Friday, June 24, 2011

Di Lorong-Lorong Lasem

*lanjutan dari Kota Ungu, Truk Raksasa dan Bandeng Bakar*

Masih hari Jumat.
Setelah makan siang di Pati dengan bandeng bakar yang lezat, kami segera beranjak. Kali ini pemandangan sawah yang membentang, tambak-tambak dan tentu saja, truk-truk besar masih mendominasi. Di kiri jalan ada kanal besar dengan pukat-pukat dan jala. Saat saya melongok ada beberapa laki-laki yang berkubang, lengkap dengan 'senjata' mencari ikannya. Bau ikan menemani perjalanan kami. Ah, pastilah ini Juwana! Tempat asal bandeng-bandeng duri lunak yang dikemas dalam kardus putih dan disebarkan hingga Semarang dan Sidoarjo. Saat saya memandang langit, masih saja bintang berekor melintas di langit biru bersih tanpa awan. Menggaris indah di langit, dan masih saja menyisakan tanda tanya, pertanda apakah itu...

Rembang Bangkit
(bahagia-aman-nyaman-gotong royong-kerja keras-iman dan takwa)
Ada yang sama sekali berbeda saat kami mulai memasuki Kabupaten Rembang. Di kanan kiri tampak ladang-ladang putih dengan kincir-kincir angin serta di balik rumah-rumah di belakang ladang terbentang biru Laut Jawa.
Amboi! Indah sekali!
Kami berhenti sejenak. Mengamati lebih dekat ladang-ladang putih yang terbentang. Di beberapa titik terlihat para petani. Sebuah pemandangan baru bagi kami: ladang garam!
Air-air laut yang mengkristal ditempa panas pesisir pantura menyilaukan pandangan, semilir angin pesisir sesekali datang bersama bau laut, dan rumah-rumah kayu panjang berjejer-jejer tempat garam laut disimpan. Bebauan khas menyapa kami lagi. Kali ini bukan bau ikan, lebih pada bau laut yang terjemur dan mengendap di dalam rumah-rumah kayu panjang berwarna kusam.

Saat kami akhirnya memasuki kota Rembang, jalanan berubah menjadi jalan raya besar, tak seperti di Pati. Sulit sekali untuk menyeberang karena truk-truk berukuran gajah selalu melintas tak putus-putus. Kami memutuskan untuk mencari tempat menginap, mengamati plang-plang bertuliskan hotel, dan tertumbuk pada nama hotel yang terletak tepat di depan sekolah kuno.
Saya masuk dan berjalan menuju meja resepsionis yang tinggi sekali! Bayangkan, saat saya berdiri di depan meja resepsionis itu, orang yang ada di baliknya hanya akan melihat kepala saya saja! Tinggi meja resepsionis itu tepat sedagu saya. Saya lalu membunyikan bel selamat-datang.

Tergopoh-gopoh seorang perempuan muda bergelung tekuk muncul dan hanya melihat kepala saya saja. Saya bertanya tentang tarif kamar, dan mendapati bahwa harganya lebih mahal daripada harga di anggaran kami. Tiba-tiba si mbak resepsionis bertanya:
Mbak sudah menikah?
Saya berkata, belum, tetapi kami sudah bertunangan.
Dan dengan senyum kaku ia menjawab, maaf, tidak bisa menginap di sini kalau Mbak belum menikah, karena kami hanya menerima pasangan yang menikah dan kami meminta KTP suami-istri dengan catatan di sana tertera alamat yang sama alias serumah. Titik. Sambil dimasukkannya kembali daftar harga kamar yang dilaminating itu ke dalam laci meja.
Saya mendelik.

Hah? Saya ditolak!
Apa karena tinggi saya tak lebih tinggi dari meja resepsionisnya?
Atau karena Mbak itu hanya melihat wajah saya saja dan mengira kalau saya masih anak SMA? Wah, payah! Saya mendongkol dalam hati.
Apa Mbak itu tidak melihat wajah saya yang kepayahan didera debu jalanan dan masih menanyakan apakah saya bersuami atau tidak?
Dengan beban kilometer yang panjang dan perjalanan yang menipiskan pantat, saya sungguh tak habis pikir dengan perlakuan Mbak resepsionis yang kasar itu.
Sampai kami mendapatkan sebuah penginapan yang lebih murah untuk menaruh barang-barang kami, saya masih saja jengkel.
Untung saja Greg bisa mengambil hati saya dan mengajak saya menuju Lasem sore itu juga. Ia berkata, Lasem hanya seperempat jam dari sini, Nok. Mari kita berpetualang lagi! Saya tersenyum lebar.

Lasem, si Tiongkok Kecil
Setelah mandi, kami langsung melompat ke atas motor dan berkendara menuju Lasem. Sungguh bisa mengobati kekesalan saya! Bagaimana tidak?
Sepanjang jalan sore itu, matahari bersinar lembut di pucuk-pucuk pohon, kelompok rumah-rumah penduduk berjajar dengan ratusan antena televisi yang mencuat, dan di belakang rumah mereka terhampar laut biru dengan horison memutih. Dan saat memasuki Lasem, mulut saya ternganga.
Di kanan kiri, berjubel bangunan-bangunan besar ala mansion-mansion kolonial yang tampak gelap dan kotor. Sebuah sekolah dasar bertulis 'Kusumawijaya' menarik perhatian saya. Di belakang sekolahnya tampak lorong-lorong kampung kuno. Kami berputar-putar, masuk dari lorong kampung yang satu ke yang lain. Sepanjang mata memandang, berjejer bangunan-bangunan besar bertembok putih dengan pintu-pintu kayu bertuliskan aksara Mandarin yang mulai memudar dimakan waktu. Di beberapa rumah tampak tertempel plakat-plakat bertuliskan nama-nama Cina. Beberapa rumah punya angka tahun semacam 1919 yang masih jelas terbaca dari kejauhan. Di beberapa gerbang rumah yang terbuka tampak satu dua orang berkulit kuning bermata sipit dan berambut panjang tengah mengobrol santai di tangga rumahnya.

Saya masih menganga.
Tak menyangka di pucuk paling ujung perjalanan kami menyusur pantura ini kami akan singgah ke kota kuno ini. Kota yang dahulu besar dan terkenal ini sekarang tampak tak terawat, seolah menenggelamkan diri di balik lorong-lorong putihnya yang berlumut dan di sebalik gorong-gorong jalur perdagangan candu di bantaran Sungai Lasem. Kami juga melewati banyak pondok pesantren yang uniknya bergaya arsitektur Tiongkok dengan dominasi warna merah menyala. Saat kami memasuki kampung-kampung di dalamnya, wah, saya menggeleng-geleng kepala. Rumah-rumah di perkampungan penduduk ini semua bergaya lawas! Dan tentu saja dirawat dengan baik oleh si empunya karena digunakan untuk tempat tinggal. Di sana sini terlihat beberapa anak muda berwajah oriental sedang asyik mengobrol dengan pemuda-pemuda berkulit sawo matang.

Kami lalu beranjak mencari Batik Lasem yang terkenal itu. Sempat kami mengunjungi gerai-gerai batik yang terkenal karena percampurannya dengan budaya Cina itu, tapi sayang saya tak kuat membeli. Kebanyakan seharga di atas 250 ribu. Dan itu berarti mempertaruhkan bekal kami untuk kota selanjutnya. Saya hanya menelan ludah. Ah! Mungkin lain waktu!
Kami mengakhiri perjalanan ke Lasem dengan mengunjungi klenteng kuno dan melihat matahari terbenam pelahan di pesisir pantai utara.

Dan sisa senja itu kami habiskan di alun-alun kota Rembang, mencicipi kuliner khas Rembang bernama lontong tuyuhan yang murah meriah, dan sesekali memekik saat si bintang berekor masih saja terlihat melesat jatuh menuju laut di atas langit Rembang petang...

*masih bersambung*

2 comments:

  1. selalu pingin ke Laseeem!!! aaahh!!! irihatikyuuu!! *bertekad bertekad bertekaadd!!

    ReplyDelete
  2. waaaaa.....datanglah ke Lasem Mbakyuuuu :D
    dan bawakan saya batiknyaaaaa :D
    hehehehe :)

    ReplyDelete

terimakasih ya sudah mampir dan menyapa kurakurakikuk :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...