Saturday, June 18, 2011

Tour de Pantura!

Kali ini, saya akan bercerita tentang perjalanan saya dan Greg menyisiri Pantura alias Pantai Utara yang baru saja selesai hari Sabtu ini saat kami dengan selamat tiba di Klaten dan sejenak melepas lelah bermalam di rumah teman baik kami, Pius dan Victor di desa Karangnongko yang dingin menggigit.
Kami memulai perjalanan ini hari Kamis pagi, berangkat jam tujuh dengan rute yang waktu itu bagi saya tidak masuk akal. Bayangkan: Jogja-Klaten-Boyolali-Salatiga-Ungaran-Semarang-Demak-Jepara-Kudus-Pati-Rembang-Lasem-Blora-Purwodadi-Sragen-Solo-Klaten-Jogja!

Waow! Kami hanya berbekal peta, baju secukupnya dan mengendarai sepeda motor tua milik Greg yang bernama Mbah Kakung, sebuah sepeda motor Honda Supra keluaran 2002 yang sudah sangat renta: tak ada rem baik belakang maupun depan, belum ganti oli, tidak ada shock depan, belum diservis dan kondisi ban dalam belakang yang menyedihkan karena sering bocor.
Saya menelan ludah saat berangkat.
Semoga saja semua baik-baik saja! pikir saya sambil mengelus Mbah Kakung dengan pelan-pelan.
Dan inilah rekam jejak perjalanan kami selama tiga hari yang menantang, tanpa kamera (karena saya ingin lebih banyak bercerita), yang saya sajikan per kota destinasi dengan sedikit cerita tentang ini dan itu, dan tentu saja saya jadi hafal dengan semboyan masing-masing kota yang kami lewati atau kunjungi, selain hafal plat nomor kendaraan setiap kota! :)

Klaten Bersinar
(bersih-sehat-indah-nyaman-aman-rapi)
Kamis jam tujuh pagi kami bertolak menuju Klaten, hendak mencari jalan alternatif menuju Semarang via Boyolali dengan bensin berisi 2 liter saja. Klaten bagi kami sangat familiar, karena kebanyakan teman-teman saya di kampus orang Klaten. Para anak gaul Klaten biasanya sering menyebut diri mereka Cah Kla-X sering dibaca Kla-Eks alias (kla-ten). He-he-he.
Kami melewati kota Klaten yang di sana-sini masih dijumpai banyak bangunan Belanda, lalu masuk ke jalan alternatif yang menuju ke arah Boyolali.

Boyolali Tersenyum
(tertib-elok-rapi-sehat-nyaman untuk masyarakat)
Saat tiba di Pasar Boyolali sekitar jam delapan, kami sepakat untuk mampir di bengkel sepeda motor untuk memasang rem belakang dan ganti oli. Kami masih bersemangat meski tak sempat sarapan pagi itu. Setelah menunggu seperempat jam, motor sudah siap dikendarai.
Ooops! Ternyata Mbah Kakung ngambek!
Ban belakang kempes!
Oh-oh! Akhirnya kami menuntun sepeda motor hitam yang tak pernah dicuci itu ke tukang tambal ban yang untunglah, berjarak hanya 500 meter dari bengkel. Sembari menunggu proses penambalan, saya membeli sebotol besar air mineral dan dua potong roti manis seribuan. Lumayan untuk mengganjal perut. Setelah seperempat jam lagi duduk di pinggir jalan pasar yang berdebu dan penuh dengan angkot yang penuh dengan penumpang dan sayuran, kami siap melaju!
Kami banyak melewati patung sapi besar di kota ini. Maklum, Boyolali terkenal sebagai Kota Susu karena merupakan salah satu pusat terbesar penghasil susu di Jawa Tengah. Udara lumayan dingin di sini karena Boyolali diapit Gunung Merapi dan Merbabu.
Di tengah jalan pedesaan, kami melewati sebuah kandang sapi yang cukup menarik perhatian. Bukan berisi sapi-sapi perah penghasil susu segar, tetapi kerbau berwarna kuning muda. Baru kali ini saya melihat kerbau bule alias kebo bule! Di depan kandang yang pagarnya terbuat dari kayu itu tertulis spanduk: Mahesa Kraton Surakarta. Oooh, jadi ini kerbau bule milik Kraton Surakarta, pikir saya. Saya melihat beberapa kerbau sedang makan ditemani oleh seorang abdi dalem pemelihara kerbau. Kami lalu melanjutkan perjalanan.
Menuju Salatiga!

Salatiga Hati Beriman
(sehat-bersih-tertib-indah-aman)
Memasuki Salatiga, kami masih disuguhi dengan pemandangan elok Merapi-Merbabu yang tampak gagah diselingi awan-awan putih yang berarak. Salatiga adalah kampung halaman teman kampus saya, Vega. Gadis-gadis Salatiga terkenal ayu dengan kulit bersih karena udara segar dan air yang sejuk. Yang saya sukai dari kota ini adalah banyaknya bangunan-bangunan Belanda yang masih terawat dengan baik yang hampir memenuhi kotanya yang bersih. Dulunya, Salatiga memang terkenal dengan kota peristirahatan karena udaranya yang sejuk dan hawanya yang segar, jadi tak heran banyak rumah-rumah Belanda di sini. Hampir pukul sepuluh dan kami terus melaju di atas jalan-jalan baru yang masih berbau aspal. Rencananya kami akan brunch alias sarapan sekaligus makan siang di Kampoeng Kopi Banaran sebelum Ungaran, jadi kami semakin bersemangat karena jarak semakin dekat dan kami sudah lapar!
*bersambung*

2 comments:

  1. sehat itu penting
    satu2nya kata yang ada di ketiga2nya :D

    ReplyDelete
  2. hihihihi :)
    kata yg selalu juga ada adalah 'aman' :p
    lucu ya, semboyan2 kota2 :D

    ReplyDelete

terimakasih ya sudah mampir dan menyapa kurakurakikuk :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...