Thursday, June 16, 2011

Dari Candi ke Candi #4: Trowulan

Wah, saya baru sadar kalau saya masih belum menyelesaikan tulisan bersambung saya tentang perjalanan ke Mojokerto: saat saya dan Greg pergi ke Candi Gentong, lalu berlanjut ke Candi Brahu, dan kemudian melancong ke Buddha Tidur.
Jadi inilah ceritanya:
Setelah menengok Sang Buddha Sare, kami melanjutkan perjalanan ke arah Museum Trowulan. Harus menyeberang jalan raya yang besar dan kami semua tak pakai helm. Saya berteriak-teriak kegirangan karena takut dan tertantang. Puji lihai sekali naik sepeda motornya. Sedang Greg yang baru kali ini menyeberang di ruas jalan utama dengan seluruh kendaraan terpacu kencang-kencang juga excited. Wah, bener-bener uji nyali!
Untunglah, kami berhasil menyeberang. Kami memasuki gapura Trowulan dan mampir sebentar di kolam Segaran yang sekarang malah dijadikan area pemancingan bagi para penduduk setempat. Konon katanya di dasar kolam ini tergeletak perhiasan-perhiasan emas peninggalan Majapahit. Saat saya melongok ke dalam kolam yang airnya berwarna hijau itu, saya membatin, siapa ya yang mau menyelam ke dalamnya dan mencari tahu entah apa yang tergeletak di dasarnya. Hmm, bahkan saya agak ragu apakah kolam Segaran ini berdasar atau tidak.

Setelah itu, kami lalu pergi ke museum Trowulan, dan ternyata: tutup!
Olala! Sayang sekali!
Jadilah kami menuju ke pendapa Trowulan, dan saat memasuki gapuranya, saya langsung ingat dengan pengalaman-pengalaman masa lalu, saat saya masih kelas 1 SMA.
Waktu itu semua murid baru harus dan wajib ikut ekstrakurikuler Pramuka. Dan saya tak ketinggalan juga bersusah payah mengumpulkan poin-poin dan ikut dalam semua kegiatan agar dilantik menjadi Pramuka Penegak.
Saya masih ingat, kami dibawa naik truk dari sekolah menuju Trowulan. Malamnya, kami harus berbaris per regu dan mata kami ditutup. Saya masih ingat kalau saya melewati gerbang pendapa Trowulan ini dengan tubuh basah kuyup disiram air kembang setaman. Lalu kami harus mencari jejak malam itu juga. Hingga pagi.
Ah, saya masih ingat, teman-teman saya bilang kalau pendapa Trowulan ini angker, banyak hantunya, dan lain-lain.
Sekarang, saat saya dan Greg bersama Puji datang kesana hampir sepuluh tahun kemudian, saya masih ingat dengan jelas tentang malam mencari jejak itu.
Puji mengajak saya melewati pendapa yang penuh dengan orang-orang yang sekedar duduk melepas lelah atau tidur-tidur ayam sambil menikmati semilir angin.
Di ujung pendapa ada relief panjang yang mengisahkan tentang perjuangan Gadjah Mada. Ada juga tulisan yang mencakup silsilah raja-raja Majapahit sejak Raden Wijaya hingga Hayam Wuruk.
Kami lalu masuk ke areal belakang pendapa. Ada makam kuna dengan pohon beringin besar yang memayungi area pemakaman. Beberapa nisan tampak dibalut kain putih, bahkan ada juga yang seluruhnya ditutup kain putih hingga membentuk kamar putih. Ketika saya tanya apa yang ada di dalamnya, Puji hanya bilang kalau tempat itu keramat dan saya tak bisa mengambil gambarnya. Saya mengangguk-angguk.
Lucunya, di makam ini ada banyak tulisan 'Dilarang Pacaran Disini' terselip di bebatang pohon beringin tua. Ketika saya bertanya kepada Puji mengapa, ia hanya tertawa. Ia berkata kalau setiap malam, banyak sekali pasangan yang datang ke tempat ini. Karena area makam ini tak berlampu dan gelap gulita, maka banyak yang pacaran. Apa mereka tak takut pacaran di area makam kuno? tanya saya. Puji tertawa lagi, ah kalau sudah pacaran kan mereka akan lupa kalau mereka ada di atas makam! Saya nyengir.
Ah, kenapa mereka seberani itu ya? Saya jadi membatin yang tidak-tidak karena sempat saya dengar cerita ada pasangan yang "saling lekat", badan mereka tak bisa pisah saat mereka bersenggama di area makam karena terkena tulak bala. Hiii...
Saat saya melirik ke atas, ada beberapa lampu kecil yang mulai dipasang untuk menerangi area makam ini, yang sebelumnya saya kira menjadi tempat yang aman dan murah untuk pacaran terlepas dari kenyataan bahwa mereka sedang berpacaran di atas nisan-nisan kuno Majapahit!
Kami lalu bergerak lagi.
Dan kami sampai di pintu gerbang bertuliskan PANGGUNG: tempat pertapaan Eyang Raden Wijaya dan tempat pembacaan Sumpah Amukti Palapa Eyang Gadjah Mada.
Wah, merinding bulu kuduk saya.
Saya lalu uluk salam, dan masuk melalui pintu gerbang batu yang bertulis aksara Jawa Majapahit dan Nusantara Nyali Jaya. Dan ketika saya berdiri di balik pintu gerbang batu itu, ternyata juga ada tulisan Jawa bersuluk Suradira Jayaningrat Lebur dening Pangastuti.
Di balik gapura ini ada rumah dengan atap bertingkat yang bersih dan terawat. Juru kunci yang menunggu patilasan ini ternyata adalah teman SD-nya Puji. Jadilah kami ngobrol tentang Majapahit hingga Ramalan Jayabaya dan Sabda Palon. Si juru kunci yang masih muda ini lalu menyilakan kami untuk masuk ke area patilasan yang berada di dalam rumah bertingkat ini dengan catatan saya tak boleh memotret karena termasuk tempat suci dan dikeramatkan.
Saya mengangguk-angguk.
Kami menyempatkan diri untuk bermeditasi di dalam ruangan yang penuh dengan harum dupa dan bunga-bunga.
Dan setelah itu, kami keluar dan berbincang lagi dengan si juru kunci yang berkata bahwa kalau orang ingin mengetahui Keraton Majapahit, maka ia harus mengeruk seluruh Trowulan karena masih banyak peninggalan Majapahit yang terkubur di bawah rumah-rumah penduduk dan sawah-sawah.
Setelah mengobrol panjang lebar, kami lalu berpamitan dan bertolak menuju rumah nenek saya di Daleman untuk bersiap-siap pulang ke Jogja malam itu juga. Kami lalu bergerak meninggalkan petilasan.
Ah, Majapahit yang misterius!

2 comments:

  1. matur nuwun.....apik tenan....salam soko cah Mediun............

    ReplyDelete
    Replies
    1. sip Mas :) suwun suwun :)

      salam hangat dr Jogja :)vanie

      Delete

terimakasih ya sudah mampir dan menyapa kurakurakikuk :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...