiap hari. Dari dulu saya ingin sekali punya kurakura tapi baru sekarang kesampaian.
Dan saat saya menulis ini, Esio dan Aruk sedang berduaan lagi!
Ahay!
Aruk berdiri di atas Esio!

Sunday, July 3, 2011

Gagal Piknik!

Saya mau bercerita lagi tentang piknik.
Saya heran, kenapa ya dulu saya tak pernah berhasil dalam hal piknik mempiknik. Masih ingat cerita saya tentang piknik yang gagal saat saya SMP dan harus berurusan dengan polisi?
Tiga tahun kemudian, kutukan gagal piknik mulai menampakkan taringnya.

Waktu itu saya kelas dua SMA di sebuah kota kecil di Jawa Timur bernama Mojokerto. Dan biasanya kelas dua adalah masa-masa yang menyenangkan, masa-masa penuh kenakalan dan kenekatan remaja, saat-saat gumbira karena punya adik kelas yang bisa dijahili dan tak harus pusing-pusing berpikir tentang Ujian Nasional. Kelas dua SMA menjadi puncak aktualisasi diri saya waktu itu. Seluruh jabatan di ekstrakurikuler saya borong. Sebut saja, Ketua Teater Payung Hitam, Ketua Mading plus Pimred Majalah Sekolah, Sekretaris Pramuka, PMR, OSIS, Pencinta Alam dan bahkan dulu kami membentuk ekskul bawah tanah yang terdiri dari ketua-ketua seluruh ekskul (kecuali Tonti yang biasa disebut Paskib), dan merencanakan untuk kudeta! Kudeta terhadap pemikiran-pemikiran dan kebiasaan-kebiasaan orang normal, lebih tepatnya. Inilah di mana kami, tim bawah tanah, memburu Tetralogi yang waktu itu dilarang hingga blusukan di Surabaya demi membaca karya legenda Pram itu, membaca Marx, melahap paham-paham feminisme, komunisme, sosialisme, humanisme (dan isme isme lainnya). Jiwa pemberontakan seakan tersulut begitu cepat seperti api disiram bensin. Dan saya ada di dalamnya!

Jadilah kami, satu kelas, yang semangatnya berkobar-kobar dan menyala-nyala merencanakan untuk piknik. Saya sudah ngiler pergi ke Bali, karena waktu piknikan SMP ke Bali, hanya saya dan segelintir orang yang tak ikut, dan saya pikir jarak Mojokerto-Bali lebih dekat daripada Jogja-Bali, jadi lebih murah secara biaya. Dan saat voting lokasi piknik, saya kalah telak!
Hanya saya yang memilih Bali, ehm dan lainnya?
Mereka ingin piknik ke JOGJA!!!
Tidaaaaaaaaak!
Kenapa Jogja?? Saya kan dari sana?? Sama saja saya pulang kampung dong!!
Saya mencak-mencak tapi saya tak bisa mengelak.
Keputusan bulat: PIKNIK KE JOGJA!
Saya langsung lemas melihat rute piknik standar pariwisata: Parangtritis-Prambanan-Borobudur-Kraton-Taman Sari-Malioboro.
Saya langsung bilang kalau mending kita ke pantai-pantai di Gunungkidul, lebih indah daripada Parangtritis, begini begitu, saya tambahkan beberapa objek wisata yang aneh-aneh, dan mereka manut karena saya orang Jogja! Ha-ha-ha!

Friday, July 1, 2011

Apa Hubungannya Piknik dengan Pak Polisi?

Ada!
Dan ini di luar pikiran sampeyan.
Jadi, ini tentang saya, piknik, dan pak polisi.

Peristiwa ini terjadi saat saya masih duduk di kelas dua SMP di sebuah SMP negeri yang lumayan terkenal di Jogja, yaitu SMP yang terletak di depan SMA 6, marilah kita sebut saja SMP 8. Nah, saya masih ingat saat itu kami sedang merencanakan hendak piknik bersama, menuju sebuah pantai di Cilacap, yang kalau tidak salah bernama Pantai Ayah. Kami sekelas sudah merencanakan untuk berkumpul di depan gerbang sekolah pada hari Minggu pagi jam delapan, lalu akan bersama-sama pergi ke pantai naik mobil salah satu teman kami yang bernama Damar.

Nah, tentu saja saya ikut!
Saya termasuk murid yang haus-piknik. Coba saja tengok, saat teman-teman SMP hendak berpiknik ke Bali, hanya saya yang tidak ikut. Alasannya klise, tidak ada uang saku dan terutama tak punya uang untuk membayar biaya piknik. Setiap ada piknik, saya selalu menghindar. Bukannya tidak suka, tapi masa-masa itu adalah masa pahit bin prihatin yang membuat penampilan saya seperti anak umur 12 tahun yang menderita cacingan dan busung lapar: kulit kusam kehitaman akibat setiap hari jalan kaki, wajah tak terawat karena hanya bisa pake bedak tabur di dalam kantong plastik bermerek Viva yang baunya tak terkira itu, betis besar pertanda kuat jalan, mata minus tersembunyi di balik kacamata aneh bin jadul dengan frame belang-belang seperti kulit macan dan lensa berwarna kehitaman seperti kacamatanya Asep Irama!
Waduh! Coba dibayangkan!

Ya. Saya memang murid paling tidak populer waktu saya SMP.
Tapi kali ini saya tetap bertekad untuk ikut piknik karena yang ikut hanya teman-teman sekelas saja, dan bukan seluruh angkatan. Weits, kenapa saya bilang begitu? Iya, karena semua kelas di SMP 8 ada sepuluh kelas!
Kelas 1.1 sampai 1.10, kelas 2.1 sampai 2.10 dan kelas 3.1 sampai 3.10!
Jika waktu itu satu kelas isinya 40 orang, maka dalam satu angkatan saja teman saya berjumlah 399 orang!
Di samping itu, piknik kali ini gratis! Hanya bermodal bekal makanan saja!

Jadilah, malam sebelum keberangkatan, saya sudah ngalor-ngidul mencari bekal: roti pisang yang tebal, nasi panas dan lauk telur ceplok yang dimasukkan dalam kotak plastik bergambar Helokiti, air matang yang dimasukkan ke dalam botol akua, beberapa makanan kecil dan uang dua puluh ribu rupiah yang kata Ibu saya untuk membeli ikan yang banyak.

Jam tujuh.
Saya sudah berdiri di pinggir jalan di depan gereja menanti angkot kuning bernama Kobutri yang sekarang sudah hampir hilang dari peredaran tergantikan oleh Trans Jogja, kendaraan jetmatik dan sepeda fixie. Sebenarnya saya sudah harap-harap cemas karena masa-masa hari Minggu adalah masa yang sulit untuk menunggu Kobutri datang. Kalau saya beruntung, mereka akan datang tiap setengah jam sekali. Kalau tidak, menunggu hingga satu jam pun kadang-kadang masih belum datang juga.

Saya mendesah.
Saya tak punya rencana kedua. Keluarga kami tak punya sepeda motor dan saya tak bisa naik sepeda motor. Jadi saya tak bisa menyuruh ayah saya atau ibu saya atau nenek saya untuk mengantarkan saya ke sekolah. Saya juga tak bisa menggagalkan rencana piknik ini, karena ini adalah piknik saya yang kedua setelah piknik heboh saya waktu kelas 6 SD di Maerakatja Semarang. Dan saya malu kalau saya pulang lagi dan bilang, tidak jadi piknik, Bu. Malu dong!
Ah!
Saya berpikir tentang rencana kedua. Saya harus sampai di sekolah jam delapan tepat atau kalau tidak saya akan ditinggal! Saya bertanya kepada orang lewat, jam berapa Mbak? Dan ia menjawab, jam setengah delapan. Saya panik. Setengah jam lagi dan saya masih berdiri di depan gereja menonton polisi yang hilir mudik menuju.....eits, polisi?
Saya punya akal!
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...