Thursday, June 23, 2011

Kota Ungu, Truk Raksasa dan Bandeng Bakar

*lanjutan dari Cerita dari Tanah Merah*

Hari kedua.
Masih berbekal peta terbitan tahun 1986 berjudul 'Petunjuk Tamasya Bermotor Jawa-Bali' yang saya temukan tiba-tiba sebelum kami memulai perjalanan panjang menyisir Pantai Utara ini, kami sekarang mulai meninggalkan Jepara. Melewati kembali Pasar Kalinyamatan namun kemudian membelok menuju Mayong, desa kelahiran Kartini. Hanya ada satu dua saja bangunan-bangunan kolonial yang masih ada, sisanya hanyalah jalanan berdebu tanah merah dan pohon-pohon yang tegak disirami matahari yang menyengat. Hampir pukul duabelas dan kami bertarung dengan debu jalanan yang ditumpahkan oleh truk-truk besar. Hampir menuju perbatasan saat mata saya tumbuk pada papan hijau bertuliskan Makam Kartini. Ah! Tak ada salahnya mampir. Kami berbelok dan memasuki areal makam. Jalanan menanjak menyapa kami. Baru setelah pintu gerbang terlihat, muncullah beraneka warna seragam anak-anak TK beserta seluruh guru dan orangtuanya. Tak ketinggalan penjaja manik-manik dan gulali yang diserbu anak-anak berwajah polos.

Saat saya masuk ke dalam makam, ah, saya terheran-heran. Jadi, seperti ini to makam Kartini. Bangunan makam termasuk besar, seperti rumah dengan lantai pualam, pun makam Kartini yang berada di tengah-tengah ruangan terbuat dari marmer yang lucunya bertuliskan dibuat di Yogyakarta. Ada pagar besi mengelilingi nisan Kartini yang di dalamnya tampak beberapa ibu-ibu guru TK berjilbab (saya kira) dan murid-murid TK yang menggelendot tak tahu harus bicara atau berdoa tentang apa atau untuk siapa. Mungkin tak terpikir juga bahwa yang ada di depan mereka adalah makam seorang "ibu kita Kartini". Sebuah kata yang terdengar begitu jauh.
Saat saya hendak keluar karena merasa agak aneh dengan suasana makam, saya melihat ada plakat di dekat pintu masuk yang berkata bahwa biaya pembuatan makam ini dibantu oleh Hutomo Mandala Putra alias Tommy Suharto dan diresmikan oleh Ibu Tien. Saya jadi teringat lagi dengan polemik tentang agama Kartini yang sebenarnya, apakah seorang Muslim, Kristen atau teosof. Ah. Panas terik. Kami harus melanjutkan perjalanan lagi.

Kudus Semarak
(sehat-elok-maju-aman-rapi-asri-konstitusional)
Mau tak mau, kami harus melewati Kudus untuk menuju Rembang via Pati. Beberapa waktu yang lalu, kami sempat mampir Kudus. Bahkan kami sempat ke Menara Kudus dan membeli peci untuk ayah saya. Namun kali ini kami melewati rute yang berbeda. Kalau sebelumnya kami lewat Demak, kali ini kami dari utara dan melewati perbatasan Jepara dan Kudus yang berupa dua kandang besar berisi harimau garang. Tentu saja tidak benar-benar harimau. Tapi sungguh seperti nyata!
Saat mulai memasuki Kaliwungu, saya tersenyum-senyum terus sepanjang jalan. Bagaimana tidak? Seperti namanya, sungguh semua benda di sini berwarna ungu. Mulai dari angkot, kantor kecamatan, seragam sekolah, tembok-tembok pagar, gapura, tempat sampah, bahkan pohon-pohonnya dicat ungu!
Di mana-mana semua warna ungu!

Lalu kami melewati pabrik rokok Djarum yang superbesar dan siang itu penuh dengan perempuan buruh pabrik bertopi khas biru yang sedang istirahat siang, mencari sebungkus nasi di depan simbok-simbok bertenggok, dan beberapa ada yang mengayuh sepedanya menuju rumah.
Siang itu hari Jumat.
Dan saat kami memasuki kota Kudus, jalanan sepi karena hampir seluruh penduduknya berpusat di masjid-masjid. Jumatan.
Seperti saat kami melewati jalan yang menuju Menara Kudus, tampak gang-gang kecil di sana ditutup dan terlihat sepeda motor berjajar-jajar. Yang paling dahsyat adalah saat kami melewati alun-alun Kudus. Di depan alun-alun ada masjid besar, dan gelombang jamaah bersarung dan berpeci membanjiri alun-alun. Seperti sholat Idul Fitri saja! Di depan Mall Kudus yang berseberangan dengan alun-alun pun tampak beberapa laki-laki tampak khusyuk mendengarkan khotbah Jumat yang terdengar lantang dari pengeras suara masjid yang terletak jauh di seberang alun-alun sana.
Dari alun-alun yang khidmat, kami berbelok. Melaju menuju Pati.

Pati Bumi Mina Tani
Inilah salah satu semboyan kota favorit saya. Namanya yang sangat berima menjadi enak didengar: sebuah harapan untuk menjadi bumi sentra perikanan dan pertanian. Jarak 23 km dari Kudus kami habiskan dengan bersabar diri di sela-sela truk besar yang selalu membuathati ketir-ketir. Bagaimana tidak? Hampir seluruh pengguna jalan adalah para truk-truk bermuatan berat, sedang kami berdua tampak terseok-seok, terbatuk-batuk saat asap tebal menyembur. Sering kami harus turun dari badan jalan karena saking padatnya arus lalu lintas yang dengan seenaknya saja memenuhi jalan sehingga kami tak kebagian ruang. Di kanan kiri berjajar pabrik, atau pemandangan ladang-ladang kering yang di jauh tengah-tengahnya tampak beberapa buldoser sedang mengeruk tanah hendak membuat jalan tembus baru. Dan di sepanjang jalan ini, pelebaran jalan sedang berlangsung.
Panas. Menyengat. Berdebu. Dan kami lapar.
Sarapan kami adalah roti tangkup dan teh susu di hotel Jepara sekitar enam jam yang lalu, dan dengan perut merintih seperti ini, perjalanan yang melulu beton, aspal, debu, truk, asap, dan panas terik jam satu siang membuat kami serasa berada di kerak bumi.

Akhirnya kami mulai memasuki gerbang kota Pati, dan lagi-lagi terperangah karena di sini jalanan terbagi dua: milik pengendara sepeda motor di lajur kiri dengan ruang yang lebih sempit, dan yang di tengah-tengah adalah milik bis-bis besar dan truk-truk raksasa yang tampak terengah-engah menarik beban. Kami tak ingin ditilang lagi dan kehilangan 50 ribu lagi di kota ini, jadi kami sangat berhati-hati melihat segala macam rambu-rambu. Dan sialnya, kami salah jalan!
Arrgh! Untuk berputar seperti tak mungkin karena jalanan seperti tak bercelah. Setelah meyakinkan diri tak ada rambu yang melarang untuk menyeberang, bergegas kami menyeberangi jalan utama dan kembali masuk ke jalur khusus sepeda motor. Sungguh kota yang tidak ramah terhadap pengendara sepeda motor! keluh Greg.

Kami akhirnya mampir di kedai kecil di dekat stasiun karena tertarik dengan menu bandeng bakar yang tampak menggiurkan. Tak sempat kami mencari Nasi Gandhul, makanan khas Pati. Dan ternyata pilihan saya sungguh oke! Bandeng bakarnya nikmat! Berbeda dengan penyajian bandeng di Jogja. Saya baru sadar kalau semua bandeng tanpa duri yang biasanya jadi oleh-oleh saat berada di Semarang berasal dari kota ini. Bandeng Juwana yang saya pikir adalah sebuah merek, ternyata nama sebuah kota kecil di Pati yang nanti kami akan melewatinya sebentar lagi. Makan siang ditutup dengan jeruk panas yang segar, selonjor kaki yang kaku-kaku, dan mengumpulkan energi menuju Rembang sebelum malam. Ah! Sungguh sebuah oase yang menyegarkan setelah berkendara enam jam tanpa henti di tengah truk-truk raksasa dan panasnya aspal jalanan.
Saya tersenyum lebar saat selesai makan kami diberi Kupon Bandeng: gratis 1x bandeng bakar setelah 7x kedatangan! :)
*bersambung*

4 comments:

  1. wow nice post...menunggu cerita berikutnya :)

    ReplyDelete
  2. hihihi :)
    makasih Mbak :)
    ini sebenarnya cerita perjalanan bersambung yg aku mulai dari posting Tour de Pantura sampai yg ini...sip sip, lanjutan menyusul :)

    ReplyDelete
  3. wew.. jadi iri, ingin segera menjelajah :). Seminggu lagi saya dan adik ingin menjelajah ke Jawa Barat bagian selatan. nice posting mbak vani..

    ReplyDelete
  4. hai jeng Fikaa :)
    waaah, nanti setelah menjelajah Jawa Barat segera diposting yaa :) aku juga pengen banget ke Jawa Barat :) belum pernah soalnya..hehehe. nuwun :D

    ReplyDelete

terimakasih ya sudah mampir dan menyapa kurakurakikuk :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...