Sunday, June 19, 2011

Kopi Banaran, Teh Pantura dan Bintang Berekor

*lanjutan dari Tour de Pantura!*

Ungaran Serasi
(sehat-rapi-aman-sejahtera-indah)
Setelah melewati Salatiga yang sejuk, kami mulai memasuki jalan raya berkelok-kelok dan naik turun yang penuh dengan truk dan bis-bis besar. Cukup menegangkan juga terselip-selip di antara truk dan bis yang melaju. Polusi mulai terasa. Asap hitam di mana-mana. Udara mulai panas.
Saya melirik jam tangan. Hampir pukul sebelas. Kami mulai memasuki Ungaran, ibukota Kabupaten Semarang yang terkenal penuh dengan pabrik-pabrik besar.
Kami memang sudah lapar karena sepagian hanya diganjal dengan roti manis seribu rupiah sewaktu menunggu di Pasar Boyolali.
Beberapa saat kemudian, kebun kopi mulai tampak di sisi kiri jalan. Lapak-lapak pedagang minuman dan kelapa muda juga mulai tampak berderet-deret. Namun siang itu lapak-lapak banyak yang kosong. Hanya beberapa saja yang buka, ditunggui oleh perempuan-perempuan bermata lelah berbedak debu.
Akhirnya kami berhenti di Kampoeng Kopi Banaran. Hendak melepas penat, mencuci muka dan mengisi perut. Restoran tampak ramai didatangi para pelancong bermobil. Hanya sedikit yang bersepeda motor.
Saya memesan Nasi Goreng Hijau dan Kaligua Tea Cream sedang Greg memesan Nasi Pecel Telur dan Kopi Tubruk Banaran. Wah, nasi pecelnya mantap! Segar dan menggoda selera! Sedangkan menu saya cukup enak karena nasinya digoreng dengan bumbu terasi dan dicampur dengan sayuran hijau.
Kampoeng Kopi Banaran sendiri merupakan wisata agro yang dimiliki oleh PT Perkebunan Nusantara IX, dengan banyak fasilitas. Salah satunya adalah naik kereta mini mengelilingi kebun kopi dengan biaya 50 ribu per orang. Saya sempat tergiur, tapi segera menggelengkan kepala karena kami tak bisa lama-lama di Banaran, saya sudah pernah ke kebun kopi sebelumnya di Cetho, dan terutama: satu orang 50 ribu rupiah? Tidak, terima kasih :)
Jadilah kami melanjutkan perjalanan dengan perut kenyang dan semangat baru. Kami melewati banyak pabrik besar, seperti Nyonya Meneer, Khong Guan, Coca Cola, Jamu Jago, dan lain-lain. Wuih, perjalanan masih panjang!

Semarang Kota ATLAS
(aman-tertib-lancar-asri-sehat)
Memasuki kota Semarang adalah saat-saat yang menyenangkan. Jalanan yang naik turun menyesuaikan dengan kontur Semarang yang berbukit-bukit, pemandangan yang aduhai dari atas bukit yang menghamparkan pemukiman padat di bawahnya. Meski matahari mulai terik, kami tetap melaju. Tempat pemberhentian berikutnya adalah Tegalsari, dimana kami akan beristirahat di tempat kos teman kami, Pius, barang satu jam dua jam. Setelah mandi dan berganti pakaian, pukul tiga tepat kami siap melaju kembali: menuju Demak!

Demak Beramal
(bersih-elok-rapi-anggun-maju-aman-lestari)
Sampailah kami di Demak. Meski agak was-was karena kami pernah ditilang polisi di kota ini sebelum kami melawat ke Masjid Agung Demak yang kuno itu, kami akhirnya langsung menuju ke arah lapak kopi Pantura, yang oleh teman saya, Moeklas, disebut kopi pangkon. Dan kami akhirnya berhenti di sebuah lapak yang sepi, hanya ada seorang gadis muda jelita dengan rambut terurai sebahu dan senyum manis khas pesisir pantai utara.
Teh hangat ya, Mbak, dua, kata saya sambil tersenyum.
Si gadis hanya mengangguk, memamerkan gigi rapinya.
Saya melirik ke dalam lapak. Tampak berjubel kopi-kopi serbuk instan beraneka warna, teh celup, sekumpulan rokok bermacam merek, dan...cermin!
Kami nyengir.
Si gadis mungkin juga agak grogi sehingga ia menjatuhkan sekotak teh celup yang baru saja ia buka sampul plastiknya. Ahai!
Kami duduk di lincak bambu sambil memandangi jalanan yang ramai dengan truk-truk besar bermuatan berat. Greg menyikut tangan saya. Mata saya lalu menuju ke arah meja. Di atasnya terhidang beberapa piring dengan sajian yang ehm, ehm, saya nyengir lagi semakin lebar: lemper dan telur puyuh.
Ah, lagi-lagi ah! Tunggu, lemper dan telur? :)
Beberapa menit setelah teh kami datang, yang kata Greg 'tehnya manis semanis penjualnya', sebuah truk besar merapat. Sopir dan temannya meloncat turun. Saya lirik plat nomernya, Jakarta. Kami semakin penasaran, bagaimana mekanisme komunikasi si gadis lapak kopi dengan para sopir truk yang masih muda-muda ini. Senyum malu-malu dan gurauan yang nakal lalu terjadi di depan kami. Lagi-lagi kami sikut-sikutan.
Saat hendak berpamitan, kami iseng-iseng bertanya lapak kopi ini buka dari jam berapa sampai jam berapa. Dengan senyum lugu, si gadis menjawab, saya mulai berjualan dari jam sembilan pagi sampai jam delapan malam, Mbak.
Kami tersenyum dan lalu membayar.
Saya berpikir, ia masih sangat muda, kira-kira seusia adik saya yang berumur 15-16 tahun. Kalau sejak pagi ia menunggu lapak, apakah ia tak sekolah?
Hmm...saya tak tahu.
Dan kami pun melaju lagi, melewati lapak-lapak kopi lain yang berderet rapi di sepanjang jalan raya. Di salah satu lapak, kami melihat empat orang laki-laki, dua truk, dan dua orang perempuan sedang bernyanyi dangdut dengan karaoke. Tampak mesra dan mendayu-dayu. Inikah kopi pangkon yang diceritakan teman saya, Moeklas? Wah kami tak sempat mampir. Tak enak mengganggu kesenangan mereka yang menjadikan lapak kopi sebagai oase pemuas dahaga setelah berkilo-kilo menyetir truk berat dan menghirup tebalnya debu jalanan.
Kami lalu berkendara melewati sawah-sawah Demak, dan saat itulah kami melihat ada awan panjang segaris di atas angkasa.
Saya terkejut karena awan panjang segaris adalah tanda-tanda sebelum gempa muncul. Anehnya, awan panjang itu segera hilang, lalu muncul lagi di sisi langit yang lain. Begitu seterusnya menemani perjalanan kami menyusuri Demak.
Ada banyak lintasan panjang yang muncul dan hilang tiba-tiba di langit biru.
Apakah ia adalah bintang berekor?
*bersambung*

No comments:

Post a Comment

terimakasih ya sudah mampir dan menyapa kurakurakikuk :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...