Sunday, June 12, 2011

Radio oh Radio!

Saya belum pernah bercerita kepada sampeyan ya kalau dulu saya sempat jadi penyiar radio?
Ya.
Jadi, setelah saya lulus SMA, saya tak bisa langsung kuliah karena saya tak punya cukup uang untuk masuk universitas. Jadilah saya mencari-cari kesibukan. Dan saya iseng-iseng datang ke sebuah radio komunitas yang bermarkas di dekat rumah saya, di deretan toko-toko bakpia di sepanjang ruas jalan Pathuk. Waktu itu tahun 2003.
Dan saya tahu kalau ada radio baru yang muncul dan mengudara setiap sore. Jadilah saya beranikan diri saya untuk mendatangi kantornya dan bertemu dengan pemiliknya, dan berbicara panjang lebar tentang ini dan itu, dan akhirnya saya diberi kesempatan untuk menjadi penyiar!
Hmm, sebuah tantangan yang cukup menarik mengingat saya selalu senang mencoba pengalaman-pengalaman baru. Akhirnya, setiap sore jam 3 saya selalu nongkrong di studio radio itu dan belajar tentang mengoperasikan mixer, bagaimana cara memutar lagu, mengatur volume microphone, dan menjawab sms para pendengar. Dan akhirnya saya mendapat jatah siaran setiap malam jam tujuh sampai sembilan, setiap hari.
Saya mulai menyukai pekerjaan baru ini hingga pada suatu hari saya datang lebih awal, sekitar jam 10 pagi, karena saya ingin merasakan bagaimana rasanya siaran pagi hari.
Studio sepi waktu itu.
Saya yang sudah biasa on air langsung dengan sigap menghidupkan segala perlengkapan perang dan duduk manis di belakang microphone besar dan memutar lagu-lagu. Beberapa saat kemudian, sms mulai bermunculan, kebanyakan pendengar bertanya kenapa ada siaran di pagi hari, karena biasanya memang siaran selalu mulai sore hingga malam.
Saya asyik mengoceh dengan penuh semangat hingga tak terasa sudah hampir jam duabelas siang.
Tepat di saat saya sedang asyik-asyiknya membacakan sms para pendengar satupersatu, tiba-tiba saya dikejutkan dengan gedoran keras di pintu ruang siaran, lalu diikuti dengan kedatangan dua orang laki-laki besar bertopi yang masuk begitu saja sambil memasang tampang garang kepada saya.
Saya membeku ketakutan.
Saya tak tahu kalau ada orang yang tertarik untuk merampok radio komunitas.
Dan saya sendirian.
Saya hanya bisa melihat saja tanpa bicara apa-apa saat dua orang laki-laki itu memutus paksa kabel-kabel dan mematikan lampu serta mematikan semua jaringan pemancar radio.
Salah satu dari laki-laki bertopi itu membentak saya, hentikan siarannya!
Dan saya manut seperti kerbau dicocok hidungnya.
Mereka lalu mengeluarkan semacam alat yang saya tak tahu apa namanya yang berbunyi keresek-keresek.
Saya hanya berharap kalau itu bukan bom waktu.
Saya tak mau mati di dalam ruang siaran yang sempit dan penuh kabel.
Saya juga belum kuliah, pikir saya waktu itu.
Dan saya baru saja putus dari pacar saya.
Jadilah berbagai macam pikiran buruk menghantui saya.
Setelah menjalankan aksinya, dua orang laki-laki itu bertanya kepada saya, di mana menara pemancarnya. Saya lalu keluar dari ruang siaran dan memberitahu mereka bahwa menara pemancar ada di lantai dua.
Mereka bergegas kesana.
Meninggalkan saya sendirian di depan ruang siaran.
Saya berkali-kali menelan ludah.
Mengelap keringat dingin.
Dan meremas jari-jari.
Dan beberapa saat kemudian, barulah saya sadar bahwa saya sedang tidak dalam proses perampokan di ruang siaran.
Ternyata, mereka berdua adalah petugas patroli dan pengendali arus siaran di udara yang menemukan gelombang radio komunitas saya mengganggu gelombang radio komersial di Jogja.
Ah!
Jadi saya baru saja kena gerebek!
Saya merasa seperti pedagang kaki lima yang menggelar dagangannya di pinggir jalan dan tiba-tiba serombongan petugas patroli datang dan menyuruh saya pergi, hush hush!
Dan saat si pemilik radio datang beberapa saat kemudian karena ditelpon oleh para petugas bertopi itu, saya sudah berkeringat dingin karena membayangkan saya akan dimarahi karena lancang telah siaran pagi hari tanpa ijin dan bla bla bla, tetapi yang terjadi adalah sebaliknya.
Si pemilik radio, Mas Luthfi, malah tertawa terbahak-bahak dan segera meminta maaf kepada para petugas dan dengan segera masalah sudah terselesaikan:
tak akan ada lagi siaran gelap di pagi dan siang hari!
Saya hanya nyengir.
Setelah minta maaf berkali-kali kepada Mas Luthfi, dia berkata, belum ada lho, yang pernah berani mencoba melakukan ini sebelumnya! Sambil mengedipkan sebelah matanya.
Ah! Kami terkekeh bersama-sama!

4 comments:

  1. hahaha.. saya enjoy banget baca cerita2mu mbak.. jadi inget wkt kuliah dulu, saya jg pernah kepengen jadi penyiar radio.. qiqiqi..masa lalu, masa lupa ya mbak..hahaha

    ReplyDelete
  2. hihihihi :)
    kalo saya mah jadi penyiar radio nekat :p

    ReplyDelete
  3. hoalaaaah kita senasib tho...aku juga gak langsung kuliah selepas SMA tapi terus kerja dulu, salh satunya jadi penyiar radio hihihi

    -Nunu Vandanoe--

    ReplyDelete
  4. @Nunu:
    hahahaha :D samaaaa!
    iya, tapi aku penyiar radio gagal nan amatir jeng, hehehe :p

    ReplyDelete

terimakasih ya sudah mampir dan menyapa kurakurakikuk :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...