Saturday, June 11, 2011

Semalam di Cetho

Beberapa waktu yang lalu, saya dan Greg melakukan perjalanan panjang bersepeda motor ke Cetho, di Karanganyar, Jawa Tengah. Cetho adalah nama candi yang menjulang tinggi di sela-sela perbukitan teh yang menghijau dengan jalan yang berkelok-kelok serta udara pegunungan yang segar.
Perjalanan ini adalah salah satu dari sekian traveling spontan yang selalu kami lakukan tanpa uang banyak, tak membawa baju ganti dan hanya menginap semalam saja. Kami juga bermaksud akan bersemadi di candi Cetho, menikmati alam pegunungan dan sekaligus belajar dari penduduk Hindu yang tinggal persis di bawah candi. Sebelumnya saya sering sekali pergi ke Candi Cetho ini karena sewaktu saya masih menjadi guide di Via Via, tur ke Candi Cetho dan Candi Sukuh adalah favorit saya.
Menyusuri perkebunan kopi dan teh yang menggunung hijau menuju Candi Cetho lalu berjalan kaki menyusuri lembah sayur, hutan pinus, naik turun bukit, menyeberangi sungai, dan berakhir ke Candi Sukuh yang erotis, ah! Perjalanan kali ini juga semacam napak tilas pribadi, hendak menyentuh teman-teman lama yang semakin berlumut di puncak sana.

Jadilah kami berdua naik sepeda motor dari Jogja, hujan deras menyertai perjalanan kami, tubuh yang menggigil kedinginan, pantat yang mulai mengeras dan tak nyaman karena lama di boncengan, dan mata yang perih karena kemasukan air hujan. Dan setelah berputar-putar keluar masuk desa dan njajah desa milang kori, kami sampai juga di kawasan Cetho. Hujan masih turun deras dan tanjakan curam yang menuju candi saat itu berwarna tajam dan berbau abu-abu. Sepi. Kelabu. Dingin.

Greg menyuruh saya turun karena motor kami tak kuat. Akhirnya saya berjalan tanpa alas kaki karena sepatu saya basah sah. Saya memutuskan untuk memasuki salah satu penginapan yang paling dekat dengan kaki saya, dan saat kaki saya menyentuh lantai semen yang berlumut dan basah, saya tergelincir: GEDUBRAK!
Saya jatuh berdebum-debum.
Pantat saya lepas landas di kerikil-kerikil tajam dan auw! rasanya seperti duduk di atas durian!
Saya meringis dan tertatih-tatih berdiri.
Saya meraba bagian belakang saya.
Wah, basah kuyup dan berlumut!
Saya lalu berjalan, kali ini seperti nenek-nenek kehilangan tongkatnya, saya berjalan dengan tangan melekat pada tembok-tembok rumah yang basah. Usaha ini cukup susah karena saya harus berjalan turun tanpa alas kaki dan jalannya waow,  superlicin!

Akhirnya setelah tertatih-tatih dan meloncat ke belakang punggung Greg, kami menemukan sebuah penginapan yang bersedia menampung kami selama semalam dengan biaya 50 ribu saja. Tak ada air panas tentu saja, tapi kami langsung akrab dengan pemilik rumah yang memberi saya remason, minyak kayu putih serta meminjami senter dan payung untuk semadi nanti malam.
Saya berpikir delapan kali untuk mandi. Gila! Airnya dingin sekali seperti es!
Dan akhirnya saya putuskan untuk cuci muka saja, bahkan pipis pun saya enggan karena takut mengkeret. Hanya Greg yang berani mandi. Lalu dengan semangat empat-lima ia mengajak saya (yang masih lebam pantatnya) naik ke atas dan bercengkerama di warung sederhana mencari teh hangat dan camilan gunung.
Beberapa saat setelah kami di warung, ada rombongan baru yang muncul. Rombongan kali ini cukup lain daripada biasanya karena mereka semua adalah rombongan paranormal dan tetua-tetua dari daerah Jawa Tengah dan sekitarnya. Dari hasil perbincangan ala warung kopi, kami mengetahui bahwa nanti malam mereka juga akan melakukan upacara di candi karena ternyata malam nanti adalah malam purnama. Hmm, dengan cuaca seperti ini, saya tak yakin apakah bulan mau muncul.
Dan, tentu saja kami ikut upacaranya!
Malam itu, kami berjalan di belakang mereka, ikut duduk bersemadi di atas relief kura-kura besar dengan udara yang menggigit dan angin gunung yang kencang. Udara padat. Hawa memberat. Dupa dan menyan bercampur dengan bau bunga sesaji dan komat-kamit serta dedoa dari tetua membuat suasana malam itu menjadi magis dan ritmis.
Saat rombongan hendak naik semakin naik, saya memutuskan untuk menunggu saja di relief kura-kura besar. Hanya Greg yang ikut naik. Saya memilih untuk bermeditasi sendiri saja di bawah sini.
Ada yang selalu saya sukai dari duduk diam mengatur napas di areal candi-candi kuno. Energi yang tersimpan selama ratusan tahun, bebauan kuno yang menguar dari sela-sela bebatuan yang ditumbuhi lumut dan pakis di ketiak-ketiaknya, serta desau angin purba yang memenuhi rongga selalu tak bisa dilukiskan dengan hanya sekedar kata-kata.
Dan saya menjadi si udara itu sendiri.
Melayang menuju pucuk-pucuk pinus di bawah sana, dan kadang menukik ke atas bukit hendak bertarung dengan bulan, lalu terjun bebas dan kelegaan selalu memenuhi rongga-rongga sel tubuh saya setelahnya.
Ah!
Malam yang syahdu. Tak ada hujan. Dan bulan muncul perlahan.
Dan kami pulang hampir tengah malam lalu meringkuk di balik selimut tebal sambil berusaha menghangatkan satu sama lain.
Dan paginya:
fajar yang muncul di bebalik bukit dan kelokan, awan yang menggantung malas, dan semburat kemerahan yang menawan mata! Saat berdiri di puncak bukit di bawah candi, hamparan perkebunan teh yang masih gelap perlahan berubah warna menjadi hijau.
Dan saat matahari benar-benar muncul dan menyinari seluruh perbukitan, maka inilah yang terlihat:
Segar sekali! Pagi-pagi kami memutuskan untuk turun dan mencari sarapan di pasar bawah, melampaui kebun-kebun teh yang di pucuknya masih menggantung embun bening, dan saya tak perlu mandi lagi untuk berfoto di depan kebun tehnya yang aduhai!

2 comments:

terimakasih ya sudah mampir dan menyapa kurakurakikuk :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...