Tuesday, June 7, 2011

Cerita dari Tembi: Ritual Pelukan dan Wig Biru

Wah, setelah hampir sebulan tak menengok si kurakura, saya akhirnya punya sepenggal waktu untuk menulis apa saja yang kemarin saya lakukan di Tembi.
Ya, beberapa minggu terakhir ini, saya sering terlihat mondar-mandir dengan sepeda listrik di sepanjang Jalan Parangtritis atau seputaran Tembi, atau malahan sampeyan akan melihat saya mondar-mandir di Keraton dan Tamansari dengan serombongan tamu dari Australia.

Ya.
Baru kali ini saya terlibat dalam sebuah perencanaan pernikahan yang ajaib, tak ada duanya, dan yang membuat saya belajar banyak hal dan tentu saja bertemu dengan banyak orang-orang baru yang langsung mengisi hati saya dengan cerita mereka masing-masing.
Seperti yang pernah saya ceritakan sebelumnya di sini, saya memang sedang terlibat dengan tim wedding dari Tembi, ada Bakti yang wajahnya sangat mirip dengan saya hingga para tamu selalu salah memanggil saya Bakti setiap saat. Tapi memang dari dulu kebanyakan orang salah memanggil nama saya, tapi kenapa Bakti tidak? Tak pernah ada cerita ia salah dipanggil dengan nama Vani. Kenapa ya? Mungkin karena ia punya Pablo dan saya tidak.
Oya, siapa Pablo? Pablo Omnivora nama lengkapnya. Ia adalah anak kesayangan Bakti yang berwujud seekor hamster abu-abu yang sangat saya takuti, padahal sebenarnya Pablo adalah seekor hamster yang lucu dan manja, tapi karena saya takut dengan segala macam binatang yang mirip dengan tikus, jadi seimut apapun si Pablo, saya masih bergidik kalau disuruh menyentuh bulunya yang halus, hiiiii.
Oya, kenapa saya malah bercerita tentang Pablo ya?

Oke, selain Bakti, ada seorang perempuan Batak bermarga Sihombing yang bernama Nanda yang juga ikut dalam tim wedding ini. Spesialisasinya dalam Excel sangat dapat diandalkan dalam saat-saat genting karena saya tak paham sama sekali dengan yang bernama spreadsheet dan tabel-tabel. Itulah salah satu dari kelemahan saya: tabel dan kotak. Tapi beruntunglah saya karena ada Nanda yang mengajari saya tentang Excel.
Seorang lagi adalah Teguh, pemuda flamboyan dari tanah Sunda ini juga sangat banyak membantu kami, mulai dari berburu terakota di pelosok desa Klaten dan berburu sendok dari batang kelapa di lantai atas Pasar Beringharjo yang penuh sesak dengan segala aroma dan irama.

Dan tentu saja ada Dave Hodgkin, si ayah dari mempelai perempuan yang mengajari saya banyak hal, salah satunya adalah 'ritual pelukan'.
Saya selalu bungah saat dipeluk, oleh siapa saja, karena memang saya sangat menyukai 'ritual pelukan'. Rasa yang nyaman, seperti kembali menjadi bayi yang kembali dalam pelukan ibu, berbagi kehangatan tanpa gairah, hanya kasih semata. Dan memang, pelukan adalah obat mujarab untuk menghilangkan kecemasan dan kegundahan hati. Saat sedang sedih, marah, bingung, putus asa, peluklah orang-orang yang sampeyan sayangi. Dan berbagilah segala rasa itu di dalam relungnya!

Ah, saya jadi ingat sebuah cerita
Saya tak pernah dipeluk ibu saya. Mungkin pernah, saat saya masih bayi. Namun, ada suatu waktu saat saya sedang merindukan pelukan seorang ibu dan sayangnya ibu saya berasal dari sebuah generasi yang tak mengenal ritual pelukan. Peristiwa ini terjadi saat saya hendak pergi meninggalkan Jogja dan pindah ke Mojokerto, Jawa Timur untuk bersekolah di sana selama tiga tahun. Dan saat saya hendak pergi berpamitan dengan ibu saya, saya-lah yang memeluk ibu, dan saya bisa merasakan ibu saya sedikit canggung dan agak kaku, karena memang ia jarang dipeluk dan memeluk. Dan kebiasaan peluk-memeluk ini saya tularkan kepada adik saya yang paling kecil sampai hari ini.

Dan sampeyan tahu hasilnya?
Sampai sekarang, Wisnu selalu memeluk ibu saya dengan penuh kasih sayang, memeluk saya saat saya sedih dan saya juga memeluknya saat ia jatuh atau saat ia ingin menangis.

Ah, begitu senangnya saya dengan ritual pelukan ini hingga saat di Tembi, saat semua orang dengan sukarela memeluk saya dan membiarkan saya bersandar di dadanya dan mendengar degup jantungnya, ah, saya menjadi tidak ragu lagi, beban saya langsung hilang dan energi kasih yang besar selalu melingkupi rumah kayu ini.
Saya pikir, selain emergency chocolate alias coklat darurat yang selalu ada di saat-saat kritis, pelukan juga menjadi obat yang sangat mujarab!
Dan inilah saat-saat yang menyenangkan: wig biru, kacamata bundar kuning, tawa riang, dan gratis pelukan untuk semua orang!
Saya dengan Kai Hodgkin, sang mempelai perempuan yang cantik.
Saya sangat menikmati pelukan, sampai-sampai saya merem!
Saya dengan Possum Hodgkin, kakak Kai yang besar sekali.
Wig biru yang gila!

Banyak orang berkata saya tambah gendut. Ah!
Lihatlah si wig ungu yang cantik: Ruth White, ibunda Kai.
Dan inilah tim wedding dengan Kai dan Mark!
Bakti, Nanda, Kai, saya, Teguh dan Mark di barisan depan!
I love you all!

6 comments:

  1. iyaaa... setujuu!! aku juga suka dengan ritual berpelukan!! hihiihhi.. nice post, mbakee!! :D

    ReplyDelete
  2. hihihi :D maturnuwuuun :D akhirnya bisa nulis juga setelah hectic day selama sebulaaaan! :D

    ReplyDelete
  3. akhirnyaaa tersambung juga ceritanya.. matur nuwun mbak.. ;)

    ReplyDelete
  4. inspiratif sekali mbak vani. :)

    matur nuwun ngee..

    ReplyDelete
  5. @Mbak Nelia : iya Mbak, sekarang sudah bisa nulis lagi banyak-banyak! :D

    @anonymous: sip :) sami-samiiii :D

    ReplyDelete
  6. he he.. aku ngakak baca ini lagi :))

    ReplyDelete

terimakasih ya sudah mampir dan menyapa kurakurakikuk :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...