Tuesday, June 14, 2011

Perjalanan Menuju ke Diri

Kali ini, saya dan Greg kembali berkelana ke timur, tepatnya di Kediri. Menanggapi undangan sahabat kami, Nanto, untuk berkunjung ke Pohsarang, rumah kakek tercintanya yang katanya juga ikut serta dalam pembangunan Gereja Pohsarang yang unik itu. Sebuah gereja batu-batu yang arsitekturnya bergaya Mojopahit yang dibangun sekitar tahun 1936 oleh arsitek Maclaine Pont. Rencananya kami akan menginap semalam di Wisma Mbah Kung, milik almarhum kakeknya Nanto.
Jadilah kami menunggu kereta Kahuripan yang akan berangkat jam enam pagi dari Stasiun Lempuyangan. Tentang perjalanan ini sendiri pun, saya dan Greg selalu antusias untuk melakukan sebuah perjalanan. Kami bahkan punya terma bernama traveling spontan yang tak diagendakan sebelumnya, melesat begitu saja, langsung pergi ke stasiun dan meloncat ke kereta mana saja yang hendak berangkat, tak berbekal uang banyak (hanya sekitar seratus ribu saja) dan tak membawa baju ganti ataupun bekal. Kami sering melakukan traveling spontan semacam ini, dan salah satunya saat saya tiba-tiba pergi ke Mojokerto bersama Greg dan menginap di stasiun Mojokerto karena kehabisan kereta. Atau saat kami mendadak ingin pergi ke Cetho dan menginap semalam di bawah candinya. Ada banyak traveling spontan yang pernah saya lakukan bersama Greg, dan akan saya tulis ceritanya beberapa saat lagi :)

Oke, kembali ke kereta Kahuripan. Akhirnya kami berhasil naik dan mendapat tempat duduk di dekat restorasi. Kereta cukup sepi pagi itu, dan kami bisa sarapan sega pecel di Madiun dua jam kemudian, dan duduk memandang sawah-sawah yang hijau membentang. Saya selalu suka kereta. Kami selalu suka kereta ekonomi.
Saat kami bisa duduk di bordes dengan tenang, atau duduk mencangklong di gerbong paling belakang sambil melihat rel yang mengular dan menderu. Saya tak terlalu suka naik kereta eksekutif. Saya baru naik kereta eksekutif tiga kali seumur hidup saya. Selain mahal dan dingin, tak ada banyak yang bisa dilihat saat menghabiskan waktu di kereta eksekutif, paling hanya bisa tidur meringkuk merapatkan selimut dan membenamkan tubuh dalam-dalam karena ACnya selalu superdingin.
Jadi, kesukaan saya adalah berdiri di dekat jendela, menghirup udara dan rima sawah sungai, melayangkan ingatan pada masa-masa lampau dan kadang bisa membenamkan diri dalam riuh rendah deru kereta.
Ah, saya selalu suka kereta!
Dan perjalanan hampir tujuh jam ke Kediri ini adalah sebuah perjalanan menuju ke diri.
Dan saat kereta tiba-tiba berhenti di Stasiun Kediri, saya bersorak:
petualangan segera dimulai, kawan!
Mungkin sampeyan membayangkan petualangan saya kali ini dramatis, tetapi yang terjadi selanjutnya adalah kami dikejar-kejar tukang becak!
Cukup dilematis juga saat itu, karena kami belum pernah ke Kediri sebelumnya, hanya berbekal arahan sms dari Nanto untuk ke sini, lalu ke situ, lalu naik ini dan naik itu, tapi tetap saja, kadang kami ingin sejenak jalan-jalan sendiri dan mencari tahu lebih banyak tentang kota tua ini.
Dan, sayangnya saya harus menyerahkan diri saya kepada bapak tukang becak yang gigih ini. Mungkin ia belum mendapat penumpang sejak pagi dan butuh mambayar SPP anaknya, jadi ya akhirnya kami langsung naik becak keliling kota Kediri siang itu. Kami melewati jalan-jalan kecil yang penuh dengan bangunan lama yang tak terawat, pojok-pojok pesing, klenteng, dan ah, tentu saja: deretan toko-toko fashion seperti Jalan Solo dan Malioboro, toko tahu Kediri yang terkenal itu, dan melewati jembatan yang saya kira sungai di bawahnya adalah Brantas.
Dan akhirnya, kami diturunkan di pasar. Begitu saja.
Apa?
Wah, ini baru namanya petualangan!
Setelah hampir dikejar-kejar oleh segala macam jenis ojek, kami berhasil melarikan diri dan masuk ke sebuah warung untuk mencari minum. Hari cukup terik. Dan saya kebelet pipis.
Berbekal jawaban yang kami peroleh dari tukang kupat tahu, kami harus pergi ke terminal dan tahan napas sampeyan: tak ada bis ke Pohsarang!
Oke, jadi kami harus naik apa?
Jawaban disimpan dulu.
Hmm, Pohsarang adalah daerah cukup terpencil dan memang tak ada trayek bis menuju ke sana. Kalau beruntung, pagi-pagi bisa ikut truk pengangkut penduduk desa dan sayur mayurnya yang naik turun dari Pohsarang menuju kota Kediri dan sebaliknya.
Saya lirik jam tangan: hampir pukul dua.
Jawaban yang tadi disimpan adalah: kami akan ke terminal jalan kaki, dan akan ke Pohsarang naik apa saja yang bisa mengangkut kami.

Jadilah, kami jalan kaki menyusuri jalanan panas kota Kediri dengan mantap. Dan setelah dua puluh menit berjalan, hey, di mana sih terminalnya?
Masih jauuuuuh,Mbak, kata bapak-bapak penunggu toko kelontong.
Yep, karena kami tak mau kemalaman di tengah hutan dan gunung, maka saya memutuskan untuk menghentikan kendaraan apa saja yang melintas di depan saya. Dan ada yang berhenti!
Sebuah mobil tua dengan seorang nenek yang juga sudah tua yang duduk di samping pak sopirnya yang berkumis khas Jawa Timur. Saya meminta dengan sopan plus dengan bahasa Jawatimuran saya yang selalu saya banggakan.
Akhirnya kami naik, dan hanya dalam waktu sepuluh menit saja kami akhirnya diturunkan di depan terminal. Saya menyelipkan enam ribu ke dashboard-nya sebagai ucapan terima kasih.
Kami berjalan tidak ke arah terminal, tapi kami menunggu di pangkalan truk yang bisa membawa kami ke atas. Kami membayangkan menumpang di atas truk penuh sayur mayur. Begitu menantang.
Tetapi, setelah seperempat jam menunggu dan bertanya kepada semua supir truk yang datang dan pergi, kami memutuskan untuk pergi ke terminal, siapa tahu ada metromini atau bis kecil yang bisa membawa kami ke Pohsarang.

Dan lagi-lagi kami dihadang puluhan tukang ojek yang semuanya berkumis tebal khas Jawa Timur.
Saya, sekali lagi, berbahasa Jawatimuran dan dengan sopan menolak tawaran mereka. Kami lalu masuk ke terminal dan bertanya apakah ada bis kecil menuju ke Pohsarang. Dan jawabannya adalah: tidak.
Waow.
Jadi saya pasang muka tebal, berjalan lagi ke arah para tukang ojek berkumis yang tadi sudah saya tolak dan sekarang meminta mereka untuk mengantar saya ke Pohsarang. Ada satu laki-laki besar yang agak kasar dan berbicara dengan sangat keras kepada kami. Tapi saya tak takut. Saya toh punya darah Jawa Timur yang mengalir deras dalam tubuh saya, dan saya ada di bumi Jawa Timur, jadi saya tanggapi bapak tadi (yang ternyata adalah pimpinan ojek terminal) dengan gaya khas Jawatimuran juga.
Akhirnya!
Saya duduk di belakang Pak Kumis yang sangar tadi, dan Greg dengan ojek yang lain. Harga sepakat adalah dua puluh ribu rupiah untuk dua orang.
Dan waaaaah, kami melesat menuju puncak Pohsarang!
Pak Kumis sangar ini melesat kencang di atas sepeda motor GL Pro-nya yang bising. Dan kami berbincang akrab tentang ini dan itu. Hanya satu waktu saya tersentak kaget saat Pak Kumis bilang:
arek lanang iku kancamu ta? pinter awakmu golek kanca, arek iku ngganteng.
Apa?
Pak Kumis tebal berkata kalau Greg itu ganteng? Ha-ha-ha.
Diucapkan oleh seorang pimpinan ojek terminal yang sangar dengan kumis tebal melintang di bawah hidungnya dan perawakan tinggi besar, kata-kata itu seperti kupu-kupu yang menggelitik perut saya.

Dan setelah melewati sawah, bukit, jalanan naik turun berkelok-kelok dan seorang eksibisionis yang menjerit-jerit sambil memperlihatkan apa yang tersembunyi di balik sarungnya, akhirnya kami sampai di depan gereja Pohsarang. Setelah berpamitan dan bertukar nomor hape dengan Pak Kumis tebal, kami berjalan turun mencari Wisma Mbah Kung...
*bersambung*

No comments:

Post a Comment

terimakasih ya sudah mampir dan menyapa kurakurakikuk :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...