Sunday, June 26, 2011

Hutan, Hutan, dan Hutan!

*episode terakhir dari sebuah catatan panjang perjalanan Tour de Pantura, sempat mencicipi Kopi Banaran, Teh Pantura dan Bintang Berekor yang menemani kami, lalu mampir ke Jepara oh Jepara dan menuliskan sebuah Cerita dari Tanah Merah dan tentang Kota Ungu, Truk Raksasa dan Bandeng Bakar serta sebuah persinggahan tak terlupakan Di Lorong-Lorong Lasem*

Sabtu pagi. Jam tujuh. Masih di Rembang.
Bangun pagi-pagi langsung pergi ke pantai. Bukan pantai objek wisata. Kami berdua tak terlalu suka pantai sebetulnya, maka kami menuju ke perkampungan nelayan agak menjauh dari kota Rembang melewati Klenteng Ibu Laut yang perkasa dijaga dua ekor naga besar sebagai gerbangnya.
Pagi di anjungan.
Angin laut memusar. Burung-burung. Ikan-ikan kecil yang berenang di bawah anjungan. Kapal-kapal nelayang yang mendekat. Tumpah ruah. Es batu berbalok. Ikan-ikan. Nelayan. Ikan-ikan. Nelayan. Riuh.
Pelabuhan yang berbeda jauh dari keramaian Sunda Kelapa, namun lebih berasa kampung yang guyub dengan tawa pagi milik anak-anak yang terdengar di beberapa rumah tepi pantai. Hampir semua nelayan memakai topi jerami khas. Laki-laki perempuan semua memakai topi. Dan akhirnya kami mampir di sebuah warung kecil penyedia alat-alat nelayan dan membeli topi jerami nelayan untuk kami masing-masing. Topi sederhana yang cantik. Untuk penahan matahari saat saya bersepeda di jalanan Jogja. Dari pantai kami menuju Pasar Kota. Membeli camilan ringan pagi yang disebut 'dumbeg' yang dibungkus dengan daun lontar. Lalu kembali ke penginapan, berkemas-kemas setelah melahap dumbeg, nagasari dan kue lapis.

Jam sembilan. Kami berangkat menuju Blora.
Hari ini akan menjadi hari yang sangat panjang karena kami akan menghabiskan seharian di jalanan. Menurut peta yang saya bawa, kami akan menempuh jarak 187 km meliputi Rembang-Blora (42 km), Blora-Purwodadi (64 km), Purwodadi-Surakarta (52 km) dan Surakarta-Klaten (29 km). Ah! Melihat angka-angkanya saja kami agak gentar. Selain sudah membayangkan kondisi jalanan yang kami tempuh adalah sebagian besar kawasan hutan dan proyek-proyek pelebaran jalan dan pembuatan jalan baru.

Di sepanjang jalan adalah ladang, sedikit rumah, dan: hutan!
Inilah hutan Mantingan yang sering kami lewati saat kami naik kereta atau bis malam. Dan kami berada di dalamnya. Bersama truk-truk yang merayap. Saat kami berhenti hendak membeli bensin di pinggir jalan, saya melihat tak hanya bensin yang dijual di sana. Ada botol-botol ramping berisi cairan kuning dan botol kecil berisi cairan putih. Ternyata mereka adalah madu dan minyak kayu putih. Dan selebihnya kami terantuk-antuk lagi di jalanan hutan yang kadang rata, tapi banyak yang berlubang dan berbatu-batu. Dan masih saja proyek pembuatan jalan dan pelebaran jalan menjadi hal yang sering di rute ini, sehingga kami harus ikut merayap di larik-larik kemacetan yang mengular.

Blora Mustika
(maju-unggul-sehat-tertib-indah-kontinyu-aman)
Kami masih bludhusan di hutan jati. Belum masuk kota. Sejauh mata memandang adalah hutan, hutan dan hutan. Inilah Blora. Tanah kelahiran Pramoedya, Arya Penangsang dan Samin Surosentika yang terkenal dengan Ajaran Samin dan Sedulur Sikep-nya. 
Begitu masuk kota, kami segera mencari warung makan, tapi setelah lima belas menit muter-muter kami tak menemukan kedai satu pun. Hanya ada warung sate Blora, dan kami tak mampir karena tak makan daging. Kami mampir di Pasar Blora dan tetap saja tak ada warung. Apakah budaya jajan tak ada di daerah ini karena masyarakatnya masih komunal? Akhirnya kami terpaksa berhenti di Rumah Makan Padang. Ah, jauh-jauh ke Blora hanya makan nasi padang? keluh saya. Tapi kami tak ada pilihan karena selain sate Blora hanya ada warung mi ayam dan bakso Solo. Kami belum sarapan sejak di Rembang, jadi begitu lapar setelah mengarungi hutan, dan kami harus makan banyak karena perjalanan Blora-Purwodadi sejauh 64 km adalah yang terberat karena kami akan melewati hutan, hutan dan hutan serta harus bersaing bersama truk-truk besar. Kami memutuskan untuk tidak mampir Randublatung. Panas terik. Jam sebelas kami lanjutkan perjalanan. 

Grobogan Bersemi
(bersih-sehat-mantap-indah)
Memasuki Grobogan, kami masih saja terantuk-antuk di jalan hutan yang berbatu-batu besar dan tajam. Saya sempat miris karena jarak tambal ban satu dengan yang lain adalah sekitar 10 km. Bagaimana kalau ban Mbah Kakung gembos? Bayangkan saja, sepanjang perjalanan hanyalah:
hutan, hutan dan hutan!
Rumah-rumah di kawasan hutan ini cukup berbeda dengan rumah-rumah di pesisir pantura. Kebanyakan terbuat dari papan-papan kayu dengan pintu kecil di tengahnya. Debu-debu melekat tebal di rumah-rumah yang kami lewati. Anak-anak berambut kusam terjerang matahari menyapa kami dari balik pagar-pagar sederhana. Pakaian mereka sangat lusuh. Beberapa anak perempuan bermata sayu melihat kami dengan tatapan ingin tahu. Saya sempat bergetar saat melihat seorang anak laki-laki dengan celana pendek dan kaos yang sudah kumal duduk sendirian melamun di atas lincak di depan rumahnya yang beratap rendah. Pandangannya menembus pucuk-pucuk pohon jati.
Sebuah potret anak-anak hutan sekarang sedang terbentang di hadapan saya.
Ada yang menitik sedih di dalam hati saya.

Dan selama tiga jam kemudian pemandangan yang terhampar adalah jalan yang lurus seakan tak berujung, ladang-ladang, pohon jati, puluhan pekerja proyek pembangunan jalan baru, buldoser-buldoser dan aspal panas yang berasap, dan truk-truk yang melaju kencang. Ahay! Saya membatin, panjang nian perjalanan ini! Sembari berdoa agar ban motor Greg tidak apa-apa, karena saya tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya kalau kami harus menuntun sepeda motor sejauh 10 km untuk mencari tambal ban terdekat di tengah-tengah hutan seperti ini.

Untunglah kami segera masuk daerah Purwodadi. Tak sempat kami membelok ke Kuwu untuk melihat bledug-nya yang selalu meletup itu, atau melihat sumber api abadi Mrapen. Kami ingin segera mampir ke alun-alun Purwodadi dan ngeluk boyok melepas penat setelah enam jam di atas jok sepeda motor. Untunglah sesampai di alun-alun kami melihat ada warung yang menjual kelapa muda. Dan selama setengah jam kami nongkrong di situ, minum es kelapa muda, dan Greg tertidur lelap kelelahan. Saya yang tak biasa tidur siang hanya duduk selonjor sambil mengamati muda-mudi yang bercengkerama di bawah pohon sambil bersendagurau. Beberapa saat setelag Greg bangun, kami lantas meluncur menuju Surakarta. Ah, setengah perjalanan telah terlampaui!

Surakarta Berseri
(bersih-sehat-rapi-indah)
Kami baru saja melewati Sangiran, situs purbakala yang menyimpan fosil Homo Erectus itu terletak di Sragen, hampir mendekati Surakarta. Iring-iringan truk, mobil, bis, pick up masih panjang. Wajah kami penuh debu dan asap. Dan beberapa saat lagi kami akan masuk kota. Kami memutuskan untuk langsung menuju Klaten dan singgah di Klaten, menginap di rumah teman baik kami, lalu esoknya ke Jogja. Namun, karena Mbah Kakung sudah kepanasan dan berjuang keras di jalan-jalan berbatu, saat kami sampai Pabelan, ban belakang bocor!
Ah, syukurlah sekitar 10 meter dari situ ada tukang tambal ban. Dan untunglah kami tak kebanan saat di hutan belantara tadi. Jadilah selama satu jam berikutnya kami duduk di tepi jalan raya, menunggu giliran tambal ban sambil makan dumbeg yang tersisa.

Klaten Bersinar
(bersih-sehat-indah-nyaman-aman-rapi)
Sampailah kami di kota Klaten. Hampir jam enam sore. Dan kami harus bergegas sebelum malam menjelang. Kami sudah membayangkan mandi air panas di rumah Pius dan tidur nyenyak setelah perjalanan panjang 9 jam yang cukup melelahkan. Dan keesokan harinya, kami pulang ke Jogja!
Ah, memang Yogyakarta Berhati Nyaman (bersih-sehat-indah-nyaman)! :)

Sampai jumpa di petualangan berikutnya!:)

No comments:

Post a Comment

terimakasih ya sudah mampir dan menyapa kurakurakikuk :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...