Friday, June 17, 2011

Dari Candi ke Candi #5: Pulang!

Setelah mengunjungi Trowulan yang misterius dengan petilasannya, kami lalu beranjak meninggalkan petilasan. Saat melewati Museum Majapahit, anehnya, sekarang museumnya buka!
Jadilah kami masuk ke pelataran Pusat Informasi Majapahit dan tidak bayar tiket masuk karena Puji bilang kalau ia penduduk setempat, dan saya tentu saja langsung berbicara dengan dialek Jawatimuran yang khas. Sayangnya, kami tak boleh mengambil gambar apapun di dalam museum. Jadilah kami melihat-lihat peninggalan Majapahit yang waow itu. Di satu ruangan yang berisi perhiasan, saya terkagum-kagum dengan apa yang telah mereka hasilkan pada jaman itu. Sungguh sebuah peradaban yang telah maju!
Yang aneh bagi saya adalah ditemukannya celengan dari tanah liat yang bentuknya mirip sekali dengan figur Gadjah Mada yang di relief di pendapa Trowulan dan imaji yang selalu familiar di otak kita saat kita mendengar nama Gadjah Mada. Coba sampeyan ingat, jika saya berkata 'Gadjah Mada', maka gambaran yang menempel di otak kita adalah wajah yang bulat dengan dagu besar berlapis dengan pipi tembem dan kepala digelung dan raut muka yang penuh ketegaran dengan mulut terkatup rapat dan mata menyala.
Selalu seperti itu. Dan saat saya mengamati celengan tanah liat yang ditemukan pada masa itu, bentuknya mirip sekali dengan raut muka Sang Gadjah Mada! Saat saya membaca tulisan kecil di bawahnya, di situ tertulis: celengan terakota berbentuk wajah anak-anak Majapahit yang biasanya dipakai untuk tempat menyimpan uang. Hmm, apakah semua anak-anak Majapahit berwajah sama seerti Gadjah Mada? Atau hanya itukah gambaran yang bisa kita dapat tentang wajah-wajah orang Majapahit kuno? Entahlah.

Setelah puas melihat segala patung, arca, peninggalan peradaban Majapahit, kami memutuskan untuk pulang ke Jogja.
Sebelumnya kami harus naik angkot menuju rumah Nenek saya di Daleman untuk mengambil tas-tas kami. Kemudian, dengan semangat empat lima kami berjalan kaki dari rumah Nenek ke stasiun kereta yang jaraknya kurang lebih tujuh kilometer saja.
Sampai di stasiun, senja mulai menghitam dan coba tebak: tak ada kereta ke Jogja malam itu!
Kami baru saja ketinggalan kereta yang lari ke Jogja sore tadi. Ah!
Jadilah kami menginap di stasiun dengan buah maja yang saya peluk rapat-rapat untuk menahan hawa dingin. Kami tidur di kursi-kursi besi yang dingin. Dan saling menjaga karena orang datang dan pergi begitu saja. Saya tidur duluan sampai jam duabelas, lalu gantian Greg yang tidur, lalu saya lagi yang tidur begitu seterusnya sampai pagi. Sempat kami agak kaget karena untuk menginap di stasiun kami harus meninggalkan KTP di meja satpam yang berkumis tebal. Dan kami menghabiskan malam panjang dengan serbuan nyamuk-nyamuk nakal.
Saat pagi tiba, kami tak sempat mandi. Hanya cuci muka saja.
Dan lucunya, kami harus melepas sepatu kami saat masuk ke toilet stasiun!
Saya tercengang.
Masuk toilet stasiun harus lepas alas kaki?
Ada-ada saja. Untung saja gratis. Setelah cuci muka, kami sarapan pecel pincuk dengan nasi panas dan peyek kacang.
Jam tujuh kereta datang.
Kami melompat. Menuju Jogja!

Senyum bangun tidur setelah bermalam di stasiun Mojokerto.

No comments:

Post a Comment

terimakasih ya sudah mampir dan menyapa kurakurakikuk :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...