Monday, June 20, 2011

Jepara oh Jepara!

*lanjutan dari Tour de Pantura! dan Kopi Banaran, Teh Pantura dan Bintang Berekor*

Masih di Demak...
Saya berkali-kali menengadah menatap langit mencari jejak si awan misterius yang selalu mengikuti kemana pun kami pergi. Saat kami berhenti di pom bensin untuk mengisi perutnya Mbah Kakung (julukan bagi sepeda motor Greg) dengan 2 liter bensin, kami juga masih terus-terusan menatap langit. Waktu itu langit biru bersih. Dan dari arah selatan ke utara menggaris awan yang aneh itu. Apa karena kami semakin mendekati garis pantai ya? Ah, kami simpan pertanyaan dalam hati.
Sepanjang perjalanan dari Demak menuju Jepara, saya banyak melihat rumah-rumah adat yang masih terjaga dengan baik. Dan tak terasa kami sudah memasuki Kabupaten Jepara...

Jepara Bumi Kartini
Kami mulai memasuki desa-desa di Kabupaten Jepara, mulai Welahan, lalu Pecangaan. Hari mulai sore dan Greg semakin mempercepat laju karena kami tak mau kemalaman di tengah jalan. Kami harus sampai kota Jepara sebelum malam menjelang dan mencari penginapan.
Kami melewati Pasar Kalinyamatan yang masih ramai. Nama 'Kalinyamat' membuat saya teringat dengan seorang Ratu Kalinyamat yang gagah berani. Pada tahun 1550 ia mengirim 4000 tentara Jepara dalam 40 buah kapal memenuhi permintaan Sultan Kerajaan Johor untuk membebaskan Malaka dari kekuasan Eropa. Meski kalah, tetapi ia tetap terus memenuhi permintaan raja-raja di Nusantara untuk menghalau Portugis. Hingga Portugis pun menjulukinya sebagai 'Rainha de Japara, senhora poderosa e rica, de Kranige Dame' yang artinya 'Ratu Jepara, seorang wanita yang kaya dan berkuasa, seorang perempuan pemberani'. Kalau sampeyan ingin tahu lebih lanjut tentang sejarah Ratu Kalinyamat, silakan baca di sini.

Beberapa saat setelah meninggalkan Pasar Kalinyamatan, adzan magrib mulai terdengar. Oh-oh. Kami mulai melaju kembali dan akhirnya gerbang Jepara Bumi Kartini mulai terlihat. Pemandangan mulai berubah. Di kanan kiri jalan berjejer gudang-gudang besar dan ruang pamer bertuliskan eksport, furnitur, antik, kayu yang sayangnya tampak kosong dan tak berpenghuni.
Dan saat kami mulai mendekati kota, saya tercengang melihat masjid-masjid indah dengan warna hijau, merah muda, ungu, biru toska, ah!
Masjid-masjid di sini berwarna permen!
Di sana sini toko furnitur bertebaran di jalan-jalan. Bangunan besar-besar yang dipenuhi dengan beraneka mebel dan furnitur kayu mendominasi pemandangan. Saya tak akan lupa kalau Jepara juga terkenal dengan Kota Ukir.

Hari mulai gelap, lampu-lampu mulai menyala. Bulan bundar sempurna berwarna kuning menggantung rendah di langit. Indah sekali.
Dan inilah kota Jepara. Jalanan tak terlalu ramai dengan kendaraan. Rumah-rumah besar indah berukir tampak di kanan kiri jalan. Magrong-magrong. Kami lalu menuju ke alun-alun kota dengan orang-orang lalu lalang menikmati jagung bakar atau sekedar bercengkerama. Kami melepas lelah di pinggir alun-alun dan membeli dua jagung rebus. Makan jagung rebus seribuan ini membuat kami semakin lapar. Kami memutuskan untuk mencari warung makan di belakang alun-alun. Dan waaah!
Ternyata jalanan di balik alun-alun penuh dengan pedagang! Berjejer-jejer pedagang kaos beranekawarna, pedagang sandal dan sepatu warna-warni, pedagang CD musik dangdut pantura juga ramai, tapi anehnya: jalanan lengang, pembeli hanya sedikit. Kami heran karena untuk jalanan sebesar itu kenapa tampak sepi dari pembeli. Hanya pedagang-pedagang yang bergerombol di sisi jalan saja yang riuh. Tak banyak pembeli berseliweran untuk sekedar mampir atau melihat-lihat.

Lapar yang melilit membuat kami berhenti di warung penyet yang menyediakan segala macam jenis makanan laut. Di jalanan ini didominasi warung-warung tenda yang menjual penyetan, hampir mirip dengan suasana di Jalan Kaliurang dengan warung tendanya. Akhirnya kami bisa makan lahap lele bakar sebesar lengan balita dan nasi dengan sistem all you can eat. Greg bahkan tambah tiga kali! Maklum, makan siang terakhir kami tampak jauh di Banaran, Ungaran.
Dan, ehm, kami harus merogoh kocek dalam-dalam untuk itu. Harga makanan di sini tampak lebih mahal dari harga standar ikan lele penyet di Jogja. Saya cukup heran karena Jepara kan dekat pantai, dan harusnya untuk ikan lebih murah. Hei, bukankah lele bukan ikan laut? :)

Setelah kenyang bukan kepalang, kami lantas mencari penginapan murah. Kami butuh istirahat setelah berkendara hampir 12 jam tanpa sarapan, hanya makan siang di Ungaran, baru saja makan malam di depan gereja Jepara, dan dua botol besar air mineral sejak Jogja hingga Jepara.
Kami masuk ke sebuah penginapan dan langsung beranjak setelah tahu bahwa kamar yang tersedia sangat buruk kondisinya dengan air hitam pekat yang membuat saya menjengkerut. Kami lalu mencari hotel yang lebih layak meski tarif menginap semalamnya juga cukup mahal dibanding dengan tarif hostel di area Sosrowijayan. Jam delapan malam. Dan akhirnya kami bisa mandi dan ngeluk boyok. Sekitar jam setengah sepuluh kami berniat hendak berjalan-jalan menghirup udara segar, dan ternyata semua kedai tutup jam 10. Bahkan saat kami membeli Tolak Angin di Indomaret, petugasnya juga sudah bersiap-siap. Mereka ternyata juga tutup jam 10 malam.

Wah, jalanan lengang sekali saat kami kembali ke hotel. Tampak dalam remang-remang lampu jalanan, rumah-rumah megah berukir berjajar-jajar, gedung-gedung pemerintahan yang magrong-magrong, dan bangunan-bangunan besar berderet-deret, dan semuanya lengang, sepi, jarang sekali kami melihat muda-mudinya, remajanya, ah, di mana orang-orang Jepara? Kenapa kota sebesar dan seindah ini tampak sepi? Kami berjalan pulang bergandengan tangan dengan latar belakang bulan purnama yang kali ini telah pasang di langit dan redup bayang-bayang kami dan bayang-bayang pohon yang memanjang...

4 comments:

  1. halo? salam kenal admin. wah, bangganya jadi anak jepara. ternyata masih ada seseorang yang mengagumi keindahan kota jepara kami. very nice post, keep blogging :)

    ReplyDelete
  2. hai Duan :)

    salam kenal juga :)
    sip sip, semoga kami bisa balik lagi ke Jepara, melanjutkan cerita ke Karimunjawa :)

    kalau kami kesana, ketemuan ya :)
    sip sip, maturnuwun :)

    ReplyDelete
  3. oya, yang kami belum sempat mampir adalah ke makam/petilasan Syekh Siti Jenar :)

    hehehe. sip sip,
    salam hangat dari Jogja :)

    -vanie-

    ReplyDelete
  4. halo salam kenal mbak vanie :)

    saya bukan orang Jepara juga tapi sering kesana. menurut pengamatan saya sih, jalan disana besar-besar dan sepi karena kebutuhan untuk dilewati truk container. saya rasa memang sepi kalau malam karena semua bekerja siang hari dan malam untuk beristirahat, mayoritas pekerjaan penduduknya juga sama yaitu industri ukir dan memiliki jam kerja yang hampir sama makanya aktivitasnya sama-sama berhenti ketika sudah sore-malam.
    begitu pendapat saya
    trims :)

    ReplyDelete

terimakasih ya sudah mampir dan menyapa kurakurakikuk :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...